HEHEHEHE....teurimong geunaséh ateuh uraian Teungku jang panjang Teuma jang pah
ta meurumpok, djadi mangat ta peugah haba masalah lagèenjoe... meunjoë ta tulèh
lam milisnjoe entreuk ka saban geutanjoe lagèe awak laén jang mudawa hana
meupeuë tjap dan hana udjông pangkai, kon meunan Teungku hehehe..Saleum Damèe...
wass
Lauttawar
Ali Al Asytar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya kira bagus pikiran kamu Laut Tawar, kendatipun perlu diperbaiki
sedikit. Pertama kamu berpendapat bahwa kita harus dapat menerima kalau
pendapat kita memang salah (bagus) tinggallagi kita juga harus sadar bahwa
ukurang benar tidaknya itu adalah menurut Allah, RasulNya dan Ulul Amri (baca
Imam yang diutus setelah priode Rasul berakhir). Yang jelas benar tidaknya
bukan menurut sangkaan manusia. Artinya pikiran manusia itu baru dikatakan
benar kalau didukung Ayat Allah, Hadist Rasul dan Para Imam.
Sebagai mana kata Laut Tawar sendiri terpaksa harus bilang, yang berarti yang
salah harus kita katakan salah walau pahit alias tidak disenangi banyak orang,
sesuai kata Rasulullah: "Qulli haq walau kana murra", yang artinya: "Katakanlah
yang benar walau pahit", kamu juga harus mengaku bahwa kamu keliru 180 derajat
ketika kamu bandingkan dengan Parlemen negara Danmark, tempat dimana kamu
tinggal, hingga berkesimpulan: "Tapi ternyata negara yang mereka kata kafir
lebih islam dari orang yang mengaku negaranya Islam"
Kalau kamukatakan mereka yang kafir itu lebih baik daripada mereka yang
mengaku negaranya Islam, yang keliru disitu adalah orang yang "mengaku"
negaranya Islam seperti Indonesia plus Acheh yang masih dalam bingkai
Indonesia, sesungguhnya bukan negara Islam tapi negara "hipokrit". Artinya
hanya disebut saja negara Islam dalam istilah "basa-basi". Negara Islam adalah
negara yang menggunakan hukum Allah. Negara manapun yang tidak menggunakan
hukum Allah disebut Negara Taghut (ini istilah Al Qur-an sendiri), sementara
semua orang yang bersatupadu dalam system Taghut tersebut adalah kafir walaupun
mengaku diri orang Islam, walaupun mereka itu dipanggil orang ramai "ulama",
Kiyai, Teungku, Pak Haji, anggota majlis "ulama" Khatib pendakwah sejuta ummah
dan sebagainya.
Hal itu jelas dikatakan Allah dalam surah Al Maidah: ". . . . . . .waman lam
yahkum bima anzalallah faulaika humul kafirun" (kafirun, zalimun dan fasiqun).
Terjemahan bebasnya: ". . . . . . . Barang siapa yang tidak
menghukum/memutuskan menurut (hukum) apa yang diturunkan Allah, maka mereka
itulah orang-orang yang kafir" (QS, 5 : 44) . . . . . . . . Barang siapa yang
tidak menghukum/memutuskan menurut (hukum) apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itulah orang-orang yang zalim" (QS, 5 : 45) . . . . . . . Barang siapa
yang tidak menghukum/me mutuskan menurut hukum apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itulah orang-orang yang fasiq" (QS, 5 : 47)
Sekarang coba anda pikirkan sedalam-dalamnya, hukum apakah yang telah
disepakati untuk diterapkan terhadap orang-orang yang bersatu padu dalam system
Indonesia itu? Betapa banyak kaum dhu'afa yang telah dizalimi, dipenjara,
dianianya/disiksa, di bunuh, dijarah hartanya, diperkosa dan berbagai
penghinaan jenis lainnya akibat persekongkolan orang-orang yang bersatupadu
dalam lembaga yang mereka namakan NKRI itu. Andaikata kita mampu berpikir
berdasarkan firman Allah, pastilah kita memahami bahwa semua orang yang
bersatupadu dalam negaraTaghut hipokrit itu adalah, kafir, zalim dan fasiq.
Berdasarkan kacamata Allah, mereka itu adalah munafiqun.
Munafiqun saya hitamkan disebabkan dengan penampilan merekalah membuat banyak
orang termasuk yang menamakan dirinya sebagai Lawut Tawar, Alauddin Umarov,
Hafsah Salim dan sebagainya, salah kaprah dalam melihat sosok Islam yang
sesungguhnya/Islam sejati/Islam Kaffah (Islam ber System).
