Semburan Baru Lapindo
Tragedi Lapindo seolah tak kunjung usai. Bila selama ini warga Sidoarjo 
menderita akibat semburan lumpur, kali ini ada semburan baru berupa air 
bercampur gas berbahaya. Detik com edisi hari ini melaporkan, semburan air 
bercampur gas keluar dari rumah Achmad Ducha di Jalan KH Marzuki, Desa Mindi, 
Kecamatan Porong Sidoarjo. Semburan ini menjadi tontonan warga sekitar yang 
penasaran ingin melihatnya. Beberapa petugas keamanan berpakaian preman menjaga 
rumah berlantai dua itu. Pagar ditutup dan rumah terlihat gelap. Semburan itu 
ditemukan oleh istri Achmad Ducha, Mujiati. Air keluar dari celah-celah lantai 
keramik, sehingga ubin pecah dan copot sehingga mereka pun segera mengangkuti 
barang-barang keluar rumah.  
Achmad Ducha juga segera menelpon Dinas Pengendalian Semburan Lumpur dan tak 
lama kemudian, petugas Fergaco, perusahaan  pemantau dan analisi gas berbahaya 
yang disewa PT Lapindo Brantas datang  ke lokasi. Menurut petugas Fergaco, 
semburan air bercampur gas hidrokarbon itu berbahaya jika terkena api, karena 
itu warga dilarang menyalakan api di sekitar lokasi. Achmad Ducha mengharapkan 
Lapindo dan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo untuk bertanggung jawab atas 
kerugian yang dideritanya.
Penderitaan penduduk 4 desa yang terkena lumpur panas dan asam sulfida dimulai 
pada tanggal 29 Mei 2006. Itulah saat pertama kali lumpur menyembur dari dalam 
tanah. Semula hanya sedikit semakin lama semakin besar. Lapindo dan pemerintah 
tidak mempunyai usaha yang nyata ketika semburan itu masih kecil. Seolah mereka 
menunggu sampai besar baru mereka kebingungan. Ketika tanggul yang dibangun 
sudah bocor kecil mereka membiarkan saja. Protes warga sampai menyandera truk 
pengangkut pasir tidak membuat mereka segera bertindak menutup bocoran. Ketika 
tanggul jebol sehingga lumpur semakin luas menenggelamkan desa baru pemerintah 
terlihat bereaksi.
Pemerintah pun kemudian membentuk Tim Nasional untuk melakukan penanggulangan 
musibah ini. Namun, kondisi terus semakin parah. Pada pertengahan Desembar 
2006, pipa gas pertamina yang berada di bawah jalan tol Porong yang selama ini 
terendam lumpur meledak. Ledakan ini menyebabkan terusirnya warga Perum TAS 
(Tanggulangin Anggun Sejahtera), warga Kedungbendo serta Ketapang dari 
rumahnya. Mereka mendapat predikat baru yaitu pengungsi. Mereka pun menderita 
berbagai penyakit, anak-anak terganggu sekolah, para orangtua kehilangan 
pekerjaan, dan banyak lagi penderitaan lain yang harus ditanggung warga korban 
lumpur Lapindo. Sejauh ini, Lapindo yang berlindung di balik Tim Nasional dan 
sekarang diubah bentuk menjadi BPLS, memang sudah memberikan ganti rugi kepada 
sebagian warga. Namun masih banyak warga yang belum memperoleh haknya. 
Menghadapi masalah ini, pemerintah tentu tidak boleh tinggal diam dan hanya 
memberikan janji-janji manis kepada masyarakat. Ironisnya, seperti diberitakan 
Kompas edisi hari ini, aparat kepolisian justru menghalang-halangi para korban 
lumpur Lapindo yang berniat ke Jakarta untuk berdemonstrasi menuntut hak 
mereka. Warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera 1 yang akan berangkat ke 
Jakarta, Sabtu (14/4), dihalang-halangi oleh polisi. Di Stasiun Kereta Api 
Pasar Turi, jajaran Kepolisian Resor Surabaya Utara merazia warga Perumtas 1 
yang mungkin berbaur dengan calon penumpang lainnya. 
Dalam operasi ini polisi menggagalkan seorang warga Perumahan Tanggulangin 
Anggun Sejahtera (Perumtas) 1 yang hendak berangkat ke Jakarta. Polisi telah 
menjaga pintu gerbang Stasiun Pasar Turi sejak pukul 09.00. Siang hari, para 
petugas mulai melakukan razia dengan menggeledah semua barang bawaan dan kartu 
tanda penduduk calon penumpang. Ini adalah kedua kalinya mereka mencoba 
bertolak ke Jakarta. Beberapa waktu lalu, rencana mereka ke Jakarta gagal 
karena dihalangi oleh jajaran kepolisian di Stasiun Pasar Turi. Sikap aparat 
keamanan ini patut disesalkan karena menimbulkan kesan bahwa pemerintah sedang 
berusaha menghalangi para korban lumpur untuk menyuarakan protes mereka. 
 
