Bentrok Warga dan TNI
Dalam menjalankan setiap tugas ada etika yang harus dijaga dan dijunjung 
tinggi. Kalangan petani memiliki etika dan tanggung jawab yang berbeda dengan 
para pejabat pemerintahan. Masing-masing punya tanggung dan etika tugasnya, tak 
terkecuali kalangan militer. Ketika tentara mendapat gaji, tunjangan dan 
fasilitas dari negara, tentunya itu semua didapatkan karena mereka memiliki 
tugas menjaga keamanan negara. Tempaan fisik dan pendidikan militer termasuk 
amanat memegang senjata dimaksudkan untuk mendukung tugas mulia yang mereka 
emban.
Tapi sayangnya, dalam praktik masih banyak prajurit yang tidak mengerti posisi 
dan tugas mereka. Tempaan dan pelatihan fisik yang mereka terima atau amanat 
senjata yang diberikan kepada mereka dianggap sebagai anugerah untuk tampil 
lebih kuat dari yang lain. Hasilnya, terjadi pamer kekuatan di tengah 
oknum-oknum yang belum memiliki jiwa ketentaraan sejati. Kita sering mendengar 
bentrokan antara polisi dan tentara dengan masing-masing menggunakan senjata 
yang bukan milik mereka tetapi amanat dari bangsa ini. 
Kali ini kita dikejutkan oleh berita bentrokan warga dengan marinir di Grati 
Pasuruan. Empat warga termasuk wanita hamil tewas tertembus timah panas yang 
meluncur dari senjata yang diamanatkan kepada marinir. Menurut Kompas, selain 
empat tewas, delapan warga juga mengalami luka tembak. Peristiwa ini dipicu 
sengketa tanah seluas 539 hektar. Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal Safzen 
Noerdin di Surabaya menyesalkan insiden tersebut. Dikatakan, pihaknya akan 
menanggung biaya pengobatan korban dan pemakaman korban yang meninggal. 
Pernyataan Safzen Noerdin itu cukup menyakitkan karena menganggap kasus yang 
menewaskan empat warga dan melukai delapan orang dengan kondisi sebagiannya 
kritis dapat selesai hanya dengan menyodorkan uang untuk biaya pengobatan dan 
pemakaman. Alangkah murahnya ia menilai harga nyawa warga Indonesia. Lebih 
lanjut Safzen menyebut aksi penembakan itu dilakukan karena terpaksa dan untuk 
membela diri. Tapi Komandan Korps Marinir itu tidak menjelaskan tentang 
tewasnya Khotijah saat masih memarut kelapa di rumah atau Sutam yang sedang 
melinting rokok juga Mistin yang sedang memasak di dapur. Jawa pos memberitakan 
mereka tewas terkena peluru marinir. 
Yang menjadi masalah tentara di Indonesia adalah banyaknya prajurit yang kurang 
dewasa atau belum memahami arti dari keprajuritan. Akibatnya banyak oknum di 
jajaran militer yang mudah main tembak, lantas untuk menghindar dari tanggung 
jawab menyebut penembakan yang dilakukan sebagai langkah membela diri. Sangat 
disayangkan peluru yang seharusnya ditembakkan ke musuh yang melakukan agresi 
ke bumi pertiwi malah menembus dan mengoyak dada dan kepala anak bangsa sendiri 
apalagi warga sipil yang lemah.
Anggota Komisi I DPR RI asal Fraksi PAN daerah pemilihan Jawa Timur I Djoko 
Susilo, menyampaikan protes keras terhadap penembakan yang dilakukan oknum 
prajurit TNI Angkatan Laut tersebut. Djoko mempertanyakan mengapa para oknum 
TNI AL itu dapat dengan mudah menembaki masyarakat padahal senjata dan peluru 
yang mereka gunakan dibeli dari uang rakyat. Djoko menambahkan, Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono harus segera memerintahkan pengusutan terhadap insiden 
penembakan yang terjadi di wilayah itu. Pengusutan dilakukan untuk menghukum 
semua pihak yang terlibat dalam penembakan. 
Protes keras juga dilontarkan anggota Komisi I asal F-PDI Perjuangan, Andreas 
Pareira. Dia mendesak penyelidikan terhadap motivasi serta latar belakang 
penembakan itu dan sekaligus mendesak institusi TNI tidak berupaya melindungi 
para oknum prajuritnya yang bersalah. Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto yang 
menyesalkan insiden bentrok antara masyarakat Grati, Pasuruan, Jawa Timur, 
dengan prajurit TNI Angkatan Laut, dan berjanji akan menuntaskan insiden 
tersebut melalui jalur hukum tanpa berupaya menutup-nutupi prajuritnya yang 
bersalah. 
 

Komentar Ali Al Asytar Acheh - Sumatra
Yang namanya tentara Hindunesia itu memang tidak pernah mengerti kalau mulai 
dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dibiayai oleh rakyat jelata.  Anehnya 
ketika ada pihak yang mendiskreditkan tni masih ada pihak yang membelanya. 
Sebetulnya itu tidaklah aneh mengingat bahwa mereka itu swebetulnya bukan orang 
Islam yang benar pegangan hidupnya (baca Al Qur-an). Mereka itu menamakan diri 
sebagai orang Islam tapi pegangan hidupnya bukan Al Qur-an tapi Pancasila made 
in Soekarno yang idenya ber4asal dari Mpu tantular.  Penyakit tersebut sudah 
menular hingga ke Acheh - Sumatra. Justru itulah di Acheh sekarang terjadi 
bermacam-macam kezaliman seperti pembunuhan, pemorkosaan, perzinaan, perampokan 
dan bermacam prilaku a susila lainnya.


Buntut Insiden Sydney
Aksi yang dilakukan dua polisi Australia yang masuk ke kamar hotel Gubernur DKI 
Jakarta Sutiyoso kala melakukan kunjungan resmi ke negara bagian New South 
Wales Australia dan penyerahan surat pemanggilan untuk sidang kasus terbunuhnya 
dua wartawan Australia di Balibo 1975, menuai badai protes di Indonesia. Kasus 
yang oleh sebagian kalangan disebut dengan Insiden Sydney ini telah melahirkan 
gelombang aksi demo dalam dua hari terakhir di depan Kedutaan Besar Australia 
di Jakarta. Seperti diberitakan Republika, sejumlah organisasi datang silih 
berganti mendesak Pemerintah Australia meminta maaf atas secara terbuka terkait 
insiden ini. 
Gerakan Pemuda Kabah (GPK) dan Badan Organisasi Masyarakat (BOM) adalah 
termasuk diantara kelompok yang menggelar unjuk rasa. Selain menuntut 
pemerintah Australia meminta maaf, massa BOM mengancam akan melakukan sweeping 
warga Australia di Jakarta agar segera hengkang dari Indonesia.
Sedangkan Sekjen BOM, Hari Usman mengatakan penghinaan berulang kali yang 
dilakukan Australia kepada Indonesia telah menurunkan martabat bangsa Indonesia 
di mata dunia. Menurut dia, sunggguh tidak termaafkan berbagai tindakan yang 
telah dilakukan Australia seperti tuduhan Indonesia sebagai sarang teroris, 
mendiskreditkan TNI juga pemberian suaka politik kepada 40 warga Papua.
BOM, lanjut Hari Usman, akan mendesak Pemerintah Indonesia mengakhiri hubungan 
dengan Pemerintah Australia dan mengajak masyarakat memboikot produk buatan 
Australia. 
Sementara itu, Suara Pembaruan Daily melaporkan bahwa Menlu Hassan Wirajuda 
sudah menyampaikan protes resmi ke Australia melalui Duta Besar Australia untuk 
Indonesia, Bill Farmer, hari Rabu. Hassan juga akan menelepon langsung Menlu 
Downer atas peristiwa yang dialami Sutiyoso di negara bagian New South Wales. 
Dalam pertemuan dengan Dubes Bill Farmer, Menlu Wirajuda menyampaikan sikap 
Pemerintah Indonesia atas peristiwa yang dialami Gubernur Sutiyoso. 
Dampak dari kasus Sutiyoso ini nampaknya tidak mudah dilewatkan begitu saja. 
Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR, hari Kamis, menggelar rapat untuk 
memberikan rekomendasi kepada pemerintah atas hubungan Indonesia dan Australia. 
 Anggota Komisi I DPR, yang juga anggota BKSAP, Ali Mochtar Ngabalin, 
mengungkapkan, hari ini DPR akan melakukan koordinasi ulang dengan Departemen 
Luar Negeri terkait sikap kepolisian Australia terhadap Sutiyoso. Paling tidak 
yang harus bisa dilakukan oleh pemerintah itu adalah mengevaluasi kembali 
hubungan diplomatik Indonesia dengan Australia.

Komentar Ali Al Asytar Acheh - Sumatra
Betapapun Australia jauh lebih baik dibandingkan Hindunesia yang hinduis itu. 
Dari itu demo yang dilakukan Gerakan Pemuda Ka'bah (GPK) dan Badan Organisasi 
Masyarakat (BOM) keliru 180 derajat. Sungguh aneh sekali mereka ikut-ikutan 
membela Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso itu.  Sesungguhnya mulai dari camat, 
bupati, gubernur dan Presiden dalam system Hindunesia itu adalah penipu rakyat 
jelata. Mereka lebih kejam daripada tentara dan polisi.  Kalau tentara dan 
polisi dengan mudahnya membunuh rakyat jelata tanpa menyadari bahwa mereka 
dibiayai oleh rakyat, pejabat,pejabat negara itu merupakan tokenya tentara. 
Artinya kezaliman yang dilakukan mereka mendapat legitimate dari 
penguasa-penguasa tersebut.  Mereka adalah "Yaziud-yazid" atau "Saddam-saddam" 
atau "Suharto-suharto" atau "Qabil-qabil" modern yang lebih tebal selubungnya 
dibandingkan "Yazid-yazid" asli dulu yang membaitai keluarga Rasulullah di 
Karbala, Irak sekarang.  Mereka mendapat support dari "Bal'am-bal'am",
 "Karun-karun dan Hamman-hamman.

Anehnya Syi'ah di Hindunesia itu sepertinya menganggap diri sebagai bahagian 
dari system Thaghut Zalim dan Hipokrit  itu.  Kalian perlu menyatakan 
kebebasannya andaikata yang saya katakan ini tidak menyenangkan anda semua. 
Betapapun di Iran dan malah di seluruh dunia belum ada duanya Idiolog seperti 
DR A'li Syari'ati yang mampu menganalisa mana Syiah benaran (baca Syiah merah) 
yaitu Syi'ah yang benar-benar beridiology Islam dan mana Syi'ah ikut-ikutan 
(baca Syi'ah pucat)  yaitu Syiah ilmuwan.

Orang-orang yang berilmu Syiah tapi tidak beridiology Syiah, mereka itu sama 
saja dengan pak turut. Mereka hanya berpengetahuan syiah tapi tidak berkiprah 
atau berpenampilan sebagaimana orang Syi'ah asli. Mereka itu tetap saja 
bersatupadu dalam system thghut walaupun zalim dan hipokrit, serta mereka 
menganggap diri bahagian dari system tersebut. Sementara Syiah beridiolgy 
(Syi'ah merah) pantang bersatupadu dalam system thaghut  kecuali taqiah. (baca 
buku Ali Syari'ati, Syi'ah Merah)

Maafkan saya yang tidak bermaksud untuk menyakiti hati anda tapi peringatan 
yang keras ini sangat berguna di akhir hayat kelak andaikata anda benar-benar 
memahami idiology Syiah Imamiah 12, kendatipun datangnya dari orang yang kecil 
dan tidak anda kenal ini. 



 
Ke Atas


       
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC

Kirim email ke