http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=300735

Sabtu, 25 Agt 2007,


Jangan Selalu Menyalahkan Aceh
Oleh Rico W.S.


Sejak zaman pra-kemerdekaan hingga 62 tahun kemerdekaan Indonesia, Aceh selalu 
jadi topik utama pemberitaan. Khususnya berkaitan dengan gerakan separatisme. 
Sehingga, citra yang terbangun, seolah-olah Aceh merupakan momok politik negeri 
ini. Hal itu terus-menerus dipertahankan dengan berbagai cara. Kita tidak tahu 
hingga hari ini siapa subjek (S) tunggal di balik semua peristiwa di Aceh. 
Namun, kecenderungan publik dalam melihat segala yang berbau Aceh adalah 
negatif.

Karena itu, memandang Aceh haruslah dari semua sudut pandang. Termasuk, peran 
rakyat Aceh dalam perjuangan kemerdekaan. Sejarah mencatat bahwa masyarakat 
Aceh, khususnya kaum wanita, telah menyumbangkan perhiasan untuk membeli 
pesawat demi kepentingan revolusi negeri ini. Pesawat itu dinamai Dakota RI-001 
Seulawah. 

Pesawat tersebut merupakan pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia. 
Juga, cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian 
Airways. Seulawah berarti gunung emas. Akan tetapi, di saat seluruh wilayah 
Republik Indonesia sudah merdeka, masyarakat Aceh justru menerima kenyataan 
pahit dengan pemberlakuan DOM (Daerah Operasi Militer) di wilayah tersebut.

Sejak dulu, persoalan di Aceh selalu diselesaikan dengan pendekatan politik 
yang cenderung mengintimidasi. Sehingga, muncullah kalimat "tembak di tempat", 
yang bisa memperuncing keadaan. 

Di sini, kita melihat kurangnya kajian mendalam tentang keinginan rakyat Aceh 
sesungguhnya. Sekalipun, tindakan di lapangan, baik pemerintah RI maupun 
gerakan separatis di Aceh, selalu mengatasnamakan rakyat Aceh.

Kejadian penurunan bendera merah putih oleh sekelompok orang di Kota 
Lhoksumawe, Kabupaten Aceh Utara, dan Aceh Timur tentu bertolak belakang dengan 
semangat patriotisme rakyat Aceh. Akan tetapi, berbagai pernyataan seolah 
melihat dengan meragukan nasionalisme rakyat Aceh. 

Hal itu harus kita luruskan dengan fakta historis maupun konteks kekinian yang 
ada. Sehingga, Aceh tidak serta-merta dikambinghitamkan. Sebab, gerakan yang 
awalnya dilakukan segelintir orang bisa saja mendapatkan dukungan luas ketika 
pemerintah salah menyikapi.

Ungkapan Ketua DPR RI Agung Laksono yang disampaikan di gedung DPR/MPR Jakarta 
pada Senin (13/8),"Kita harus menghargai lambang-lambang negara sebagai bentuk 
dedikasi kepada bangsa dan negara", menurut saya, bisa dianggap tidak sejalan 
dengan sepak terjang DPR selama ini. 

Sebab, kita tahu betapa kebijakan-kebijakan DPR yang menyusahkan rakyat justru 
diputuskan di hadapan burung garuda dan bendera merah putih pada gedung DPR. 
Lalu, apa yang dimaksud dengan dedikasi terhadap negara? Rakyat dipaksa 
menunjukkan dedikasi terhadap negara dengan kewajiban membayar pajak, dll. Akan 
tetapi, dedikasi para pejabat itu hingga hari ini masih belum berbentuk.

Kita sering memaknai sesuatu secara simbolis dan melupakan akar permasalahan 
sesungguhnya. Bahwa penurunan bendera merah putih itu dianggap penghinaan 
terhadap NKRI, siapa pun sepakat. Namun, ketika wakil rakyat "bermain bola" 
dalam lumpur Lapindo, menaikkan BBM, maupun mengesahkan UU Penanaman Modal, 
mereka tetap dianggap pahlawan. Padahal, kebijakan mereka justru mengakibatkan 
negeri ini kian tak jujur dalam menilai realitas.

Bahkan, jika dilihat dari teori konflik (komunikasi massa), insiden penurunan 
bendera itu bisa saja dilakukan untuk pengalihan isu politik tentang korupsi 
pejabat yang sedang hangat diperbincangkan. Kejadian tersebut juga bisa 
digunakan untuk membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat Indonesia. 
Singkatnya, semuanya sangat mungkin. 

Karena itu, insiden tersebut malah akan semakin runcing jika 
pernyataan-pernyataan pemerintah tidak sesuai dengan harapan masyarakat Aceh. 
Apalagi, ada tendensi untuk menyalahkan masyarakat Aceh. 

Ada baiknya, pemerintah juga mengembangkan berbagai strategi kebudayaan. Sebab, 
pendekatan senjata yang disertai intimidasi sudah terbukti tidak efektif. 
Bahkan, menambah panjang duka rakyat Aceh. 

Dengan berbagai provokasi saja, rakyat Aceh sudah merasa resah. Apalagi, jika 
pemerintah menyikapi insiden itu dengan menambah personel militer di Aceh. 
Rakyat Aceh sudah lelah dengan peperangan. Bahkan, mereka trauma jika melihat 
seragam polisi dan tentara. Perdamaian yang sudah dirintis bertahun-tahun 
jangan goyah lagi oleh peristiwa yang digadang-gadangkan. Sebenarnya, aksi itu 
tergolong sederhana dan mudah. Hanya, kebetulan, masalah tersebut berkaitan 
dengan bendera NKRI, sang saka Merah Putih.

Saya lebih menganggap kejadian tersebut sebagai bentuk protes, sebagaimana aksi 
demonstrasi mahasiswa yang membakar foto pejabat. Karena itu, aksi penurunan 
bendera Merah Putih di Aceh tersebut harus dibalas pemerintah pusat dengan 
meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh melalui serangkaian kebijakan 
ekonomi-politik yang berpihak. Bukan malah menghubung-hubungkan peristiwa 
tersebut dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau merespons secara berlebihan. 
Terlebih, menggunakan solusi senjata untuk menyikapi hal tersebut.


Hariqo Wibawa Satria (Rico WS), pemimpin redaksi Buletin Mingguan Advokasi 
Kebijakan Publik dan relawan sekolah gratis di Rumah Pengetahuan Amartya (RPA).
" 

Kirim email ke