Eks Bendahara GAM Mengeluh ke DPRK, Tiga Peluru Masih Bersarang di Tubuhnya
Selasa, 11 Maret 2008
Banda Aceh | Harian Aceh—Mantan Bendahara Sagoe Gerakan Aceh Merdeka, Wilayah
Perelak, Aceh Timur, Armia, 43, kemarin mendatangi kantor DPRK Banda Aceh.
Begitu diterima Ketua DPRK Banda Aceh Muntasir Hamid, ia menumpahkan
kekecewaannya tentang kinerja Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA).
“Peluru yang bersarang di tubuh saya sampai sekarang belum bisa diangkat karena
tak ada bantuan dari BRA,” katanya, kepada pers, sembari menunjukkan bekas luka
tembak di bagian tubuhnya.
Armia lolos dari maut tatkala terjadi penyergapan oleh aparat TNI di tempat
persembunyianya yang menewaskan wartawan RCTI Jakarta, Ersa Siregar. Ini
terjadi pada saat konflik. Dia berhasil lari menggunakan bot angkutan kayu.
Elsa tidak berhasil meyelamatkan diri, dan Armia sendiri terkena tembakan di
bagian tangan kanan, pinggang dan paha. Sampai kini tiga peluru masih bersarang
di paha bagian kanan.
Menurut Armia, kunjungannya ke DPRK Banda Aceh, hanya sekadar untuk
silahturrahmi, selain menyampaikan keluhan terhadap pelayanan dan perhatian BRA
terhadap eks kombatan GAM yang selama ini belum mendapatkan bantuan. “Masih
banyak eks anggota GAM yang belum mendapatkan bantuan dan biaya pengobatan BRA.
Saya tidak bisa menyebutkan satu persatu. Yang pasti kelompok kami yang
beranggotakan 12 orang belum mendapatkan bantuan apa-apa,” katanya.
Masalah ini, kata dia, sudah disampaikan kepada Ketua KPA Pusar Muzakir Manaf
dan ketua BRA, Nur Djuli bahkan kepada Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. “Tetapi
sampai saat ini belum mendapatkan tanggapan yang positif.”
Dalam pertemuan itu, di ruang kerja Ketua DPRK itu Armia didampingi kawan
perjuangannya Cek Mus,45. Dia menumpahkan keluh kesahnya kepada sejumlah
wartawan yang hadir. Dia juga memperlihatkan bekas luka tembakan di bagian
tangan kanan, paha dan pinggang. Di tempat yang diperlihatkan itu masih tampak
bekas jahitan. “Di paha saya masih tersisa tiga butir peluru yang belum bisa di
angkat,” katanya.
Konon, jika dioperasi akan menyebabkan kelumpuhan. Jadi, menurut dokter, yang
pernah menangani operasi ini menyarankan dia berobat ke Penang, Malaysia. “Di
sana ada peralatan sedot peluru yang tidak akan menimbulkan efek samping,”
imbuhnya.
Menanggapi kasus ini, Ketua DPRK Banda Aceh, Muntasir Hamid, menyatakan BRA
agar meningkatkan kinerjanya. “Saya mohon kepada BRA perduli terhadap korban
konflik ini, jika tidak kami akan mengupayakan bantuan pengobatan terhadapnya,”
imbuh Muntasir di ruang kerjanya.
Dia menjelaskan, sampai kini masih banyak mantan kombatan GAM yang belum
mendapatkan dana bantuan reintegrasi, sehingga dikawatirkan akan menimbulkan
konflik baru diantara sesama mantan kombatan GAM. “Pimpinan BRA gagal dalam
menjalankan reintegrasi damai Aceh,” katanya.(taz)
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the
boot with the All-new Yahoo! Mail. Click on Options in Mail and switch to New
Mail today or register for free at http://mail.yahoo.ca