Anda boleh saja mengkritisi anggota GAM yang telah masuk perangkap musuh tapi
anda tidak berhak mengkritisi intuisi GAM. Ketika anda menyamaratakan GAM
sebagai golongan manusia Acheh yang negatif dalam pandangan anda, berarti anda
telah memandang negatif terhadap intuisi GAM. Apabila demikian pandangan anda,
saya hendak bertanya kepada anda tentang posisi anda ketika GAM melakukan
perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penguasa Indonesia di Acheh dimasa
silam. Anda harus sadar bahwa siapapun yang sadar akan nasionalismenya Acheh
adalah GAM (Gerakan Acheh Mardeka). Diluar itu semuanya assimiles-assimiles
(lamiet atau pak turut) yang senang menikmati keamanan dipasung diatas
penderitaan kaum dhu'afa Acheh.
Kalau anda termasuk orang Acheh yang sadar, berarti anda juga termasuk bagian
dari GAM. Dengan kata lain siapapun orang Acheh atau Komunitas Acheh yang
mendukung GAM = GAM. Justru itu yang patut anda kritisi adalah orang-orang GAM
yang sudah dekaden, bukan keseluruhan GAM atau intuisinya. Ketika anda
menafikan perjuangan GAM, terindikasi bahwa anda lebih jelek dari GAM yang
sudah dekaden sekalipun.
GAM sendiri mengaku kalau kebanyakan dari mereka tidak berpendidikan tinggi.
Justru itu orang-orang yang berpendidikan tinggi seperti anda sepatutnya
mendampingi mereka-mereka yang tetap sadar sampai kini, bukan sekedar menafikan
mereka hingga yang terbaca justru borok andasendiri yang mengail diair keruh.
Perlu anda ingat bahwa kendatipun kebanyakan GAM tidak berpendidikan tinggi
namun mereka jauh lebih baik dibandingkan mereka tamatan perguruan tinggi tapi
berposisi sebagai pakturut. Ingatkah anda bahwa pengikut Abu Lahab dan Abu
Sofyan yang berpendidikan tinggi ketika itupun memandang rendah kepada
orang-orang yang sudah menjadi pengikut Nabi Muhammad ketika itu. Mereka
menuduh pengikut Rasulullah sebagai 'sufahak', namun Allah menjawab bahwa
sesungguhnya mereka itulah yang 'sufahak' namun mereka tidak sadar. Apa artinya
ilmu yang mereka timba dari 'dapur' yang bathil sebagaimana orang-orang Acheh
yang menimba ilmu dalam dapur hindunesia yang lebih parah daripada dapur Abu
Lahab dan Abu Sofyan dulu. Betapapun mereka itu berpijak pada Idiology
Pancasila alias Puntjasilap. Lihatlah sekarang yang sedang melahap hak kaum
dhu'afa pasca Tsunami di lembaga BRR- Kuntoro, bukankah mereka itu rata-rata
lulusan perguruan tinggi Hindunesia?
Maafkan saya kalau tidak ingin untuk memusuhi anda tapi hendak mengatakan
yang sebenarnya. Sayapun agak sering mengkritisi anggota GAM yang Sudah dekaden
dengan harapan supaya mereka sadar kembali, kendatipun resikonya sebagian dari
mereka menganggap justru kita yang keliru. Hal ini disebabkan mereka sudah
tertutup hatinya.
hsndwsp
di
Ujung Dunia
PUTROE DINA BEN AHMED <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam buat semua
Perkembangan Aceh terkini tidak terlepas dengan kondisi ekonomi, kaya
kemudian lupa khittah perjuangan. Bagi mereka yang selama ini menganggap utopi
atau pesimis terhadap perjuangan, terutama perjuangan GAM kondisi ini mungkin
menjadi sebuah legitimasi bagi ide dasar mereka, bahwa perjuangan GAM itu
sebenarnya tidak lebih persoalan UANG BAGI MEREKA SENDIRI, yang dibahasakan
dengan kepentingan rakyat, negara sinambong, HAM dan seterunya; yang membuat
rakyat tergiur dengan masa depan yang menjanjikan.
Apa yang terlihat untuk saat ini? Nampaknya menjadi nyata, bahwa PENG GRIEK
lebih bisa menjadi PELURU bagi musuh. Milyaran uang yang telah didapatkan
beberapa pentolan GAM membuat mereka kehilangan ke-manusia-annya. Banyak
tentara GAM menjadi Aneuk Asee bagi kontraktor yang selama konflik kontraktor
tersebut menjadi OBJEK pemerasan GAM. Hari ini semua rakyat Aceh tidak lagi
menaruh harapan pada GAM, Asoe Pruet Kadeuh Tinggal pada Gerakan Sipil yang
cenderung idealis dengan berbagai konsep-2 gerakan yang dinamis dan kontiyue.
GAM cenderung frontal tetapi Asoe Ulee Tan.
Akan kah gerakan Sipil atau rekan-2 aktivis juga menjadi seperti GAM?
Wallahualam. Yang jelas pamor GAM di mata rakyat Aceh, seperti bangkai yang
terus menebarkan bau menyengat. MUAK DAN BEGITU BENCINYA. Apa yang bisa
dibanggakan GAM untuk hari ini? Ulee soh tapi sok pinter. Pamor GAM sendiri
selama ini ada ketika Gerakan sipil Aceh membeck-Up setiap gerakannya.
Saya berani mengatakan, jika partai GAM tetap tidak di loloskan RI, maka
itulah puncak kehancuran GAM, ternyata memang GAM tak ada kekuatan tanpa
dorongan Sipil Aceh. bisakah GAM membaca politik ini? Menganggap Aceh hanya
milik mereka, itu sebenarnya membuat mreka semakin dibenci oleh rakyat. Yang
ada kemudian adalah teror, itupun bukan kepada jakarta melainkan kepada diri
sendiri dan rakyat Aceh. Prang Cumbok sedang dipersiapkan.
Mohon dikritisi kondisi ini.
Salam DINA
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.