AKU ANAK PELACUR
Oleh : Robert Nio 
20-Aug-2007, 09:47:29 WIB 

KabarIndonesia - Pernahkan Anda dihina, dicibirkan atau dijadikan 
gunjingan, bahkan selalu dipojokkan, karena profesi dari ortu? Hal 
ini pasti akan Anda rasakan, apabila Anda dilahirkan dari rahim 
seorang pelacur, sundal, lonte, PSK, perek, atau nama lain apa 
sajalah yang dapat mewakili sebutan seorang penjaja tubuh dan cinta. 

Aku memang anak seorang pelacur, walaupun aku sendiri tidak ingin 
menjadi anak pelacur. Bila aku boleh memilih, pasti aku akan memilih 
mempunyai orang tua yang baik-baik, lahir dari suatu perkawinan yang 
sah. Tapi, apakah aku punya pilihan? Hidup memang sebuah pilihan, 
tetapi tidak untuk memilih dari siapa dan dimana manusia dilahirkan. 
Ini sudah takdir dan keinginan yang sudah ditentukan dari sononya 
oleh Sang Pencipta. Kita manusia hanya bisa meng-Amin-kannya saja!

Orang sekampung memperlakukan kami sekeluarga seperti juga penderita 
penyakit AIDS. Bukan hanya dicibirkan saja, tetapi dalam keadaan 
apapun juga aku selalu disalahkan. Cemohan dan hinaan sebagai anak 
pelacur sudah merupakan makanan aku sehari-hari. Dan ini sudah 
melekat di tubuhku sejak kecil yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi 
seperti juga bayangan. 

Apabila aku bertengkar dengan anak tetangga, pasti aku yang selalu 
disalahkan dengan cemohan, "pantas saja anak ini nakal sebab ibunya 
juga seorang pelacur". Betapa pedih dan sakitnya hatiku mendengar 
hinaan seperti itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Apakah seorang 
anak pelacur harus selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi 
diriku sendiri tanpa harus selalu dikaitkan dengan pekerjaan ibuku? 
Hinaan ini bukannya hanya berlaku dirumah saja, tetapi disekolahan 
atau dimanapun juga aku berada.

Apabila aku menceritakan kesedihanku kepada Ibu, Ibu hanya bisa 
membelai kepalaku dengan lembut, sambil turun air matanya berlinang, 
karena ia bisa turut merasakan betapa pedihnya penderitaanku. 
Walaupun aku tidak dididik menjadi anak soleh, tetapi Ibu selalu 
berharap agar anaknya bisa menjadi seorang wanita karir yang 
berpendidikan. Ia tidak ingin aku terjerumus, sehingga mengikuti 
jejaknya. Nasehat Ibuku selalu terngiang dikupingku: "Janganlah tiru 
jejak kehidupan Emak yang suram ini. Cukup hanya emak sendiri saja 
yang terperosok dalam kegelapan, hidup dalam kehinaan, tak punya 
harga diri."

Aku tidak pernah mengenal ayahku, sedangkan Ibu sendiripun tak 
mengerti siapa bapak sahnya. Ibu menjadi pekerja seks, sebab dia 
tidak memiliki apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan 
yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang 
pekerja seks bukanlah pilihan ibuku, tapi sebuah keterpaksaan. 

Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan 
meninggalkan pekerjaan itu, karena kehidupan serba kekurangan inilah 
yang memaksanya menjalani profesi terkutuk. Dan aku tetap mengasihi 
Ibuku seperti juga layaknya anak-anak lain mengasihi ibunya, aku 
tidak pernah merasa jijik ataupun muak terhadap Ibuku, apakah ini 
salah? Walaupun demikian aku selalu berdoa, apapun yang akan terjadi 
didalam kehidupanku, aku tidak ingin anakku mengalami nasib yang 
sama dengan mendapatkan Ibu seorang pelacur.

Tetapi rupanya takdir dan jalan kehidupan seseorang itu bukanlah 
pilihan sendiri, suatu hari aku diperkosa oleh para pemuda 
sekampung, karena mereka menilai apabila Ibunya seorang pelacur 
pasti anaknyapun sudah tidak perawan lagi, padahal usiaku baru saja 
15 tahun. Betapa sakitnya badanku terlebih lagi hati dan perasaanku, 
sehingga aku mulai merasa jijik terhadap diriku sendiri. Aku sudah 
menilai diriku kotor dan hina, walaupun ini bukannya keinginanku 
melainkan karena hasil dari pemerkosaan para pemuda yang menilai aku 
sama seperti Ibuku. Apakah dalam hal ini aku bisa menyalahkan Ibuku?

