Apa Njak Kondom dan Hikayat Pembelahan Acheh
   
  Oleh: Gam Bakông Aneuk Nanggroë
   
  Mendengar kabar rencana pembelahan Acheh oleh pusat kolonial atas desakan 
elit politik dalaman, benak saya langsung terkenang akan seorang lelaki tua 
yang pernah hidup sewaktu saya masih kecil. Apa Njak Kondom begitulah sapaan 
akrabnya, yang nama aslinya adalah Apa Njak Budiman. Ia termasuk “pemain” di 
tingkat sub-distrik (kecamatan), dan seorang pendukung penjajahan indonesia. 
Nama Apa Njak Kondom melekat sejurus ia menjadi tukang kempen sukarela untuk 
program Keluarga Berencana (KB), yang dari kerja tersebut ia mendapat 
penghormatan dari serdadu (polsek/koramil) dan perwakilan kolonial lainnya 
seperti camat. Sesekali ia dipinjamkan sepedamotor yang ber-plat hijau, kelabu 
atau merah, dan dengan bangga pula ia tancap gas keliling kampung. 
  Biasanya ia juga menerima hadiah khas pada setiap hari raya, yaitu daging 
meugang, syrup cap Patông dan ribuan kondom. Komoditi yang terakhir itu adalah 
penting baginya, selain untuk kebutuhan pribadi--maklum ia termasuk seorang 
“dermawan”, yang punya tiga orang isteri dan beberapa simpanan—dia juga 
meniupnya menjadi balon untuk dibagikan kepada anak-anak saudara. Melihat 
gejala aneh Apa Njak Budiman itu, lalu orang kampung memberinya nama baru, 
jadilah ia Apa Njak Kondom. 
                   Apa Njak Kondom sebenarnya cukup pandai untuk dikatakan 
tidak intelek, sebab ia tahu bahwa kondom itu untuk keperluan khas, bukan untuk 
dijadikan pengganti balon, apalagi untuk diberikan kepada anak-anak. Tapi 
karena bermental bakhil, ia lebih rela menyalahi aturan, daripada harus membeli 
balon asli dari kedai yang mengharuskannya mengeluarkan beberapa ratus Rupee. 
Begitu pula dengan kerjanya yang mendukung program KB, ia sadar betapa projek 
BKKBN adalah satu paket dengan transmigrasi yang tak lain adalah program 
penjajahan terselubung di bumi Acheh dan daerah koloni lainnya.  Akan tetapi, 
karena kegilaannya pada uang dan sanjungan dari pihak kolonial serta 
keinginannya untuk selalu menjadi orang terpandang, maka ia tega membodohi 
dirinya sendiri. Ia telah menciptakan berbagai alasan yang tak beralasan untuk 
suatu pembenaran atas tindakan pengkhianatan.
                   Apa Njak Kondom telahpun mati sebelum diktator Soeharto 
jatuh. Penyebabnya adalah ketika sepedamotor ber-plat merah yang ia pinjamkan 
dari komisaris Golkar setempat, menghantam seekor babi hutan. Tidak seperti 
Soeharto yang mati tanpa pernah diadili, Apa Njak Kondom setidaknya telah 
menjalani hukuman rakyat. Ia pernah diikat selama dua hari di kuburan PKI yang 
sangat ia takuti, dan dilempar semut merah ke sekujur tubuhnya. Hukuman yang 
termasuk ringan, tetapi lebih baik daripada terlepas dari jerat hukum sama 
sekali.
   
  ###
  Namun keberadaan kaum cerdik-pandai bangsa Acheh yang rela menjadi kakitangan 
penjajah adalah cerita yang tiada akhir. Dari jaman pa’i berhidung mancung 
sampai ke jaman pa’i berhidung rata, para pengkhianat tetap ada. Demikian pula 
dengan orang-orang yang bertabiat seperti Apa Njak Kondom. Meskipun ia telah 
mati, namun arwahnya telah memasuki tubuh “pemain” di tingkat yang lebih 
tinggi. Roh Apa Njak Kondom telah merasuki tubuh Adnan Nyak Sarong.
                   Tidak seperti Apa Njak Kondom yang kekuatannya hanya di 
tingkat sub-distrik, Adnan Nyak Sarong adalah kaki tangan penjajah di tingkat 
pusat kolonial, yang akibat ‘permainan’ kotornya bukan saja telah mencabik 
struktur sebuah kampung, tetapi dapat menghancurkan struktur dan harga diri 
nanggroe Acheh. 
  Belum puas ia dengan keberhasilan mendirikan distrik Acheh Jaya yang dulunya 
bagian dari Acheh Barat, kini ia mulai memasuki barisan elit yang ingin 
berkuasa seumur hidup, untuk membentuk provinsi Acheh Barat Selatan (ABAS). 
Salah seorang di antara barisan elit itu adalah bekas serdadu kolonial Letnan 
Kolonel Tjut Agam dari Meulaboh, yang meskipun sudah tua bangka dan pernah 
menduduki berbagai posisi penting di daerahnya, mulai dari Komandan Kodim 
sampai ke ketua Golkar, namun tak pernah puas, sehingga masih bernafsu untuk 
mendapatkan jabatan yang lebih tinggi agar akumulasi harta warisan dapat 
diwariskan hingga tujuh turunan. Kelompok orang seperti dia sadar bahwa dengan 
kemampuannya yang terbatas dan telah terbukti gagal dalam membawa amanah rakyat 
di masa lalu, mereka tak akan mampu bersaing untuk memperebutkan posisi penting 
di Banda Acheh. Di mana generasi baru yang lebih berpendidikan dan lebih 
memihak rakyat akan berkuasa di Acheh nanti. Sebagai jalan keluar yang
 pintas, maka lahirlah niat untuk membelah Acheh, agar mereka dapat menduduki 
singgasana raja-raja kecil.    
                   Kenapa Adnan Nyak Sarong mendapat sorotan khusus dalam 
tulisan ini, sedangkan di sana terdapat banyak aktor lain? Tjut Agam, Tagore, 
Syukur Kobat atau Armen Desky secara terang melakukan penentangan terhadap 
persatuan Acheh, sementara Adnan Nyak Sarong adalah pemain yang lihai dan 
selalu memakai sarung agar tangannya selalu bersih dari permainannya yang 
berdebu. Yaitu dengan mengaku sebagai pembela Acheh kepada kaum pejuang Acheh 
Merdeka, tapi menjadi perusak di sebaliknya. Oleh itu, dia perlu diberi 
perhatian khusus.
  Belum lama ini suatu pernyataan manipulativ ia keluarkan di Medan. Katanya 
pemekaran itu adalah perkara biasa, dan seharusnya berbagai pihak dapat 
menerima apabila mengerti makna pemekaran tersebut. "Pemekaran itu sudah sesuai 
dengan produk UU No.22/1999 dan PP No.109/2000 soal pemekaran kabupaten/kota 
dan provinsi. Tujuan yang ingin dicapai dengan pemekaran tersebut adalah 
pencapaian kemakmuran bagi rakyat Aceh, baik itu yang berada di provinsi induk 
(NAD), ALA dan ABAS," katanya, seperti dikutip salah satu media.
  Pernyataan Adnan itu adalah tidak dapat dipertanggung jawabkan secara sosial 
dan ekonomi, dan bertentangan dengan nasionalism Acheh. Ide pembelahan Acheh 
ini memang menarik bagi pihak yang hanya berpikir tentang jabatan, keuntungan 
pribadi dan kelompok, tapi jika ia berpikir tentang masa depan Acheh, ia telah 
membuka kesempatan ke arah suatu penjajahan yang lebih parah. Di mana ia dan 
kelompok tersebut telah bersetubuh dengan kolonial untuk menjadi alat pemecah 
belah Aceh.
   
  ###
  Para elit lokal yang berusaha keras untuk membelah Acheh beralasan bahwa 
pendirian distrik (kabupaten) atau provinsi baru di antaranya dapat memacu 
pertumbuhan, menghilangkan diskriminasi dari Acheh lain, memudahkan pengurusan 
administrasi atau memperpendek rentang kekuasaan dan lain sebagainya. Sementara 
kenyataan tentang keberhasilan yang mereka bayangkan adalah tak pernah 
terbukti. Seperti contoh yang dialami Aceh Jaya, meskipun kekuasan saat ini 
berada di Calang, akan tetapi daerah ini tetap tertinggal, karena distrik baru 
ini juga menjalankan sistem yang sama, sistem yang mengajari pekerja publik 
untuk bermental elit dan sistem yang tidak mendukung untuk suatu tata kerja 
yang efektif dan efisien. Sedangkan keuntungan yang di dapat oleh sebagian 
penduduk di wilayah tersebut hanya sebatas menjadi pegawai kolonial, kontraktor 
dan anggota DPRD II, yang pada dasarnya adalah membebani keuangan daerah dan 
memperluas atau memperbanyak lingkaran korupsi. 
  Pada hakikatnya, pihak kolonial jua yang menuai untung, antara lain dengan 
penempatan penduduk non-Acheh pada posisi penting, biasanya pada posisi jaksa, 
hakim dan kepala serdadu. Menambah jumlah serdadu organik dan polisi, membangun 
Korem, Kodim, Batallion, Kompi, Koramil, Polres dan Polsek yang kerja institusi 
tersebut  bukan untuk menjaga keamanan, tetapi untuk membunuh dan menindas 
rakyat. Di samping bertindak sebagai pelindung kejahatan seperti penebangan 
hutan dan perusakan ekosistem lainnya. Juga melakukan apa yang disebut dengan 
pengutipan liar (extortion), yang pada akhirnya menjadikan Acheh sebagai daerah 
dengan ekonomi biaya tinggi. Sementara kehidupan rakyat bawah tetap merana. 
  Yang sangat aneh, meskipun jumlah pegawai publik lebih banyak dari rakyat, 
namun pelayanan yang maksimal tetap jauh dari harapan. Karena sistem kolonial 
telah menjadikan sebagian besar para pegawai negeri sebagai kaum pemalas yang 
menghabiskan waktu kerja dengan bualan dan hanya memberi pelayanan yang 
maksimal kepada rakyat yang mau memberi ‘buahtangan’ untuk mereka.
                   Demikian pula dengan praktek diskriminasi, yang tidak akan 
terhapus walaupun sejuta distrik dan provinsi lahir di Acheh. Diskriminasi 
tidak bersumber dari adat-istiadat dan budaya Acheh yang rela berperang untuk 
membela saudaranya yang tertindas. Melainkan suatu sistem yang diamal dan 
diajarkan oleh kolonial Indonesia kepada anak jajahan. Jika di tingkat pusat 
kolonial diskriminasi dipraktekkan oleh bangsa Jawa terhadap bangsa lainnya, 
maka di tingkat Acheh diskriminasi dijalankan oleh suatu kelompok dominan ke 
atas kelompok lain yang lebih lemah. Bukan hanya oleh penduduk pesisir Timur 
terhadap pesisir Barat, atau Barat pesisir dengan pegunungan, atau Acheh 
Daratan dengan Kepulauan, tetapi ianya meruncit sampai ke tingkat lingkungan 
kerja dan malah di tingkat keluarga. 
  Diskriminasi juga dilakukan oleh kaum intelektual terhadap mereka yang 
mempunyai pendidikan rendah. Mereka sering dikebiri baik itu di lingkungan 
kerja, organisasi kemasyarakatan dan di dalam pergaulan. Rasa saling 
menghormati antar sesama manusia, karena setiap makhluk Tuhan memiliki 
kelebihan tersendiri, kini telah lenyap akibat ideologi politik ‘fraksi’ atau 
pecahan (fraction) yang disebarkan oleh penjajah. Maka politik kelompok, daerah 
dan keturunan menjadi sangat dominan di Acheh.   
  Ambil contoh di Acheh Selatan dulu, ketika yang bergelar Sayed menjabat 
bupati, maka beratus para Sayed menduduki posisi penting di daerah itu. Di 
Acheh Barat ketika bupati paling korup se-Acheh, Teuku Rosman, menjadi kepala 
daerah, maka beratus para Teuku berkuasa di sana. Bahkan ada yang pangkatnya 
dikarbit agar dapat menduduki posisi penting. Demikian juga di Acheh Tenggara 
dengan dominasi kelompok Desky. Begitu pula ketika Gubernur itu dari daerah 
Pidie, maka beribu pidie lain mempunyai akses khusus dan menghuni apa yang 
disebut dengan jabatan ‘basah’.
  Persoalan nepotism seperti itu agaknya sedikit susah terjadi untuk saat ini 
karena masyarakat sudah lebih kritis dalam mencermati pembagian kekuasaan 
berdasarkan pertalian darah atau kedaerahan, tapi bukan berarti persoalan 
nepotism itu sudah musnah. Kini menjelma dengan wajah baru, yaitu koalisi antar 
kelompok elit untuk mempertahankan kekuasaannya agar tak jatuh ke tangan rakyat 
banyak.
  Sekali lagi, kita perlu menyadari bahwa itu adalah buah dari kebijakan pihak 
kolonial yang menjalankan dua sistem berbeda; politik fraksi mereka terapkan di 
wilayah pendudukan, dan memaksa politik kesatuan di tingkat pusat. Politik 
fraksi ini berfungsi untuk melemahkan dan membungkam setiap kehendak rakyat 
terhadap kekuasaan kolonial. Jika dilihat sepintas, strategi ini sangat tepat 
untuk menopang keutuhan kolonial indonesia. Namun efek negativ dari kebijakan 
ini adalah terjadinya pembenaran terhadap diskriminasi, pembentukan tirani 
majoriti, dan membuka peluang bagi rekayasa opini publik yang seperti di 
jalankan kelompok ALA/ABAS, yang kesemuanya memberi konstribusi bagi 
terciptanya ketidakadilan yang akan membawa kehancuran bagi kolonial itu 
sendiri.
  Dan keadaan ini semakin membuka mata kita bahwa indonesia, dengan sistem 
sentralistik dan politik fraksi adalah perwujudan dari sebuah misi kolonial 
kaum priayi Jawa yang berselubung di balik kata “nasionalism” dan “konstitusi”. 
Bagaimana ini bisa berlaku? Karena sewaktu konstitusi negara kolonial itu 
dibuat, di sana tidak ada pemikir yang memiliki visi yang jernih, jujur dan 
bermoral kerakyatan (altruism). Yang mampu memberi idea untuk sebuah antisipasi 
bagi penyalahgunaan kekuasaan dan menghindari kemungkinan terjadinya tirani 
majoriti. Di sana tidak ada para pemikir seperti Thomas Jefferson, Alexander 
Hamilton atau James Madison yang bukan hanya terkenal sebagai pendiri dan bekas 
presiden Amerika Syarikat, tetapi dihargai berkat buah pikiran yang mereka 
tuangkan dalam catatan the federalist, suatu theori yang mereka lahirkan agar 
negaranya terhindar dari bahaya akan politik fraksi. Sebaliknya penyusun 
konstitusi kolonial indonesia adalah sekelompok orang tamak seperti
 Sukarno yang tanpa malu mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden seumur 
hidup.    
   
  Jalan Keluar  
   
  Setelah mempelajari persoalan di atas, saya ingin memberikan solusi untuk 
menghindari perpecahan antar sesama bangsa Acheh dan memberi kekuatan untuk 
menolak koalisi elit yang mengatasnamakan rakyat dalam agenda ALA/ABAS. Di sisi 
lain, kita perlu menggunakan strategi ini untuk menolak siasat licik Jakarta. 
Solusi ini terbagi dua, yaitu yang bersifat sementara (sebelum Acheh bebas dari 
pendudukan indonesia), dan untuk masa depan (ketika Acheh menjadi sebuah negara 
merdeka).
                   Pemindahan ibukota Acheh ke Takengon adalah suatu opsi yang 
bermanfaat untuk sementara waktu. Ide ini telah diutarakan oleh beberapa pihak 
sebelumnya, yang bukan hanya menguntungkan karena posisi Takengon terletak di 
nanggroe Antara, tetapi kesempatan ini dapat dijadikan sarana untuk 
mengembangkan potensi kota tersebut yang mempunyai keunikan dan keindahan 
tersendiri. Kelebihan lain adalah memotong jarak tempuh ke pusat administrasi 
provinsi oleh penduduk dari kawasan Acheh Tenggara, pantai Barat, Selatan, 
Timur dan Utara.
                   Pendirian pusat administrasi di tempat yang lebih strategik 
adalah pendapat yang lebih masuk akal daripada memperbanyak pembentukan 
administrasi, padahal administrasi baru yang hendak dibentuk itu tidak memberi 
hak pemerintahan yang maksimal dan luas, selain dari propaganda indonesia saja. 
Di Amerika Syarikat misalnya, anda akan terkejut ketika mengetahui bahwa 
ibukota negara bagian New York bukan bertempat di New York City, tapi di 
Albany, kota yang mungkin tidak begitu dikenal. Demikian juga dengan negara 
bagian California yang berpusat di kota Sacramento, bukan di kota yang lebih 
megah seperti Los Angeles atau San Francisco. Keadaan serupa berlaku di seluruh 
Amerika Syarikat. Asumsinya adalah di samping letaknya yang mudah dijangkau 
oleh semua daerah di negara bagian tersebut, juga untuk mengembangkan potensi 
kota yang belum berkembang. New York City sudah pun terkenal meskipun tidak 
dijadikan sebagai pusat administrasi negara bagian New York, begitu
 pula dengan LA atau San Francisco. Jadi apa keuntungan mempertahankan Banda 
Acheh sebagai ibukota selain hanya karena nilai sejarah? Dengan infrastruktur 
yang ada, Banda Acheh akan tetap berkembang dan tetap menjadi kota terbesar di 
Acheh.
            Ada juga yang berpendapat bahwa dengan perkembangan tekhnologi 
media digital seperti internet yang sekaligus menurunkan biaya komunikasi, 
sebenarnya tidak menjadi masalah meskipun letak ibukota provinsi berjauhan. 
Namun permasalahan sekarang adalah masih sangat sedikit sumberdaya manusia di 
Pemerintah Daerah yang dapat memaksimalkan penggunaan tekhnologi tersebut. 
Sehingga dalam waktu dekat tidak dapat menjadi solusi yang cukup efektiv.
            Bersamaan dengan itu, pembentukan Majelis Perwakilan Daerah (MPD) 
di pusat provinsi adalah salah satu solusi sementara yang dapat menjamin 
pemerataan dan kebersamaan di seluruh Acheh. Lembaga ini dapat menjadi 
pengontrol guna mencegah terjadinya proses diskriminasi, pelaksanaan politik 
golongan dan sekaligus menjadi lambang persatuan dan kepemimpinan kolektiv 
Acheh Raya. MPD dapat menarik sedikitnya dua orang anggota setiap distrik pada 
setiap Pemilihan Daerah dan melakukan rotasi kepemimpinan paling tidak setiap 
enam bulan, sehingga para wakil dari setiap distrik atau kota mendapat giliran 
untuk memimpin lembaga tersebut. Apakah DPRD tidak dapat berfungsi seperti MPD? 
Sudah tentu tidak. Karena anggota MPD dicalonkan melalui jalur independen dan 
tidak diperkenankan melalui partai sama sekali. Sebab dengan tingkat moral 
politik di Acheh, jika seseorang dicalonkan melalui partai, maka yang ia 
perjuangkan bukan kesejahteraan rakyat, tapi kepentingan partainya lebih
 diutamakan. Jadi kenyataan itu dapat menghalangi tujuan MPD untuk memberi 
pemerataan kepada seluruh bangsa Acheh.
            Sedangkan untuk solusi jangka panjang adalah pembentukan Negara 
Acheh dengan sistem federal jika kelak kita mencapai kemerdekaan. Karena 
federasi adalah bukan perkara baru di Acheh, di mana kerajaan Acheh Darussalam 
adalah kumpulan dari sejumlah kerajaan kecil, mulai dari kerajaan Teumieng 
sampai ke Linge. Dan telah terbukti bahwa endatu kita mampu hidup dengan 
makmur, damai dan maju di bawah sistem federasi. Sistem federasi dengan konsep 
demokrasi yang menjamin terlaksananya keadilan adalah strategi untuk 
menghindari tumbuhnya politik fraksi dan tirani majoriti. Jadi bagi para 
pendukung ALA/ABAS lebih baik membantu perjuangan kemerdekaan Acheh daripada 
menghabiskan anggaran dan memprovokasi rakyat untuk tujuan yang tidak 
bermanfaat  dan hanya menguntungkan kaum penjajah. Nantinya kita dapat 
berkoalisi untuk memperjuangkan bentuk federasi di dalam konstitusi Negara 
Acheh. Karena dengan federasi-lah keunikan setiap daerah dengan budaya, bahasa 
dan ethnik tertentu
 akan terjaga dan tidak merasa terdominasi oleh kelompok lain yang lebih 
dominan.
            Akan tetapi yang terpenting di antara semua perkara yang terbahas 
di atas, adalah keperluan untuk kita cermati bersama apakah Jakarta masih 
memegang janji untuk mempertahankan batas Acheh yang diakui sejak 1 July 1956 
yang telah diakui kembali dalam MoU Helsinki, ataukah mereka ingin 
memperpanjang daftar kemunafikannya terhadap Acheh?       
                               
   

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke