Andaikata anda membaca buku "Ummah dan Imamah" karya pemikir Islam Iran, DR Ali 
Syariati serta mampu memahami pesan-pesannya, anda juga akan mampu memahami 
jalur pikiran saya yang telah kucurahkan di medan internet ini, hingga anda 
tidak semudah itu menuduh saya yang kemungkinan besar justru anda sendiri yang 
seperti itu.

DR Hasan Muhammad di Tiro bukan Imam yang diutus Allah dan juga bukan wakil 
Imam, tapi mengambil posisi sebagai wakil Imam yang diutus.  Imam yang diutus 
Allah swt hanya 12 orang, sejak dari Imam Ali bin Abu Thalib as sampai Imam 
Muhammad Al Mahdi as.  

Imam terakhir itu digelar sebagai, Al-Mahdi, Al-Qasim, Al-Hujjah dan 
AL-Muntadzar.   Ayahnya, Hasan AL-Askari dan Ibunya, Narjis Khotun.  Beliau 
dilahirkan pada Malam Jum’at 15 Sya’ban 255 Hijriah dan bertempat tinggal di 
Samara’. Beliau ghaib sughra sesama 74 tahun dimulai sejak kelahirannya sampan  
tahun 329. Setelah itu Imam masuk periode ghaib kubra.

Imam Mahdi, sebelum lahir ke dunia sudah dimata-matai penguasa Sunni untuk 
dibunuh.  Proses kelahirannya ada kemiripan dengan proses kelahiran nabi Musa 
as dimana penguasa zalim keika itu (baca Firaun) memata-matai kelahirannya 
dengan alasan akan meruntuhkan kekuasaannya.  Kita sudah sama-sama mengetahui 
melaui info dari Al Qur-an bagaimana kehendak Allah untuk menyelamatkan nabi 
Musa walau berada dala keluarga Firaun sekalipun, tetap selamat.  Demikian 
jugalah Allah menyelamatkan Imam Mahdi walaupun rumahnya digrebek penguasa 
zalim keika itu, namun merka tidak menemui Imam.

Imam Mahdi ”berkantor” dirumah ayah-bundanya sendiri, sementara pesan-pesannya 
disampaikan kepada ummah melalui 4 orang wakilnya, silih berganti.

Wakil-wakilnya  
1.      Utsman bin Said al-Umari al-Asadi.

2.      Muhammad bin Utsman bin Said al-Umari al-Asadi, wafat tahun 305 H.

3.      al-Husein bin Ruh al-Naubakti, wafat tahun 320 H.

4.      Ali bin Muhammad al-Samir, wafat 328/329 H.

    
Setelah wafatnya wakil keempat, Imam memberitahukan kepada ummah bahwa beliau 
mulai masuk periode Ghaib Kubra.  Dalam periode tersebut beliau tidak memiliki 
wakil.  Perlu diberitahukan agar terhindar dari tipu daya pihak-pihak yang 
mengaku sebagai wakilnya untuk mengelabui ummah.

Di RII terkenal Imam Khomaini dan Imam Ali Khamenei.  Mereka bukan Imam yang 
diutus melainkan mampu menggantikan posisi Imam untuk mendirikan system 
Allah/daulah Allah di muka Bumi. Justru itu keduanya layak digelar Imam.  
Realitanya RII merupakan representantnya negara Islam di jaman kita sekarang 
ini.  Hal tersebut tidak akan mampu di raih kecuali oleh ulama warasatul ambia 
seperti mereka.   Panggilan Imam dalam kontek ini merupakan prototipe konsept 
Islam kaffah, Ummah dan Imamah.  Hal ini baru dapat dimengerti dengan mantap 
setelah kita baca buku Ummah dan Imamah, karya DR Ali Syariati.

Kembali ke persoalan Acheh - Sumatra.
Adalah logis sekali bahwa setiap pergerakan atau revolusi membutuhkan hanya 
seorang ”Komando” agar revolusi berjalan dengan lancar tanpa gangguan intern. 
Andaikata ada gangguan intern, dapat dipastikan revolusi tersebut tak akan 
berhasil kecuali gangguan tersebut dapat dibereskan segera secara tuntas.

”Komando” dalam konsept perjuangan Ummah dan Imamah disebut ”Imam”, sementara 
manusa yang bersatupadu dibawah kommando seorang Imam disebut ”Ummah”

Di RII, mayoritas Ummah adalah Syiah Imamiah 12 (Islam mazhab Jakfari).  Justru 
itu mereka mampu meraih keberhasilan kendatipun musuh yang mereka hadapi sangat 
komlek dibandingkan musuh kita bangsa Acheh - Sumatra yang Sunni.  Musuh RII 
disamping dalam negara sendiri melawan kezaliman kekuasaan Syah Reza Pahlevi, 
mereka juga melawan kuasa 2 Super Power, nyakni AS dan US yang disebut Imam 
Khomaini sebagai Setan besar.  Mereka juga sekaligus melawan keganasan 
Saddamnya Irak yang mendapat support dari negara-negara yang menamakan diri Pan 
Arabisme.

