“ BRR KAKI TANGAN JAKARTA”
   
   
   
  Banyak suka dan duka yang menghiasi wajah bumi serambi Mekkah ( Acheh ) pasca 
Tsunami 26-12-2004 diantara suka tercermin diwajah para pejabat BRR yang 
hari-harinya melangkah sebuah harapan yang  terbayangkan bagaimana hanya 
memperoleh kesenangan yang melimpah ruwah  dengan mengolah dana segar yang 
mengalir dari berbagai belahan dunia sebagai dana sumbangan sukarela 
kemanusiaan. Kenyatannya amanah untuk membantu manusia yang terkena musibah 
Tsunami yang maha dasjat di abad ini malah disalah gunakan oleh para dagelan 
BRR yang pada umumnya mereka membiarkan penderitaan rakyat Acheh dan Nias hidup 
yang tak menentu dan kehilangan segala-galanya, harapan yang dinantikan dari 
sesama manusia malah dilahab oleh manusia yang bermental sjeitan bahasa 
terangnya mereka yang duduk di BRR telah menjadi raja TEGA.
   
  Kalau duka sedang dirasakan oleh para korban tsunami dan korban konflik 
perang di Acheh dan sampai kapanpun duka tetap masih menyelimuti langit dan 
bumi Nusantara selama sistem NKRI itu masih menjadi Tuhan bagi para 
bandit-bandit Jakarta dan pemaksaan kehendak pada setiap warga negara dengan 
dominasinya peran militer didalam sistem NKRI itu sendiri apakah didalam 
perpolitikan, kultur/budaya dan berbagai kehidupan sehari-hari. Sedangkan 
demokrasi yang sering dikampayekan hanya semboyan belaka untuk menutupi sistem 
otoriter dimata International.
   
  Kalau dilihat akar masaalahnya yang terjadi di BRR adalah bukan datangnya 
dari para anggota BRR itu sendiri karena mereka hanya budak suruhan Jakarta dan 
mereka hanya sebagai kaki tangan Jakarta  karena sebelum tim BRR ini dibentuk 
sudah ada satu program dari pemerintah Indonesia untuk membentuk pemerintah 
tandingan di Acheh karena pemerintahan sipil mulai dari Gubernur hingga ke 
kepdes/kepaladesa sudah lumpuh di Acheh, apalagi ditambah bencana tsunami yang 
telah meluluhlantakkan Acheh hingga telah melumpuhkan ke segala lini 
pemerintahan sipil di Acheh dan hal ini juga diperparah oleh situasi konflik 
Acheh yang telah melelahkan pemerintah jakarta di Acheh.
   
  Jelasnya situasi yang tak menentu hingga kehilangan kontrol Jakarta di Acheh 
pasca Tsunami dan juga diperparah oleh konflik Acheh, sebenarnya Pemerintah 
Indonesia sama sekali tidak percaya terhadap pemerintahan sipil di Acheh dan 
jelasnya Jakarta tidak percaya dengan bangsa Acheh sekalipun orang-orang Acheh 
yang telah bersumpah setia dengan Indonesia yang bertuhan Pancasila akhirnya 
oleh Presiden SBY bersama antek-anteknya membentuk satu badan pemerintahan 
tandingan yang sekarang lebih populer dengan nama BRR ( Badan Rekontruksi dan 
Rehabilisasi ) padahal ini semua sebuah propaganda Pemerintah SBY seolah-olah 
BRR ini satu badan yang mengurus tentang kesejahterahan Acheh dan Nias  sesuai 
dengan namanya.
   
  Bagaimana bisa kita akui kejujuran para algojo/budak Jakarta yang duduk di 
BRR ini, mereka langsung tunduk dibawah Presiden dan pertanggungjawaban 
kegiatannya juga pada Presiden. Jadi apa maknanya fungsi Gubernur yang ada di 
Acheh sebagai kepala daerah yang juga di bantu oleh berbagai/para kepala dinas, 
yang anehnya juga banyaknya Kakanwil/Kepala kantor wilayah.
   
  Kakanwil yang begitu banyak  yang mewakili berbagai departemen, mereka tunduk 
dibawah Dirjen dan ke Mentri. Dan kepala Dinas mencakup berbagai kepala dinas, 
ini langsung tunduk dibawah Gubernur kalau di Acheh terjadi bencana alam 
seperti Tsunami atawa yang lainnya kepala dinas ini bisa difungsikan.
   
  Bisa kita lihat apa kerjanya BRR dan apa kerjanya Gubernur bersama para 
kepala dinasnya dan apa kerjanya Kakannwil sungguh sangat aneh bentuk satu 
wilayah/provinsi yang notabenenya semua harus tunduk dibawah tapak Jakarta 
sehingga kerja di provinsi jadi tumpang tindih/amboradul sehingga fungsi kepala 
daerah ( Gubernur ) hanya sebuah nama saja padahal gubernur tak lebih tukang 
setempel  Tuan Jakarta.Ini bukan saja terjadi di Acheh tapi juga terjadi 
diseluruh provinsi yang ada di Indonesia.
   
  Belum lagi fungsi Pangdam dan Kapolda yang kerjanya hanya sebagai  mata-mata 
Jakarta bahasa halusnya mereka sebagai pilar NKRI di daerah, siapa saja yang 
dicurigai tetap berhadapan dengan Pangdam dan Kapolda setelah itu akan 
diteruskan ke Mabes TNI setelah di Mabes TNI/BIN hingga ke Presiden 
ujung-ujungnya sudah ada keputusan ini dan itu begitulah gambaran pemerintahan 
dengan sistem NKRI yang sangat sentralistik.
   
  Salah satu solusi yang baik diantara yang terbaik para pekerja sosial, 
pekerja kemanusiaan, LSM/NGO’s dan bangsa Acheh yang masih mencintai dirinya 
sendiri bersatu padu untuk membentuk satu team memberitahukan secara rutin 
kepada badan-badan dunia yang masih bekerja di Acheh bahwa BRR bukan satu badan 
yang mengurusi tentang Rekontruksi dan rehabilitasi dan untuk para korban 
tsunami, ini harus disertai dengan data yang akurat dan diberitahukan juga 
kepada donotur-donotur bahwa mereka BRR adalah perampokan uang korban tsunami 
dengan pembuktian berapa besarnya gaji para anggota BRR yang tidak sesuai 
dengan kerjanya.
  Laporan ini mesti dilakukan secara rutin agar Dunia tahu dan donoturpun ikut 
tahu.
   
  Sebagai patriot bangsa khususnya bagi para pejuang pembebasan National Acheh 
jangan sampai dijebak kedalam sistem NKRI karena bagaimanapun tingginya jabatan 
yang akan dihadiahkan sekalipun Gubernur apalagi mentri kabinet NKRI kepada 
bangsa Acheh tetap hanya sebuah kadoh busuk yang akhirnya tetap tidak dipercaya 
karena pemberian jabatan penting oleh penjajah Indonesia hanya pembunuhan 
karakter dan pembunuhan Ideologi Acheh kepada bangsa Acheh akhirnya, yang 
mendapatkan jabatan itu menjadi manusia boneka penjajah Indonesia.
  Selamat mencoba
   
  
  
  
  
  

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke