Meninjau Kembali Ajaran Al Masih 
Nabi Isa Al Masih a.s. adalah seorang nabi yang termasuk salah satu dari lima 
orang nabi yang dijuluki ‘Ulul azmi, yaitu para nabi yang harus menanggung 
penderitaan dan pengorbanan terbesar selama menyampaikan ajaran Ilahi. 
Nabi Isa dianugerahi Allah mukjizat sejak beliau lahir, yaitu kemampuan 
berbicara di saat beliau masih bayi. Hal ini diceritakan dalam Al Quran Surah 
Maryam ayat 30 hingga 33 yang artinya sbb. “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini 
hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab Injil dan Dia menjadikan aku seorang nabi. 
Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. Dia 
memerintahkan kepadaku untuk mendirikan salat dan menunaikan zakat selama aku 
hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang 
sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari 
aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan kembali.”
Kepribadian Nabi Isa a.s. yang begitu luhur, serta ajarannya yang penuh 
kemuliaan, yaitu antara lain mengenai persahabatan dan keadilan, membuat kita 
bertanya-tanya, saat ini sejauh manakah para pengikut nabi besar tersebut 
melaksanakan ajaran-ajarannya dan apakah mereka patuh kepada segala petunjuk 
dari Nabi Isa? Bila kita melihat kondisi dunia hari ini, kita akan merasa 
kecewa dan putus asa melihat perilaku negara-negara Barat yang sebagian besar 
penduduknya mengaku sebagai pengikut Nabi Isa. Kekecewaan ini akan semakin 
besar bila kita melihat kinerja pemerintahan Amerika saat ini yang konon sangat 
relijius dan amat terikat pada ajaran Nabi Isa, melebihi negara-negara Barat 
yang lain.
Presiden AS saat ini, George W. Bush, sering mengklaim dirinya sebagai seorang 
yang relijius. Dia memulai rapat-rapat pemerintahan dengan membaca Injil dan 
dalam pidato-pidatonya, ia sering mengutip kalimat-kalimat dari kitab suci itu. 
Perilaku Bush ini akan menimbulkan pemahaman, terutama di kalangan awam, bahwa 
kebijakan-kebijakan yang diambilnya adalah berdasarkan kepada ajaran Isa Al 
Masih. Namun kenyataannya, dunia menyaksikan bahwa tidak ada pemimpin negara 
yang lebih ambisius dan lebih kejam daripada George W. Bush. Pada awal era 
pemerintahannya, dia telah melancarkan dua perang berdarah terhadap Afghanistan 
dan Irak, yang masih terus berlanjut hingga kini. Tak hanya rakyat Afganistan 
dan Irak yang menjadi korban, termasuk perempuan dan anak-anak yang tidak 
berdaya, namun juga ribuan tentara AS sendiri harus menjadi korban dari ambisi 
berdarah Bush. Bahkan, akibat biaya perang yang sangat tinggi, puluhan juta 
rakyat AS juga harus menderita kemiskinan.
Kini pertanyaan yang timbul adalah, apakah kekejaman dan pembunuhan yang 
sedemikian keji merupakan bagian dari ajaran Nabi Isa a.s? Jawabannya sudah 
jelas. Semua orang mengetahui bahwa Nabi Isa a.s. selalu menyerukan perdamaian 
dan kasih sayang. Nabi Isa selalu berpihak kepada orang-orang yang zalim dan 
membenci kaum arogan yang menjadi pembunuh dan berlaku zalim. Nabi Isa al Masih 
berkata, “Barangsiapa yang sanggup untuk menghalangi atau mencegah kezaliman, 
namun tidak melakukannya, maka orang itu sama saja seperti orang yang berbuat 
zalim.” 
Pembunuhan dan aksi kekerasan tidak saja dilakukan oleh pemerintah Amerika saat 
ini, namun sejak satu abad yang lalu, pemerintah negara ini telah berkali-kali 
menjatuhkan korban demi mencapai ambisi perang dan ekspansionisnya. Pembunuhan 
massal manusia yang paling dahsyat di dunia, yaitu dijatuhkannya bom atom ke 
kota Hiroshima dan Nagasaki pada akhir Perang Dunia Kedua,  dilakukan oleh 
orang-orang yang mengaku sebagai pemeluk Kristen. Berbagai perang juga telah 
dilancarkan oleh AS, yang korbannya sedemikian banyak, hingga tak terhitung 
lagi. Perang Vietnam, Perang Korea, Perang di Afrika, dan lain-lain, semuanya 
telah merenggut nyawa jutaan rakyat sipil dan militer. Dalam peperangan itu, AS 
tak segan-segan menggunakan senjata pembunuh massal, seperti bom kimia dan 
ranjau darat yang sangat kejam. 
Selain dari Amerika, negara-negara Barat lain juga tak lepas dari berbagai aksi 
kekejaman. Selama berabad-abad, negara-negara Eropa menjajah dan memperbudak 
rakyat di Asia dan Afrika. Hasil bumi dan kekayaan alam negara-negara dunia 
ketiga dirampok dan dirampas, sementara rakyat pribumi dibiarkan hidup dalam 
kemiskinan dan kebodohan. Kini, ketika negara-negara Eropa menjadi kaya dan 
kuat dari hasil penjajahan tersebut, mereka pun masih menekan negara-negara 
dunia ketiga yang miskin dan terbelakang.  Apakah pelaku aksi kekejaman ini 
berhak mengaku sebagai pengikut Nabi Isa Al Masih, seorang nabi yang pengasih 
dan penuh kasih sayang? 
Bentuk perilaku lain yang perlu dipertanyakan dari para pemeluk ajaran Isa Al 
Masih adalah perilaku rasialis dan diskriminatif mereka. Pandangan-pandangan 
rasialis dan diskriminatif sama sekali tidak selaras dengan ajaran Nabi Isa as. 
Pemerintah-pemerintah Barat senantiasa menganggap diri mereka lebih besar dan 
mulia dari negara-negara lain dan karena itu mereka merasa berhak untuk 
merampok kekayaan dan harta milik negara lain. Di dalam negeri mereka pun, 
terdapat diskriminasi, baik antara warga kulit putih dan kulit hitam, atau 
diskriminasi antara warga Kristen dengan warga beragama lain. Padahal Nabi Isa 
a.s. selama hidupnya tidak pernah bersikap diskriminatif. Beliau selalu duduk 
dan makan bersama dengan orang-orang miskin, baik itu kulit putih, hitam, atau 
dari ras lainnya. 
Salah satu bukti nyata dari sikap rasialisme yang berkembang di negara-negara 
yang mengklaim diri sebagai pemeluk ajaran Isa Al Masih adalah dukungan mereka 
kepada rezim rasialis Zionis. Rezim Zionis sejak didirikan pada tahun 1948 
hingga kini ini telah membunuh jutaan rakyat Palestina dan menghancurkan 
rumah-rumah mereka. Padahal, tanpa dukungan Barat khususnya Amerika, tidak 
mungkin Tel Aviv masih bisa berdiri hari ini. Dalam rangka mendukung rezim 
pembunuh ini, sebagian pemeluk Kristen bahkan mendirikan kelompok bernama 
Kristen Zionis yang mengupayakan bantuan lebih besar dari pemerintah Washington 
untuk Rezim Zionis. Dasar pemikiran mereka adalah kepercayaan bahwa Nabi Isa 
akan kembali muncul jika Palestina dan Masjidul Aqsa berada dalam kekuasaan 
orang-orang Yahudi. 
Dengan kata lain,  kelompok Kristen Zionis berpendapat bahwa pembunuhan 
terhadap jutaan rakyat tidak berdosa merupakan sesuatu hal yang diperlukan demi 
kemunculan Nabi Isa. Hal ini jelas bertolak belakang dengan ajaran Nabi Isa 
yang selalu memerintahkan manusia agar bersikap kasih sayang terhadap sesama. 
Bahkan, dalam kepercayaan kaum muslim, Nabi Isa akan muncul kembali di muka 
bumi bersama keturunan Nabi Muhammad, yaitu Imam  Mahdi (a.f.) dan mereka akan 
menegakkan perdamaian dan keadilan di muka bumi, serta menumpas orang-orang 
yang zalim. 
Budaya hedosnisme dan kebebasan tanpa batas yang meraja-lela dalam masyarakat 
Barat juga merupakan bentuk pelanggaran lain dari ajaran Nabi Isa Al Masih. Di 
dalam Al Quran diceritakan saat malaikat menyampaikan berita kepada Maryam 
bahwa ia akan mendapat seorang anak yang akan menjadi seorang nabi. Maryam 
berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki sedang tidak pernah 
seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina.” Malaikat 
Jibril menjawab, “Demikianlah Tuhanmu berfirman: Hal itu adalah mudah bagi-Ku 
dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat 
dari Kami dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” Ayat ini 
menunjukkan bahwa kesucian adalah sesuatu hal yang amat dipegang teguh oleh 
Nabi Isa dan ibunda beliau.
Namun, dewasa ini, hubungan perempuan dan lelaki di luar perkawinan telah 
dianggap sebagai hal bisa di Barat. Bahkan, yang lebih keji lagi, hubungan 
sesama jenis, yaitu homoseksual, malah  telah  dilegalisasi oleh sebagian 
negara di Eropa dan Amerika. Dari gereja-gereja yang seharusnya menjadi tempat 
suci kaum Kristiani pun sering terdengar berita mengenai kasus-kasus seksual. 
Saat ini, banyak sekali anak-anak luar nikah yang lahir dan menjadi problema 
besar bagi pemerintah Barat. Diprediksikan pada tahun-tahun mendatang, sebagian 
besar populasi negara-negara Barat akan terbentuk dari anak-anak di luar nikah 
itu. Selain itu, di bawah kedok kebebasan, segala bentuk kejahatan, pornografi, 
dan aksi kekerasan telah ditayangkan secara bebas di layar sinema, televisi, 
dan internet. 
Semua fakta yang telah kami sampaikan d atas menunjukkan bukti bahwa sebagian 
besar kaum Kristiani telah melupakan ajaran mulia dari Nabi besar mereka, Isa 
Al Masih a.s.  Allah swt dalam Al Quran surah Al Hadid ayat 27, menyebut 
pengikut sejati Nabi Isa sebagai berikut. “Kemudian Kami iringi di belakang 
mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi pula dengan Isa putra Maryam; 
dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang 
mengikutinya rasa santun dan kasih sayang.“ 
  
 
 

 




[ Index Perspektif ]   [ Home ]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke