Rakyat secara mayoritas sudah menolaknya, tapi kaum diktator dibawah 
Kuntoro itu lebih kuat kukunya di Acheh daripada rakyat secara Demokrasi. 
Bahkan Kuntoro cs  itu memperlihat kukunya lebih tajam dari pemerintah Irwandi 
- Nazar sekarang ini.
   
  Saya yakin kalau kekuasaan kuntoro tidak dihentikan, Penguasa Acheh yang baru 
sekarang tidak dapat berbuat apa-apa terhadap pembangunan Acheh - Sumatra.  
Sungguh sangat ironis kalau ada suara yang meminta agar Irwandi - Nazar dapat 
bekerja sama dengan pihak Kuntoro, penghisap darah para musibah stunami Acheh 
itu. Kuntoro cs itu persis bagaikan benalu yang akan mematikan pohon Irwandi - 
Nazar. Tidak sadarkah kita?
   
  Kalau sebelum terpilih gubernur baru, okelah masih punya alasan dibentuk 
lembaga lain untuk mengurus Rehabilitasi  Acheh. Tapi sekarang sudah memiliki 
gugernur yang permanen tunggu apa lagi, tidak mendepak Kuntoro cs yang 
nyata-nyata macam Murua melahab bangkai para korban Tsunami. Sudah demikian 
maksimalnya kami tegur kalian hai pelanjut penjajahan terselubung di Acheh 
masihkah kalian degil macam makhluk yang tidak punya rasa malu sedikitpun? 
Kalau orang Acheh Asli kami kutuk demikian, sudah dulu hengkang dari bumi 
Acheh. Itu berarti mereka masih tau malu. Tapi bangsa kalian?  Salahkah kalau 
kami mengutuknya?  Pantaskah kami berbahasa enggeh-enggeh?
   
  Kami akan berlemah lembut dengan kalian, kalau kalian tidak bersikap 
menjebalkan dan munafiq ter4hadap kami. Sekarang obat apalagi hendak disulut 
kemulut kalian agar menjembuhkan penyakit aneh itu?  Maasya Allaaaah.
   
  Tanggapan ini tidak kutulis ke "Acehkita.com" sebab si Fakrurradziepun saya 
lihat tidak adil dalam berdemokrasi. Nampaknya dia juga akan masuk perangkap 
"asal bapak senang", saya enggeh-enggeh saja untuk mengorbankan Demokrasinya.
   
  alqbr,-
   
   
   
  Berita
            Jumat, 23 Februari 2007, 11:35 WIB
BRR Tetap Adakan Konferensi Aceh
Reporter : AK News
  
Banda Aceh
, acehkita.com. Kendati menuai penolakan dari puluhan lembaga sipil di Aceh, 
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias yang bekerjasama dengan Asia 
Research Institute – National University of Singapore, tetap akan menggelar 
konferensi internasional tentang Kajian Aceh dan Samudra Hindia, pada 24-26 
Februari.
    Menurut Ketua Panitia Konferensi, Fuad Mardhatillah, dalam memenuhi 
kebutuhan dasar rakyat tidak saja menyangkut pembangunan rumah dan 
infrastruktur, tetapi juga kebutuhan dasar non-fisik yang berupaya upaya 
pencerdasan dan peningkatan kapasitas intelektual sumberdaya manusia Aceh. 
    Hal ini, tambah Fuad, sesuai amanah blue print yang menyebutkan tugas BRR 
tidak hanya membangun sarana fisik, tetapi juga membangun kembali kehidupan 
masyarakat Aceh dalam makna yang lebih luas, khususnya kapasitas sumberdaya 
manusia Aceh untuk membangun masa depannya. 
    “Jadi, pada gilirannya hasil dari konferensi ini akan bermanfaat bagi 
seluruh masyarakat Aceh. Lagi pula, Pembangunan sarana fisik dan peningkatan 
sumberdaya manusia tidak bisa dipisahkan. Dia berjalan seiring,” tegas Fuad.
    Sebelumnya, masyarakat sipil Aceh menyatakan penolakannya terhadap 
penyelenggaraan konferensi internasional tentang 
Studi Aceh
 dan Samudera 
India
 pada 24-26 Februari mendatang. Apalagi, konferensi yang menelan dana Rp1,7 
miliar itu tidak menjamin bermanfaat bagi korban.
    Koalisi masyarakat sipil yang menolak konferensi itu terdiri atas 25 
organisasi, di antaranya: Forum LSM, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Koalisi 
NGO HAM, Gerakan Anti-Korupsi, Flower, Lembaga Bantuan Hukum, Sentral Informasi 
Referendum Aceh, Greenomics Jakarta, Partai Rakyat Aceh, Komite Pemantau 
Perdamaian dan Demokrasi, dan SAKSI Simeulue. Sementara dari kalangan 
intelektual ada nama Agus Nur Ama (yang lebih dikenal dengan sebutan 
Agus PMTOH
), Mukhlis A. Hamid, dan 
Fikar W. Eda
 (seniman 
Aceh di Jakarta
).
    Menurut mereka, ada tiga alasan mendasar menolak penyelenggaraan konferensi 
yang diikuti sejumlah perwakilan dari negara-negara yang terkena bencana 
tsunami 26 Desember 2004 lalu. "Dari segi etik, pelaksanaan konferensi tidak 
menunjukkan sama sekali sikap dan tanggung jawab intelektual yang berpihak pada 
amanat penderitaan rakyat," sebut petisi tersebut. "Ini adalah sebuah wujud 
konferensi yang satir dan memalukan."
    Fuad menjelaskan, konferensi itu sangat penting untuk menggali kembali 
potensi Aceh secara lintas sektoral dari sudut pandang pakar internasional. 
Apalagi, menurut Fuad, Aceh baru saja dilanda bencana tsunami dan konflik yang 
berkepanjangan. 
    “Dari konferensi ini diharapkan akan lahir lembaga riset bertaraf 
internasional mengenai Aceh yang nantinya akan memberi kontribusi bagi kemajuan 
intelektual daerah ini,” kata Fuad dalam siaran persnya.
    
Para
 pembicara dan pengamat yang bersedia hadir dalam konferensi ini adalah mereka 
yang memiliki hubungan erat dengan masyarakat Aceh baik secara akademis, maupun 
karena kedekatan mereka dengan penyusunan qanun/hukum di Aceh, kelompok LSM 
Aceh maupun karena kedekatan personal dan institusional dengan masyarakat Aceh. 
    Masih menurut Fuad, konferensi internasional ini akan membahas enam subyek 
yaitu Aceh dari sisi sejarah Aceh dan kawasan Samudra Hindia; bahasa, budaya 
dan masyarakat Aceh; resolusi konflik, perdamaian dan isu demokrasi; 
seismologi, geologi dan lingkungan serta rekonstruksi Aceh pasca tsunami dan 
mitigasi bencana. Akan dibahas juga mengenai Islam, hukum dan kaitannya dengan 
masyarakat Aceh dan program-program yang relevan bagi masyarakat. 
    Selain konferensi dan diskusi kelompok akan diselenggarakan pula pameran 
yang berhubungan dengan artefak (benda bersejarah), manuskrip (dokumen kuno) 
mengenai sejarah Aceh di Museum Negeri Aceh pada 26 Pebruari – 4 Maret 2007. 
Manuskrip yang dipamerkan diantaranya koleksi Negara Turki (periode tahun 1566 
s/d 1897) sebanyak 28 naskah, koleksi Portugis (periode tahun 1522/1820) 
sebanyak  6 naskah dan 10 gambar ilustrasi, koleksi Perancis (periode tahun 
1602 s/d 1578) berupa 3 gambar ilustrasi, koleksi Inggris (periode tahun 1602 
s/d 1811) 5 naskah dan koleksi Denmark (periode tahun 1703 s/d 1743) sebanyak 3 
naskah. [dzie]
    Baca juga:
Sipil Aceh Tolak Konferensi Internasional BRR
  












         [Kembali ke indeks]
                                
---------------------------------

Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass 
http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke