29/12/2007 10:11 WIB

Hilang Secara Gaib

[ rubrik: Serambi | topik: Aktifitas Masyarakat ]


HINGGA tadi malam pasangan Syafruddin Marlina, warga Desa Seuneubok Jaya, 
Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, masih belum bisa tidur nyenyak. 
Mereka terus berdoa sambil mencari anaknya, M Wahyu (7) yang hilang secara gaib 
pada Minggu (23/12) pukul 18.00 WIB sepulang membeli permen di sebuah kios, 150 
meter dari rumahnya. 


Keluarga ini baru saja datang dari Sibolga, Sumut, ke Seuneubok Jaya, daerah 
eks transmigrasi yang kembali dihuni warga setelah Aceh damai. Tapi nahas bagi 
Wahyu, ia hilang sepulang beli permen. 

Saudara sepupu ibunya, Ny Nuraida (38), menyatakan Wahyu hilang karena diculik 
jin jenis bunian. Info ini didasarkan pengakuan paranormal yang mereka hubungi 
di Aceh Singkil. Jin tersebut dikatakan masih merupakan keturunan Raja Jin 
Trumon yang sudah menikah tapi belum punya anak. Wahyu mereka tahan sebagai 
anak angkat atau pancingan . Percaya atau tidak, itu hak Anda. (az) 




Berita
Sabtu, 29 Desember 2007, 05:14 WIB
Anggota KPA Pase Tewas Ditembak
Reporter : Tim AcehKita

Aceh Utara, acehkita.com. Anggota Komite Peralihan Aceh wilayah Pasee Teuku 
Badruddin dilaporkan tewas setelah diberondong timah panas di Desa Pante Jaloh, 
Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Kamis (27/12) malam. Selain menewaskan Badruddin, 
penembakan yang dilakukan oleh pelaku yang belum diketahui identitasnya itu 
juga ikut melukai Mahmuddin (19), dan Fitriadi (17). Keduanya masih dirawat di 
RS Palang Merah Indonesia Lhokseumawe. Ketiga korban ditembak di halaman rumah 
Teuku Badruddin.
Sementara itu sekitar satu jam setelah aksi penembakan Badruddin, di Desa 
Meunasah Pulo terjadi pembacokan dan penculikan terhadap Muktaruddin (35), Ule 
Sagoe Sawang, dan Hafid, mantan anggota GAM yang saat ini berstatus sebagai 
Polisi Kehutanan, serta seorang warga yang masih menghilang hingga berita ini 
diturunkan.
Insiden yang menimpa Bandruddin terjadi sekitar pukul 23.30 WIB. Badruddin 
masih berstatus tahanan di Rumah Tahanan Lhoksukon terkait kasus perampokan 
kendaraan milik NGO Cardi. Pada Ahad (3/6) silam Badruddin bersama istri dan 
seorang anaknya juga mengalami penembakan oleh lima pria bersenjata api di 
rumahnya di Desa Seuneuboh Baro, Kecamatan Makmur, Bireuen. 
Insiden yang menyebabkan kematian Badruddin merupakan peristiwa penembakan 
untuk kedua kalinya terjadi terhadap mantan anggota GAM wilayah Pasee itu. 
Sumber acehkita.com menyebutkan, penembakan Kamis malam diduga berawal dari 
kedatangan sekitar 15 orang yang mengendarai sepeda motor dan mengenakan sebo.
Saat itu Badruddin tidak sendirian di rumah. Ia ditemani Mahmuddin dan 
Fitriadi. Saat itu Badruddin meminta Mahmuddin membeli rokok. “Badruddin bilang 
ke saya, kalau ada uang tolong beli rokok sebentar,” kenang Mahmuddin.
Mahmuddin menyebutkan, sekembali dari kios dan sedang menyerahkan rokok kepada 
korban tiba-tiba mereka dihujani peluru. “Tiba-tiba ada yang menembak kami dari 
arah kegelapan malam,” kata dia sembari menyebutkan, saat diberondong peluru 
Mahmuddin langsung tiara. “Saya sempat mendengar ada yang bilang, ‘keluar kau 
Badruddin’,” kisah Mahmuddin.
Panggilan itu diiringi letusan senjata yang berlangsung sekitar 15 menit. Saat 
itulah dirinya bersama Fitriadi dan Badruddin ditembusi peluru milik orang tak 
dikenal. Usai melakukan aksi, para pelaku langsung meninggalkan lokasi 
kejadian. 
Dahlan (35), paman korban yang ditemui di RS PMI,  mengatakan, setelah kejadian 
itu dirinya bersama warga setempat baru berhampuran keluar rumah untuk melihat 
kondisi korban yang terkena tembak tersebut. 
Pihak Polres Kota Lhokseumawe, mengatakan korban diberondong dari jarak sekitar 
enam meter oleh orang tak dikenal dengan mengunakan senjata M-16.  Hal ini 
dibuktikan dengan penemuan tiga butir selongsong peluru di sekitar lokasi 
kejadian di depan rumah.  Selain itu polisi juga menemukan tujuh bekas tembakan 
di pohon dan rumah.  Diperkirakan arah tembakan dilakukan dengan cara tiarap.
Juru Bicara KPA Ibrahim bin Syamsuddin menyampaikan duka kepada ketiga korban. 
“Dia pernah jadi tersangka polisi, tidak jelas prosesnya,” kata pria yang akrab 
disapa Ibrahim KBS ini, “kami mengecam peristiwa ini.” 
Ibrahim KBS mengungkapkan kekecewaannya atas kejadian berdarah ini. Kata dia, 
seharusnya polisi bisa melindungi masyarakat.
Peristiwa Meunasah Pulo 
Satu jam setelah peristiwa yang menewaskan Badruddin dan melukai dua lainnya, 
di Desa Meunasah Pulo, sekawanan lelaki yang mengggunakan senjata api dan 
parang mendatangi rumah Ule Sagoe GAM Muktaruddin (35). Sumber acehkita.com 
yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, Mukhtaruddin langsung melarikan 
diri ke rumah warga yang sedang mengadakan kenduri kematian saat melihat 
komplotan tersebut.
Kendati berusaha melarikan diri, komplotan itu tetap saja mengejar Mukhtaruddin 
yang bersembunyi di sebuah kamar di rumah tetangga itu. Namun persembunyian itu 
terendus dan pelaku memaksa masuk ke rumah duka tersebut serta memukuli korban 
dan melempar dengan kaca dan piring. “Rumah itu sempat diobrak-abrik,” kata 
sumber tadi.
Di tempat yang sama, masih kata sumber, para pelaku juga menangkap Hafid (25) 
dan Yan Pen (22). Ketiganya kemudian dibawa oleh pelaku. Baru pada pukul 11 
siang kemarin, warga menemukan Mukhtaruddin dalam keadaan hidup di sebuah bukit 
di Desa Teupin Reusep. Sementara nasib Yan Pen hingga kini masih kabur. Hingga 
kini belum diketahui pelaku penculikan mereka. [dzie]
Baca juga:


      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke