Apa yang diutarakan saudara Muhammad Hadi  memang bagus, terlepas daripada 
sebutan pemerintah pusat sebagaai khasnya Acheh sebagai "otonomi basi".  Memang 
masih ada pikiran-pikiran yang masih okey dari anak bumi Tanah Rencong yang 
menggembirakan. Tapi suara yang demikian baik itu sepertinya kita berteriak di 
kuping-kuping pekak -- layaknya bak biawak tuli. Buktinya itu Kuntoro yang 
jangankan manusia tapi katakpun kalau kita tanya mengetahuinya kalau dia dan 
orang-orang yang berada disekelilingnya bagaikan biawak pekak terus melahap 
uang para musibah Tsunami. Kheun peupatah Acheh: "Simat taloe, sipeh badjoe dan 
siduek keudroe saban desja". Kata Almarhum Imam Khomaini: "Barangsiapa berdiam 
diri menyaksikan kemungkaran, lebih kejam daripada sipelaku kemungkaran itu 
sendiri". 
   
  Perlu kita pertanyakan:  Apakah memang tidak ada pihak yang mampu  untuk 
menghentikan kezaliman nomor dua setelah TNI/POLRI di Acheh?  Akankah kita 
menunggu sampai habis sisanya pelahapan yang sedang dilakukan "biawak-biawak" 
itu?  Sebahagian orang Acheh dulu sangat terkenal untuk memberikan penerangan 
kepada kaum dhuafa Acheh tentang kezaliman yang dilakukan pihak Hindunesia tapi 
sekarang sebahagian orang yang vokal itu sudah masuk perangkap Kuntoro Mangun 
Subroto untuk sama sama menzalimi kaum dhu'afa Acheh sendiri. Apakah mereka 
sudah demikian kabur matanya hingga takmampu lagi melihat siapa dirinya?
   
  Kalau musuh menzalimi kaum dhu'afa Acheh masih wajar dalam arti namanya saja 
musuh, tapi sungguh tidak wajar kalau pembela kaum dhu'afa sampai kabur matanya 
hingga tidak mampu mengenallagi yang mana musuh kita yang sesungguhnya. Ingat 
kita manusia selalu dalam ujian Allah untuk ditempatkan ditempat yang layak 
kelak. (Neraka atau Syurga).  Manusia-manusia hipokrit senantiasa mencari jalan 
keluarnya kendatipun mereka sesungguhnya telah menipu diri mereka sendiri akan 
tetapi mareka tidak sadar, na'uzubillahi min zalik.
   
  Billahi fi sabililhaq
  Salamun 'alaikum wr wbr
  Muhammad Al Qubra.
   
   
  

Otodidak <[EMAIL PROTECTED]> skrev:
  
klik http://www.acehinstitute.org 
"Bila kita hendak mengentaskan kemiskinan, kita harus
berikan kekuasaan, pengetahuan, tanah, kredit,
teknologi dan organisasi kepada rakyat" (Hugo CHAVEZ,
2005). 

Biarkan rakyat Aceh menjalankan pemerintahannya dengan
baik tanpa campur tangan yang berlebihan dari
Pemerintah Pusat seperti yang tertuang dalam UU No.
11/ 2006.

Artikel web Aceh Institute Kamis 22 Maret 2007 |
Aceh Baru Seperti Apa? > Oleh: Muhammad Hadi |Penulis
adalah pemerhati masalah sosial dan politik. Pengurus
HMI Cabang Banda Aceh

klik http://www.acehinstitute.org 



____________________________________________________________________________________
The fish are biting. 
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"FORBES Damai Aceh" group.
To post to this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at 
http://groups.google.com/group/forbesdamai?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---



                                
---------------------------------

Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass 
http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke