Gusdur kan sudah pernah berkuasa dulu tuan Umar Said?  Tidakkah anda lihat 
dengan seksama bagaimana sepakterjang nya ketika Gusdur berkuasa? Gusdur tidak 
jauh berbeda dengan Yudhoyono dan kandidaat-kandidat yang sedang mengintai 
kekuasaan lainnya. 

Kalau gusdur mengatakan MUI harus dibubarkan, kami kira justru Indonesia yang 
harus dibubarkan termasuk Gusdur didalanya yang tidak kurang serakahnya. 
Andaikata Gusdur tidak dibutakan Allah, mungkin bukan setakat sumbangan raja 
Brunai saja yang disikatnya tapi sebagaaimana dilakukan si Raja Korup, nyakni 
Suharto cs. Sesungguhnya mereka itu "Cina" satu gedung atau satu atap.

????????????????????????????



----- Original Message ----
From: Umar Said <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, December 31, 2007 2:19:40 PM
Subject: [OPOSISI] Suara keras Gus Dur

 (Tulisan ini juga disajikan di website 
http://kontak. club.fr/index. htm)
Catatan A. Umar Said
                                Suara keras Gus Dur 
 Ketika negeri dan rakyat kita  sekarang sedang menghadapi berbagai masalah 
politik, ekonomi, sosial, moral dan agama yang parah, maka suara keras dan 
berani yang dikeluarkan oleh Gus Dur seperti yang berikut ini patut mendapat 
perhatian yang besar dari kita semua. Suara keras dan berani ini tercermin 
dalam berita yang disiarkan Tempo Alternatif tanggal 30 Desember 2007, yang 
berbuyi sebagai berikut : 
 “Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa Abdurrahman Wahid menyatakan 
Indonesia kehilangan orientasi pembangunan nasional. Akibatnya, rakyat tidak 
percaya pada pemerintah yang berkuasa saat ini. 

"Orientasi pembangunan kita nggak jelas. Kita harus mampu membuat orientasi 
pembangunan nasional secara tepat," katanya dalam orasi catatan akhir tahun di 
Hotel Santika, Minggu (30/12). 

Orasi akhir tahun Gus Dur tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh nasional dan 
politik. Di antaranya Franz Magnis-Suseno, H.S. Dillon, Agum Gumelar, Soetrisno 
Bachir, dan Mohammad Sobari. 

Selama ini, pembangunan ditujukan untuk kalangan atas. Akibatnya, jumlah rakyat 
miskin bertambah dan pengangguran tetap tinggi. "Pemerintahan SBY didikte oleh 
super power. Sama seperti pemerintahan orde baru yaitu pembangunan untuk 
kalangan atas saja," katanya. 

Pemerintahan Yudhoyono-Kalla mengukur hasil pembangunan berdasarkan pertumbuhan 
atau growth. Sehingga, pembangunan selama ini dinilai sukses. Angka kemiskinan 
pun tinggal 16 persen. Sedangkan, angka pengangguran 49 persen. Seharusnya, dia 
menambahkan, pembangunan diukur berdasarkan pemerataan. "Yang kaya, tambah 
kaya. Yang melarat, tambah melarat," ujarnya. 

Hilangnya orientasi pembangunan, katanya, tak lepas dari pengaruh Bank Dunia, 
Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia. Selama ini, dia 
melanjutkan, tiga organisasi dunia itu memaksa Indonesia berutang. Sehingga, 
nilai utang luar negeri saat ini mencapai US$ 600 miliar. Bahkan, ujarnya, ada 
pihak yang berpendapat nilai utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 1,3 
triliun. "Pemerintah lupa bahwa yang harus membayar utang adalah anak cucu 
kita," ujarnya. 

Utang luar negeri itu, ujarnya, dibiayai dengan penjualan komoditas ke luar 
negeri. Padahal, komoditas Indonesia dibeli dengan harga murah. 
Ketidakseimbangan itu, dia menambahkan, akibat dari globalisasi perdagangan. 
"Nilai-nilai dasar yang kita anut pun berubah," katanya. Dampak susulan dari 
perubahan itu adalah lahirnya golongan fundamental atau radikal yang ingin 
mempertahankan nilai-nilai Islam. 

