DRS. H. MUHAMMAD JUSUF KALLA: Yang Terpenting Bekerjalah dengan Baik
Oleh : Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, M.A. 

29-Okt-2007, 18:02:31 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Tokoh yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI 
ini terlahir sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara dengan nama 
Muhammad Jusuf Kalla di Watampone, Sulawesi Selatan pada 15 Mei 
1942. Bapaknya, Haji Kalla adalah seorang pengusaha lokal yang cukup 
berhasil dan ibunya adalah pedagang tenunan sutera Bugis. Latar 
belakang keluarga pengusaha yang cukup terpandang di daerahnya 
tersebut telah membentuk Kalla "Junior" tumbuh berkembang sebagai 
cikal pebisnis ulung di kemudian hari. Namun jiwa kepemimpinannya di 
dunia politik juga terasah oleh situasi dan keadaan negara Indonesia 
pada masa mudanya, yang sedang tidak stabil akibat pergolakan 
politik di tingkat pucuk pimpinan negara saat itu.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah, Jusuf Kalla melanjutkan ke 
Universitas Hasanuddin, Makassar. Sebagai salah satu basis 
perjuangan pemuda dan mahasiswa Indonesia di pertengahan tahun 60-an 
itu, kampus ini telah menginspirasi Kalla untuk menggeluti dunia 
perjuangan politik akibat kisruh politik nasional yang terjadi 
menyusul tragedi berdarah 30 September 1965. Waktu itu, ia bergabung 
dan menjadi Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) divisi 
Indonesia Bagian Timur. Perjalanan karir politiknya secara real 
dimulai saat ia menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan.

Jusuf Kalla menyelesaikan studinya dari Fakultas Ekonomi Universitas 
Hasanuddin pada tahun 1967 di saat keadaan ekonomi Indonesia masih 
sangat buruk yang berimbas kepada usaha orang tuanya, NV Hadji 
Kalla, yang hampir bangkrut dan akan ditutup. Kondisi inilah yang 
memicu Kalla muda untuk meninggalkan aktivitas politik dan terjun ke 
dunia bisnis, menjadi nahkoda perusahaan keluarganya, dengan 
menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer). Ini adalah masa-masa 
sulit bagi perusahaannya yang hanya memiliki satu karyawan, dibantu 
oleh Ibundanya menjajakan sutra dan mengoperasikan usaha 
transportasi dengan modal tiga buah bus.

Kepiawaian Jusuf Kalla, yang menamatkan studi di INSEAD, sebuah 
sekolah bisnis internasional yang berpusat di Fontainebleau di 
Selatan Paris, dalam mengelola bisnis benar-benar teruji melalui 
perannya di NV Hadji Kalla tersebut. Perkembangan usaha secara pasti 
bergerak maju dan bahkan melaju kencang. Di bawah kepemimpinannya, 
usaha keluarga tadi merambah berbagai bidang, seperti eksport-
import, perhotelan, konstruksi, angkutan kapal, real estate, dan 
transportasi. Selain itu, usahanya juga kemudian berkembang ke 
sektor tambak udang, perkebunan, dan telekomunikasi.

Di tengah kesibukan mengelola usaha bisnisnya, suami dari Mufidah 
Jusuf ini juga masih menyempatkan diri untuk terlibat aktif di 
berbagai kegiatan sosial dan organsisasi. Ia tercatat sebagai Ketua 
ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) cabang Makassar dari tahun 
1979 hingga 1989. Ia juga dalam waktu cukup panjang dipercaya 
menjabat sebagai Ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri) Sulawesi 
Selatan yang juga sebagai basis KADIN untuk wilayah Indonesia Timur 
(1985-1998). Jusuf Kalla juga terlibat langsung dalam pembangunan 
mesjid Al Markaz. Ia kemudian menjadi Ketua Harian Yayasan Islamic 
Center Al-Markaz.

Kalla kembali ke panggung politik pada tahun 1987 ketika ia terpilih 
masuk menjadi anggota Majelis Permusyawaran Rakyat (MPR), dan selalu 
terpilih pada 3 kali pemilihan umum berikutnya. Terpilihnya Kalla 
sebagai salah satu anggota kabinet sebagai Menteri Perdagangan dan 
Perindustrian pada kepresidenan Abdurrahman Wahid dan kemudian 
sebagai Menko Kesejahteraan Rakyat di kabinet Megawati, mengukuhkan 
langkah putra Bugis Makassar ini untuk mengabdikan diri kepada 
bangsa dan negara melalui jalur eksekutif. Pada masa kementriannya, 
nama Jusuf Kalla berkibar cemerlang sebagai salah satu tokoh 
pemimpin favorit bangsa, teristimewa bagi masyarakat Indonesia di 
wilayah Timur.

Peran Kalla yang amat monumental adalah ketika ayah 5 anak (Muchlisa 
Jusuf, Muswirah Jusuf, Imelda Jusuf, Solichin Jusuf, Chaerani Jusuf) 
ini terlibat langsung dalam menyelesaikan konflik bernuansa SARA di 
Poso, Sulawesi Tengah. Atas prakarsa dan peran aktifnya, akhirnya 
berbagai pihak yang bertikai di daerah itu berhasil difasilitasi 
utnuk duduk bersama berdialog dan bersepakat untuk mengakhiri 
konflik ditandai dengan penandatanganan Deklarasi Malino pada 20 
Desember 2001. Hanya berselang 2 bulan kemudian yakni pada 12 
Februari 2002, Kalla bersama Susilo Bambang Yudhoyono (yang saat itu 
menjabat sebagai Menko Polkam) menyelesaikan perkara pertikaian 
sejenis yang terjadi di Ambon, Propinsi Maluku, melalui kesepakatan 
Malino II.

Sejak 20 Oktober 2004, Jusuf Kalla resmi menjabat sebagai Wakil 
Presiden Republik Indonesia, mendampingi Pesiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) untuk masa bakti 2004-2009. Pada Munas Partai Golkar 
di bulan Desember 2004, ia terpilih menjadi Ketua Partai Golkar masa 
bakti 5 tahun ke depan. Posisinya sebagai Ketua Umum Partai Golkar 
tersebut dipandang banyak pihak sebagai sesuatu yang amat positif 
dalam memperkokoh kestabilan pemerintahan SBY-JK, panggilan akrab 
duet presiden-wapres ini. Sedemikian jauh perjalanan karir, baik di 
bidang ekonomi maupun politik seorang Jusuf Kalla, telah 
menginspirasi banyak orang untuk belajar dari pengalaman hidupnya. 
Juga banyak warga yang ingin mendengar apa komentar Kalla sendiri 
atas sukses yang dicapainya selama ini. Ia dengan senang hati 
menyampaikan kiat-kiat suksesnya, serta visi-misi hidupnya kepada 
KabarIndonesia dalam suatu wawancara khusus di Istana Wakil Presiden 
beberapa waktu lalu.

KabarIndonesia (KI): Pak Wapres, kata orang tiada sukses tanpa 
perjuangan. Lain orang mengatakan ada banyak kiat menuju sukses. 
Bisa diceritakan di mana letak rahasia keberhasilan Bapak?

Jusuf Kalla (JK): Sebenarnya, saya merasa tidak punya rahasia khusus 
untuk mencapai sukses. Yang terpenting bagi saya adalah bekerja 
dengan baik, bekerja dengan objek yang jelas, bahwa yang dikerjakan 
itu adalah untuk kepentingan bangsa. Saya lebih banyak menggunakan 
logika, memakai pertimbangan-pertimbangan logis, khususnya logika 
pemerintahan. Sebelum melakukan sesuatu, saya tanyakan pada diri 
sendiri: yang saya lalukan ini apa, tujuannya untuk apa, kegunaannya 
apa. Saya kira itu saja.

KI: Ada nasehat yang dapat Bapak berikan kepada generasi muda 
penerus bangsa kita?

JK: Ya, kalau dari segi pemerintahan, pertama harus disadari bahwa 
dari dulu sampai sekarang orang mengakui negara kita ini memiliki 
resources yang sangat besar. Tapi sumber daya alam itu tidaklah 
bermakna bila tidak diimbangi oleh keberadaan generasi yang mampu 
mengelola semua itu dengan baik dan bermanfaat bagi bangsa. Karena 
itu kita perlu mengelola sumber daya alam itu dengan didukung oleh 
persatuan yang kuat, dengan tujuan yang jelas, tingkat pendidikan 
yang memadai. Dengan demikian, saya yakin tingkat kehidupan generasi 
ke depan itu pasti dapat lebih baik lagi.

KI: Beralih ke masalah politik, ada target pribadi Bapak sendiri 
sebagai Ketua Umum Golkar?

JK: Partai politik itu mewakili rakyat. Bukti kita berdemokrasi 
adalah adanya partai-partai politik. Pemerintahan yang kuat itu 
apabila partai besar di parlemen mendukungnya. Tanpa itu, dengan 
kondisi bermacam-macam tidak bisa kuat. Saat ini, posisi Partai 
Golkar kuat; dan oleh sebab itu kita bisa memperoleh pemerintahan 
yang relatif kuat. Target saya, pemerintahan ini tetap kuat dan 
stabil dengan adanya dukungan dari DPR yang anggotanya mayoritas 
adalah kader-kader Partai Golkar.

KI: Akan maju sebagai calon presiden pada pemilu mendatang, Pak?

JK: Aha, itu tergantung nanti. Saya belum memikirkan itu. Saat ini 
saya fokus kepada tugas pemerintahan yang saya emban, sebab kita 
perlu memikirkan kondisi sebaik-baiknya bangsa kita ke depan. Itu 
nanti akan sangat tergantung pada apa yang kita capai. Singkatnya, 
yang paling penting sekarang ini bagi saya adalah menyelesaikan dulu 
tugas pemerintahan ini.

KI: Menurut Bapak, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah agar 
rakyat Indonesia dapat mewujudkan impiannya menjadi negara aman, 
adil dan sejahtera?

JK: Ya, seperti yang saya katakan tadi, kita perlu bekerja keras 
membangun bangsa. Yang pasti kita perlu bekerja bersama-sama seluruh 
komponen bangsa. Jadi tidak hanya pemerintah saja, tapi semua harus 
terlibat dalam mewujudkan cita-cita bangsa kita, yang antara lain 
menjadi negara aman, adil, dan sejahtera itu. Kita harus saling 
mendukung dan saling mengisi antar elemen bangsa.

KI: Pak Wapres, salah satu problem krusial yang dialami Indonesia 
saat ini adalah semakin melebarnya kesenjangan sosial. Menurut Bapak 
apakah pemerintah perlu melakukan reorientasi model ekonomi kita?

JK: Ya, itu memang masih menjadi salah satu persoalan bangsa. 
Setelah krisis moneter yang melanda negara kita, gap antara kaya dan 
miskin itu makin melebar. Oleh karena itu salah satu program yang 
kita buat adalah dengan mengadakan subsidi bagi masyarakat ekonomi 
lemah. Implementasi program ini secara teknis dilaksanakan oleh 
badan-badan dan kementrian terkait. Tapi yang pasti kita harus 
mengambil kebijakan memperkecil kesenjangan sosial dengan langkah-
langkah nyata seperti subsidi tunjangan langsung tunai bagi warga 
masyarakat kurang mampu.

KI: Secara umum, apa prioritas perbaikan perekonomian bangsa ke 
depan?

JK: Pertama, infrastruktur ya. Yang kedua, penciptaan iklim 
investasi yang baik dan kondusif bagi dunia usaha dalam negeri. 
Kedua hal ini amat penting, terutama dalam kaitannya dengan recovery 
economy kita yang beberapa tahun lalu dilanda krisis.

KI: Terima kasih Pak Wapres atas waktu dan keterangan yang telah 
diberikan.

JK: Sama-samalah, saya juga mengucapkan banyak terima kasih atas 
peran serta KabarIndonesia yang bertujuan membangun bangsa melalui 
pengembangan media informasi berbasis masyarakat.

Itulah hasil perbincangan KabarIndonesia dengan sosok RI-2 (istilah 
untuk jabatan Wapres). Dalam kesehariannya, pria yang pada saat 
wawancara ini mengenakan kemeja putih lengan panjang itu, terkesan 
santai dan sedeharna. Namun sikap tegas dalam setiap kebijakan dan 
keputusan yang diambilnya telah menjadikan dia sebagai tokoh 
nasional berkarakter pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat. 
Selamat bertugas Pak Wapres!

Bio Data Singkat

Nama: Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
Tempat/Tgl Lahir: Watampone-Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942
Agama: Islam
Alamat: Jl. Brawijaya Raya No.6 Jakarta Selatan
Nama istri: Ny. Mufidah Jusuf (kelahiran Sibolga, 12 Februari 1943)
Nama anak: Muchlisa Jusuf, Muswirah Jusuf, Imelda Jusuf, Solichin 
Jusuf, Chaerani Jusuf

Pendidikan
Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (1967) 
The European Institute of Business Administration, Prancis (1977) 

Riwayat Pekerjaan
2005 - sekarang : Wakil Presiden Republik Indonesia
2001 - 2004 : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
1999 - 2000 : Menteri Perindustrian dan Perdagangan
1968 - 2001 : Direktur Utama NV. Hadji Kalla
1969 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Karsa
1988 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama
1988 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama
1993 - 2001 : Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa
1995 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International

Riwayat Organisasi
2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat
1994 - sekarang : Ketua Harian Yayasan Islamic Center Al-Markaz
1992 - sekarang : Ketua IKA-UNHAS
1987 - 2001 : Anggota MPR RI
1987 – 2000 : Wakil Ketua ISEI Pusat
1985 - 1997 : Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): [EMAIL PROTECTED] 
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

Kirim email ke