Diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim 
   
  Ibnu Syuaib ra berkata : Aku pernah menemui Abu Dzar di daerah Rabbah (sebuah 
desa diantara Syams & Madinah) aku melihat Abu Dzar ra memakai jubah dan 
budaknya memakai jubah yang sama pula (dalam riwayat lain berpakaian kembar 
dengan budaknya) dengan Abu Dzar ra kemudian aku tanyakan padanya : ya Abu Dzar 
kenapa engkau berpakaian sama dengan budakmu? 

lalu Abu Dzar ra berkata : Aku pernah mencela/menjelekkan seseorang (budaknya) 
dengan ibunya (contoh: "kamu anak ibumu..." ) 

kemudian Nabi Allah SAW bersabda : Ya Abu Dzar apakah engkau mencerca/mencela 
dia dengan ibunya! sesungguhnya kamu seseorang yang masih ada padamu sifat 
jahiliyah. 

Sesungguhnya saudara-saudaramu, budak-budakmu adalah hamba-hamba Allah SWT yang 
dijadikanNya berada dibawah tangan (kuasa) mu & barang siapa yang saudaranya 
(Muslimin) berada dibawah tangan (kuasa) nya hendaknya dia memberi makan dengan 
(seperti) apa yang dia makan dan berilah pakaian dengan (seperti) apa yang kamu 
pakai dan jangan engkau bebanin mereka dengan beban yang mereka tidak sanggup 
olehnya dan jika engkau berikan beban maka bantulah mereka. 

Karena teguran keras ini maka Abu Dzar ra selalu ingat sampai-sampai beliau 
berpakaian kembar dengan budaknya, karena takutnya Abu Dzar ra membeli baju 
selau dua (untuk budaknya satu). ini semuanya karena diatas hikmah, teguran 
keras ini tepat pada waktunya, tepat pada tempatnya dan sesuai dengan orangnya 
maka teguran keras ini berbuah hikmah dan manfaat.
   
  Abu Dzar Al-Gifari
   
  Meski tak sepopuler sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar Utsman dan 
Ali, Namun sosoknya tak dapat dilepaskan sebagai tokoh yang paling giat 
menerapkan prinsip egaliter,kesetaraan dalam hal membelanjakan harta dijalan 
Allah.Ditentangnya semua orang yang memupuk harta untuk kepentingan 
pribadi,termasuk sahabat-sahabatnya sendiri.
   
  Dimasa Khalifah Utsman ,mendapat kerasnya tentang gejala nepotisme dan 
penumpukan harta yang terjadi dikalangan kuraisy membuat ia dikecam banyak 
pihah .Sikap serupa dia tunjukkan kepada pemerintahan Muawiah yang menjadi 
gubernur Syria.Baginya,adalah kewajiban setiap muslim sejati menyalurkan 
kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.
   
  Kepada Muawiyah yang membangun istana hijaunya atau Istana Al Khizra, Abu 
Dzar menegur, "Kalau anda membangun istana ini dengan uang negara, berarti anda 
telah menyalahgunakan uang negara. Kalau anda membangunnya dengan uang anda 
sendiri berarti Anda telah berlaku boros, "katanya. Muawiyah hanya terdiam 
mendengar teguran sahabatnya ini.
   
  Dukungannya kepada semangat solidaritas sosial, kepedulian kalangan berpunya 
kepada kaum miskin, bukan hanya dalam ucapan. Seluruh sikap hidupnya ia 
tunjukkan kepada upaya penumbuhan semangat tersebut.Sikap wara' dan zuhud 
selalu jadi perilaku hidupnya. Sikapnya ini yang dipuji Rasulullah S.A.W,Sa'at 
Rasul akan berpulang , Abu Dzar dipanggilnya, Sambil memeluk Abu Dzar, Nabi 
berkata "Abu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya, Dia tidak akan berubah 
walaupun aku akan meninggal nanti. "Ucapan Nabi ternyata benar. Hingga akhir 
hayatnya kemudian, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan semangat shaleh.
   
  Abu Dzar terlahir dengan nama Jundab. Dulu, ia seorang perampok yang mewarisi 
karir orang tuanya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melalui jalur 
itu. Teror di wilayah sekitar jalur perdagangan itu selalu dilakukannya untuk 
mendapatkan harta dengan cara mudah. Hidupnya penuh dengan kejahatan dan 
kekerasan. Siapapun di tanah Arab masa itu tahu, jalur perdagangan Mekkah-Syria 
dikuasai perampok suku Ghiffar, sukunya.
   
  Namun begitu, hati kecil Abu Dzar sesungguhnya tak menerimanya. pergolokan 
batin membuatnya sangat menyesali perbuatan buruk tersebut, Akhirnya ia 
melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya 
untuk berhenti merampok, Tindakannya itu menilbulkan amarah sukunya, Abu Dzar 
akhirnya hijrah ke Nejed bersama Ibu dan saudara laki-lakinya, Anis, dan 
menetap di kediaman pamannya.
   
  Di tempat ini pun ia tidak lama, Ide-idenya yang revosioner, berkait dengan 
sikap hidup tak mengabaikan sesama dan mendistribusikan sebagian harta yang 
dimiliki, menilbulkan kebencian orang-orang sesuku. Ia pun di adukan kepada 
pamannya. Kembali Abu Dzar hijrah ke kampung dekat Mekkah.Di tempat inilah ia 
mendapat kabar dari Anis, tentang kehadiran Rasulullah S.A.W, dengan ajaran 
Islam.
   
  Abu Dzar segera menemui Rasulullah SAW, Melihat ajarannya yang sejalan dengan 
sikap hidupnya selama ini, akhirnya ia pun masuk Islam. Tanpa ragu-ragu, ia 
memproklamirkan keislamannya di depan Ka'bah, sa'at semua orang masih 
merahasiakan karena khawatir akan akibatnya. Tentu saja pernyataan ini 
menimbulkan amarah warga Mekkah. Ia pun di pukuli dan hampir saja terbunuh bila 
Abbas, paman Rasullah S.A.W, tidak melerai dan mengingatkan warga Mekkah bahwa 
Abu Dzar adalah warga Ghiffar yang akan menuntut balas jika mereka membunuhnya.
   
  Sejah itu Abu Dzar menghabiskan hari-harinya untuk mencapai kejayaan Islam. 
Tugas pertama yang diembankan Rasul di pundaknya adalah mengajarkan Islam di 
kalangan sukunya. Terjata bukan hanya Ibu dan saudaranya, namun hampir seluruh 
kaumnya yang suka merampok pun akhirnya masuk Islam. Sikap hidupnya yang 
menentang keras segala bentuk penumpukkan harta, ia sampaikan juga kepada 
mereka. Namun, tak semua menyukai tindakannya itu. di masa Khalifah Utsman ia 
mendapat kecaman dari kaum kuraisy, termasuk salah satu tokohnya, Muawiyah bin 
Abu Sufyan.
   
  Suatu kali pernah Muawiyah yang kala itu menjadi Gubernur Syria, mengatur 
perdebatan antara Abu Dzar dengan para ahli tentang sikap hidupnya. Tujuannya 
agar Abu Dzar membolehkan umat menumpuk kekayaannya. Namun, usaha itu tak 
menggoyahkan keteguhan pandangannya. Karena jengkel, Muawiyah melaporkan kepada 
Khalifat Utsman ihwal Abu Dzar. Memenuhi panggilan Khalifat, Abu Dzar mendapat 
sambutan hangat di Madinah. Namun, ia pun tak kerasan tinggal di kota Nabi 
tersebut karena orang-orang kaya di kota itu pun tak menyukai seruannya untuk 
pemerataan kekayaan. Akhirnya Utsman meminta Abu Dzar meninggalkan Madinah dan 
tinggal di Rabza, sebuah kampung kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah.
   
  Di kampung inilah Abu Dzar wafat karena usia lanjut pada 8 Dzulhijjah 32 
hijriyah .Jasadnya terbaring di jalur jalan kafilah itu hanya ditunggui 
jandanya. Hampir saja tak ada yang menguburkan sahabat Rasulullah S.A.W, ini 
bila tak ada kalifah haji yang menuju Mekkah. Khalifah haji itu segera berhenti 
dan menshalati jenazah dengan imam Abdullah ibn Masud, seorang sarjana Islam 
terkemuka masa itu. (Tabloid MQ EDISI 4/HT 11/AGUSTUS 2001)

       
---------------------------------

Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og notisblokk.

Kirim email ke