Kita yang tinggal di negara Taghut yang bersystem Sosyial Demokra tik, bisa
salah sangka andaikata kita belum mantap A'qidah atau Idio logy. Sebab orang
tsb belum memahami Konsep Islam yang sesungguh nya. Hal ini lazimnya dialami
orang-orang Islam keturunan. Kita ada lah korban system Taghut Hipokrit dimana
kita dibesarkan dida lam system yang mayoritas penduduknya mengaku diri sebagai
penga nut Islam, sementara materi agama mereka timba didapur Taghut itu
sendiri. Itulah yang dimaksudkan system, dimana system pendidikan, Mesjid, Al
Qur-an semuanya disesuaikan dengan kemauan system Taghut itu sendiri. Sebagian
Lembaga Pendidikan memang menyaji kan materi agama tapi agama Qabil bukan agama
Habil. agama Muawiyah dan Yazid bukan agama Muhammad saww. Kalau Qabil benar
agamanya kenapa dia bertekat untuk membunuh saudaranya? Secara darah Habil
memang saudaranya tapi secara idiology mereka berada dipersimpangan jalan yang
haq dan yang bathil.
Mengapa Muawiyah memerangi Imam Ali dan meracuni Imam Hasan? Muawiyah tidak
beragama dengan agama yang sesungguh nya, yaitu agama murni yang dibawa
Rasulullah, Muhammad saww. Kenapa Yazid bin Muawiyah tega membantai keluarga
Rasulullah di Karbala, sementara keluarga presiden saja biasanya dilindungi?
Kenapa Suharto, Gusdur, Megawati membunuh orang Acheh melalui tangan tentara
dan polisi yang juga mengakui beragama Islam? Mengapa mereka yang bersatupadu
dalam system Taghut Indonesia yang Hipokrit itu menzalimi bangsa Acheh -
Sumatra sampai hari ini dibawah komando Yudhoyono, Kalla dan Kuntoro? Lagi-lagi
jawaban nya, mereka itu semuanya bukan orang Islam tapi orang Munafiq atau
hipokrit. Mengapa mereka sampai tak mampu berfikir? Hal ini disebabkan disisi
mereka ada para "Ulama" yang siap memberi fatwa bahwa orang Acheh itu
pemberontak. Sesungguhnya mereka itu bukan ulama warasatul Ambiya tapi "Bal'am"
(baca posisinya sama dengan "ulama" yang berpihak kepada Firaun untuk
berkonfrontasi dengan Nabi Musa dan Harun yang Islami) Andaikata mereka itu
ulama, pasti mereka mengetahui bahwa justru memberontak atas system Thaghut
yang Zalim dan Hipokrit itulah jalan untuk menggapai esensi kemanusiaan.
Islam adalah agama bersystem. Tanpa System Islam takbisa berjalan secara
"Kaffah". kecuali hanya ritual-ritual kosong belaka. Kita bingsa Acheh -
Sumatra kalau memang benar-benar ingin menjadi Islam Kaf fah, haq
memperjuangkan systemnya agar, Al Qur-an, Mesjid dan system pendidikan
benar-benar mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan perintah Allah.*) Allah
berfirman dalam surah Az Zariat: "Wamaa khalaqtul Jinna wal Insa illaa
liya`buduuni". Artinya. "Tidaklah Kujadikan jin dan manusia kecuali untuk
memperhambakan diri (tunduk patuh) kepadaKu (Q.S. 51:56).
Untuk mendirikan system Allah, kita haq bersatupadu dibawah seorang pemimpin
yang disebut Imam, sementara pengikutnya yang bergerak dalam satu poros disebut
Ummah. Dengan kata lain, Um mah adalah manusia yang meyakini garis kepemimpinan
Rasulullah, bukan manusia yang yang mengambil suatu keputusan berdasarkan kata
orang ramai (demokrasi). Andaikata seluruh manusia di planet Bumi ini
bersepakat memilih pemimpin yang mereka sepakati, yang benar tetap yang
ditunjukkan Rasulullah sendiri, sebab ukuran kebenaran bukan pada orang ramai
tapi pada Allah, RasulNya dan para Imam yang diutus. Islam Murni baru memasuki
masa demokrasi setelah mayoritas Ummah cerdas dalam mengenali pemimpin yang
redha Allah. Dengan demikian Islam bukanlah Agama anti demokrasi tapi
menempatkan demokrasi pada tempat yang layak agar tidak jadi sandiwara di
tangan penguasa yang zalim dan hipokrit atau manusia-manusia yang ambisius.
Kembali musyawarah yang sedang digelar sira.
Adakah mereka itu memahami konsep Ummah dan Imamah yang Islami itu? Andaikata
mereka berfikir sesuai petunjuk Allah dan Rasulnya, kenapa mereka membuat
Partai lainnya dalam menghadapi politik Indonesia yang hipokrit itu? Kendatiåun
kita tidak lagi me manggul senjata, kita tetap masih dalam kondisi Revolusi,
dimana setiap pribadi Muslim benaran haq bersatupadu dibawah seorang pimpinan,
yakni PM Malik bersama Stafnya. Andaikata kita bersatupadu dibawah seorang
"Imam", kita pasti menang dalam melawan politik Indonesia Hipokrit, betapapun
hipokritnya. Setelah kita berhasil mengalahkan musuh utama, barulah tiba
saatnya kita mendirikan partai-partai dalam satu bingkai yang redha Allah.