Musuh kita bangsa Acheh - Sumatra hanya koloni Indonesia - Jawa   dan 
kakitangannya di Tanah Rencong tersebut.  Namun sampan hari ini kita masih 
dipermainkan pihak musuh, kenapa?  

Posisi Imam di Acheh - Sumatra dipegang oleh Dr Hasan Muhammad di Tiro.  
Disebabkan alasan tertentu di usianya yang lanjut itu beliau mewakilinya kepada 
Malek Mahmud.  Justru itu jika kita memahami benar konsept Ummah dan Imamah 
sebagai konsept perjuangan yang redha Allah swt, kita bangsa Acheh - Sumatra 
haq menta’ati PM Malik Mahmud sebagaimana menta’ati  DRHasan Muhammad di Tiro 
sebagai ”Wakil Imam” kalau tidak, kita termasuk dam golongan yang merusak 
perjuangan.  Kita tersesat dari konsept perjuangan suci,  Kita termasuk 
orang-orang  egois yang sebenarnya, kendatipun kita tidak sadar betapa kita 
telah menghancurkan perjuangan kita sendiri.  Lalu  kita pertanyakan kembali, 
siapakah sebenarnya yang telah menghancurkan perjuangan Acheh - Sumatra?

Andaikata kita menydari hakikat perjuangan menurut petunjuk Allah swt, kita 
tidak semudah itu memisahkan diri dari komunitas perjuangan dibawah poros 
seorang ”Wakil Imam”.  Kalau kita beralasan bahwa beliau memiliki 
kekurangan-kekurangan, mana pula ada manusa yang tidak memiliki kekurangan 
kecuali para Rasul, para Imam dan Ulama-ulama warasatul ambiya?

Andaikata kita mampu bersabar, bukankah kita memiliki komitment untuk menggelar 
”Sidang Acheh - Raya” setelah kita berdaulat di negara sendiri?  Perlu kita 
sadari bahwa pemimpin revolusi dimana dalam kontek Islam sejati disebut ”Imam”, 
keberadaannya sama dengan keseluruhan manusa (ummah) yang bersatupadu dibawah 
kepemimpinan Imam itu sendiri.   Justru itu menghancurkan keberadaan ”Imam” 
sama dengan menghancurkan persatuan ummah itu sendiri. Dalam kontek pemahaman 
seperti ini dapat kita pahami dosa yang bagaimana lagi yang paling dikutuk 
Allah selain dari dosa menghancurkan keberadaan ”Imam” dari suatu komunitas? 
(baca wakil pemimpin revolusi bagi Acheh - Sumatra)

Andaikata seluruh bangsa Acheh - Sumatra bersatuteguh dibawah poros seorang 
pemimpin serta mampu melupakan kekurangan-kekurangannya, Acheh - Sumatra akan 
merdeka sebelum tahun 2010.  Sayangnya sebagian orang Acheh yang pintar tapi 
tidak teguh imam telah terlanjur untuk merong-rong kepemimpinan bangsanya 
sendiri, hingga kesalahan yang sama diulangi lagi oleh kelompok yang ambisius 
kekuasaan.

Andaikata tidak ada pihak yang merusak perjuangan dan kesatuan, melalui MoU 
Helsinkipun kita mampu meraih kemerdekaan. Kita akan tetap sadar bahwa musuh 
ekstern senantiasa berdaya upaya untuk menggagalkan perjuangan kita.   Namun 
selagi kita sadar akan hakikat perjuangan yang mendapat keredhaan Allah dalam 
konsept Ummah dan Imamah, musuh ekstern itu tidak berdaya sama sekali untuk 
menghancurkan perjuangan kita. Dengan kata lain kita menyadari yang mampu 
menghancurkan Islam adalah orang ”Islam” itu sendiri bukan pihak luar. Demikian 
jugalah yang mampu menghancurkan perjuangan bangsa Acheh - Sumatra adalah orang 
”Aceh” sendiri (baca musuh intrn bukan musuh ekstern)

Andaikata tulisan di alinia-alibia sebelumnya dapat dipahami dan diakui 
kebenarannya, sekarang kita dapat membuat prediksi sebagai perikut:

Priode DR Hasan Muhammad di Tiro adalah periode kesadaran dan pemantapan.  
Priode PM Malek Mahmud adalah periode kemerdekaan pertama dimana nilai 
kemerdekaannya berkisar antar 50 sampai 70%. Lalu dilanjutkan generasi penerus 
(generasi ke 2) sampai 90%.  Baru di generasi ke 3 dapat mencapai 100%.

Andaikata kita egois terhadap kepemimpinan PM Malek Mahmud, yang rugi bukan PM 
dan orang orang yang tetap bersatupadu dibawah kepemimpinannya tapi pihak yang 
egois itu sendiri bersama segenap pengikutnya.  Bukan saja di Dunia tapi juga 
di Akhirat kelak (nauzu billahi min zalik)

Billahi fisabililhaq
      Hsndwsp
           Di
  Ujung  Dunia




      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke