Setelah kecerobohannya di Afganistan dan Irak itu, penguasa   Amerika Serikat 
dan Inggris sebaiknya tidak akan mengulangilagi terhadap Repubolik Islam Iran 
dengan tuduhan yang jauh lebih tidak beralasan dibandingkan alasan-alasan yang 
digunakan untuk menyerang Afganistan dan Irak.   Masyarakat Internasional 
memahami persis bahwa rakyat Amerika Serikat dan Inggris tidak setuju dengan 
sepakterjang yang arogan dari penguasanya itu.
 
Prediksi saya, kecerobohan AS dan Inggris untuk ketiga kali yang akan datang 
itu bukan saja tidak berhasil untuk menaklukkannya, bahkan AS sendiri terjejas 
dalam perspektif Internasional.  Serbuan pasukan militer AS ke konsulat RII di 
Arbil, Irak utara dan menculik lima diplomat Iran hari Kamis yang lalu 
sebetulnya AS telah memulai kecoerobohan ketiganya terhadap Iran. Tapi pihak 
Iran nampaknya masih sabar. 
 
Prediksi saya, As dan Inggris akan menerima pelajaran yang telak dari Republik 
Islam Iran.  Pemimpim dan rakyat negara  yang dinyatakan Rasulullah dulu 
sebagai kalangan yang mampu menggapai Imannya walau jauh di bintang Surayya, 
ketika Rasulullah meletakkan tangannya diatas kepala Salman Al Farisi 
sehubungan surah Jum'ah ayat 3, lebih berani dalam menghadapi musuhnya bahkan 
dibandingkan orang Jepang sendiri yang terkenal dengan "jibaku". 
 
Ketika AS menyerang Libiya, Imam Khomaini berkata: " AS boleh saja coba-coba 
belajar di Iran, tapi mereka harus sadar bahwa teluk Farsi tidak pernah sama 
dengan teluk Sidra". Ketika AS yang sama memberlakukan Embargo terhadap Iran, 
Imam mengatakan: " Andaikata AS mampu memagar RII sekelilingnya, tanah dan air 
sudah cukup bagi kami dan kami lebih senang dengan bersepeda semuanya". Ketika 
AS hendak membebaskan sanderanya dari tangan para Mahasiswa Iran dengan 
kekerasan, ke 7 Fantom AS hancur menabrak gunung kapur Iran.   Imam Khomaini 
berkata di subuh itu: " . . . . . . .Seolah-olah perang Badar terulang kembali. 
. . . . . ." 

Selanjutnya mari kita lihat komentar Muhammad Al Qubra sehubungan dengan 
kekhawatiran AS tersebut:

Sandnes, 17 April 2006
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.



DIBALIK KETAKUTANNYA GEORGE BUSH KEPADA PROGRAM NUKLIR RII.
Muhammad Al Qubra
Sandnes - NORWEGIA.



GEORGE BUSH SANGAT TAKUT KEPADA PROGRAM NUKLIR IRAN DIBANDING DENGAN SENJATA 
NUKLIR MADE IN PAKISTAN.
 
"Pikiran telah membawa manusia kealam serba tekhnik, namun nafsu telah menipu 
akal manusia untuk berkelahi sesamanya. Hanyalah agama yang "haq" datang untuk 
menghukum antara akal dan hawa nafsu." (Fika Laina Farsi Al Husaini [EMAIL 
PROTECTED],  Sat Apr 2, 2005 10:13 pm )
 
Fika Laina Farsi,  mengaku bahwa dia tidak tau lagi darimana kata-kata tersebut 
berasal. Ketika kata - kata itu saya kemukakan kepada salah seorang guru bahasa 
Norwegia, dia mengatakan bahwa kata-kata tersebut tertulis dalam kitab mereka. 
Kalau hal tersebut benar adanya, sungguh baik sekali untuk kita angkat kembali  
dalam persoalan kemanusiaan dimana mereka dari dulu hingga sekarang senantiasa 
berperang sesamanya.
 
Secara historis perang itu telah terjadi antara Habil dengan Qabil, Ibrahim a.s 
dengan Namrud, Musa dan Harun a.s dengan Fir'aun, Isa bin Maryam a.s dengan 
Kaisar-kaisar di Roma, Muhammad saww dengan Abu Sofyan bin Harb, 'Ali bin Abi 
Thalib a.s, dengan Mu'awiyah bin Abu Sofyan, Hussain bin 'Ali a.s dengan Yazid 
bin Mu'awiyah.
 
