Refleksi: Apakah refrendum bisa dijual dan juga apakah Jakarta tidak bisa 
mengakibatkan malapetaka?

http://www.gatra.com/artikel.php?id=106067

Papua
Menjual Referendum ke Amerika

Usai sudah gelaran Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua. Perhelatan akbar 
lima tahunan orang Papua di Gedung Olahraga Cenderawasih, Jayapura, itu ditutup 
Jumat pekan lalu. Hasilnya, dicapai kesepakatan berupa tiga butir rekomendasi. 
Yaitu, Papua bebas dari penjajahan, mengembalikan hak-hak dasar, dan meneruskan 
perjuangan rakyat Papua.

Konferensi yang berlangsung tiga hari itu juga memilih Forkorus Yoboisembut 
sebagai Ketua Dewan Adat Papua (DAP) periode 2007-2012. Ia menggantikan ketua 
sebelumnya, Tom Beanel. "Ini kepercayaan masyarakat adat Papua yang terdiri 
dari 250 lebih suku. Saya harus jaga kepercayaan ini," kata Forkorus, 
mengomentari jabatan barunya itu.

Selama konferensi berlangsung, sejumlah tuntutan mengemuka. Antara lain 
tuntutan referendum dan desakan mempersiapkan proklamasi kemerdekaan. Acara 
yang dihadiri ratusan kepala suku dan dewan adat dari seantero wilayah berjuluk 
Pulau Cenderawasih itu juga diwarnai pengibaran bendera Bintang Kejora, yang 
oleh sebagian orang Papua dianggap sebagai bendera Papua Merdeka.

"Kita sudah berjuang puluhan tahun, mari bersatu melaksanakan referendum," ujar 
perwakilan dewan adat dari Manokwari, Barnabas Mandacan, yang meneriakkan 
tuntutan referendum. Sementara itu, Thomas Wanmang, perwakilan dewan adat 
Mimika, mengusulkan proklamasi kemerdekaan. "Kami mendesak forum agar membentuk 
tim khusus untuk melakukan suatu proklamasi bangsa Papua," paparnya.

Niat menggelar referendum di kalangan masyarakat adat Papua bukan barang baru. 
Ketika konferensi pertama, Februari 2002, usulan referendum juga mengemuka. 
Menurut Direktur Ridep Institute, Muradi, isu referendum adalah barang dagangan 
yang selalu laku dijual ke pihak asing, terutama Amerika Serikat. "Jadi, tak 
mengherankan jika isu referendum kembali diembuskan peserta konferensi," ujar 
Muradi.

Selama ini, Amerika berambisi memiliki militer yang kuat. Untuk itu, butuh 
pangkalan militer di luar negaranya. Nah, sudah cukup lama beredar isu di 
kalangan intelijen bahwa Amerika ingin membuka pangkalan militer di Papua. 
Misinya, menggantikan pangkalan militer Clark dan Subic di Filpina yang sudah 
lama ditinggalkan.

Hanya saja, Pemerintah Indonesia menolak, dan itu sudah harga mati, tidak bisa 
ditawar-tawar lagi. Tapi, jika terjadi referendum dan Papua merdeka, Amerika 
berpeluang mewujudkan ambisinya membangun pangkalan militer di Papua. "Wajar 
apabila Amerika perhatian terhadap masalah di Papua," kata pengamat pertahanan 
internasional itu.

Tidak bisa dibantah, isu referendum Papua memang menarik minat rasa ingin tahu 
Amerika, terutama pihak Kongres. Faktanya, pada 2005, Kongres Amerika 
mengesahkan House Representatives (HR) 2601 atau Undang-Undang Nomor 2601 
mengenai Papua. Isinya mendukung kebebasan Papua, mempertanyakan keabsahan 
pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, dan mengkritik pelaksanaan 
otonomi khusus di Papua.

Minat atas Papua itu juga ditunjukkan Eni Faleomavaega. Salah satu anggota 
Kongres yang mensponsori lolosnya HR 2601 itu pun menyempatkan berkunjung ke 
Indonesia, Rabu hingga Jumat pekan lalu. Ketua Sub-Komisi Wilayah Asia Fasifik 
di Kongres ini berniat pula secara khusus bertandang ke Papua. Hanya saja, 
Pemerintah Indonesia menyibukkan Eni dengan berbagai kunjungan ke sejumlah 
pejabat. Antara lain, Eni diarahkan menemui Ketua DPR, Agung Laksono, dan 
sejumlah anggota DPR Komisi Pertahanan dan Luar Negeri di Gedung DPR.

Dilanjutkan pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana 
Negara. Hari berikutnya, Eni menyambangi Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana 
Wakil Presiden. Lalu bertemu sejumlah tokoh masyarakat Papua di Jakarta. Dalam 
lawatan ini, pemerintah tidak mengizinkan Eni berkunjung ke Papua. "Saya kecewa 
tidak bisa berkunjung ke Papua. Tapi, mau bagaimana lagi?" ungkap Eni kepada 
Gatra.

Padahal, Eni melanjutkan, Ia telah lama mengagendakan kunjungan ke Papua. Ia 
ingin melihat secara langsung kondisi Papua. "Saya berkunjung ke Papua 19 tahun 
lalu. Yang terjadi pada saat itu, Jakarta tidak pernah memperhatikan Papua. 
Militer banyak melakukan pelanggaran di sana, seperti melakukan penculikan dan 
pembunuhan. Ini sangat tidak positif," tutur politisi asal Samoa itu.

Meski gagal ke Papua, Eni menilai puas karena sudah ada kemajuan pembangunan di 
Papua, seperti disampaikan Presiden SBY kepadanya. "Dua tahun terakhir ini, di 
bawah pimpinan Presiden SBY, sudah mulai berubah. Beliau (SBY) sangat concern 
pada kondisi Papua. Jakarta juga sudah mau mengimplementasikan otonomi khusus," 
kata Eni, yang mengaku leluhurnya berasal dari Papua, bahkan beberapa jasad 
leluhurnya dimakamkan di sana.

Juru bicara Departemen Luar Negeri, Andri Hadi, menilai positif hasil kunjungan 
Eni selama di Jakarta. Dikatakannya, tujuan pemerintah mengundang anggota 
Kongres Amerika, agar anggota Kongres dapat memberi pemahaman komprehensif 
mengenai Papua pada sidang Kongres. "Dia (Eni) mendapat pemahaman bahwa 
pemerintah pada saat ini betul-betul serius memperhatikan Papua, tidak hanya 
bicara, melainkan juga bekerja," ujar Andri.

Pemerintah boleh saja puas. Tapi tokoh masyarakat Papua, Yorrys Raweyai, punya 
pandangan lain. Ia menyangsikan pujian Eni betul-betul tulus. "Bisa jadi, 
pujian itu hanya bahasa diplomasi. Dia (Eni) tidak mungkin bilang tidak baik, 
karena dia tidak bisa melihatnya secara langsung. Siapa yang tahu isi pikiran 
dan hatinya," kata Yorrys, yang juga anggota Komisi Pertahanan dan Luar Negeri 
di DPR.

Pada saat dilakukan pertemuan tertutup bersama sejumlah tokoh masyarakat Papua, 
Eni tampak terharu. Dia tak kuasa membendung air mata mendengar pengakuan bahwa 
masih ada ketidakadilan dan pelanggaran HAM di Papua. "Bisa jadi, yang 
disampaikan dia di Kongres nanti bukan apa yang diceritakan SBY, melainkan apa 
yang diceritakan para tokoh masyarakat Papua," kata Yorrys, yang kerap 
mendampingi Eni ketika berdialog dengan tokoh masyarakat Papua.

Sujud Dwi Pratisto, Bernadetta Febriana, dan John K. Pakage (Papua)
[Nasional, Gatra Nomor 35 Beredar Kamis, 12 Juli 2007

<<76.jpg>>

Kirim email ke