Kami harap tuan Atjeh Post sadar bahwa persoalan agama itu sudah selesai dengan
firman Allah: "lakum dinukum waliadin", yang artinya bagi kamu agamamu dan bagi
saya agama saya. Realitanya di Islam itu ada agama Islam Syi'ah Imamiah 12
atau mazhab Jakfari, Ahluss Sunnah (Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i). Di Nasrani
ada Kristein Katolik, Kristein Protestant. Kemudian ada lagi Yahudi, Hindu,
Budha dan sebagainya. Justru itu silakan anda memilih mana yang anda yakini
tanpa paksaan. Nanti setelah dunia ini kiamat barulah persoalan tersebut
selesai. Ketika itu semua orang yang keliru agamanya (Petunjuk atau Pedoman
Hidup) akan dimasukkan Allah ke dalam Neraka (Na'uzu billahi min zalik). Allah
hanya akan memasukkan orang-orang yang benar agamanya saja ke dalam Syurga yang
penuh keni'matan, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Didalam Syurga itu,
orang-orang yang benar agamanya kekal dalam ni'mat Syurga selama-lamanya.
Yang menjadi persoalan bagi bangsa Acheh - Sumatra dan West Papua sekarang
ini adalah sejauh mana daya upaya kita untuk melepaskan diri dari belenggu
penjajahan Hindunesia yang Zalim dan Hipokrit. Dimana pihak Hindunesia itu juga
berdaya upaya untuk menipu kita (baca bangsa-bangsa yang sadar untuk tidak
berada dibawah kaki berbagai jenis penjajahan dunia).
Kalau persoalan musuh sudah selesai, barulah kita dapat mendiskusikan
persoalan agama dengan aman dari pengaruh poenjajah yang selalu menggunakan
isue agama untuk menutupi kebrobrokan mereka. Dengan diskusi tanpa arogansilah
kita memiliki kemungkinan untuk meraih iman yang sesungguhnya.
Kalau anda tidak setuju apa yang saya katakan ini, alternatif lainnya adalah
terpaksa kita bermubahalah sebagaimana pernah di lakukan Rasulullah dulu
bersama Imam 'Ali (satu-satunya murid Rasulullah yang juga serumah dengan
beliau sampai dikawinkan Allah dan Rasulnya dengan anaknya sendiri), Fatimah
Az Zahara (isteri Imam 'Ali sebagai wanita terbaik bukan saja di jamannya tapi
juga di Dunia dimana Rasul sendiri bersabda bahwa siapa yang menyakiti hati
Fatimah samadengan telah menyakiti hatiku dan siapa yang menyayangi Fatimah
sama dengan telah menyayangiku), Imam Hasan (korban konspirasi jahat Muawiyah
bin Abu Sofyan) dan Imam Hussein yang Syahid di Karbala oleh persekongkolan
manusia hipokrit dibawah penguasa zalim Yazid bin Mu'awiyah bin Abu Sofyan,
musuh bebuyutan Islam sebagai prototipe penguasa Hindunesia sejak jaman
Soekarno hingga Yudhoyono - Kalla hari ini.
Itulah alternatif yang ada kalau hendak menuntaskan persoalan Syi'ah - Sunnah
di Dunia. Bersediakah anda? Saya sarankan untuk berfikir dulu sedalam-dalamnya
sebelum terlkanjur "basah".
Sebagai representan negara Islam sekarang adalah Republik Islam Iran yang
mayoritas Islam Syiah. Realitanya jutaan kaum Islam Sunni disana mendapat
perlakuan sebagai saudara daripada kaum Islam Syiah sendiri (tidak pernah ada
tutuhan yang tidak wajar sebagaimana tuduhan anda ke Syi'ah yang mengundang
permusuhan antar agama hingga menguntungkan pihak penjajah itu sendiri. (saya
khawatir jangan-jangan yang menamakan email Atjeh Post ini termasuk pihak yang
exis dalam status quo)
Di RII bukan saja terhadap penganut Sunni yang mendapat perlindungan negara
tapi juga terhadap penganut agama manapun termasuk yahudi sekalipun. Yang
menjadi musuh bagi Islam Syi'ah adalah kafir harbi, yaitu komunitas manusia
yang memusuhi system Islam, kendatipun mereka menamakan diri pejuang Islam
sekalipun. Hal ini dipahami secara idiologis. Fenomena negara Islam semacam
itu menggambarkan rahmatan lil 'alaminya Islam, sebagai Islam sejati yang tidak
pernah arogan tapi tetap Realitis Sistematis,Optimis, Kreatif dan Dinamis.
