Refelksi: Rakyat lapisan bawah masyarakat sepatutnya mengambil posisi yang sama 
seperti para korban peritiwa 65 untuk tidak memasangan bendera setengah tiang.  


http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/01/27/brk,20080127-116332,id.html

Korban Peristiwa 65 Tolak Pemasangan Bendera Setengah Tiang
Minggu, 27 Januari 2008 | 21:19 WIB 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Para korban rezim orde baru menolak himbauan 
Menteri-Sekretaris Negara Hatta Radjasa untuk memasang bendera setengah tiang. 
Mereka menolak bila kematian Soeharto dianggap sebagai hari berkabung nasional.

"Soeharto bukan pahlawan nasional, dan kami menganggap dia bukanlah pahlawan 
pembangunan, bagaimana mungkin pahlawan pembangunan mengorbankan begitu banyak 
jiwa bangsanya sendiri," ujar Koordinator Lembaga Penelitian Korban Pembunuhan 
Peristiwa 1965, Bejo Untung, di kantor Kontras, Minggu (27/1) petang.

Selain itu, para korban juga menolak bila nama jalan di suatu tempat 
menggunakan nama Soeharto. Menurut mereka, bila suatu jalan di beri nama 
Soeharto, sama saja pemerintah melakukan pelecehan.

Menurut mereka kematian adalah proses yang bisa memberikan kesempatan untuk 
membela diri tapi tidak menghapuskan kesalahan. Namun bentuk pengampunan dan 
pemaafan adalah bentuk hak korban dan keluarga korban.

"Bagaimana mungkin kita minta maaf, sedangkan selama ini, Soeharto bahkan 
keluarganya tidak pernah meminta maaf kepada kami," ujar Koordinator Tim 
Advokasi dan Rehabilitasi Korban Tragedi 1965 Witaryono Reksoprodjo. 

Para korban rezim orde baru menuntut rehabilitasi terhadap nama baik mereka. 
Meskipun, Ketua Mahkamah Agung, Bagir Manan, sempat menolaknya.

"Kami menuntut rehabilitasi, sebab orang yang ditangkap tanpa diadili dibuat 
stigma sampai ke anak cucunya," ujar Wintaryo.

Cheta Nilawaty

Kirim email ke