Selanjutnya sekarang ini dunia juga tidak sunyi dari peperangan, baik 
peperangan diantara Komunitas Manusia dengan Komunitas Basyar (Istilah dari DR  
'Ali  Syari'ati)maupun diantara basyar dengan basyar itu sendiri.
 
Kita telah menyaksikan bagaimana dahsyatnya perang dunia I dan II. Lalu 
sekarang ini sepertinya akan ter ulang kembali perang dunia ke III yang 
sinyal-sinyalnya terdeteksi dari rencana yang sedang di buat oleh pihak Amerika 
Serikat cs terhadap Republik Islam Iran (RII). Hal ini dapat kita lihat hampir 
di semua media cetak dan internet.
 
Apabila hal tersebut diatas benar-benar terjadi, perang itu bukan saja antara 
AS cs dengan RII tapi juga akan ikut sertakan Komunitas-komunitas Islam lainnya 
(Perang Dunia III). Kalau AS mengandalkan Power dalam menyelesaikan persoalan 
RII, terbukti benar betapa ego nya AS itu kendatipun mereka berdalih dengan 
persetujuan PBB. Bila ini terjadi, RII pun menyambut keegoisan AS cs itu dengan 
Jihad fi sabilillah. Hal itu telah kita saksikan bagaimana berhasilnya mereka 
melawan serta menumbangkan System dhalimnya Syah Redha Falavi yang di backing 
AS cs itu sendiri.  Peristiwa itu terkenal dalam "Revolusi Islam Iran", suatu 
revolusi yang dimotori oleh kaum dhu'afa Iran dibawah pimpinan Imam Khomaini, 
Murtadha Mutahhari, 'Ali Syariati dan lain-lainnya--lebih hebat dari revolusi 
Perancis di Eropa yang di cetuska kaum Intelektual Perancis yang Protestant.
 
Barusaja berdirinya Republik Islam Iran, Saddam Husein dari Irak yang ber 
Idiology Baath itu mengira RII  tidak berdaya untuk melawannya. Saddam 
melakukan intervensi untuk menaklukkan RII, sementara AS mengirimkan intelnya 
untuk mengacaukan barisan RII. Namun apa yang kita saksikan dikala itu ? 
Serdadu-serdadu paksaan Saddam Irak dari hari ke hari mundur kebelakang 
sementara mujahid-mujahid RII terus menggasaknya sampai mereka berada di 
kawasan Irak.  Mereka  mengancam Saddam turun dari tahtanya atau mati ditangan 
kaum dhu'afa.
 
Andaikata tidak dibantu oleh kaum konservatif dari seluruh kawasan Arab dengan 
Pan Arabismenya kecuali Syria, sudah dulu kekuasaan Saddam berakhir di bumi 
Irak. Sementara AS coba membebaskan para intel mereka yang disekap Mahasiswa 
RII, dengan menggunakan Powernya. Namun apa yang terjadi ?  Ke 7 pesawat 
Phantom tercanggihnya dikala itu meledak semua, setelah menghantam gunung kapur 
Iran di pagi-pagi buta. Lalu Imam Khomaini berpidato panjang lebar yang 
dimulainya dengan kata-kata:"perang Badar telah terulang kembali".
 
Ketika AS menyerang Libiya, Imam mengatakan: "Amerika Serikat boleh saja coba 
belajar untuk menyerang Iran, tapi mereka harus sadar bahwa teluk Sidra tidak 
sama dengan teluk Parsi". Ketika AS cs melakukan embargo terhadap Iran, Imam 
mengatakan: "Amerika Serikat cs boleh saja membuat beton diselingkar negara 
kami, tapi bagi kami tidak menjadi masalah asal ada tanah dan air sudah cukub 
bagi kami". Ketika hampir seluruh dunia meramalkan kematian Imam, Khomaini 
mengatakan: " Satu Khomaini hilang akan muncul beribu Khomaini lainnya"  Kini 
dapat kita saksikan apa yang diucapkan Imam Khomaini itu.  Berjuta "khomaini" 
siap menghadapi AS, bahkan dari berbagai pelosok dunia datang berduyun-duyun ke 
kota Qom, pencetak kaderisasi "Khomaini".
 
Apa yang saya kemukakan ini menjadi pertimbangan bagi AS cs khususnya dan 
negara-negara manapun pada umumnya bahwa betapa sering golongan yang kecil 
mengalahkan golongan yang besar disebabkan golongan yang kecil itu benar-benar 
berperang karena Allah, sementara golongan yang besar itu berperang karena 
Tuannya, egois dan takabbur seolah-olah merekalah yang berkuasa.
 
AS cs sekarang memprotes agar RII menghentikan program Nuklirnya. Sementara 
semua negara mengetahuyinya bahwa AS cs lebih duluan mengembangkan senjata 
nuklir itu, kemudian diikuti negara-negara lainnya saeperti India Pakistan dan 
Korea. Lalu kita bertanya, bagaimana mungkin AS cs itu memprotes agar negara 
lain tidak mengembangkan program Nuklir sementara mereka sendiri terus 
meningkatkan agar lebih hebat lagi. Kalau mereka menginginkan dunia ini aman 
dari kemungkinan pemusnahan, logisnya mereka duluan yang  menghentikan 
pengembanngan nuklirnya.
 
Ketika AS cs hendak menyerang Irak pihak PBB tidak menyetujuinya, namun AS cs 
itu tidak menggubris sama sekali. Padahal apa yang mereka lakukan di Afganistan 
belum selesai lagi persoalannya masih saja melakukan terhadap Irak, konon lagi 
hendak menyerang RII—yang akan memperkuat benarnya opini dunia tentang ke 
Egoisan AS cs di mata dunia.
 
Saya ketahui bahwa orang-orang AS dan sekutu-sekutunya termasuk orang-orang 
yang maju dalam banyak disiplin Ilmu dan saya ketahui juga mereka senantiasa 
berbicara tentang kemanusiaan dan HAM. Justru itulah saya tulis seruan ini 
semoga mereka yakin bahwa apa yang saya serukan ini adalah alternatif yang 
terbaik bagi manusia demi kedamaian dunia pada umumnya.
 
Justru itulah saya menyerukan kepada AS cs untuk mengurung kan rencananya agar 
menggunakan alternatif lain yang lebih manusiuawi. Kalau pihak AS cs telah 
menyerukan kami bangsa Acheh - Sumatra agar menghentikan peperangan dengan 
Indonesia untuk menempuh jalan damai telahpun kami terima sehingga lahirlah MoU 
Helsinki. Justru itu AS pun harus menyelesaikan persoalan dengan RII melalui 
adu argumentasi bukan adu Jotos yang bertentangan dengan hakikat kemanusiaan 
itu sendiri yang difasilitasi dengan alat pikir. Kalau AS tetap mempertahankan 
prinsip kontra kemanusiaan itu, bagaimana mungkin disatu sisi mengharapkan agar 
orang lain tidak menggunakan kekerasan sementara mereka sendiri tidak pernah 
berfikir tentang tindakannya itu.
 
Dulu pernah terjadi perang antara orang - orang Kristen dengan orang-orang 
Islam di jaman Salahuddin Al Aiyubi yang terkenal dengan "Perang Salib". Namun 
Al Aiyubi dengan segenap kemampuannya berhasil meredakan peperangan tersebut 
untuk menempuh jalan lain yang lebih baik yaitu "perang Argumentasi"
 
Nampaknya AS ingin menempuh jalan kekerasan yang sudah dihentikan oleh 
Salahuddin Al Aiyubi itu. Betapapun Republik Islam Iran tidak gentar untuk 
menghadapinya. Mereka itu bagaikan Komunitas lebah yang tidak akan mengganggu 
pihak manapun kecuali pihak itu sendiri yang coba-coba mengganggu mereka.
 
Kembalai ke kata-kata mutiara yang saya kutip diatas:
"Pikiran telah membawa manusia kealam serba tekhnik, namun nafsu telah menipu 
akal manusia untuk berkelahi sesamanya. Hanyalah agama yang "haq" datang untuk 
menghukum antara akal dan hawa nafsu."
 
Jelaslah disana bahwa hanya agama yang "haq" lah yang dapat menghentikan 
peperangan itu sehingga serba tekhnik nya alam yang telah dipermak sebagai 
hasil dari kreatif pikiran manusia dapat dinikmati oleh manusia itu sendiri 
dengan mengajari "basyar-basyar" agar ber Esensi untuk menjadi manusia yang  
jujur, adil, aman dan mulia.
 
Kitapun menyadari bahwa jangankan kata-kata mutiara diatas, kitab yang 
diturunkan Pemilik dunia ini saja sebagai pedoman hidup agar tidak sesat di 
"lautan yang tak bertepi" tidak ada manfaatnya bagi penghuni bumi ini kalau 
tidak ada para "Utusan dan Imam" untuk menjelaskan maksudnya yang tepat untuk 
manusia--juga tergantung lagi kepada bersedia tidaknya komunitas manusia untuk 
tunduk patuh kepada para Utusan tersebut.  Hal itu perumpamaan para pasein 
mengikuti Dokternya untuk penyembuhan dan meyakini perlunya sang Dokter untuk 
menterjemahkan "Kitab pengobatan" yang menghasilkan resep-resepnya.
 
Sesungguhnya Pemilik dunia ini telah memfasilitasi manusia dengan alat pikir 
untuk membedakan manusia dengan semua makhluk lainnya di palanet Bumi ini. Hal 
ini saya yakin tidak seorang manusiapun yang tidak setuju dengan kalimat 
pernyataan diatas kecuali orang -orang yang tidak waras.  Setelah itu kitapun 
harus meneliti dengan secermat mungkin, mana agama yan "haq" sebagaimana 
disebutkan dalam kata-kata mutiara tersebut diatas. Hal ini kita ketahui persis 
bahwa hampir semua komunitas mengklaim bahwa agama merekalah yang haq atau 
benar, baik orang Katolik maupun orang Protestan, baik orang Sunni maupun orang 
Syi'i, baik orang Kristen maupun orang Islam.
 
Justru itu untuk membuktikan mana agama yang benar (Haq) sebagaimana tertera di 
kata-kata mutiara tersebut diatas, dibutuhkan "Dialog" yang sehat, adil dan 
Jujur. Bukan untuk mencari "menang" tapi mencari "kebenaran" agar kita terelak 
dari peperangan, agar kita terelak dari egoisme, agar kita terelak dari saling 
tuduh menuduh bahwa pihak lawanlah yang salah, agar kita sesuai dengan 
pengetahuan kita bahwa kita semua berasal dari Adam dan Hawa. Sehingga 
benar-benar kita satu keluarga yaitu keluarga "Malaikat" yang dijadikan dari 
tanah, dimensi yang paling hina namun dikombinasikan dengan Ruh, spirit suci. 
Sedangkan musuh kita yang sebenarnya adalah golongan makhluk yang dijadikan 
pemilik Dunia ini dari "Api", yang senantiasa mengelabui akal manusia untuk 
berkelahi sesamanya sehiungga dibangkitkan kelak oleh Pemilik Dunia ini bersama 
makhluk yang dijadikan dari api itu sebagai basyar-basyar.
 
Billahi fi sabililhaq
 
Muhammad Al Qubra
 
[EMAIL PROTECTED]
Sandnes, Norwegia
---------- 
 
In [email protected], Fika Laina Farsi Al Husaini
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
Mutiara Kata:
Pikiran telah membawa manusia kealam serba tekhnik, namun nafsu telah menipu 
akal manusia untuk berkelahi sesamanya. Hanyalah agama yang "haq" datang untuk 
menghukum antara akal dan hawa nafsu.
 
Kata-kata mutiara diatas itu telah lama saya baca dalam sebuah kitab, namun 
saya sudah lupa entah dalam kitab mana saya temui. Yang jelas rasanya benar 
bahwa dengan rahmat Nya Allah menciptakan manusia dengan otak yang demikian 
cerdas sampai mampu menciptakan computer yang begitu rumit. Demikian juga 
dengan pikiran yang tekhnolog manusia mampu mempermak permukaan bumi ini 
demikian gemerlap dan fantastis. Sayangnya kemunculan nafsu yang menipu akal 
manusia, sehingga mereka berkelahi atau berperang sesamanya. Untung sajalah 
menyusul agama yang benar yang mampu bertindak untuk mengatasi manusia dari 
berperang sesamanya.
 
Persoalanya akankah manusia itu mendengar kepada seruan agama tersebut agar 
bersaudara melalui konsep kemanusiaan? Bukankah agama itu juga berasal dari 
Allah sebagaimana pikiran manusia itu yang begitu hebat ? Akankah manusia itu 
merobah acungan tinju kepada lambaian tangan ?
 
Bukankah agama yang benar mengajarkan manusia untuk tidak mendhalimi manusia 
lainnya kendatipun mereka berlainan agama sekalipun ? Namun manusia juga 
dibenarkan untuk membela diri sebagaimana bangsa Acheh sekarang ini.
 
Fika Laina Farsi
Sandnes, NORGE
----------


 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

Kirim email ke