HARIAN ANALISA
Edisi Sabtu, 1 September 2007

Walikota dan Wakil Walikota Banda Aceh "Melancong" ke Luar Negeri
Sejumlah Program Pemerintahan Terancam Molor 

Banda Aceh, (Analisa) 

Sejumlah program pemerintahan di Kota Banda Aceh terancam molor pembahasannya, 
sehubungan perginya walikota dan wakil walikota ke luar negeri atau tepatnya ke 
Uzbekistan, untuk sebuah misi budaya atau membawa sanggar tari ke negeri 
pecahan Uni Sovyet tersebut. 

Setidaknya ada beberapa program mendesak yang harus diselesaikan oleh eksekutif 
dan legislatif di Banda Aceh, seperti pembahasan Rencana Pembangunan Jangka 
Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang merupakan 
implementasi dari misi dan visi walikota dan wakil walikota untuk lima tahun 
mendatang. 

Di samping itu juga ada pembahasan Program Legislasi daerah (Proleglda) serta 
yang paling penting saat ini sedang dilakukan perhitungan anggaran tahun 2006 
untuk Kota Banda Aceh yang sangat mendesak dilakukan saat ini. 

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Mukminan sendiri mengakui hal ini sangat 
mengganggu kerja legislatif dan eksekutif, meskipun ada Sekdako Banda Aceh. 
Lagi pula kepergian kedua orang penting di Banda Aceh ini tak diketahui apa 
tujuan jelasnya. 

"Kami saja tak tahu apa tujuan mereka (walikota dan wakil walikota) ke luar 
negeri," ujar Mukminan saat dikonfirmasi Analisa, Kamis (30/8). 

Dikatakan, dewan tak mengetahui apa kepergian dua tokoh sentral pejabat di 
Banda Aceh ini berguna bagi daerah. Sebab hal ini tak ada diberitahukan secara 
jelas kepada dewan. Namun ternyata mereka telah meninggalkan Banda Aceh. 

Menurut Mukminan, selayaknya kedua pejabat yang pergi ini cukup satu orang 
saja. Sebab, seorang pejabat yang pergi sudah menjadi representatif dari 
pemerintahan Kota Banda Aceh untuk melakukan lawatan ke sebuah negara yang 
sama. 

MENYAYANGKAN 

Secara terpisah, anggota Komisi A DPRK Banda Aceh, Jumadi juga menyangkan 
kepergian kedua pejabat teras Banda Aceh ini. Lagi pula kepergiannya tak 
memberitahukan kepada DPRK khususnya Komisi A yang notabene mengurusi bidang 
pemerintahan. 

Anehnya lagi, ujar Jumadi, ada juga sejumlah anggota DPRK Banda Aceh yang 
pergi, namun yang dibawa itu merupakan Ketua Komisi A, Zulfikar Sawang. 
Meskipun dia (Zulfikar) merupakan Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh, namun 
kapasitasnya sebagai Ketua Komisi A patut dipertanyakan. 

"Urusan kebudayaan, mengapa Komisi A yang dibawa, seharusnya Komisi C yang 
mengurusi bidang kebudayaan," tegas Jumadi. 

Kabag Humas Pemko Banda Aceh, Mahdi saat dikonfirmasi Analisa mengaku masih 
berada di Bali, guna menghadiri Rakor Kehumasan se-Indonesia yang berlangsung 
selama empat hari. Mahdi enggan berkomentar banyak, namun menurutnya, nanti 
sepulangnya walikota dan wakil walikota akan diekspos apa saja kegiatan di luar 
negeri. 

"Tanggal dua, walikota dan wakil walikota sudah pulang, dan nanti kita ekspos 
kegiatannya," ujar Mahdi.

Kirim email ke