Gus Dur punmenyoroti soal kekerasan yang masih digunakan untuk menyelesaikan 
masalah. Tindak kekerasan itu diterapkan dengan mengatasnamakan agama. "Ini 
harus dibongkar habis-habisan, " ujarnya. 

Menurut dia, konstitusi menjamin kebebasan berpikir dan berpendapat warga 
negara Indonesia. Aturan itu seharusnya menjadi landasan kehidupan berbangsa. 
Majelis Ulama Indonesia pun berkontribusi atas tindak kekerasan yang 
mengatasnamakan agama. Selama ini, ujarnya, MUI mengeluarkan fatwa yang 
dijadikan landasan bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia. "MUI jangan 
sembarangan berpendapat tentang Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Saya minta MUI 
tidak menggunakan kata sesat," ujarnya. 

Persoalan Ahmadiyah, katanya, sebaiknya ditangani oleh PAKEM (penganut aliran 
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Alasannya, dalam PAKEM terdapat 
unsur kepolisian dan kejaksaan agung. Selain Ahmadiyah, orang-orang yang 
tergabung dalam gerakan shalawatan Wahidiyah di Tasikmalaya Jawa Barat pun 
dinyatakan sesat oleh pengurus MUI setempat. "Orang sudah melupakan Republik 
Indonesia bukan negara Islam tapi nasional," katanya. 

Dia meminta MUI dibubarkan karena mengeluarkan fatwa sembarangan. Apalagi, 
ujarnya, MUI bukan satu-satunya organisasi massa Islam yang ada di Indonesia. 
"Bubarin ajalah MUI kalau begini. MUI bukan satu-satunya ormas Islam karena itu 
jangan gegabah mengeluarkan pendapat yang bisa membuat kesalahpahaman, " 
ujarnya. (kutipan dari Tempo Interaktif selesai).
Pukulan keras bagi pemerintah SBY
Dari berita tersebut di atas dapat kiranya diangkat berbagai hal penting, 
karena justru diungkapkan oleh seorang tokoh politik nasional dan sekaligus 
juga agamawan Islam yang besar. Karena itu, ketika ia mengatakan bahwa 
“Indonesia sudah kehilangan orientasi dalam pembangunan nasional, dan karenanya 
rakyat tidak percaya pada pemerintah yang berkuasa saat ini” maka bisa 
diartikan bahwa ucapannya ini merupakan pukulan yang berat sekali terhadap 
pemerintah SBY-JK.
Pukulan keras yang diucapkan Gus Dur terasa lebih keras lagi ketika ia juga 
mengatakan : “Selama ini, pembangunan ditujukan untuk kalangan atas. Akibatnya, 
jumlah rakyat miskin bertambah dan pengangguran tetap tinggi. Pemerintahan SBY 
didikte oleh super power. Sama seperti pemerintahan Orde Baru yaitu pembangunan 
untuk kalangan atas saja," katanya. 
Sebab, dengan mengatakan yang demikian itu Gus Dur menunjukkan degan 
jelas-jelas bahwa pembangunan  yang digembar-gemborkan selama ini hanya 
menguntungkan kalangan atas. Dan pembangunan yang menguntungkan kalangan atas 
itu sudah berlangsung sejak pemerintahan Orde Baru, seperti yang kita saksikan 
dewasa ini. Banyaknya korupsi dan  penyalahgunaan kekuasaan, yang dilakukan 
kalangan atas, merupakan bagian dari pembangunan yang salah orientasi, yang 
membikin rakyat miskin bertambah miskin dan jumlah pengangguran sangat tinggi.
Pernyataan Gus Dur yang  lain yang sangat penting sebagai tokoh politik 
nasional dan tokoh terkemuka ummat Islam ialah ketika ia mengatakan bahwa 
pemerintahan SBY didikte oleh super power dan bahwa hilangnya orientasi 
pembangunan  tak lepas dari pengaruh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, 
dan Organisasi Perdagangan Dunia. Selama ini tiga organisasi dunia itu memaksa 
Indonesia berutang, sehingga ada yang mengatakan bahwa utang luar negeri 
Indonesia  mencapai US$ 1,3 triliun. “Pemerintah lupa bahwa yang harus membayar 
utang adalah anak cucu kita”, ujarnya
Adalah juga sangat penting (dan menarik sekali ! ) yang dikatakan Gus Dur bahwa 
pemerintahan SBY didikte oleh superpower dan bahwa hilangnya orientasi 
pembangunan  tak lepas dari pengaruh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional dan 
Organisasi Perdagangan Dunia, Ini menunjukkan bahwa pandangannya mengenai 
hal-hal ini adalah sejalan dengan pandangan berbagai tokoh negeri kita, dan 
seiring dengan kegiatan-kegiatan atau aksi-aksi bermacam-macam gerakan yang 
menentang neo-liberalisme dan globalisasi, baik yang di Indonesia maupun yang 
ada di banyak negeri di dunia. Patutlah diingat bersama bahwa kesadaran umum 
terhadap akibat-akibat buruk dari banyaknya operasi modal besar asing di 
Indonesia akhir-akhir ini makin membesar, terutama di kalangan generasi muda.
Bubarkan saja Majlis Ulama Indonesia
Di samping hal-hal penting itu semua, ucapannya mengenai berbagai masalah yang 
berkaitan dengan ummat atau agama Islam di Indonesia mempunyai arti yang amat 
besar bagi situasi negeri kita dewasa ini. Gus Dur menyoroti soal kekerasan 
yang masih digunakan (oleh kalangan Islam) untuk menyelesaikan masalah. Tindak 
kekerasan itu diterapkan dengan mengatasnamakan agama. "Ini harus dibongkar 
habis-habisan, " ujarnya.
Kecaman yang tajam sekali telah dilontarkan oleh Gus Dur terhadap Majlis Ulama 
Indonesia (MUI) yang telah mengeluarkan fatwa yang dijadikan landasan bagi 
sebagian ummat Islam Indonesia, antara lain bahwa Ahmadiyah sebagai aliran 
sesat. Dia meminta MUI dibubarkan karena mengeluarkan fatwa sembarangan. 
Apalagi, ujarnya, MUI bukan satu-satunya organisasi massa Islam yang ada di 
Indonesia. "Bubarin ajalah MUI kalau begini. MUI bukan satu-satunya ormas 
Islam, karena itu jangan gegabah mengeluarkan pendapat yang bisa membuat 
kesalahpahaman, " ujarnya. 
Sebagai tokoh besar  golongan Islam, ucapan Gus Dur yang seperti itu mempunyai 
bobot dan arti penting tersendiri. Ketika banyak tokoh-tokoh Islam lainnya 
hanya diam (atau takut-takut) saja terhadap aksi-aksi kekerasan yang dilakukan 
oleh sebagian kalangan Islam, maka apa yang dikatakan oleh Gus Dur mengenai hal 
ini merupakan keberanian yang menyejukkan hati bagi sebagian besar kalangan  
masyarakat. 
Sebagai tokoh nasional yang terkemuka, pandangan Gus Dur mengenai negara, 
konstitusi, kebebasan berfikir dan kehidupan berbangsa juga amat penting untuk 
dicermati oleh kita semua, dan terutama oleh golongan Islam. Menurut dia, 
konstitusi menjamin kebebasan berpikir dan berpendapat warga negara Indonesia. 
Aturan itu seharusnya menjadi landasan kehidupan berbangsa. . "Orang sudah 
melupakan Republik Indonesia bukan negara Islam tapi nasional," katanya. 


Gus Dur dihormati kalangan internasional
Dari apa yang diucapkan oleh Gus Dur  seperti tersebut di atas nyatalah bahwa 
pandangannya mengenai berbagai masalah penting  negara kita  mencerminkan 
ketidakpuasan atau kekecewaan, dan menghendaki perubahan besar demi kepentingan 
rakyat banyak. Dan berlainan dengan para pejabat atau “tokoh-tokoh” kita yang 
kebanyakan masih berilusi tentang “kebaikan” sistem yang dianut oleh 
neo-liberalisme, maka ia menyatakan bahwa justru karena ulah Bank Dunia, Dana 
Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia yang membkin rakyat 
kita yang miskin  tambah miskin dan yang kaya makin kaya.
Berbagai pandangan Gus Dur yang positif tersebut di atas perlu sekali diketahui 
dan disebar-luaskan sebanyak mungkin di kalangan rakyat, dan terutama di 
kalangan Islam. Memang, pandangan yang hampir serupa atau searah dengan 
pandangan Gus Dur sudah juga muncul di sana-sini, terutama di kalangan muda 
Islam, umpamanya di kalangan Ikatan Pelajar NU (IPNU), Kaum Muda NU (KMNU), 
Jaringan Islam Liberal (JIL), Syarikat Indonesia, Santri Kiri, PMII dll dll. 
Dengan kadar berbeda-beda, dan pendekatan yang tidak sama, pada umumnya 
kelompok-kelompok atau kalangan tersebut di atas menyuarakan hal-hal yang 
berbeda (bahkan bertentangan sama sekali)  dengan kalangan Islam lainnya yang 
dekat dengan FPI, Majlis Mujahidin, Komando Jihad, Jamaah Islamiah dan 
lain-lain kelompok atau organisasi yang sehaluan dan searah.
Berbagai pandangan Gus Dur mengenai persatuan nasional dan persaudaraan Islam 
digolongkan oleh banyak orang sebagai pandangan yang mengutamakan kebebasan dan 
toleransi antara berbagai golongan, termasuk golongan minoritas. Itu sebabnya, 
ketokohan Gus Dir juga diakui dan dihormati di dalam negeri dan di kalangan 
internasional.
Kita perlu banyak tokoh seperti Gus Dur
Banyak peristiwa-peristiwa dalam masyarakat yang disebabkan tindakan atau 
kegiatan sebagian kalangan Islam (semacam FPI, Komando Jihad dll), yang dibantu 
oleh kekuatan-kekuatan gelap dari sisa-sisa Orde Baru, telah menimbulkan citra 
yang jelek bahwa kalangan-kalangan itu umumnya bersikap tidak toleran terhadap 
adanya perbedaan keyakinan, mempunyai pandangan picik dan menyukai kekerasan.
Menghadapi kekisruhan atau kekacauan yang ditimbulkan oleh anasir-anasir yang 
tidak toleran seperti tersebut di atas itu semunya, terasalah pentingnya bagi 
negeri kita mempunyai banyak tokoh seperti Gus Dur. Kita butuhkan tokoh-tokoh 
yang mempunyai gagasan-gagasan besar untuk memajukan bangsa, dan bukannya 
orang-orang yang menggiring bangsa kita ke arah kemunduran.
Dan kalau kita lihat bahwa bangsa-bangsa lain di berbagai bagian dunia sudah 
mengalami perubahan-perubahan besar demi kemajuan rakyatnya (contohnya : 
Tiongkok, Vietnam, India, Kuba, Venezuela, Bolivia, Argentina, bahkan juga 
akhir-akhir ini negara-negara di Eropa Timur) maka keterpurukan negara kita 
Indonesia kelihatan makin sangat menyedihkan.
Bukan hanya karena korupsi yang merajalela di seluruh negeri saja, tetapi juga 
karena kemiskinan dan  pengangguran yang menimpa sebagian besar sekali rakyat 
kita. Pembusukan moral terjadi dimana-mana, termasuk di kalangan agama. 
Penderitaan rakyat yang sudah sangat berat itu ditambah lagi dengan adanya 
bencana alam, gempa bumi, dan banjir.
Dengan latar belakang itu semuanya maka nyatalah bahwa suara Gus Dur yang 
dilontarkan dalam orasi akhir tahunnya itu mempunyai arti dan bobot yang perlu 
mendapat perhatian dari kita semuanya, termasuk (bahkan, terutama ! ) dari 
kalangan Islam.
Paris, 31 Desember 



      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke