----- Original Message ----- 
From: leo leono 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, July 17, 2007 11:33 AM
Subject: Di Balik Pendirian Partai GAM



http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=6200&c_id=21&g_id=25


Selasa, Jul 17, 2007 09:19
Perkubuan di GAM
Di Balik Pendirian Partai GAM
- berpolitik.com
           
            Malik Mahmud bbc.co.uk 
     
(berpolitik.com): Pendirian partai GAM tak hanya menimbulkan reaksi keras di 
Jakarta, tapi juga mengundang perdebatan di kalangan Gerakan Aceh Merdeka. 
Silang pendapat di antar eksponen GAM ini diduga sebagai kelanjutan perbedaan 
sikap dalam pilkada gubernur lalu. 

Menyangkut reaksi elit politisi nasional yang mempersoalkan eksistensi GAM 
sebagai sebuah institusi, tak satupun elit GAM yang berbicara berbeda. Semuanya 
serempak menyatakan tuntutan tersebut sama sekali tidak berdasar. Pasalnya, 
perjanjian Helsinki tak mengatur hal itu secara eksplisit. Yang diatur hanyalah 
demobilisasi Tentara Nangroe Aceh dan pelarangan penggunaan atribut kemiliteran 
GAM saja. 

Meski kompak, sebenarnya sebagian elit GAM menyadari adanya kekhawatiran di 
kalangan elit nasional terhadap itikad baik mereka. Namun, mereka juga 
menyayangkan kekurangpekaan elit nasional terhadap perasaan sebagian elit GAM 
lainnya yang merasa kalah. Perasaan itu semakin menyeruak setelah UU 
Pemerintahan Aceh dilansir. UU ini dianggap tak sesuai dengan aspirasi rakyat 
Aceh. Salah satunya soal kewenangan dalam urusan migas.

Karena itu, elit-elit ini untuk sebagian bisa memahami jika Komite Peralihan 
Aceh bersikeras mendirikan Partai GAM. Sebagaimana diketahui, KPA merupakan 
wadah yang disiapkan untuk menampung TNA yang telah dibubarkan. KPA dipimpin 
oleh Muzakir Manaf (panglima GAM). Didirikannya partai ini dianggap bisa 
menjawab berbagai persoalan sekaligus.

Petama, dengan adanya partai GAM, maka bisa dicegah sedini mungkin upaya 
pihak-pihak tertentu (ditengarai elit-elit Jakarta) yang mencoba 'membajak' 
jajaran GAM masuk ke partai-partai politik mereka. Kedua, dengan adanya partai 
GAM sebagai wadah satu-satunya saluran politik eksponen GAM maka dapat 
dihindari kemungkinan terpecahnya suara GAM. Dengan begitu, ketiga, keberadaan 
partai GAM setidaknya memberikan sebuah jalan untuk memperoleh kompensasi 
kewenangan politik. 

Walau begitu, kalangan elit GAM sebenarnya tidak satu suara menyangkut 
penggunaan nama dan lambang GAM. Hal itu, umpamanya, diutarakan oleh Sofyan 
Dawood, mantan jubir KPA. Sebagaimana dikutip Acehkita.com, Sofyan menyatakan 
penggunaan bendera sebagai logo resmi Partai GAM bukanlah kesepakatan semua 
pihak. 

Sikap Sofyan ini tak urung bagai membenarkan berlanjutnya persitegangan di 
kalangan GAM menjelang pilkada Gubernur lalu. 

Tua versus Muda 
Dalam pilkada lalu, GAM mengeluarkan maklumat tidak mencalonkan siapapun. Meski 
begitu, anggota GAM dipersilahkan mencalonkan diri sebagai calon dari jalur 
independen. Meski mengaku netral, namun, kubu muda merasa elit-elit senior GAM 
seperti tetap ngotot memajukan calon yang mereka inginkan.

Kubu tua yang dimotori oleh Zaini Abullah (menteri luar negeri), Zakaria Saman 
(Menteri pertahanan) dan Teungku Muhammad Usman Lampoh Awe (Ketua Majelis 
Nasional) dan Ilyas Abet menjagokan pasangan Humam Hamid(poltiisi asal PPP) dan 
Hasbi Abullah (adik Zaini Abdullah). Pasangan ini ditetapkan setelah pemenang 
konvensi GAM, Nashruddin bin Ahmed enggan dicalonkan, sedangkan wakil terpilih, 
Muhammad Nazar juga tidak mau dipasangkan dengan Hasbi yang memperoleh suara 
terbanyak kedua untuk posisi cagub setelah Nashruddin.

Sebaliknya kalangan muda yang dimotori antara lain oleh Bakhtiar Abdullah 
(jubir GAM di pengasingan) menilai kedua calon itu sebagai bukan GAM. Hasbi 
dinilai tak memberikan kontribusi apapun kepada GAM semenjak dibebaskan dari 
penjara pada tahun 1998 lalu. Hasbi oleh kalangan muda juga tak dianggap 
memberikan banyak kontribusi intelektual semasa perumusan perjanjian 
Helsinki.Meski begitu, kalangan tua terus mempromosiskan pasangan ini. 
Belakangan mereka lebih menyokong pasangan Irwandi Yusuf (kordinator juru 
runding GAM yang biasa memakai nama samaran Tgk.Agam atau Abu Isnandar) dan 
Muhammad Nazar (SIRA).

Menyadari adanya penolakan di kalangan komandan lapangan, Malik Mahmud (perdana 
menteri, nama lengkapnya Khila Malik Haythar bin Mahmud) pernah mengundang 
seluruh pimpinan wilayah untuk bertemu pada Agustus 2006 lalu. Dalam pertemuan 
itu, Muzakkir secara mengejutkan membuat pengumuman yang mengarahkan dukungan 
GAM kepada Humam-Hasbi. Tindakan Muzakkir ini disebut-sebut atas suruhan 
seniornya, Zakaria Saman yang juga dikenal dengan nama panggilan Karim Bangkok. 

Tak pelak, soal ini yang belakangan lebih ramai dipersoalkan ketimbang latar 
belakang Hasbi dan Humam sendiri. Kalangan muda menilai kalangan senior GAM 
cenderung tak demokratis.

Persoalan cara pula yang menjadi sumber perdebatan dalam hal pembentukan partai 
lokal.Kalangan muda mempersoalkan cara pembentukan partai-partai di daerah yang 
berdasarkan komando(top-down). Cabang-cabang partai dibentuk atas instruksi 
dari petinggi GAM dan orang-orang yang duduk di dalamnya juga berdasarkan 
penunjukkan. Sebaliknya, kalangan muda lebih menginginkan proses pembentukan 
dari bawah. 

Meski sama-sama menginginkan agar hanya ada satu partai GAM, kedua kubu ini 
juga berbeda pendapat menyangkut pelibatan para sekutu mereka. Kalangan tua 
cenderung tak memberi tempat kepada para sekutu GAM (semisal SIRA) untuk 
menduduki posisi-posisi strategis dalam partai. Sebaliknya, kalangan muda 
berkeinginan agar para sekutu GAM mendapat porsi pula dalam jajaran 
kepemimpinan partai GAM. 

Meski begitu, baik kubu maupun kubu muda kini sama-sama dipusingkan dengan 
proses pengintegrasian kembali para kombatan -- begitu prajurit GAM biasa 
disebut -- ke dalam masyarakat. Banyak dari mereka yang nasibnya masih 
terkatung-katung karena bantuan tanah dan finansial yang dijanjikan belum 
terdistribusi secara merata. Dalam beberapa kasus, eks TNA yang dulunya bertani 
juga menghadapi persoalan baru: mereka dikabarkan sudah banyak yang lupa 
caranya bertani karena terlalu lama bergerilya di hutan-hutan. 

Pada tingkatan yang lebih tinggi, ketidakpuasan lain juga mulai berkembang. 
Gurauan tentang kembali hutan sudah mulai terdengar. Ini terutama disuarakan 
oleh kombatan kelas perwira menengah yang hingga kini belum "kebagian" apa-apa. 
Dikhawatirkan para kombatan ini bakal menjadi faksi baru dalam tubuh GAM. 

Yang juga memusingkan kedua kubu ini adalah kehadiran satu kelompok yang mereka 
sebut sebagai GAM cantoi alias GAM palsu. Kalangan GAM menuding, kelompok ini 
merupakan bentukan tentara Indonesia. Tujuannya untuk merusak citra GAM di 
kalangan penduduk Aceh maupun di mata dunia internasional. Soalnya, kelompok 
ini kerap melakukan berbagai aksi ala mafia dari mulai pemerasan hingga 
penculikan. Bahkan beberapa dari mereka teribat dalam sindikasi illegal 
logging. Sebaliknya, kalangan tentara Indonesia menuduh kelompok ini sebagai 
sempalan GAM yang sudah kehabisan "ideologi". 

Menurut sumber berpolitik.com, sebenarnya apa yang disebut sebagai GAM cantoi 
ini tidak bisa disatukeranjangkan. Yang benar, kata dia, ada milisi GAM 
jadi-jadian yang memang ditengarai bikinan militer Indonesia. Dan, ada pula 
milisi GAM yang hanya memakai atribut GAM untuk kepentingan ekonomi pribadi 
atau kelompoknya. Yang terakhir ini banyak terlibat dalam berbagai "bisnis 
liar", dari mulai berdagang ganja hingga terlibat dalam illegal logging. 