Hancurlah sudah harapanku maupun harapan Ibuku untuk menjadikan aku 
beda daripada Ibuku. Karena satu-satunya mahkota kehidupanku telah 
direnggut dengan paksa, mahkota yang menjadikan diriku lebih 
terhormat dibanding dengan Ibuku di mata masyarakat. Sesuatu yang 
diharapkan dapat menghapus citra jelek anak seorang pelacur telah 
hilang dalam waktu sekejap. Apakah Tuhan telah mentakdirkan aku 
untuk mengikuti jejak Ibuku menjadi seorang pelacur? Apakah Tuhan 
telah merencanakan bertambahnya seorang pelacur di muka bumi ini 
dengan hancurnya kebanggaan hidupku? Dan apakah Tuhan masih mau 
mengangkatku dari lembah kegelapan hidup yang selama ini mengikuti 
ke manapun langkahku pergi?

Malapetaka yang menimpa diriku ini diketahui oleh orang sekampung. 
Apakah ada rasa iba atau prihatian akan kejadian yang menimpa 
diriku? Boro-boro bahkan aku semakin dipojokan oleh mereka, mereka 
menilai apa yang terjadi dengan diriku itu hal yang sewajarnya 
sebagai hukuman karma atas dosa ibuku. Hal ini membuat harga diriku 
semakin jatuh terpuruk, aku merasa malu, sehingga jangankan pergi ke 
sekolah keluar rumah pun aku merasa malu.

Dua bulan kemudian sejak kejadian yang mengenaskan tsb Dr 
menyatakan, bahwa aku hamil. Kehamilan yang sama sekali tidak 
kuinginkan, kehamilan karena peristiwa tragis itu. Diperkosa! 

Anakku akan lahir sebagai anak haram, walaupun ia memang tidak 
berdosa, tapi dia pasti akan menanggung segala beban yang tidak 
seharusnya ditanggung olehnya kelak. Seperti halnya aku yang tak 
tahu siapa bapakku, hal seperti itu pulalah yang akan dialaminya 
nanti, dikucilkan, dicela, dijauhi, seperti halnya yang terjadi 
dengan diriku sendiri.

Tak ada seorang anakpun yang mau lahir sebagai anak haram. Aku juga 
tak mau dia menderita, karena mungkin jika dia boleh memilih, dia 
pasti akan memilih untuk tidak dilahirkan. Karena kelahirannnya 
tidaklah diinginkan terutama oleh masyarakat yang serba munafik ini.

Apakah masih ada masa depan untuku, setelah lahirnya bayi tsb? 
Apakah aku akan mampu mengasihi bayi yang tak berdosa tsb, seperti 
layaknya seorang Ibu mengasihi anaknya? 

Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi, usiaku masih muda belia, 
pendidikanpun tidak kumiliki, sehingga rupanya aku sudah ditakdirkan 
untuk mengikuti jejak dari Ibuku! Tetapi dilain pihak aku tidak 
ingin bayi ini nanti mengalami nasib yang sama seperti yang juga 
pernah kualami sampai saat ini. 

Mungkin jalan satu-satunya yang terbaik ialah memilih agar bayi ini 
tidak dilahirkan, seperti juga apa yang dianjurkan oleh emak! Apakah 
Tuhan itu benar-benar mengasihi umat-Nya? Apakah masih ada masa 
depan untukku maupun untuk bayiku? Apakah mungkin takdir yang sedang 
kualami ini merupakan hukum karma, karena prilaku dari emak? Apakah 
aku bisa menyalahkan emak ataupun membencinya, karena aib yang 
menimpa diriku ini?

Sehingga tersirat dalam pikiranku mungkin ada baiknya untuk bunuh 
diri saja, sehingga dengan demikian, anak yang tak berdosa inipun 
tidak perlu dilahirkan dan akupun tidak perlu mengikuti jejak dari 
emak, mungkin inilah keinginan Tuhan dariku untuk mati dalam usia 15 
tahun.

Dari Rita (Bukan nama sebenarnya)

Jeritan hati dari Rita yang dikirimkan kepada penulis. Tulisan Rita 
telah disusun dan ditata ulang oleh Penulis. Mungkin ada pembaca 
yang bersedia memberikan saran maupun bantuan doa untuk Rita yang 
merasa sedang berada di jalan kehidupan yang buntu.

Jika anda ingin memberikan komentar atau saran untuk Rita silahkan 
buka situs KabarIndonesia.com atau klik
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=21&dn=20070820094729



Kirim email ke