Dalam setiap persoalan, manusia Qabil membuat propaganda-propaganda, bahwa
kita Islam extrem, fanatic, fundamentalis, radikal, teroris dan lain-lain
istilah yang membingungkan orang awam. Kita harus tau persis bahwa istilah
extrem dan fanatic adalah dua sifat yang pasti ada pada setiap Rasul/Utusan
Allah, Imam-Imam, Ulama warasatul ambia', Penye ru-Penyeru kebenaran (Pendakwah
Sejati) dan orang-orang Mu'min sejati. Extrem dan fanatic berarti mujaddid dan
istiqamah. Mujaddid berarti bersungguh - sungguh dalam beramar ma'ruf dan nahi
mungkar, sedangkan fanatic berarti teguh pendirian bagai kan ikan di laut,
kendatipun lingkungannya asin, ikan itu tetap tawar. Bukan seperti bunglow
yang selalu tergantung kepada siapa saja yang mempengaruhinya. Andaikata kedua
sifat tersebut dapat digusur dari komunitas Islam dengan berbagai macam
propaganda, sirnalah Ideologi Islam di permukaan bumi ini, yang tinggal
hanyalah buih-buih di lautan, bak kata Rasul.
Islam fundamentalis adalah orang-orang Islam yang memiliki pijakan kuat pada
platformnya, pada fondasinya, pada fundamentnya (pada Aqidahnya/Ideologinya).
Mereka adalah orang-orang yang berIdeologi Islam, Islam yang hidup dalam suatu
komunitas secara bersaudara bukan karena sedarah, sekeluarga dan seketurunan,
tetapi disebabkan se aqidah/seideologi. Namun Islam sejati njuga rahmatan lil
'alamin yang juga bersaudara secara kemanusuiaan.
Mereka itu adalah orang-orang yang memahami serta meyakini bahwa Qur'an itu
adalah pedoman hidup dalam berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Mereka itu
adalah orang-orang yang meyakini bahwa hukum-hukum yang diturunkan Allah bukan
hanya sebatas dipahami saja, tetapi untuk direalisasikan dalam kehidupan
bernegara. Mereka senantiasa memperjuangkan suatu system yang mendapat redha
Allah di negerinya masing-masing, bukan dinegeri orang non Muslim.
Billahi fi sabililhaq
Muhammad Al Qubra
Acheh - Sumatra
Sandnes, Norwegia
Atjeh Post <[EMAIL PROTECTED]> skrev:
Aliran Syiah mengagung agungkan Saidina Ali
http://www.utusan. com.my/utusan/ content.asp?
y=2007&dt=0209&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_03.htm 10 Februari
2007
22 Muharam 1428 SOALAN:
Apakah yang dimaksudkan dengan Syiah? Kenapa ia bukan tergolong dalam Ahli
Sunah wal Jamaah?
JAWAPAN:
Syiah atau Shia merujuk kepada satu aliran dalam Islam yang mengagungkan Ali
bin Abi Thalib dan keturunannya. Golongan ini berpendapat Ali patut menjadi
khalifah pertama selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w.
Golongan ini merupakan golongan yang kedua terbesar dalam Islam selepas
Sunah. Menurut terminologi (istilah) syarak, Syiah bermaksud: Sesiapa yang
mengangkat kepimpinan Ali radiallahu anhu serta memberi taat setia kepada
kepimpinannya dan anak- anaknya. (Husien al-Zahabiy:al- Tafsir wa
al-Mufassirun, jld:2, hlm:5).
Dan apabila disebut si fulan itu Syiah, maka dia menganut atau berfahaman
Syiah. Mereka terkeluar dari golongan Ahli Sunah wal Jamaah kerana ajaran dalam
mazhab banyak perbezaannya dengan ajaran Ahli Sunah wal Jamaah.
Di antara pegangan mereka ialah: Rukun iman Syiah berbeza dengan rukun iman
Ahli Sunah wal Jamaah kerana rukun iman Syiah hanya lima perkara iaitu: Beriman
kepada keEsaan Allah, beriman kepada Keadilan, beriman kepada Kenabian, beriman
kepada Imam, beriman kepada Hari Kiamat.
Apabila kita melihat kepada rukun iman aliran mazhab Syiah adalah berbeza
dengan mazhab Ahli Sunah wal Jamaah. Ini menunjukkan pemahaman mereka di
antaranya ialah beriman kepada keadilan dan beriman kepada Imam.
Golongan ini mendakwa Ali r.a adalah lebih utama menjadi khalifah selepas
kewafatan Rasulullah s.a.w. Golongan ini juga menuduh Abu Bakar, Umar dan
Othman merampas jawatan yang layak bagi Ali r.a. malahan sahabat-sahabat Nabi
s.a.w. yang besar ini telah ditak firkan (mengkafirkan), perkara ini boleh
didapati dalam karya-karya ulama Syiah , di antaranya ialah Abu Jafar berkata
yang bermaksud: Semua manusia (kaum muslimin Ahli Sunah wal Jamaah) menjadi
Ahli Jahiliah kecuali empat orang, Ali, Miqdad, Salman dan Abu Dzar. (Baqir
al-Majlisi, Tafsir al-Safi, jld:1, hlm:389 )
Dalam pada itu, Muhammad bin Yakob al-Kulaini menyifatkan Abu Bakar, Umar
dan Uthman telah terkeluar dari kalangan orang yang beriman lantaran tidak
melantik Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah s.a.w wafat. (al-Kulaini,
al-Usul min al-Kafi, jld:1, hlm: 488)
Malah al-Kulaini mengkafirkan seluruh penduduk Mekah dan Madinah. Menurut
Kulaini, penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekah dan penduduk Mekah
telah kufur kepada Allah dengan terang-terang. (al-Kulaini, al-Usul min
al-Kafi, jld:1, hlm: 488)
Imamah
Al-Kulaini juga menetapkan dalam kitabnya al-Kafi: Sesiapa yang tidak
beriman kepada Imam Dua Belas, maka dia adalah kafir walaupun dia keturunan Ali
atau Fatimah. (al-Kulaini, al-Usul min al-Kafi, jld:1, hlm: 372)
Adapun rukun iman mereka berkaitan dengan Imam ataupun pentingnya soal
Imamah. Kaum Syiah memandang soal Imamah termasuk keyakinan asas. Mereka
mengkafirkan orang yang tidak mengakui keimanan dan memandang orang yang
mengakuinya sebagai Muslim.
Soal Imamah dianggap mempunyai kaitan langsung dengan soal-soal keimanan,
seperti beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasul-Nya.
Hal ini diriwayatkan oleh Al- Kulaini di dalam Al Kafiy, bahawa Abul Hasan Al
Atthar berkata: Aku mendengar Abu Abdullah mengatakan: Hendaklah kamu
sertakan para penerima wasiat dengan para Rasul dalam hal taat. (al-Kulaini,
Al Kafiy, Jilid I hal. 186 )
Al Kulaini mengemukakan sebuah riwayat yang lebih terang dan lebih tegas lagi
mengenai hal itu. Beliau berkata: Aku mendengar Abu Abdullah menegaskan:
Kamilah yang ditetapkan Allah supaya wajib ditaati. Kemaafan tidak akan
diperoleh kecuali dengan mengenal kami, dan orang yang tidak mengenal kami,
tidak memperoleh maaf. Siapa yang mengenal kami, ia mukmin dan siapa yang
mengingkari kami, ia kafir. Sedangkan orang yang tidak mengenal dan tidak
mengingkari kami, ia sesat selagi ia tidak kembali kepada hidayat Allah yang
telah menetapkan orang wajib taat kepada kami. (al-Kulaini, Al Kafiy, Jilid I,
hal. 187)
Al-Kulaini juga mengemukakan sebuah riwayat berasal dari Jabir yang
mengatakan: Aku mendengar Abu Jafar a.s. berkata:
Orang yang mengenal Allah dan menyembah-Nya hanyalah orang yang mengenal
Allah dan mengenal Imam-Nya dari kalangan kami Ahlul Bait. Sesiapa yang tidak
mengenal Allah dan tidak mengenal Imam dari kalangan kami Ahlul Bait,
sesungguhnya orang itu menyembah selain Allah. Itu merupakan kesesatan.
(al-Kulaini, Al Kafiy,, jld:1,hal. 181. I).
Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana
ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Jafar as-Sadiq as pula menyatakan
Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan
kerana akidah mereka bertentangan dengan al-Quran dan hadis.
Syiah al-Zaidiyyah juga dikira aliran fahaman syiah yang hampir kepada mazhab
Ahli Sunah wal Jamaah.
Justeru, berdasarkan pegangan serta pemahaman yang dapat dipetik
menggambarkan mazhab Syiah tidak tergolong dalam ajaran Ahli Sunah wal Jamaah.
SOALAN: Adakah jatuh talak apabila si isteri memohon diceraikan tetapi si
suami memberi jawapan dengan mengatakan jika awak hendak bercerai dengan saya,
tunggu sehingga selepas raya, saya uruskan. Adakah talak itu jatuh ke atas si
isteri selepas raya?
JAWAPAN: Walaupun ungkapan dari suami itu berbentuk janji, yang terikat
dengan masa iaitu janjinya untuk menceraikan isterinya selepas raya, justeru
terpulang pada suami untuk menceraikan isterinya ataupun tidak.
Ini kerana suami baru berjanji, maka lafaz janji tidak dikira sebagai lafaz
taklik.
Maksudnya taklik ialah perceraian yang dikaitkan dengan sesuatu keadaan yang
akan berlaku dengan mengguna beberapa perkataan seperti, apabila berlaku,
sekiranya berlaku, jika berlaku, setiap kali berlaku dan sebagainya.
Contohnya, suami berkata kepada isterinya: Sekiranya kamu keluar rumah hari
ini, kamu tercerai.
Dalam persoalan ini dapatlah ustaz simpulkan bahawa si suami hanya berjanji
untuk menguruskan perceraian, itu pun jika dia mahu.
Kalau si suami tidak menguruskannya, maka tidak ada proses perceraian.
Oleh itu, si isteri tidak perlu risau kerana tidak berlaku cerai selepas
raya, ini kerana apa yang disebut oleh si suami tidak boleh dianggap sebagai
lafaz taklik.
---------------------------------
Live Search delivers results the way you like it. Try live.com now!
---------------------------------
Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass
http://no.mail.yahoo.com