Kisah sebenarnya yang di forward bung Umar Said dibawahini sama ngerinya dengan 
kisah penganiayaan terhadap bangsa Acheh - Sumatra. Andaikata kita pertanyakan 
kepada orang ramai, siapakah yang bertanggung jawab terhadap kezaliman 
tersebut? Bagi orang ¨orang yang tidak memiliki IIdeology yang benar akan 
mengatakan bahwa Suhartolah yang bertanggung jawab, sementara orang alim palsu 
akan menjawab bahwa Tentara yang terlibat dalam penganiayaan itulah yang 
bertanggung jawab.  Kedua tipe manusia itu juga beda pendapat, tapi 
sesungguhnya sama lugu.
   
  Andaikata kita hanya mempersoalkan di Dunia saja atau berdasarkan hukum 
Internasional ataupun berdasarkan HAM memang demikianlah adanya, tidakada 
seorangpun yang akan membantah orang yang kosong dari ideology yang haq dan 
Alim Palsu tadi. Orang-orang yang berpijak pada hukum internasional dan HAM 
memang sedikit lebih maju dibandingkaan Alim Palsu diseluruh Hindunesia. Bagi 
Alim Palsu yang berfungsi sebagai Bal'am, jangankan untuk memahami system 
dhalim, tenara dan polisi yang tidaak terlibat dalam pembunuhan dan 
penganiayanpun, tidak mampu dipahami bahwa mereka ikut bertanggung jawab di 
Mahkamah Keadilaan Allah di Akhirat kelak. 
   
  Orang-orang yang memiliki Ideology yang haq, tau persis bahwa bukan hanya 
Suharto yang dimasukkan dalam Neraka kelak, tapi seluruh penduduk negeri 
tersebut yang bersatupadu dalam System yang dikomandoi Suharto cs 
tersebut.kecuali orang-orang yang terpaksa bertaqiyyah. (terpaksa 
menyembunyikan kebenaran didepaan musuh). Di Acheh - Sumatra ada pepatah yang 
mengandung muatan ideologys: "Si peh badjoe, si mat taloe dan si duek keudroe 
saban desja" Terjemahannya: "Yang pukul baji (dengan palu), yang pegang tali 
dan yang duduk sendiri (menyaksikan kedhaliman tsb) sama dosa. Yang duduk 
sendiri disini adalah rakyat yang bersatupadu dalam system dhalim tsb.
   
  Catatan saya ini jangnlah dianggap sebagai bantahan kepada bung Umar Said 
yang saya hormati dan bukan pula untuk membela Suharto tapi untuk mengingatkan 
oraang-orang yang belum memahami kedhaliman system namun Suharto cs tentara dan 
polisi menduduki peringkat atasnya yang terkutuk baik dimata manusia maupun di 
"mata" Allah sendiri.
   
     Billahi fi sabililhaq
  (Muhammad al Qubra)
               di
         Ujung Dunia
  

Umar Said <[EMAIL PROTECTED]> skrev:
             
    Berhubung dengan banyaknya berita tentang perlunya ada ma’af bagi segala 
kesalahan atau dosa-dosa Suharto, atau tuntutan supaya proses hukum terhadapnya 
dibekukan atau di-deponir, atau segala macam gugatan terhadapnya dibatalkan 
atau dihentikan mengingat jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, maka untuk 
bisa mengkaji persoalan Suharto ini dengan agak menyeluruh perlu disajikan juga 
segi-segi negatifnya. Selama ini terlalu banyak berita atau pendapat yang hanya 
memuja dan memuji Suharto yang dikeluarkan oleh para pembesar atau “tokoh” 
masyarakat, sedangkan  segi-segi negatifnya kurang dikemukakan dalam media 
massa. 
  Karena itu, supaya umum mendapat gambaran yang lebih jelas tentang Suharto 
dengan berbagai masalahnya, termasuk kesalahan dan dosa-dosanya selama memimpin 
Orde Baru dan Golkar,  website   http://kontak.club.fr/index.htm  menyediakan 
rubrik-rubrik khusus yang berkaitan dengan berbagai kesalahan Suharto ini.
  
  Dengan tujuan ini, berikut di bawah ini disajikan tulisan Harsutedjo  yang 
berjudul Neraka Rezim Suharto, sekadar untuk mengingatkan kembali tentang 
pelanggaran perikemanusiaan secara besar-besaran yang terjadi di zaman Orde 
Baru dan Golkar yang dipimpin oleh Suharto.
  
  Berita atau tulisan-tulisan lainnya tentang persoalan Suharto dapat disimak 
dalam kumpulan berita “Tentang Suharto sakit keras dan berbagai masalahnya”
  
  A. Umar Said
  
  ***
  
  
                          NERAKA REZIM SUHARTO (UNTOLD STORY)
  
                                                                              
Oleh: Harsutejo
  
  Judul di atas bukanlan bikinan saya, tetapi judul sebuah buku tipis (156 + xi 
halaman) yang kemudian diikuti sub-judul "Misteri Tempat Penyiksaan Orde Baru" 
susunan Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto, Spasi & VHRBook, Jakarta, 2007.
  
  Bagi yang mengenal kekejaman rezim Orba, apalagi bagi mereka yang pernah 
menjadi tapol Orba, dari sebagian daftar isinya dapat membayangkan apa 
kira-kira kisah di dalamnya: Bab I Rumah Setan di Gunung Sahari; Bab II Rumah 
Hantu di Menteng Atas; Bab III Kekejaman di Kremlin [Kramat Lima]; Bab IV 
Jeritan di Rumah Meester Cornelis; Bab V Horor di Gang Buntu; dst. Kedua 
penulis muda ini tidak sedang bercerita tentang kisah horor yang banyak muncul 
di televisi belakangan ini, tapi tentang kekejaman yang dialami para tapol, 
para terculik yang dilakukan rezim militer Orba Suharto sejak 1965 sampai 1998, 
bagian dari sejarah kelam horor.
  
  Rumah Setan di Gunung Sahari terletak di Gunungsahari III, sebuah rumah besar 
milik seorang Tionghoa yang dirampas dan dijadikan markas Operasi Kalong 
setelah tragedi 1 Oktober 1965. Operasi di bawah Mayor Suroso ini pula yang 
berhasil menangkap orang keempat PKI Sudisman karena pengkhianatan kawan dekat 
dan pembantunya. Algojo yang bernama Letnan Bob tersohor kekejamannya, setiap 
tapol di Jakarta gemetar jika dibon olehnya ke markas Kalong. Alat penyiksa 
standar berupa pentungan kayu dan karet, buntut ikan pari yang dipasangi paku 
kecil, kabel dengan lempeng-lempeng yang dialiri listrik. Setiap tapol baru 
dikejutkan dan dihancurkan mentalnya dengan siksaan alat-alat tersebut, apapun 
yang diakuinya. Sengatan listrik merupakan ujung kekuatan seorang pesakitan 
berakhir. Setiap tapol perempuan diperiksa dengan telanjang bulat, demikian 
juga dengan interogatornya.
  
  Di Kalong tersohor pula legenda seorang aktivis Gerwani bernama Sri Ambar 
yang tetap bungkam meski telah disiksa dengan gebukan, setruman, kemudian 
digantung telanjang bulat di pohon mangga. Bokongnya kemudian ditusuk bayonet 
oleh seorang tentara penyiksa. Siksaan berlanjut dengan didatangkannya ibu dan 
dua orang anaknya yang masih kecil (ketiganya juga ditahan) untuk 
menyaksikannya.
  Seorang pemuda tapol yang kuat badannya berumur sekitar 30 tahun disiksa 
habis-habisan dengan gebukan dan sengatan listrik di markas Zinpur 8. Ia juga 
digantung selama seminggu di Lenteng Agung, banyak bagian badannya mengucurkan 
darah karena diiris silet. Luka itu kemudian disiram bensin. Ia pun menjadi 
sasaran latihan lemparan pisau komando. Pada suatu malam badannya ditembus tiga 
peluru, karena keterangannya masih diperlukan, ia dibawa ke RSPAD Gatot Subroto 
dan mendapatkan transfusi darah sebanyak 10 liter. Dalam keadaan masih sakit, 
ia berkali-kali diinterogasi, bahkan dengan disetrum. Ia kemudian dilemparkan 
ke sel Kodim 0505 Jatinegara, salah satu tempat penyiksaan tapol. Dalam sel 5x6 
meter itu ia berjubel bersama 200 tapol lainnya
   
  Di bagian akhir terdapat kesaksian sejumlah aktivis muda dan mahasiswa, di 
antaranya dari PRD. Seperti kita ketahui sejumlah aktivis diculik rezim Suharto 
pada pertengahan pertama 1998 sebelum diktator militer itu jatuh. Sejumlah 
aktivis setelah diculik, semula berada di instansi militer resmi seperti Kodim 
Jakarta Timur, disiksa dan diinterogasi di instansi militer [rahasia] dalam 
keadaan mata terus ditutup. Tiba-tiba mereka sudah dibawa ke Polda Metro Jaya. 
Sejumlah aktivis kemudia n dibebaskan dalam bulan Juni 1998 setelah tumbangnya 
sang diktator. 
  Seperti kita ketahui masih ada 13 orang aktivis yang diculik oleh instansi 
yang sama di masa itu tidak pernah kembali, di antaranya aktivis buruh 
sekaligus penyair, Wiji Thukul dengan seruannya yang tersohor: HANYA ADA SATU 
KATA: LAWAN! Ketika itu seorang petinggi militer, Jenderal Syarwan Hamid yang 
amat ditakuti karena jabatannya, menyatakan bahwa Wiji Thukul telah menantang 
pemerintah. Rupanya rezim militer yang perkasa itu takut juga dengan seorang 
penyair miskin kerempeng.
  
  Instansi militer penculik [rahasia] yang terang identitasnya di mata beberapa 
Kodim dan Polda Metro Jaya sampai saat ini belum diusut. Di mana 13 pemuda 
bibit bangsa itu telah dibunuh dan dikubur? Adakah HAM hanya untuk kaum 
koruptor dan tersangka koruptor serta Jenderal Besar (Purn) Suharto, dan tidak 
untuk para [bekas] tapol dan aktivis yang melawan kediktatoran rezim militer 
Orba?
  Bekasi, 9 Januari 2008
  
  * * *
  Catatan : Untuk memperkaya kumpulan bahan tentang pelanggaran HAM di zaman 
rezim Suharto ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm 
tulisan Alexander Tjaniago, mengenai pembantaian di Pesisir Selatan (Sumatera 
Barat). 
   
  Di samping itu, ada buku yang sangat menarik dan penting, yang ditulis oleh 
Y.S. Taher (sekarang bermukim di Australia) yang berjudul "Riau Berdarah" 
tentang pembunuhan besar-besaran dan penahanan sewenang-wenang terhadap banyak 
oirang di Riau.
  
  Bahan-bahan semacam ini sangat berguna bagi semua orang yang ingin menilai 
secara objektif, tepat, dan adil, siapa dan bagaimana sebenarnya  Suharto 
dengan rezim Orde Barunya dan Golkar. Oleh karena itu, bahan-bahan yang 
dikumpulkan  oleh LPR-KROB, Pakorba, YPKP, LPKP dan berbagai organisasi yang 
bergerak di bidang HAM sangatlah  penting untuk di siarkan kembali pada saat 
ini.
  
 
  

                         

       
---------------------------------

Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og notisblokk.

Kirim email ke