21/02/2008 09:15 WIB
Gempa Guncang Aceh
* Data PMI: 3 Meninggal, 49 Cidera
BANDA ACEH - Seluruh wilayah Aceh termasuk sebagian Sumatera Utara dan
Sumatera Barat, pada pukul 15.08 WIB, Rabu (20/2) diguncang gempa berkekuatan
7,3 Skala Richter (SR) dengan guncangan terparah terjadi di Kecamatan Simeulue
Barat (Sibigo) dan Simeulue Timur. Informasi dari Palang Merah Indonesia (PMI)
Cabang Simeulue, jumlah korban mencapai 52 orang, termasuk tiga meninggal. Data
kerusakan terparah yang berhasil dihimpun Serambi hingga pukul 23.00 WIB tadi
malam masih sebatas di Kecamatan Simeulue Barat. Di kecamatan ini, sejumlah
fasilitas publik, termasuk rumah bantuan BRR NAD-Nias rusak berat dan ringan.
Puluhan unit usaha batu bata rakyat hancur.
Rincian korban, menurut data yang diterima Serambi dari relawan PMI NAD
dengan mengutip laporan dari Irwansyah, relawan PMI Cabang Simeulue, di
Kecamatan Simeulue Barat 25 orang luka berat dan ringan sedangkan di Simeulue
Timur 27 orang luka berat dan ringan termasuk tiga meninggal dunia. Laporan
mengenai adanya korban meninggal juga disampaikan oleh relawan PMI Simeulue
kepada anggota RAPI Kota Banda Aceh.
Kepala Biro Hukum dan Humas Setdaprov NAD, Hamid Zein juga merilis informasi
yang diperolehnya dari berbagai sumber dengan menyebutkan ada tiga korban tewas
di Simeulue yaitu Aidin (laki-laki/70 tahun), Nyak Giman (laki-laki/60 tahun),
dan Hafidah (perempuan/70 tahun).
Mengenai korban meninggal masih simpang siur. Tadi malam, Serambi juga
mendapatkan kabar dari Herdi, warga Desa Sukamaju I, Sinabang (ibukota
Kabupaten Simeulue). Menurut informasi yang diperoleh Herdi, ada dua orang
warga Desa Sukakarya (Sinabang) yang meninggal pada saat gempa mengguncang.
Namun Herdi mengaku baru sebatas mendapat informasi awal sehingga belum
mengetahui identitas lengkap kedua korban.
Bangunan rusak
Dari Simeulue Barat (Sibigo), seorang anggota Polsek setempat, Harefa
menginformasikan kepada Serambi tentang terjadi kerusakan sejumlah bangunan
akibat guncangan gempa, sore kemarin.
Berdasarkan pendataannya, bangunan-bangunan yang mengalami rusak parah dan
ringan di Sibigo adalah gedung Puskesmas bantuan BRR, Pajak Ikan bantuan Palang
Merah Norwegia yang baru 60 persen rampung, Mapolsek (retak dari dinding depan
sampai ke dalam), pendopo Camat Simeulue Barat (roboh sebelah), Kantor
Pertanian, serta rumah korban tsunami yang tersebar di Desa Malasin, Batu Ragi,
dan Lamamek sebagiannya hancur. Selain itu, 30 unit usaha batu bata milik
masyarakat juga rusak parah.
Namun menurut Harefa, hingga pukul 18.30 WIB kemarin tidak ada laporan korban
meninggal di Kecamatan Simeulue Barat, kecuali korban cidera, yaitu seorang
tukang yang sedang mengerjakan bangunan Pajak Ikan akibat tertimpa material
bangunan dan seorang lagi konsultan bangunan Pajak Ikan tersebut mengalami
patah kaki karena melompat dari lantai dua. Pascagempa, kami tak bisa
berkomunikasi dengan Pemerintah Kabupaten di Sinabang, termasuk dengan Mapolres
karena telepon putus, ujar Harefa.
Laporan lainnya menyangkut suasana Sibigo ketika gempa mengguncang juga
dilaporkan Ihsan, staf CV Ie Krueng Rubee, konsultan yang sedang berada di
Simeulue Barat untuk melakukan survei pembangunan tempat ibadah bantuan BRR
NAD-Nias.
Menurut Ihsan, masyarakat di kawasan tersebut sempat berlarian ke kawasan
gunung untuk menghindari kemungkinan terjadinya tsunami. Keadaan kembali normal
menjelang malam hari.
Sibigo merupakan kota kecil yang terletak beberapa ratus meter dari bibir
pantai dengan latar belakang kawasan pegunungan. Wilayah ini tidak langsung
menghadap ke laut lepas tetapi dikelilingi teluk.
Di Sibigo terdapat dua deret toko berkonstruksi kayu. Sebagiannya dibangun dua
lantai. Aktivitas di pasar terhenti total. Seluruh barang-barang di dalam toko
tumpah ke lantai. Rak-rak nasi juga jatuh hingga isi berserakan di lantai, kata
Ihsan yang dihubungi kembali pada pukul 20.30 tadi malam.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga, gedung kantor Kepala Desa
Mitem yang berjarak sekitar 10 menit naik rakit dari Sibogo, mengalami
kerusakan parah.
Dari seorang relawan RAPI Aceh Besar, Budi Permana (JZ 01 LBP) yang bertugas di
IFRC diperoleh informasi tentang adanya seorang staf Palang Merah Norwegia yang
sedang bertugas di Simeulue mengalami cidera (patah kaki) dan direncanakan
segera dievakuasi ke Medan. Namun hingga tadi malam belum ada konfirmasi apakah
warga negara asing itu sudah berhasil dievakuasi atau belum.
Komunikasi putus
Akibat gempa 7,3 SR tersebut, layanan komunikasi sempat terputus ke Simeulue.
Informasi menyangkut kondisi di kepulauan tersebut baru berhasil diperoleh
setelah General Manager Kandatel Aceh, Zarwilis Yunus, memfasilitasi hubungan
telepon dengan Kepala Kantor Cabang Telkom Simeulue, Ruslan.
Dalam perbincangan melalui telepon yang dihadiri sejumlah wartawan pada pukul
18.30 WIB itu, Kepala Kantor Telkom Cabang Simeulue, mengatakan, hingga pukul
18.30 WIB sebagian besar warga telah kembali ke rumah masing-masing dan suasana
telah terkendali.
Suasana sempat tegang ketika ribuan warga dari sejumlah kecamatan di Simeulue
berhamburan mengamankan diri dan bersiap-siap naik ke gunung. Sebagian
masyarakat khawatir gempa yang tergolong kuat itu menimbulkan tsunami, papar
Ruslan.
Ruslan menginformasikan ada dua warga luka-luka ketika berusaha menyelamatkan
diri. Namun ia membantah informasi yang menyebutkan adanya tiga korban tewas.
Sampai saat ini saya belum memperoleh informasi adanya warga yang meninggal,
ujar Ruslan. Hingga pukul 18.30 WIB, ia mengatakan, aliran listrik dan layanan
komunikasi, baik telepon seluler maupun telepon kabel masih terputus.
Sampai ke Sumbar
Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Geofisika Mataie, Syahnan
menjelaskan, selain Simeulue, gempa paling kuat juga dirasakan di Meulaboh
yaitu mencapai V Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI), sementara untuk Banda
Aceh dan Aceh Selatan masing-masing IV MMI.
Juga diinformasikan, gempa yang berpusat di sekitar Pulau Simeulue tersebut
bukan hanya dirasakan di Sumatera Utara tetapi juga sampai ke Sumatera Barat.
Di Paya Kumbuh, Sumatera Barat, kekuatan gempa yang dirasakan adalah II MMI.
Begitupun di Gunung Sitoli, Sibolga. Sedangkan di Medan dan sekitarnya III MMI.
Untuk Aceh, umumnya kekuatan yang dirasakan adalah II MMI, papar Syahnan.
Hingga pukul, 21.40 WIB tadi malam, tercatat tiga kali gempa susulan dengan
kekuatan 2 hingga 3 SR. Namun, gempa dengan kekuatan tersebut tidak lagi
dirasakan manusia. Gempa sore kemarin, merupakan gempa pertama yang terjadi di
tahun 2008 dengan kekuatan di atas 7 SR.
Dijelaskan Syahnan, gempa tektonik berkekuatan 7,3 SR, Rabu (20/2) sore
berpusat di 42 kilometer barat laut Sinabang, berada pada kedalaman 33
kilometer. Gempa dirasakan di seluruh kawasan Aceh.
Gempa awal terjadi pukul 15.08.13 WIB dan gempa susulan dengan kekuatan 5,5 dan
5,3 SR, masing-masing terjadi pada pukul 15.28.20 dan 16.05.08 WIB. Informasi
yang disampaikan Syahnan sekaligus meralat keterangan yang dilaporkan
sebelumnya, yaitu kekuatan gempa pertama tercatat berkekuatan 6,6 SR.
Seluruh Aceh panik
Di Kota Banda Aceh dan sekitarnya, aktivitas masyarakat sontak terhenti ketika
terjadi goyangan gempa, sore kemarin. Masyarakat yang berada di dalam rumah,
pusat perbelanjaan, perkantoran berhamburan ke luar dan duduk di lokasi-lokasi
terbuka. Bahkan tak sedikit pengguna jalan yang berhenti mendadak ketika
merasakan laju kendaraan tak stabil.
Sejumlah relawan RAPI yang berada di kawasan-kawasan pesisir, seperti di Krueng
Raya, Lampulo, Lhoknga, bahkan di kawasan Sabang secara terus menerus mengamati
kondisi air laut dan melaporkan ke posko pengendali informasi dan didengarkan
oleh ratusan relawan lainnya yang tersebar di berbagai penjuru Aceh. Relawan
RAPI yang berada di tengah-tengah masyarakat mengutip informasi tersebut dan
mengarahkan warga di sekitarnya agar tidak panik karena setelah lebih 15 menit
pascagempa tak terlihat tanda-tanda terjadinya
tsunami.(zia/nal/nas/min/muk/nr/az/swa/ib/bah/as/yd)
Sumber: Serambi
---------------------------------
Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og notisblokk.