Refleksi: Apa perlunya pemimpin mendengar aspirasi rakyat? Apakah benar yang namanya pemimpin di Indonesia mau mendengar keluh kesah serta pendapat orang miskin melarat? Bukankah hal demikian itu hanya terdapat dalam cerita seribu satu dongeng saja?
++++ Pemimpin, Dengarlah Aspirasi Rakyat Written by Redaksi Mar 31, 2007 at 08:54 AM Hingga saat ini, di republik tercinta ini, masih terdapat sejumlah krisis. Salah satu diantaranya adalah krisis listrik. Krisis listrik bahkan sudah terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini dan telah sangat merugikan kepentingan rakyat banyak. Kita juga mengalami krisis air bersih. Ketersediaan air bersih sangat penting bagi kepentingan rumah tangga. Keberadaan air yang ada pun terus mengalami penurunan kuantitas. Tak ketinggalan, kita juga masih mengalami krisis Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya minyak tanah. Seperti kita alami dan lihat sendiri, di sejumlah daerah terdapat antrian dalam pembelian minyak tanah. Terlepas, misalnya karena kesalahan dalam pendistribusian, tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat masih kesulitan mendapatkan minyak tanah. Berangkat dari pengalaman tersebut, kita dapat menyebut bahwa kepentingan rakyat banyak cenderung dimarjinalkan. Sementara itu, demi memenuhi kepentingan rakyat tersebut telah pula dianggarkan dana dalam jumlah yang cukup banyak. Demikian juga fasilitas yang diterima oleh pejabat penyelenggara. Dengan demikian lagi-lagi, kepentingan rakyat belum diadopsi semaksimal mungkin. Kemudian, peminggiran kepentingan rakyat juga terjadi manakala kita menyaksikan adanya oknum-oknum pejabat dan anggota DPRD yang melakukan tindakan kurang terpuji dengan getol memperjuangkan kenaikan tunjangannya. Belum lagi ada sejumlah rombongan wakil rakyat yang plesiran ke luar negeri dengan tujuan yang terkesan mengada-ada. Kita juga amat menyayangkan adanya proses tender yang terkesan direkayasa di sejumlah daerah. Kesemuanya itu menjadi catatan tersendiri bagaimana para pemimpin kita kurang mendengar aspirasi rakyat banyak. Demikian juga halnya dengan parade korupsi yang juga masih banyak terjadi di sejumlah departemen dan daerah. Tetapi pada saat yang sama, kita membaca adanya sarana dan pra sarana transportasi di sejumlah daerah yang rusak parah. Disinilah kita melihat adanyak kontroversi. Bagaimana tidak, masyarakat sangat membutuhkan sarana transportasi (jalan), tetapi dalam kenyataannya sulit didapatkan. Jalan-jalan di daerah mereka banyak yang tak layak dilalui kendaraan roda empat. Barangkali dengan didasari oleh "penderitaan" bersama, membuat mereka tergerak untuk menunjukkan aspirasinya dengan memblokir jalan. Perihal sarana jalan, memang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Tanpa adanya fasilitas jalan yang layak, mustahil perekonomian masyarakat bisa maju. Disinilah pemerintah disemua tingkatan harus bijak bersikap. Hal yang sama juga berlaku bagi lembaga legislatif. Suara rakyat hendaknya didengar. Satu hal yang menjadi harapan kita bersama adalah bagaimana agar rakyat dapat dilayani, disejahterakan sekaligus diberdayakan. Rakyat butuh teladan. Kepentingan rakyat, memang harus selalu diutamakan. Pemimpin harus dengan tegas menyatakan keberpihakannya kepada rakyat. Rakyat menginginkan agar negara (daerah) dikelola dengan benar. Karena itu, kita amat kecewa apabila ada kelompok, apalagi yang menamakan dirinya sebagai pemimpin, ternyata kurang atau tidak mencerminkan sikap sebagai pelayan rakyat. Birokrasi sesungguhnya adalah pelayan rakyat. Kita amat kecewa pula apabila ada sosok "pemimpin" yang hanya bisa bermimpi. Pemimpin yang pintar mengelabui rakyat dengan impian-impiannya. Pemimpin harusnya mendatangkan kesejukan bagi rakyat yang dipimpinnya. Bukan kegalauan. Sebab hanya dalam kesejukanlah ditemukan akal dan semangat yang jernih untuk membangun. Model seorang pemimpin amat penting dalam mewujudkan perubahan. Sementara jauh-jauh hari, kita sudah mengharapkan akan adanya perubahan dalam tatanan kehidupan bersama kearah yang lebih baik. Sekarangi ini, bangsa kita membutuhkan pemimpin yang baik, yang mampu bertindak sebagai pemimpin, dalam memperbaiki nasibnya. Sayangnya, disaat bangsa besar ini memerlukan pemimpin dan kepemimpinan yang baik, tulus, jujur, dan bersahaja, pada saat negara-bangsa ini sedang berupaya membangun demokrasi yang memerlukan teladan orang-orang "kunci" (baca: pemimpin), tetapi pada saat yang sama, para elit kita justru melakukan sesuatu yang sangat bertolak belakang. Pemimpin haruslah mengutamakan kepentingan rakyat. (*) http://www.hariansib.com/index.php?option=com_content&task=view&id=26065&Itemid=36