Bukan Hal Baru
Faksionalisasi dalam tubuh GAM sebenarnya bukanlah hal yang baru. Meski berbeda 
pendirian, baik faksi muda maupun tua masih sama-sama mengakui kepemimpinan 
Teungku Hasan Muhammad di Tiro, pucuk pimpinan GAM yang bermukim di Swedia. 
Keturunan ketiga dari Teungku Syeh Muhammad Saman di Tiro inilah yang 
memproklamirkan pendirian Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) pada 
4 Desember 1976. Belakangan ASNLF lebih sering disebut sebagai Gerakan Aceh 
Merdeka (Free Aceh Movement) saja.

Pada tahun 1999, sejumlah pengikut di Tiro memilih jalan berbeda. Mereka 
mendirikan Free Aceh Movement Government Council (Majelis Pemerintahan GAM). 
Pucuk pimpinannya dipegang oleh Husaini Hasan, salah satu tangan kanan Hasan Di 
Tiro. Beberapa nama yang juga berhimpun adalah Daud Paneuek (nama aslinya Muhd. 
Daud Husin), Tengku Don Zulfahri (bermukim di Malaysia) dan Guree Rachman (nama 
aslinya Abdurrahman Ismail). MP GAM ini juga berkantor di Swedia.

Kedua kubu ini mulanya sama-sama mengikuti perundingan Helsinki. Namun, di 
tengah jalan, MP GAM mengundurkan diri karena usulannya ditolak baik oleh 
pemerintah RI maupun dari utusan ASNLF. Yang diusulkan MP GAM adalah pelibatan 
komponen rakyat Aceh yang lain semisal Ulama, Thaliban, Mahasiswa (SIRA) dan 
LSM. Tak heran jika Guree Rachman pernah berkomentar, perundingan Helsinki 
dimotori oleh mereka yang berkewarganegaraan Asing (Zaini Abdullah, umpamanya, 
berkewarganegaraan Swedia dan Malik Mahmud berkewarganegaraan Singapura). 

Silang pendapat antara kedua kubu ini sebenarnya meliputi banyak hal. Kedua 
kubu saling menuding pihak lawan sebagai kelompok yang lebih "ramah" terhadap 
Jakarta. Secara khusus, MP GAM juga menuding kelompok ASNLF sebagai faksi 
sekuler sedangkan mereka sebagai kelompok yang lebih memperjuangkan ideologi 
Islam di Aceh. 

ASNLF memang sejak awal tidak pernah mencantumkan aspirasi tersebut dalam 
deklarasi kemerdekaannya.Dalam deklarasinya, Hasan di Tiro menekankan kehendak 
menentukan nasib sendiri, melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara 
Aceh dan 
pembebasan dari kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing 
Jawa. Ini berbeda dengan deklarasi NII yang diproklamasikan oleh Daud Beureueh 
pada tahun 1953 yang menegaskan lenyapnya kekuasaan Pancasila di Aceh dan 
digantikan oleh NII.Tak heran jika Daud Beureuh tak pernah memberikan restu 
terhadap perjuangan di Tiro.

Namun, versi lain menyebutkan, pertikaian antara Hasan di Tiro dengan para 
bekas pengikutnya berkaitan dengan siapa yang kelak mengambil tampuk pimpinan 
gerakan. Hasan menginginkan anaknya, Karim Hasan sebagai pengganti dirinya. 
Sebaliknya, Duad Paneuek disebut-sebut menginginkan putranyalah yang didaulat 
menjadi pemimpin gerakan jika Hasan di Tiro mangkat. 

Yang menjadi pertanyaan kini bagaimana nasib GAM jika Hasan di Tiro selaku 
"Wali Nangroe Aceh" wafat? Banyak yang meragukan, kepemimpinan kolektif yang 
telah disiapkan bakal mendapat kepatuhan yang sama sebagaimana diterima Hasan 
di Tiro. Meski begitu, GAM diyakini tak bakal hancur berantakan. 

Bagaimanapun, para elitnya masih membutuhkan kesimbolan GAM. Nah, yang lebih 
mungkin terjadi, faksionalisasi dalam tubuh GAM akan lebih beragam ketimbang 
saat ini. Baik kubu tua maupun kubu muda punya potensi untuk sama-sama 
terbelah. Tapi skenario ini diyakini bakal terhambat jika cara bereaksi elit 
politik nasional di Jakarta masih seperti sekarang. Nah. 




--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.10.8/904 - Release Date: 7/16/2007 5:42 
PM

Kirim email ke