Saya sependapat dengan A Umar Said bahwa kekuasaan Yudhoyono - Kalla merupakan
system "orde baru" jilid II
Makanya di Acheh masih dikuasai oleh orde baru jilid II juga, hingga sampi
mengajak rakyat Acheh - Sumatra
untuk berdoa buat Suharto. Masya Allah kenapa sebagian rakyat Acheh
bisa lemah ingatan ketika melihat orang mati?
----- Original Message ----
From: Umar Said <[EMAIL PROTECTED]>
To: Kuasa Rakyat Miskin <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, January 31, 2008 8:56:15 PM
Subject: [kuasa_rakyatmiskin] Sesudah Suharto meninggal
(Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak. club.fr/index. htm)
Catatan A. Umar Said
Sesudah Suharto meninggal
Sesudah Suharto dikuburkan di Astana Giribangun dengan upacara yang terasa bagi
banyak orang berlebih-lebihan, dan sesudah sekitar tiga minggu pers dan
televisi menjejali masyarakat dengan berbagai siaran - yang juga dengan
cara-cara yang “kebablasan” - mengenai sakitnya dan kemudian mengenai
meninggalnya, maka sekarang orang mulai bertanya-tanya apa saja yang akan
terjadi selanjutnya. Umpamanya : apa yang akan terjadi dengan berbagai perkara
anak-anaknya, bagaimana kelanjutan proses hukum tentang kasus 7 yayasan, apa
jadinya dengan kasus laporan PBB dan Bank Dunia tentang harta yang dicurinya,
dan apakah kesalahan dan dosa-dosanya bisa dima’afkan rakyat, atau, apakah ia
bisa diangkat sebagai “pahlawan nasional” ? Atau, apakah Suharto adalah orang
yang perlu atau pantas dihormati karena sudah “berjasa besar”? Atau, lainnya
lagi, apakah Suharto seorang “negarawan yang terhormat”?
Bukan hanya itu saja, melainkan masih banyak sekali soal-soal besar dan parah,
yang ditinggalkan sebagai warisan Suharto, yang harus dihadapi rakyat dan
negara. Jadi, persoalan Suharto tidak habis dengan dikuburkannya di Giribangun,
tetapi masih akan mempunyai buntut yang panjang sekali.Sebab, persoalan Suharto
adalah persoalan yang besar, serius, dan menyangkut banyak masalah, dan yang
kebanyakan menjadi masalah yang sangat kontroversial.
Makin jelas : Orde Baru jilid II
Satu hal yang patut menjadi perhatian kita semua adalah bahwa dengan “hiruk
pikuk” selama lebih dari 3 minggu selama ia sakit sampai meninggalnya pada
tanggal 27 Januari, para Suhartois dan para pendukung Orde Baru telah membuang
kedok mereka dengan terang-terangan menyatakan masih menaruh simpati yang besar
dan hormat yang tinggi kepada orang yang selama ini sudah dikutuk atau dihujat
oleh banyak orang, baik di Indonesia maupun di kalangan internasional. Dan
mereka ini terdiri dari “tokoh-tokoh” penting di bidang eksekutif, legislatif,
judikatif, partai-partai politik, kalangan agama, dan militer di negeri kita.
Dari serentetan peristiwa yang berkaitan dengan sakitnya sampai meninggalnya
Suharto sudah nampak dengan jelas sekali bahwa pengaruh Orde Baru masih kuat
sekali di kalangan “elite” negeri kita, dan bahkan sebagian besar kekuasaan
politik (dan media !) ada di tangan para simpatisan Suharto. Fenomena ini,
sekali lagi, dan untuk kesekian kalinya, menunjukkan dengan jelas bahwa pada
pokoknya, atau pada intinya, pemerintahan di negeri kita dewasa ini, adalah
Orde Baru jilid dua. Ini adalah masalah penting (dan serius !) , yang patut
jadi pegangan kita dalam membaca situasi dan melakukan berbagai kegiatan demi
perbaikan kehidupan bangsa dan negara kita.
Dengan kacamata yang demikian maka kita bisa melihat lebih jernih bagaimanakah
sebenarnya pemerintahan SBY-JK, dan bagaimana pulakah Golkar yang merupakan
kekuatan politik dominan yang banyak menduduki pos-pos penting dalam bidang
eksekutif, legislatif, judikatif ( dan militer !). Dengan kacamata yang begini
kita bisa juga melihat bahwa ucapan presiden SBY pada upacara di Giribangun
tentang Suharto adalah sepenuhnya bernafaskan Orde Baru ( Kalimatnya : “Kita
telah kehilangan putra terbaik bangsa, seorang pejuang setia, prajurit sejati
dan seorang negarawan terhormat Dengan jujur dan hati yang bersih, kita patut
mengakui begitu banyak jasa yang almarhum berikan kepada bangsa dan negara” –
Gatra 28 Januari).
Dengan kalimat SBY yang lain “yang meminta seluruh bangsa Indonesia agar
berjiwa besar dan tulus memberikan terimakasih dan penghargaan yang tinggi atas
darma bakti Suharto kepada bangsa dan negara, maka nyatalah bahwa seruannya
ini (sama dengan yang dilontarkan oleh banyak simpatisan-simpatis an Suharto
lainnya, terutama dari kalangan Golkar) adalah bertentangan sama sekali dengan
aspirasi rakyat yang menuntut diadilinya Suharto karena dosa-dosanya yang
banyak dan besar.
Suharto dan Golkar adalah satu dan senyawa
Dengan kacamata yang demikian itu pulalah kita bisa melihat mengapa Ketua DPR
Agung Leksono, yang juga pimpinan utama Golkar juga bicara muluk-muluk tentang
Suharto dalam upacara di jalan Cendana, dan mengapa pimpinan fraksi Golkar di
DPR berusaha dengan getol mengusulkan supaya Suharto diberi gelar pahlawan
nasional. Sebab, Suharto adalah orang penting (ketuanya) dalam Dewan Pembina
Golkar, dan selama puluhan tahun menjadi “pemilik” atau “penguasa” Golkar.
Dalam kaitan ini maka bisalah kiranya diibaratkan bahwa Suharto adalah Golkar
atau bahwa Golkar dan Suharto adalah satu dan senyawa. Atau untuk lebih jelas
lagi, yaitu bahwa Suharto dan Golkar dan Orde Baru adalah satu.
Karena masih kuatnya orang-orang Suhartois dalam berbagai bidang pemerintahan
itulah maka kita bisa mengerti bahwa tuntutan untuk mengadili Suharto tadinya
(sebelum ia meninggal) mendapat begitu banyak halangan, dan sekarang pun masih
sulit untuk mengusut perkara 7 yayasannya atau mengembalikan harta yang
dicurinya (menurut program PBB dan Bank Dunia StAR Initiative). Malahan,
diberitakan bahwa dalam sidang konferensi UNCAC di Bali , delegasi
Indonesia-lah yang justru menghalang-halangi dibicarakannya soal korupsi
Suharto dalam konferensi itu (Jawapos 29 Januari)
Dari segi ini kita bisa melihat bahwa bagi Golkar (dan pendukung-pendukung Orde
Baru lainnya yang terdapat di berbagai kalangan), membela nama baik Suharto
adalah sangat penting untuk menjaga kepentingan mereka sendiri, mengingat
begitu eratnya hubungan antara Suharto dengan Golkar. Jatuhnya nama Suharto
atau rusaknya citranya adalah satu hal yang sama sekali tidak menguntungkan
Golkar bahkan ikut juga merusaknya. Oleh karena itu, dengan berbagai cara dan
jalan, Golkar dan para Suhartois lainnya berusaha sekuat mungkin supaya Suharto
jangan sampai dituntut pengadilan atau dicemarkan namanya.
Gelar “pahlawan nasional” untuk Suharto
Untuk tujuan ini, antara lain, maka diusahakan supaya proses hukum terhadap
Suharto dihentikan, atau supaya perkaranya di-deponir, atau dibatalkan, dengan
alasan sakit permanen, atau karena usia lanjut, atau dima’afkan
kesalahan-kesalahan nya karena “mengingat jasa-jasanya” . Dengan tujuan yang
searah ini pulalah maka Golkar melontarkan kampanye pembentukan opini umum
tentang perlunya Suharto diberi gelar pahlawan nasional. Sebab, kalau gelar
pahlawan nasional itu berhasil diraih untuk Suharto, maka akan makin sulitlah
usaha untuk menuntut diadilinya dosa-dosa yang begitu banyak telah dibuatnya.
Jadi, gelar pahlawan nasional itu bukan hanya menyelamatkan nama baik Suharto
saja, melainkan juga juga kepentingan menyelamatkan citra Golkar dan para
Suhartois umumnya. Gelar pahlawan nasional kepada Suharto adalah “perisai” atau
“payung” bagi Golkar dan para Suhartois lainnya, untuk menyelamatkan diri dari
hujatan banyak orang.
Dengan kacamata bahwa pemerintahan dewasa ini adalah Orde Baru jilid dua, maka
kita akan bisa melihat bahwa perspektif tentang situasi negara dan bangsa kita
di masa datang yang dekat ini sama sekali tidaklah cemerlang. Kerusakan moral
dan pembusukan mental di kalangan para pejabat dan kalangan elite, yang sudah
berjalan puluhan tahun (!!!) akan diteruskan oleh orang-orang Orde Baru jilid
dua ini. Seperti yang bisa sama-sama kita saksikan, apa yang buruk di jaman
Orde Baru akan terus berlangsung, dalam bentuk dan cara baru, dan dengan kadar
yang baru juga.
Kita sudah sama-sama melihat bahwa banyak soal parah yang diwariskan oleh Orde
Baru tidak atau belum bisa diatasi atau dipecahkan, bahkan banyak yang tambah
makin parah.Korupsi besar-besaran malahan makin menjadi-jadi (ingat kasus-kasus
yang terbaru : kasus pimpinan Bank Indonesia dan anggota-anggota DPR yang
tersangkut dengan dana BLBI, kasus mantan Letnan Jenderal dan Menteri
Dalamnegeri Hari Sabarno soal pengadaan mobil-mobil pemadam kebakaran).
Pengangguran dan kemiskinan masih tetap merupakan sumber penderitaan rakyat
banyak. Angka kemiskinan malah meningkat dari 35 juta dalam tahun 2005 menjadi
39 juta dalam tahun 2007 (Tempo Alternatif 31 Januari 2008).
Dengan GOLKAR tidak akan ada perubahan besar
Dengan adanya kekuaaan politik yang pada pokoknya masih dikuasai oleh
orang-orang Orde Baru jilid dua sekarang ini, maka tidak banyak yang bisa
diharapkan dari mereka adanya perubahan-perubahan besar dan fondamental untuk
perbaikan kehidupan rakyat banyak, terutama rakyat miskin yang jumlahnya
puluhan juta keluarga ini. Keadaan yang demikian ini akan tetap berlangsung
terus, selama orang-orang Suhartois masih menduduki pos-pos penting di berbagai
bidang pemerintahan. Singkatnya, dari para Suhartois sama sekali tidaklah bisa
diharapkan adanya perbaikan besar untuk kehidupan rakyat banyak.
Kalau Golkar (dan kalangan Suhartois lainnya) sudah terbukti – dengan jelas
pula ! - tidak bisa berbuat banyak untuk perbaikan hidup orang banyak selama 32
tahun Orde Baru ditambah 10 tahun pasca-Suharto, maka tidaklah ada alasan bagi
kita semua untuk bisa percaya bahwa dalam masa dekat ini mereka akan bisa
berbuat lebih baik lagi dari pada yang sudah-sudah. Malahan sebaliknya, situasi
akan makin parah di berbagai bidang. Banyak tanda-tandanya sudah bisa kita baca
mulai sekarang.
“Arus balik” perlawanan terhadap Orde Baru jilid II
Karenanya, kita semua patut gembira bahwa sesudah meninggalnya Suharto, maka
akhir-akhir ini muncul tanda-tanda tentang adanya “arus balik”, yang berupa
perlawanan keras dari banyak kalangan masyarakat terhadap Orde Baru jilid dua.
Arus balik perlawanan ini bukan hanya berupa penolakan terhadap seruan para
Suhartois untuk mema’afkan algojo pembunuhan besar-besaran terhadap jutaan
orang tidak bersalah apa-apa atau pencuri uang rakyat nomor satu di dunia ini,
melainkan juga perlawanan politik, yang antara lain berupa penolakan untuk
mengibarkan bendera setengah tiang, atau penampikan usul untuk memberikan gelar
pahlawan nasional kepadanya.
Yang lebih menggembirakan lagi adalah kenyataan bahwa “arus balik perlawanan”
terhadap Orde Baru jilid dua ini lahir dari berbagai kalangan yang luas sekali,
dan bukan lagi hanya terdiri dari para korban Orde Baru saja atau golongan
“kiri” lainnya, melainkan juga terdiri dari kalangan-kalangan lainnya dalam
masyarakat. Mereka telah membentuk berbagai macam organisasi front bersama, ada
yang dinamakan Aliansi Rakyat Mengadili Suharto, ada yang dengan nama Kesatuan
Rakyat Adili Suharto (KERAS). Ada yang di Solo .menamakan dirinya AMUK RAKYAT
(Aliansi Rakyat untuk Kesejahteraan Rakyat)
Dalam berbagai organisasi front luas ini ambil bagian bermacam-macam
organisasi, yang terdiri dari kaum intelektual, seniman, ahli hukum, buruh,
tani, perempuan, rakyat miskin dll. Yang paling menggembirakan ialah adanya
kegiatan atau aksi-aksi yang banyak dilakukan oleh generasi muda, yang terdiri
dari kalangan mahasiswa atau kalangan pemuda lainnya.
Di Bali dalam demo yang diadakan oleh berbagai organisasi mahasiswa telah
dibagi-bagikan pernyataan yang berisi tuntutan supaya kasus korupsi Soeharto
terus diusut hingga ke kroni-kroninya. “Tidak ada alasan untuk menghentikan
apalagi hanya karena ingin memberi gelar pahlawan,” tegas Hasan yang menjadi
Korlap aksi itu. Poster yang dibuat antara lain bertuliskan, “Adili kroni
Soeharto”, “Tidak ada Kata Maaf untuk Pelanggar HAM”, dan lain-lain.
Di Semarang para mahasiswa menyatakan menolak keras jika pemerintah memberikan
gelar pahlawan kepada mendiang mantan Presiden RI Suharto. Mahasiswa menilai,
“Suharto bukanlah sosok pahlawan yang berhasil membawa bangsa ini ke arah yang
benar dan mensejahterakan rakyat”
Tampilnya generasi muda adalah menggembirakan
Aksi-aksi yang serupa atau searah jiwanya telah diadakan juga oleh berbagai
kalangan (terutama generasi muda) di Jakarta, di Solo, di Jogya, di Medan dll
Tampilnya generasi muda dalam banyak aksi-aksi perlawanan terhadap Orde Baru
jilid dua dan penolakan terhadap usul-usul untuk pemberian gelar pahlawan
kepada Suharto adalah penting, baik untuk dewasa ini maupun untuk masa datang.
Masa depan bangsa dan negara kita adalah di tangan mereka, di samping
pentingnya peran golongan-golongan lain dalam masyarakat. Kebangkitan generasi
muda sekarang ini adalah investasi yang berharga bagi rakyat di kemudian hari.
(Harap baca « Kumpulan berita » dalam rubrik Sesudah Suharto meninggal dan
Meninggalnya mantan presiden Suharto di website http://kontak. club.fr/index.
htm ).Mengingat hal-hal itu semua, maka menjadi makin jelaslah bahwa perjuangan
bersama dari seluruh kekuatan demokratis di Indonesia melawan Orde Baru jilid
dua menjadi satu dengan perlawanan terhadap
usul diberinya gelar pahlawan nasional kepada Suharto, dan perlawanan
terhadap perma’afan terhadap segala dosa-dosanya yang besar di bidang HAM dan
KKN. Melawan bersama-sama - dengan segala cara dan bentuk - terhadap Orde Baru
jilid dua yang masih tetap didominasi oleh kekuatan-kekuatan pro Suharto (baca
: terutama Golkar dan sebagian dari militer) adalah satu-satunya jalan untuk
menuju tercapainya perubahan-perubahan fondamental bagi kehidupan rakyat
banyak, terutama rakyat miskin.
Singkatnya dan jelasnya, akan sama-sama kita saksikan, nantinya, bahwa negara
dan bangsa Indonesia akan bisa mengadakan perubahan-perubahan besar hanya
kalau para Suhartois (dalam Golkar dan kalangan-kalangan lainnya) sudah dapat
disingkirkan dari kekuasaan politik. Hanya kekuasaan politik di tangan
kekuatan-kekuatan demokratis yang benar-benar pro-rakyatlah yang akan bisa
menciptakan perubahan-perubahan besar di Indonesia, seperti yang ditunjukkan
oleh pengalaman berbagai negeri di Amerika Latin dewasa ini..
Paris, 31 Januari 2008
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