Rencana Reshuffle Kabinet 
Isu mengenai akan dilakukannya reshuffle kabinet beberapa hari terakhir ini 
kembali mencuat. Kompas edisi hari ini mengutip pernyataan Wakil Presiden Jusuf 
Kalla, yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya, yang 
menyebutkan bahwa acuan yang akan dijadikan pijakan dalam perombakan 
(reshuffle) kabinet adalah kapasitas dan kinerja para menteri. Reshuffle tidak 
ada hubungannya dengan kepentingan politik, kata Jusuf Kalla. 
Meskipun dalam dua hari berturut-turut berkomentar soal reshuffle kabinet, 
Kalla mengaku, rapat konsolidasi nasional Partai Golkar yang berlangsung 
tertutup tidak membahas masalah yang menjadi hak prerogatif Presiden itu. 
Namun, soal kesiapan jika diminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengisi 
kabinet, Partai Golkar yang memiliki banyak kader siap. 
Kompas juga mengutip pendapat peneliti dan pengamat politik dari CSIS, J 
Kristiadi, yang menyatakan, dengan acuan kapasitas dan kinerja menteri, akan 
mudah bagi Presiden Yudhoyono untuk menggunakan hak prerogatifnya mengganti 
para menteri. Namun, kapasitas dan kinerja tidak dapat begitu saja dijadikan 
satu-satunya acuan. "Selain melihat para menteri yang secara obyektif tidak 
membawa kemajuan (berdasarkan kapasitas dan kinerja), Presiden tidak akan bisa 
begitu saja melupakan kontribusi pembantu-pembantunya saat kampanye. Untuk ini, 
Presiden akan sangat hati-hati sekali," ujarnya. 
Meskipun masih ada harapan perbaikan dengan reshuffle kabinet, Kristiadi 
mengingatkan, reshuffle kabinet bukan lampu aladin yang bisa mengubah keadaan 
dalam waktu singkat. "Siapa pun menterinya, kalau birokrasi yang menopangnya 
masih seperti sekarang, harapan adanya perbaikan dengan reshuffle hanya seperti 
mimpi di siang hari," ujarnya. 
Sementara itu, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung seperti yang dikutip Kompas, 
menilai bahwa saat inilah momentum yang tepat bagi Presiden Yudhoyono jika 
ingin mengganti anggota kabinet. Alasannya, dengan waktu dua setengah tahun 
Presiden telah memiliki evaluasi yang lengkap mengenai kapasitas dan kinerja 
para menteri.  Selain itu, menjelang tahun 2008, perhatian Presiden Yudhoyono 
sudah akan terbagi antara kegiatan pemerintahan dan persiapan menghadapi 
pemilu. Akbar Tanjung juga mengingatkan agar pergantian menteri dilakukan 
dengan pertimbangan kapasitas dan kinerja yang obyektif, bukan pertimbangan 
politis terkait dengan partai politik. Perombakan itu juga harus membuat 
kabinet mampu menerjemahkan visi dan misi pemerintahan secara baik. 
Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Pramono Anung juga 
ikut bersuara. Seperti dikutip Liputan 6 SCTV, Pramono menilai bahwa secara 
keseluruhan, kinerja kabinet yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla ini dinilai sangat mengecewakan. Jauh 
dari yang dijanjikan saat kampanye di pemilihan umum. Pramono mengibaratkan 
Kabinet Indonesia Bersatu sebuah orkestra. Kekompakan dan harmoni orkestra pun 
tergantung sang konduktor. Pramono menilai selama ini konduktor tidak berjalan 
dengan baik. Bahkan ada rivalitas antara Presiden dan Wapres. Dengan kondisi 
ini, Pramono menilai tidak tepat jika semua kesalahan dilimpahkan kepada para 
menteri.
Lebih jauh Pramono mengatakan, Presiden sangat perlu untuk melakukan 
perombakan, tapi bukan karena tekanan siapa pun. Sebab beberapa menteri selama 
ini banyak yang sibuk di partai sehingga departemen mereka menjadi 
terbengkalai. Padahal sebagai menteri harusnya mencurahkan tenaga dan pemikiran 
untuk negara dan bangsa. "Tidak mencari kedudukan dan bargaining position," 
kata Pramono.
 
Ke Atas

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke