http://www.serambinews.com/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=28988&rubrik=1&kategori=7&topik=12 a.. 5/05/2007 02:25 WIB
Aceh Cukup Kondusif bagi Investasi Asing JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, kondisi keamanan, politik dan perekonomian Indonesia saat ini cukup baik, termasuk Aceh yang sebelumnya dilanda konflik dan tsunami. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksinya berjalan baik. Begitu juga dengan kondisi keamanan di daerah itu pasca-perjanjian damai RI-GAM semakin kondusif bagi upaya menarik investasi asing. "Kondisi yang telah semakin baik itu, kita harapkan bisa mendorong Pemerintahan Aceh yang baru untuk bekerja lebih tenang dan cepat lagi, dalam melaksanakan pembangunan di berbagai sektor untuk kesejahteraan masyarakatnya," kata Presiden SBY ketika membuka Konvensi dan Pameran Industri Minyak dan Gas ke-31, yang berlangsung di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta, Senin (13/5). Konvensi dan Pameran Industri Minyak dan Gas ke-31 yang diselenggarakan Indonesian Petroleum Association (IPA) itu, diikuti oleh 100 perusahaan perminyakan dari berbagai belahan dunia dan dihadiri 1.600 orang peserta lokal dan luar negeri, termasuk sejumlah duta besar negara-negara sahabat dan produsen minyak dunia. Konvensi dan Pameran Industri Minyak dan Gas ke-31 ini akan berlangsung selama tiga hari (14-16 Mei 2007). Selain masalah Aceh, Presiden SBY juga menjelaskan masalah konflik Poso. Ia mengatakan, konflik di Poso sudah reda, dan telah kembali normal. Selanjutnya, ia menegaskan, sisa waktu 2,5 tahun masa kepemimpinannya itu akan diisinya dengan berbagai program pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya program pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan maksud mengurangi jumlah penduduk miskin dan pengangguran. "Untuk program ini, melalui subsidi dana BBM telah disediakan anggaran sebesar Rp 50 triliun," katanya. Menurut Kepala Negara, upaya-upaya tersebut akan dilakukan dengan cara menciptakan lapangan kerja baru di berbagai sektor, seperti sektor ril, industri pertambangan minyak dan gas. "Kita telah menawarkan wilayah kerja eksplorasi sebanyak 21 lokasi diberbagai daerah dan membuka serta mengeksploitasi ladang-ladang minyak dan gas baru yang telah ditemukan oleh sejumlah perusahaan pengeboran minyak Nasional dan Internasional," ujar Presiden SBY. Penawaran wilayah kerja pertambangan minyak dan gas serta pembukaan ladang-ladang perminyakan dan gas yang baru itu, katanya, sangat penting dilakukan, untuk pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri yang terus meningkat sangat tinggi dan pasar ekspor untuk peningkatan penerimaan devisa. Pertumbuhaan ekonomi Indonesia, sebutnya, semakin membaik. Tahun 2005 sebesar 6,5 persen, tahun 2006 lalu naik menjadi 6,3 persen dan tahun 2007 ini bisa naik lagi. Begitu juga dengan angka inflasi yang cendrung menurun. Tahun 2005 angka inflasi kita masih tinggi mencapai 17, persen, tahun 2006 turun menjadi 6,6 persen dan tahun ini kita berarap dibawah 7 persen. Indikator ekonomi lainnya yang telah membaik adalah, mata uang rupiah kita terhadap dolar AS semakin kuat, saat ini berkisar antara Rp 8.100/dolar AS, dan kondisi berbagai saham perusahaan nasional dan internasional di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga semakin membaik. Kerjasama bilateral Dampak dari membaiknya pertumbuhan ekonomi dan penerimaan dalam dua tahun terakhir ini, kata presiden, kita telah mampu menyelesaikan utang dengan IMF dan lainnya. Langkah selanjutnya akan melakukan kerjasama bilateral dengan negara-negara maju, dan berbagai lembaga keuangan luar negeri seperti ADB, World Bank dan lainnya. "Kecuali itu, komitmen untuk memberantas korupsi dan penyelundupan minyak dan gas serta lainnya, terus ditingkatkan dengan cara meningkatkan kinerja lembaga pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran. Ini kita lakukan dengan cara memperkuat lembaga-lembaga penegakan hukum yang ada di negara ini," kata Presiden SBY. Untuk mendorong masuknya investor pertambangan migas, kata presiden, peraturan migas yang dapat menghambat masuknya investor migas dan yang menjadi konflik antara pusat dan daerah akan direformasi kembali dan akan ada regulasi peraturan migas baru. Tujuannya agar unggulan di sektor pertambangan yang ada di Indonesia bisa jadi kompetitif dengan negara-negara lain yang punya unggulan sama di sektor migas. Kebijakan itu perlu dilakukan untuk mencapai target produksi minyak dan gas nasional sebanyak 1 juta barel per hari bagi peningkatan kesejahtraan rakyat. Namun untuk pencapaian target produksi minyak dan gas 1 juta barel per hari itu, kata presiden, kita juga harus memperhatikan lingkungan. Kelestarian lingkungan perlu terus dijaga, jangan sampai rusak. Misalnya menekan pencemaran udara oleh CO2, dan lainnya. "Kecuali itu pemanasan global perlu diantisipasi dengan berbagai kebijakan yang memberikan ketenangan bagi dunia usaha dan masyarakat. Ini sudah menjadi komitmen kita bersama dan tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk segera dilaksanakan," kata kepala negara. Saran dan usul yang hampir serupa juga disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro dalam pidato sambutannya. Sedangkan Ketua API Chris Prattini melaporkan, industri migas Indonesia telah melakukan berbagai pencapaian di tahun 2006, namun masih banyak lain lagi yang perlu dilakukan sepenuhnya pada tahun 2007 untuk merealisasikan potensi migas, guna memberikan sumbangsih bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Satu perusahaan Migas di Aceh, ExxonMobil yang turut ambil bagian dalam Pamaren Industri Perminyakan dan Gas ke-31 di JCC, Senayan, Jakarta itu memaparkan rencana eksploitasi sumber Migas barunya di Block Cepu Banyu Urip, Bojonegoro, Jawa Timur. Di Aceh, ia tidak melanjutkan eksplorasi baru, melainkan meneruskan eksploitasi sumur Migas lama yang berada di wilayah Aceh Utara dan Aceh Timur. Kontrak dengan pembeli menurutnya baru habis pada tahun 2014 mendatang, sedangkan kontrak dengan pemerintah pusat baru akan habis 2018. Sementara itu, mengenai sumber Migas baru Block A yang terdapat di daerah perbatasan Aceh Timur dan Aceh Utara, baru akan dieksploitasi oleh dua perusahaan migas asing yaitu Medco dan Conoco Philip pada tahun 2010 mendatang. Namun untuk eksploitasi sumber migas yang ada di Langsa, sudah dilakukan untuk pemenuhan permintaan gas PT PIM.(her
