http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=45290&rubrik=1&kategori=2&topik=44
usman lampoh awe gila pangkat,anak buahnya lakukan propaganda ala nkri

----- Original Message ----
From: Ali Al Asytar <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, March 27, 2008 11:05:30 PM
Subject: «PPDi» SIAPAKAH KUNTORO CS DAN BRRNYA? MASIH BELUMTAUKAH KITA SIAPA 
MEREKA ITU?

Kamis, 27 Maret 2008, 01:54 WIB
BRR Ingkar Janji, Warga Calok Emosi
Reporter : AK News

Banda Aceh, acehkita.com. Korban tsunami asal Desa Calok, Kecamatan Simpang 
Mamplam, Kabupaten Bireuen, sempat dilanda emosi saat menagih janji pencairan 
dana rehabilitasi rumah di kantor Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) 
Aceh-Nias, Rabu (26/3). Gara-garanya, BRR yang sebelumnya berjanji akan merehab 
rumah 28 unit rumah, tidak mau menepati janjinya.
Warga Calok tiba di kantor BRR Pusat di Lueng Bata menjelang subuh atau sekira 
pukul 05.00 WIB. Begitu tiba, warga yang berangkat dari Desa Calok pada pukul 
01.00 dinihari, langsung mendirikan dua tenda yang terbuat dari terpal di 
pekarangan kantor BRR. Pengunjukrasa didominasi kaum perempuan. Tak sedikit 
dari mereka membawa anak kecil.
Kedatangan warga Calok sejak pagi itu sempat mengejutkan pegawai BRR. Pasalnya, 
begitu tiba di kantor, pegawai BRR langsung melihat pemandangan tak lazim: dua 
tenda didirikan dan puluhan warga berkumpul di pekarangan kantor yang 
berselebahan dengan Dinas Sumber Daya Air itu.
Hajarah, warga Calok, mengatakan, kedatangan mereka ke BRR untuk menagih janji 
realisasi dana rehab rumah. Pasalnya, sebanyak 28 dari 78 unit rumah bantuan 
TDH Belanda dinilai tidak layak huni. Selain tidak ada plafon, dinding rumah 
yang dibangun dengan batako juga sudah retak. “Kualitas batako tidak bagus. 
Dipegang saja, batakonya sudah rusak,” kata Hajarah kepada acehkita.com.
Perempuan berusia 55 tahun itu menyebutkan, warga sebenarnya sudah lelah 
berdelegasi ke BRR menagih janji. Ini merupakan kali keempat mereka mendatangi 
BRR. Saat berunjukrasa pada pertengahan Februari lalu, kata Hajarah, seorang 
pejabat BRR yaitu Wisnubroto berjanji akan membantu dana rehab. Bahkan, 
Wisnubroto membuat janji yang ditulis di atas selembar kertas. Belakangan, 
kertas perjanjian itu dibagi-bagikan warga kepada wartawan.
“Kami dijanjikan diberi dana rehab rumah. Tapi sampai sekarang tidak dikasih, 
makanya kami pergi ke sini lagi,” kata Hajarah. “Kalau tidak beres hari ini, 
kami tidak mau pulang ke kampung.”
Pascatsunami, TDH Belanda membangun rumah tipe 36 sebanyak 78 unit di Desa 
Calok. Dari jumlah itu, 50 rumah telah dihuni warga. Sementara 28 unit lagi 
tidak dihuni karena dinilai tidak layak. Pascatsunami, warga Calok tinggal di 
barak pengungsian Cot Batee Gulungku.
Menurut Hajarah, BRR memaksa mereka kembali ke kampung halaman kendati rumah 
yang dijanjikan bagi mereka belum siap. “Kami tinggal di barak. Baru tiga bulan 
lalu kembali ke kampung. Karena rumah tidak layak huni, kami membuat kemah di 
depan rumah,” ujarnya yang dibenarkan sejumlah warga lain.
Kendati sejak subuh telah berada di BRR, warga tak kunjung ditemui pejabat 
lembaga tersebut. Baru pada pukul 15.00 WIB lima delegasi warga diterima untuk 
berdialog dengan Deputi bidang Perumahan dan Permukiman BRR Bambang Sudiatmo, 
Kepala Pengendalian Aset dan Administrasi Wisnubroto, Akmal Abzal dari 
Direktorat Komunikasi, dan sejumlah staf Kedeputian Perumahan, di Media Center.
Kepada warga, Wisnubroto menyampaikan bahwa BRR tidak akan memberikan dana 
perbaikan rumah bantuan TDH Belanda tersebut. “Tidak bisa diberikan bantuan 
dari BRR, karena sudah mendapatkan bantuan dari lembaga lain. Ketentuan BRR, 
korban tsunami hanya diberikan bantuan sekali. Dengan berat hati kami nyatakan 
tidak bisa dibantu,” kata Wisnubroto.
Pernyataan ini menyulut emosi lima warga yang sedang bertemu dengan pihak BRR. 
Namun, perwakilan yang dipimpin Ibrahim itu masih berupaya menahan emosi. 
“Kuntoro telah berjanji, bahkan dalam sebuah pertemuan Kuntoro langsung 
memerintahkan seorang staf BRR untuk menangani ini,” kata Ibrahim dengan nada 
tinggi.
Ibrahim menyebutkan, warga bisa saja menerima keputusan BRR yang tidak membantu 
perbaikan rumah tersebut. Namun, BRR harus menandatangani hitam di atas putih 
bahwa lembaga yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto itu telah menipu dan 
memanipulasi data korban tsunami.
“Kami ke sini bukan untuk menuntut hak BRR, kami hanya menuntut hak kami. Tapi 
sekarang telah dipermainkan oleh oknum BRR,” kata Ibrahim, keras. Dia 
menambahkan, lembaga BRR ada karena adanya tsunami yang menyebabkan ratusan 
warga meninggal dunia.
Keadaan tidak terkendali ketika Wisnubroto menanggapi pernyataan Ibrahim. Saat 
itu, Wisnu membantah BRR telah memanipulasi data korban tsunami dan meminta 
Ibrahim bersikap tenang. Dalam pertemuan yang dijaga ketat aparat kepolisian 
dan security BRR, suasana berubah tegang. Melihat situasi yang memanas, Wisnu 
kemudian menutup pertemuan dan berusaha meninggalkan ruangan Media Center. 
Namun, Hajarah yang sudah dilanda emosi langsung berdiri dan menghadang 
Wisnubroto. Suasana menjadi semakin memanas, karena kelima warga sudah dilanda 
emosi. Bahkan beberapa perwakilan warga sempat memukul meja yang ada di Media 
Center. Sementara Ibrahim mencoba menggapai Wisnu namun berhasil dicegah oleh 
warga lain. Sementara di luar ruang pertemuan, suasana juga memanas. Warga 
berkumpul di pintu masuk Media Center yang dijaga ketat aparat kepolisian. 
Warga berteriak sambil sesekali melontarkan hujatan kepada BRR.
Kondisi bisa dikendalikan setelah Wisnu bersedia berdialog lagi. Namun, BRR 
tetap pada keputusan sebelumnya. “Kita sudah rapat dan sudah pada kesimpulan 
bahwa yang 28 rumah ini tidak bisa dibantu,” kata dia kepada wartawan di 
sela-sela pertemuan tersebut.
Aksi ini baru bubar menjelang magrib.
Keputusan BRR untuk tidak membantu perbaikan rumah bantuan TDH Belanda itu 
lebih disebabkan adanya persoalan sosial di kalangan warga. Bahkan, kepala desa 
Calok telah mengirim surat kepada BRR. “Di situ disebutkan bahwa BRR tidak 
boleh membantu yang 28 unit saja. Kalau dibantu, maka yang 50 rumah juga harus 
dibantu,” kata dia. “Jelas sekali surat dari camat dan geusyik bahwa kondisi 
awalnya sama, antara yang 50 rumah dan 28 unit rumah.”
Wisnu menyebutkan, rendahnya kualitas rumah yang diterima warga tidak terlepas 
dari mekanisme pembangunan melalui swakelola. Apalagi, ada indikasi warga tidak 
menuntaskan pembangunan rumah mereka sendiri. 
“Tukangnya itu warga sendiri. TDH Belanda tidak mempunyai manajemen, sehingga 
mereka minta bantuan Forum Solidaritas Masyarakat (Fosoma) Peusangan. Mereka 
memfasilitasi material. Kalau butuh semen, atau cincin sumur, itu semuanya 
dikasih,” kata Wisnu. [dzie]
 


















Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. 
 


      
____________________________________________________________________________________
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.  
http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com

Kirim email ke