Minimal Saat itulah kita baru memasuki tahap demokrasi (ketika mayoritas Ummah
memahami tujuan Hidup yang mendapat redha Allah). Ketika itu ummah
berlomba-lomba untuk memoer dayakan kaum dhu'afa hingga Acheh - Sumatra baru
menyandang gelar Baldhatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Kalau SIRA dulu menggelar referendum memang tepat sekali namun harus mereka
yakini bahwa tanpa power TNA, kala itu tidak akan exist Referendumnya. Ketika
itu kita merupakan seperti Ummah yang bersatupadu dibawah satu poros
kepemimpinan, hingga merasakan referendum yang kita gelar itu bukan hanya milik
organisasi SIRA tapi milik bangsa Acheh - Sumatra. TNA itu juga bukan milik
mereka sendiri tapi milik bangsa Acheh - Sumatra. TNA dengan ummah bagaikan
ikan dengan air. Lalu kenapa sekarang ini sesekali muncul suara sumbang dianta
ra TNA dan SIRA? Hal ini disebabkan belum ada kemantapan ideology. Ideology
apakah itu? Ideology ummmah yang bersatupadu dibawah keimamahan seorang Imam
untuk mencari redha Allah.
Kemungkinan besar bahwa suara ini takkan didengar oleh pihak SIRA, kenapa?
Sebab mereka belum memahami konsep Ummah dan Imamah yang redha Allah. Mereka
termasuk korban system Hindunesia Zalim dan Hipokrit. Mereka mengikuti suara
demokrasi made in Hindune sia, dimana mayoritas pengikutnya telah terlanjur
makan "singkong" sampai buncit perutnya, hingga ketika kita tawarkan jenis
makanan lainnya, walau "durian" sekalipun pasti mereka tolak. Semoga Allah
menunjuki sebagian mereka yang masih memiliki pikiran yang jernih untuk kritis
terhadap fenomena apa saja yang mereka saksikan di planet Bumi yang akan fana
ini.
Sebelum kita akhiri marilah kita renungkan sejenak apa bedanya orang-orang
yang bersatupadu dalam system Hindunesia Hipokrit, berlomba-lomba mendirikan
partainya dengan orang-orang yang berada di Acheh - Sumatra yang juga sedang
mendirikan partainya. Apakah tujuan mereka mendirikan partai. UUPA yang sudah
dikelabukan pihak Hindonesia Hipokrit kenapa tidak mereka perjuangkan melalui
demontrasi-demontrasi?
Maafkan saya Laut Tawar, kalau saya tidak bermaksud untuk mengkritisi anda
tapi SIRA.
Billahi fisabililhaq
Ali Al Asytar, Acheh
----- Original Message ----
From: tawar laut <[EMAIL PROTECTED]>
To: acsa group <[EMAIL PROTECTED]>; acehnisk acehnisk <[EMAIL PROTECTED]>; iacs
aceh <[EMAIL PROTECTED]>; pdi pdi <[email protected]>; ARI GAYO <[EMAIL
PROTECTED]>; fondamen talis <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, December 13, 2007 8:50:56 PM
Subject: [IACSF] Banyak orang di Aceh masih pake Hukum Monyet
Sorry saudara saya, tapi saya terpaksa juga garus bilang kalau di Aceh
masih berlaku hukum monyet. Sudah berapa kali saya perhatikan, setiap kali ada
musyawarah pasti ujung-ujungnya berantem malah ada yang maen jotos. Kemarin ini
anggota SIRA pulak yang ambil bagian dalam hukum MONYET ini. Kalaulah kita
tanya diri kita, arti dari musyawarah itu bukankah = DUDUK MUAFAKAT, duduk
bermusyawarah dan berbincang. Biasanya, kalau kita tidak mengamalkan HUKUM
MONYET dalam duduk muafakat pasti ada solusi yang baik. Masalah berbeda
pendapat itu biasa dalam duduk muafakat, mana bisa semua fikiran sama. Cuma
mereka yang mengatakan orang lain tidak benar harus ada alasannya, begitu juga
dengan mereka yang mengaku benar. Masalahnya orang kita masih susah untuk
menerima Kesalahan dan susah mengaku salah. Ini dikarenakan orang kita sudah
terbiasa dengan prilaku atau hukum Monyet yang didatangkan dari luar Aceh.
kalau saya perhatikan cara orang di parlemen Denmark yang saya sendiri
pernah langsung ikut sebagai peserta dari sekolah saya. Saya sangat kagum
dengan cara mereka yang benar-benar profesional dalam cara berbicara dan cara
menjawab pembicara. Padahal kalau mengkafirkan orang, saya rasa orang Aceh gak
da kurangnya. Tapi ternyata negara yang mereka kata kafir lebih islam dari
orang yang mengaku negaranya Islam. Malu kek sedikit apalagi semua yang maen
jotos ini kan sudah ada pendidikan, bagaimana mau kamu jadi pemimpin rakyat
kalau kamu sendiri gak bisa memimpin diri kamu sendiri. Saya mengambil Monyet
sebagai contoh sebab saya teringat akan sebuah documentar dari National
Georgaphic Channl tehtang The Similarity Of Human being and Ape.
Wassalam
Lauttawar
Chat with me at: http://burkul. chatango. com
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now.
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
Chat with me at: http://burkul.chatango.com
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.