http://www.bharian.com.my/Misc/RamadanAlMubarak/Puasa/Hari/Fadilat/20041012142723/Article/

Ramadan Bulan Kebajikan

Oleh H. USEP ROMLI HM 
BULAN Ramadan memiliki banyak nama, sebutan, atau gelar, yang menunjukkan 
keistimewaannya di banding bulan-bulan lain. Di antara nama, sebutan, dan gelar 
itu, sebagian besar mengandung makna kebajikan, dan kemurahan. Sebutlah Syahrul 
Muwassah (Bulan memberikan pertolongan kepada yang berhajat) dan Syahrul Jud 
(Bulan memberikan kebajikan kepada sesama manusia, terutama fakir miskin). 
Tegasnya pada bulan Ramadan, setiap orang beriman yang menjalankan saum, 
dianjurkan bermurah tangan kepada orang lain.
Hal-hal di atas, tersurat dalam sebuah hadits yang menyatakan, Rasulullah saw 
berbicara (khutbah) di hadapan para sahabat pada hari terakhir bulan Syakban, 
”Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa 
besar dan penuh keberkahan. Yaitu bulan yang di dalamnya terdapat satu malam 
yang bernilai lebih dari seribu bulan. Bulan yang telah Allah SWT jadikan 
puasa-Nya suatu ibadah wajib, dan bangun di malam harinya suatu sunnah. Barang 
siapa mendekatkan dirinya kepada Allah, dengan suatu pekerjaan kebajikan di 
dalamnya, sama dengan orang yang menunaikan suatu ibadah wajib di bulan lain. 
Dan barang siapa menunaikan ibadah wajib di bulan Ramadan, sama dengan orang 
yang mengerjakan tujuh puluh ibadah wajib di bulan lain. Ramadan adalah bulan 
sabar, sedangkan pahala sabar adalah surga. Ramadan adalah bulan memberikan 
pertolongan, dan bulan Allah menambah rezeki para Mumin. Barang siapa memberi 
makanan untuk berbuka, kepada seseorang
 yang saum, menjadi pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari api 
neraka. Orang yang memberi makanan berbuka puasa, mendapat pahala seperti orang 
yang mengerjakan puasa tanpa sedikit pun berkurang.”
Para sahabat bertanya mengenai apa saja yang patut diberikan kepada orang 
berpuasa, karena kebanyakan mereka tak punya makanan apa-apa. Jawab Rasulullah 
saw, ”Allah memberi pahala tersebut kepada orang yang memberikan sebutir kurma, 
seteguk air, atau sehirup susu. Ramadan permulaannya rahmat, pertengahannya 
ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Barang siapa meringankan 
beban hamba sahaya, niscaya Allah mengampuni dosa dan memerdekakannya dari 
neraka. Karena itu perbanyaklah empat perbuatan pada bulan Ramadan. Dua 
perbuatan untuk menyenangkan Allah, yaitu mengakui tak ada Rabb selain Allah 
dan memohon ampun kepada-Nya. Dua perbuatan lagi untuk memenuhi kebutuhan 
kalian. Yaitu memohon pahala surga dan perlindungan dari siksa neraka. Barang 
siapa memberi minum kepada orang berpuasa, niscaya Allah memberi minum 
kepadanya dari Al Haud (telaga Nabi saw di akhirat), dengan suatu minuman yang 
tidak akan membuat kalian haus lagi sesudahnya sehingga
 ia masuk ke surga” (riwayat Ibnu Khuzaimah dari Salman al Farisi).
Anjuran kebajikan yang disertai janji-janji pahala dan penghindaran siksa, 
sepatutya dipahami oleh kita yang sedang menjalankan ibadah saum Ramadan. 
Dilaksanakan sebaik mungkin sebagai bagian dari keimanan kepada Allah SWT dan 
Rasul-Nya. Di tengah kesulitan mayoritas anak bangsa, saum Ramadan merupakan 
momentum bagi setiap dan semua umat Islam yang beriman dan suka beramal saleh 
untuk meraup keuntungan immaterial. Keuntungan moral, mental, dan rohani.
Allah SWT mewajibkan saum Ramadan kepada orang-orang beriman (Q.S. Albaqarah: 
183), telah meletakkan fondasi yang kokoh untuk menabur pahala. Dan memberi 
kesempatan kepada setiap orang beriman untuk meraihnya. Begitu besar pahala 
yang dianugrahkan-Nya, mulai dari kehadiran ”Malam Seribu Bulan (Lailatul 
Qadar), pelipatgandaan ganjaran (tujuh puluh kali), penambahan rezeki, ampunan 
dosa, dan kemerdekaan dari siksa api neraka bagi yang memberikan makanan kepada 
orang berbuka. Padahal jenis atau ukuran faththara fihi shaiman (makanan untuk 
berbuka) itu tidak mewah atau berlebihan. Sekadar seteguk air, sebutir kurma, 
atau sehirup susu.
Di tengah masyarakat yang sedang dilanda kegelisahan jiwa, akibat pengaruh pola 
kehidupan konsumeristis, materialistis, dan hedonistis, sering terjadi banyak 
makanan terbuang percuma. Sisa pesta dan hura-hura bertumpuk-tumpuk masuk ke 
tong sampah. Sementara di pihak lain, amat banyak sekali orang yang tak 
menemukan sesuap nasi selama berhari-hari. Kesenjangan sosial semacam ini, 
insya Allah dapat diatasi oleh sikap rendah hati umat Islam yang beriman, yang 
ikhlas mengikuti jejak sunnah Rasulullah saw.
Saum Ramadan 1425 selayaknya dijadikan kesempatan emas untuk setiap Muslim 
beriman menggapai derajat takwa. Yaitu dengan melaksanakan segala perintah 
Allah SWT dan Rasul-Nya dalam aspek ibadah mahdlah (ritual) dan aspek ibadah 
ghair mahdlah (sosial). Rasulullah saw telah menjamin kesuksesan hidup lahir 
batin dunia akhirat bagi orang yang mampu dan mau menjalankan kedua jenis 
ibadah yang saling bertautan berjalin berkelindan satu sama lain itu. Terutama 
pada bulan Ramadan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari siksa 
neraka.***


      Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the 
boot with the All-new Yahoo! Mail at http://mrd.mail.yahoo.com/try_beta?.intl=ca

Kirim email ke