Tuntutan mahasiswa Republik Islam Iran sangart tepat mengingat Pemerintah 
Inggris itu tidak jujur dalam segalahal, termasuk bekerjasama dengan Yahudi 
dalam menyerang Libanon dalam perang 31 hari yang dimenangkan Libanon berkat 
pertolongan Allah melalui pasukan Hizbullah. Ketiuka Norwegia membuat 
konverensi tentang serpihan "Bomb Yahudi" yang tersebar dibumi Libanon yang 
masih aktiv dan berbahaya buat anak - anak dan masyarakat sipiul pada umumnya, 
Inggris dan Amerika juga tidak menghadirinya dan bahkan membekotnya.  
   
  Justru itu kita khawatir kalau Kedubes itu mereka manfaatkan untuk 
memata-matai Republik Islam Iran. Besar kemungkinan pihak Amerika, Israel dan 
Inggris akan melakukan intervensi terhadap Iran, walaupun mereka tidak sadar 
kalau Republik Islam itu tidak sama dengan Afganistan dan Irak yang mudah 
ditaklukkan mereka. Namun realitanya AS sampai hari ini tak mampu menyelesaikan 
persoalan Afganistan dan Irak.  Malah negara - negara yang anti arogansi 
menyatakan bahwa AS dan Inggris itu melakukan intervensi terhadap dua negara 
tersebut secara illegal menurut hukum Internasional.
   
  Nampaknya kalau AS, Inggris dan Israel berani menyerang Republik Islam Iran, 
negara yang anti arogansi tidak tinggal diam. Hal ini kemungkinan besar akan 
meletus perang dunia ke III.  Prediksi saya perang itu akan dimenagkan pihak 
Iran bersama negara-negara yang anti arogansi, apalagi Dunia Arabpun sekarang 
sudah mendeklarasikan persatuannya dalam menghadapi arogansi AS dan Inggris 
Israel.
   
  Saya pribadi teringat kjembali ucapan Imam Khomaini ketika AS menyerang 
Libia: "AS boleh saja belkajar untuk melawan Iran tapi mereka harus sadar bahwa 
teluk Parsi takpernah sama dengan teluk Sidra". (Komentar Muhammad Al Quybra)
   
      Transkrip Berita Siaran Sabtu Malam, 31 Maret 2007
       
  Mahasiswa Iran Tuntut Penutupan Kedubes Inggris
  Mahasiswa dari 266 perguruan tinggi Iran menuntut penutupan Kedutaan Besar 
Inggris di Tehran. Dalam sebuah statemen yang dibacakan hari ini, para 
mahasiswa itu menyatakan, penutupan kedutaan besar Inggris di Tehran adalah 
tuntutan minimal yang diajukan oleh generasi ketiga revolusi Islam Iran. 
Statemen ini mengecam pelanggaran wilayah laut Iran oleh 15 pelaut Inggris. 
Ditambahkan, pemerintah Inggris yang masih terlelap dalam mimpi imperialisme 
abad 19 harus ditindak tegas karena pelanggaran yang dilakukannya berulang 
kali. 
   
  Lebih lanjut para mahasiswa Iran mempersoalkan sikap bungkam masyarakat 
internasional dan Dewan Keamanan terhadap pelanggaran teritorial Iran oleh 
tentara Inggris. Dalam statemen tersebut, para mahasiswa Iran menyayangkan 
sikap Dewan Keamanan PBB yang lebih mempersoalkan penahanan 15 pelaut Inggris 
daripada mengecam pelanggaran teritorial yang mereka lakukan. 
  Jum'at tanggal 23 Maret, dua perahu motor Inggris dengan 15 personil angkatan 
laut Inggris secara ilegal memasuki wilayah perairan Iran di Teluk Persia. 
Pasukan garda laut Iran dengan gerak cepat berhasil menahan 15 pelaut Ingris 
tersebut. 
   
  Kontradiksi Inggris Tentang Pelanggaran Terhadap Kawasan Iran
  Penangkapan 15 tentara Inggris di perairan Iran membangkitkan reaksi sejumlah 
media massa dan pejabat Inggris. Koran Times cetakan London, yang mengulas 
proses penangkapan 15 pelaut Inggris di perairan Iran, mula-mula mengklaim 
bahwa personil Angkatan Laut Kerajaan Inggris ini berada di sebuah kapal di 
perairan Irak yang kemudian ditangkap oleh kapal-kapal Pasukan Garda Revolusi 
Iran. 
  Dengan menunjukkan bukti-bukti palsu, koran ini menulis, pada hari Ahad, 
sebuah helikopter terbang di udara dari sebuah kapal yang berada di Teluk 
Persia, dan mengambil gambar-gambar posisi mereka. Semua peristiwa tersebut 
terekam melalui satelit. Foto-foto ini menunjukkan posisi 7,1 mil laut di 
perairan Irak. 
   
  Inggris mengatakan bahwa pasukan militer negara ini ditangkap di tempat 
tersebut. Di sisi lain koran ini juga menulis bahwa tentara Inggris yang 
ditangkap ini membawa alat telekomunikasi (GPS), dimana melalui alat ini mereka 
menginformasikan posisi mereka ke kapal Frigate HMS Cornwall. Akan tetapi 
Departemen Pertahanan Inggris tidak bersedia menyerahkan print komputer dari 
informasi tersebut.
  Dalam pernyataan kontradiktif lain, Depertemen Pertahanan Inggris, hari Jumat 
pekan lalu mengumumkan, pasukan militer Inggris ini ditangkap pada jam 10.30 
pagi waktu setempat. Padahal pada hari Rabu lalu Dephan Inggris mengatakan 
bahwa kontak dengan pasukan mereka ini telah terputus pada pukul 9.10 pagi.
   
  Dalam laporan-laporan pertamanya, pemerintah Inggris menyinggung bahwa 
pasukan militernya keluar dari sebuah kapal tongkang Arab. Namun kemudian 
Dephan Inggris mengumumkan bahwa para marinir negara ini keluar dari sebuah 
kapal barang. Sedangkan gambar-gambar yang ditayangkan oleh Iran menunjukkan 
bahwa pasukan militer Inggris ini keluar dari sebuah kapal tongkang Arab.
  Jenderal Hakim Jasim, yang bertugas menjaga perairan kawasan Irak, hari Sabtu 
lalu mengatakan, para nelayan Irak menginformasikan kepada kami bahwa 
kapal-kapal militer Inggris memasuki kawasan-kawasan di luar kontrol Irak.
   
  Adapun bukti-bukti Iran berkenaan dengan penahanan 15 pelaut Inggris ini 
menunjukkan bahwa kapal-kapal militer Inggris telah memasuki kawasan Iran 
sebanyak enam kali. Bukti-bukti yang dimiliki Iran ini dilengkapi dengan 
pengakuan tertulis dua tentara Inggris yang disiarkan melalui televisi. 
Berdasarkan bukti-bukti tersebut, kedua tentara Inggris itu dengan jelas 
mengakui telah melanggar kawasan perairan Iran. Menghadapi pengakuan pasukannya 
ini, para pejabat Inggris menunjukkan reaksi negatif.
  Sebelum ini, Iran sudah memperingatkan Inggris tentang pelanggaran 
berkali-kali yang mereka lakukan terhadap kawasan perairan Iran. London pun 
pernah berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan mereka.
   

                                
---------------------------------

Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass 
http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke