----- Original Message ----- From: sangumang kusni To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, March 14, 2008 12:52 PM Subject: catatan bantingmurung: ri, jangan hancurkan hidup kami! [1]
Catatan Bantingmurung: RI, JANGAN HANCURKAN HIDUP KAMI! [1] Dalam perjalanan ke Bantingmurung, aku, Rara dan Ken Prita, ibu anakku, menyempatkan diri mampir ke Flores setelah melalui Padang Bai, Bali, dan Lombok. Flores sejak lama menarik perhatianku setelah mendengar keterangan melalui tukar-menukar surat listrik [sulis] dengan seorang pemuka reliji yang tidak terlalu relijius di Ende, penyimak karya-karya folosof Perancis, Paul Ricoeur yang sekarang berada di Roma. Melalui korespondensi sulis, pemuka agama Flores ini mengisahkan kegiatan-kegiatannya memberdayakan masyarakat agar menjadi aktor pemberdayaan diri sendiri dan tidak menjadi obyek pembangunan [sesuai konsep Paulo Freire], seperti yang dipetakan oleh "agama" pembangunan Orde Baru. Pembangunan yang menyamarkan penghisapan, penindasan, perampokan sumber daya alam lokal untuk kepentingan penyelenggara negara , perusakan lingkungan dan budaya lokal [Rinciannya kali ini aku cadangkan!] .Keadaan beginilah yang menyebabkan orang-orang di daerah menyebut diri mereka dijajah oleh bangsa sendiri.Rebulik Indonesia sudah hilang. Pendapat yang sering kudengar sampai jauh di hulu-hulu sungai.Keadaan yang melempar api ke dalam sekam dan tanah gambut di musim kemarau. Ini adalah salah satu jasa Jendral Soeharto, sang "presiden agung dan segala kemuliaannya". Tapi selama kekuasaannya, dari awal hingga akhir kekuasannya merah oleh darah rakyat dibunuh dibawah perintah dan kuasanya. Jasa "presiden agung", sebagai varian dari nama "Sultan Agung" dari Mataram dicatat sampai sekarang pada kebakaran abadi Bukit Soeharto yang kaya akan batubara, di Kalimantan Timur. Jasa Orba Soeharto jugalah yang mengobah hutan tropis Kalimantan Tengah menjadi padang pasir, mengeringkan danau, membunuh ikan-ikan dengan Proyek Lahan Sejuta Hektarnya. Semua ini tercatat di langit dan lubuk sungai-sungai Kalimantan yang penuh air raksa, hingga ikan pun kehilangan sisik. Tercatat pada sisa-sisa hutan yang membuat enggang dan orang hutan kehilangan rumah dan sarang, lalu mati sendiri disusul oleh kematian pelan-pelan penduduk sungai yang mengkonsumsi air raksa saban hari. Pohon-pohon obat-obatan tradisional punah bersama dengan pembabatan hutan secara ganas dan melalui proyek agung HPH. Yang paling ironik dan ironisme selalu menyakitkan, tusukannya lebih tajam dari tusukan badek, ketika tanaman lokal Kalimantan diklaim hak patennya oleh mancanegara. Ini sungguh-sungguh penghinaan telanjang terhadap penduduk lokal, mencabik-cabik harga diri dan martabat diri nasional. Tapi negeri yang didominasi oleh nilai munafik dan narsis, harga diri dan martabat diri, bukan lagi sesuatu yang patut dihitung. Aku sungguh ketiadaan kata mencatat untuk mengagungkan "jasa-jasa" ini yang berujung dengan tragedi dan kematian. Aku kehabisan kata untuk memuja "jasa agung" otoritarianisme dan militerisme di pulau kampung lahirku. Sampai mengakui diri Dayak saja sudah dicurigai sebagai awal dari separatisme. Oo, ooo, bisa-bisa pikiran dan tuturan begini dipandang sebagai tidak zamani, dinilai sebagai suara "orang tua" di hadapan anak-anak muda sekali pun sudah berusia 30-40an -- masih tanpa muka menyebut diri anak muda, sementara suara tangis anak-anaknya mengisi ruang memekakkan telinga. Dengan tuturan begini, aku bahkan pernah dituding oleh yang menyebut diri "anak muda" sebagai "tidak ngindo". Tudingan yang jika kupikirkan, apa bedanya dengan kecurigaan Orba Soeharto yang otoriter dan mencurigai orang Dayak menyebut dirinya sebagai Dayak ketika nilai republiken dan keindonesiaan ditaruh dibawah telapak sepatu bot tentara? Barat sibuk dengan Shoah, likwidasi Yahudi oleh Hitler tapi bungkam terhadap masakre terbesar di abad ke-20 pada September 1965. Malah sejak awal menyokong pemasakre. Suatu ujud kemunafikan lain terhadap kemanusiaan. berlatar kepentingan politik, ekonomi dan militer global. Apakah ini yang disebut pragmatisme? Dan dalam kenyataan pragmatisme itu sama dengan kemunafikan terhadap kemanusiaan sesuai kepentingan sesaat. Aku melihat, betapa gampangnya manusia merosot jadi mahluk rimba. Narsisme dan mentalitas budak adalah mataair khianat dan daerah di mana terjadi pembunuhan ganas tanpa belas kasihan terhadap nilai kemanusiaan. Narsisme dalam sastra-seni, apakah mempunyai nilai khusus yang tidak berbahaya? Apakah narsisme bukan suatu petunjuk tentang keterasingan diri dari masyarakat dan kehidupan? Tanda kementahan jiwa yang tidak kompatibel dengan usia? Jumlah bacaan dan tingkat pendidikan bukan tanda kepintaran dan kedewasaan seseorang. Jumlah bacaaan dan tingkat pendidikan tidak jarang memerosotkan orang jadi bajingan berdasi dan dibawah predikat intelek. Sejarah berbagai negeri sudah mencatatnya. Yang paling berkesan padaku dalam hubungan ini adalah "kepongahan intelektual" tipe Li Li San dengan kelompok "Bolsyewik 23,5"nya di Tiongkok yang menghancurkan Tentara Merah. Aku khawatir bahwa Li Lisan-isme menjangkiti Indonesia sekarang ini. "Narsisme mengantar orang ke jalan pintas dan membuat kita menjadi pengemis sekalipun mengenakan jas dan dasi. Kalau kau tak melihat pengemis dan yang bermentalitas pengemis begini, kau jadi orang sangat bego, Pang Rara", ujar Ken Prita, ibu Rara anak perempuanku, ketika melihat aku hanya memahami pengemisan hanya sebatas pada para pengemis yang berkeliaran di jalan-jalan kota. Dengan kata-kata ini, yang ingin ditunjukkan oleh Ken Prita terutama pola pikir dan mentalitas pengemis. "Pengemis berdasi yang menduduki berbagai jabatan malah menimbulkan petaka publik tak kepalang", tambah Ken Prita dengan sengit sesemangat eyangnya yang berdarah orang Lombok. "Pengemis dan orang-orang bermentalitas pengemis seperti inilah yang turut merusak negeri dan bangsa ini", ujarnya kian bersemangat. Aku mendengarnya tanpa tanggapan sebab aku tahu ia sedang bercurhat. "Menumpahkan air pahit", ujar orang Tiongkok di masa Revolusi Besar Kebudayaan Proletar yang berdampak dunia itu. Di hadapan keadaan begini, orang gampang kehilangan nalar dan mengambil jalan pintas pemberontakan dan merdeka. Keluar dari NKRI yang diagung-agungkan secara tanpa nalar pula karena keterpencilan dari lapangan, sibuk dengan lobbi dan pergaulan di tingkat elite Jakarta. NKRI yang sentralistis bukan jalan selamat bagi negeri dan bangsa ini! NKRI berbeda dengan Republik Indonesia. Karena itu aku sering berkata pada berbagai kesempatan: Jangan tunggu Jakarta! Tapi jangan pula tinggalkan republik dan Indonesia sebagai konsep berbangsa dan bernegeri. Republik dan Indonesia adalah perekat kebhinnekaan kita. Jangan sampai menjadikan kemarahan sebagai pilihan politik, jika kita sadar bhwa pilihan politik akan berdampak jauh dalam ukuran waktu dan lingkup serta bersifat publik. Sebab masalahnya, bukan terletak pada tidak adanya perekat bangsa dan negeri yang majemuk, seperti yang diajukan oleh Moh.Irsan, mantan Dubes RI untuk Negeri Belanda dalam diskusi khusus tengah malam di Koperasi Restoran Indonesia Paris, tapi perekat itu telah dibuang untuk menamakan kerajaan, kerajaan keluarga dengan segala pangeran dan bangsawannya, sebagai Republik Indonesia. Sampai hari ini, kukira, masalahnya bukan mencari perekat yang sudah ada atau menggantikan perekat, tapi bagaimana menegakkan Republik Indonesia sebagai konsep bernegara dan berbangsa. Apakah membedakan warga negara RI sebagai asli dan tidak asli, perlunya SKBRI, warga turunan dan lain-lain sejenis ... rasuk [compatible] dengan nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan. Nilai republiken dan berkindonesiaan adalah rangkaian nilai patokan bagi semua lembaga, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Juga berlaku tanpa kecuali terhadap aparat negara seperti angkatan bersenjata , penjara, hukum dan segala peraturan. Rangkaian nilai republiken dan berkindonesiaan tidak bisa dilepaskan oleh semua lembaga dan institusi RI berbagai tingkat. Apalagi jika menterapkan konsep negara di luar pandangan V.I.Lenin [lihat karya Lenin: "Negara dan Revolusi"] seperti yang dianut oleh penganut konsep negara kesejahteraan [wellfare state, l'état providence]. Yang terjadi selama berdarsawarsa di Indonesia setelah 1965 adalah pengingkaran terhadap rangkaian perekat ini sehingga menempatkan Indonesia berada di ujung tanduk krisis multi dimensional. Keadaan yang membuat banyak orang hilang harapan, apalagi bagi angkatan yang takut "mendengar dan menuturkan kebenaran", "angkatan tanpa sejarah" karena sukarela tak mau mengindahkan sejarah. Sukarela jadi budak "uang sang raja" [l'argent roi]. Korespondensi melalui sulis dengan seorang pemuka agama yang pengagum Paul Ricoeur di Flores ini, dan melebarkan gereja hingga alam terbuka, membuatku sulit untuk menolak hasrat mengunjungi pulau yang menyisakan pengaruh Spanyol di Indonesia dan mencatat perkembangan sejarah negeri yang sekarang bernama Indonesia. Kepentingan, entah itu kepentingan pribadi atau publik, termasuk kepentingan-kepentingan dan lebih-lebih kepentingan ekonomi-politik, sering mendasari tindakan seseorang atau negara -- tanpa usah terperosok pada pada pandangan determinisme. Naiknya Orba Soeharto dan yang disebut "Kudeta PKI" baik Madiun atau September 1965, kukira tidak lepas dari latar kepentingan ekonomi-politik-militer global strategis di berbagai tingkat:lokal dan internasional. Kepentingan-kepentingan ini sering tidak mengindahkan jumlah nyawa yang harus dikorbankan. Sejak dari naik ke panggung hingga meninggalkan kursi kepresidenan, Shoerta hekekuasaah kBarat yang menyokong "Kudeta Merangkak" Soeharto, turut basah tangannya dengan darah rakyat Indonesia yang kemudian malu-malu diakui dengan menjatuhkan Soeharto tanpa pertumpahan darah . Tanpa sokongan Barat, melalui IGGI dan kemudian CGI, Orba tidak mungkin bisa bertahan selama berdasawarsa, sambil kemudian berbicara sebagai jago HAM, "hak intervensi atas nama HAM". Hal ini juga yang kuketengahkan dalam suatu diskusi di New South Wales University di Sydney tahun 1991 tanpa mendapat tanggapan serius dari para profesor yang mengakui beken dalam soal HAM. Kecuali mencoba mengalihkan masalah pokok ke soal sekunder, taktik klasik dari orang kepepet dalam diskusi "pokrol bambu" di balik label diskusi akademi. Apa yang kemudian kudapatkan di Flores dan menjadi bahan renunganku di Bantingmurung di antara deru air terjun dan kepak sayap ribuan kupu-kupu--lambang kekayaan negeri bhinneka hasian ini? Paris, Menjelang Musim Semi 2008. -------------------------------------------------- JJ.Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris. ------------------------------------------------------------------------------ Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel -------------------------------------------------------------------------------- Real people. Real questions. Real answers. Share what you know. -------------------------------------------------------------------------------- No virus found in this incoming message. Checked by AVG. Version: 7.5.519 / Virus Database: 269.21.7/1328 - Release Date: 3/13/2008 11:31 AM
