Berita
            Selasa, 19 Februari 2008, 07:08 WIB
Diisukan Retak, GAM Klarifikasi
Reporter : Dedek & Radzie
  Banda Aceh, acehkita.com. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dikabarkan mengalami 
perpecahan yang bermuara pada Pemilihan Kepala Daerah 2006 silam. Namun kabar 
ini dibantah Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Ibrahim bin Syamsuddin, 
yang mengatakan GAM dan KPA masih solid.
    “Tidak ada blok-blok dalam organisasi GAM. Sampai saat ini masih solit dan 
tetap mematuhi pimpinan,” kata Ibrahim bin Syamsuddin di sela-sela peresmian 
kantor baru KPA di Lampaseh, Banda Aceh, Senin (18/2). Sebelumnya, KPA/GAM 
berkantor di Jalan Teungku Diblang Lamdingin Banda Aceh.
    Kabar keretakan GAM bukan isu baru. Sejak prosesi Pilkada Gubernur/Wakil 
Gubernur 2006 silam, santer beredar kabar GAM telah mengalami perpecahan. Hal 
ini ditandai dengan pencalonan dua kubu GAM sebagai calon pemimpin Aceh. 
    Saat itu, kalangan GAM dari barisan tua (pimpinan) mendukung pasangan Humam 
Hamid dan Hasbi Abdullah yang diusung Partai Persatuan Pembangunan. Sementara 
kalangan muda mengusung pasangan Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar yang kemudian 
memenangkan Pilkada pertama yang digelar setelah berakhirnya konflik.
    Tarik-menarik politik ini juga terlihat pada sikap KPA. Suatu waktu di 
Wisma Daka Lampriet, Ketua KPA Muzakkir Manaf menyatakan dukungannya terhadap 
pasangan Humam-Hasbi. Namun dua hari menjelang pencoblosan, Muzakkir Manaf –dan 
sejumlah petinggi GAM seperti Sofyan Dawood, Muchsalmina—menggelar konferensi 
pers di kantor KPA Lamdingin. Dalam konferensi pers itu, Muzakkir Manaf 
menyatakan, KPA dan GAM secara organisasi tidak mendukung salah satu pihak 
dalam Pilkada.
    Namun, Juru Bicara KPA Ibrahim Syamsuddin menepis isu itu. Menurutnya, 
kabar keretakan GAM terlalu mengada-ada. Dia mencontohkan, saat pimpinan GAM 
melarang pengibaran bendera bintang buleuen pada peringatan Milad GAM 4 
Desember tahun lalu, anggota GAM mematuhinya.
    Ibrahim Syamsuddin mengakui adanya anggota GAM yang terjadi perselisihan 
pendapat soal pendirian partai politik lokal.
    Seperti diketahui, pentolan GAM mendirikan partai politik lokal yang 
diberinama Partai Gam. Mereka menjadikan bendera bintang buleuen sebagai 
bendera dan lambang partai. Sampai di sini, lagi-lagi penolakan datang dari 
kalangan muda. 
    Dalam sebuah wawancara khusus dengan situs berita acehkita.com pada Kamis, 
12 Juli 2007, mantan Juru Bicara GAM/KPA Sofyan Dawood terang-terangan 
menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemakaian bendera GAM sebagai atribut 
partai. 
    Mantan Juru Bicara Militer GAM itu mengatakan, penetapan bendera buleuen 
bintang sebagai atribut partai tidak dikomunikasikan dengan anggota GAM lain. 
“Saya tidak terlibat. Saya melihat begini, saya pertama memikikirkan arah 
perjuangannya, yaitu perdamaian. Bermakna, bendera itu sebagai lambang Aceh, 
bukan lambang satu organisasi,” kata dia.
    Saat peresmian kantor Partai Gam di bilangan Simpang Surabaya Banda Aceh 
pun, Sofyan Dawood tak datang. Mantan pengatur siasat perang GAM Irwandi Yusuf, 
mantan Jubir GAM Pase Jamaica, mantan Jubir GAM Aceh Besar Muchsalmina, juga 
tak terlihat pada acara peresmian kantor tersebut.
    Lagi-lagi, Ibrahim Syamsuddin menolak dikabarkan retak. “Struktur 
keanggotaan organisasi tidak boleh disamakan dengan sebuah semangka, sehingga 
pecah diartikan berurai dan tidak mungkin disatukan kembali,” kata pria yang 
akrab disapa KBS itu. “Bagi kami sendiri punya keyakinan yang kuat bahwa 
perbedaaan bukan sinonim perpecahan. Tidur boleh berbeda tempat, tapi mimpinya 
tetap sama,” tandasnya. [dzie

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke