http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=46513&rubrik=5&kategori=1&topik=45
24/04/2008 09:55 WIB


Korban Tsunami Duduki Kantor BRR
* Anak-anak dan Ibu-ibu Tidur di Tenda

[ rubrik: Serambi Pase | topik: Rekontruksi & Rehabilitasi Aceh ]



LHOKSEUMAWE - Seribuan pengunjukrasa yang merupakan korban tsunami dari lima 
desa dalam wilayah Pemerintah Kota Lhokseumawe sempat menduduki halaman kantor 
BRR Regional II di Desa Moun Geudong sejak Selasa (22/4) hingga kemarin siang. 


Hal ini tidak terlepas dari jawaban Kepala BRR Regional II, T Maksal Saputra 
terhadap tuntutan para korban tsunami. T Maksal menyatakan warga yang belum 
terdata dipersilahkan melapor ke kepala desa masing-masing atau langsung ke 
kantor BRR. 

Tetapi, data yang telah masuk akan diverifikasi lagi pada Juni mendatang. 
Terkait jumlah bantuan uang rehab rumah, Maksal menjelaskan akan disampaikan ke 
BRR Pusat di Banda Aceh. Dia juga mengakui aksi para korban tsunami itu telah 
menyebabkan aktivitasnya di kantornya terhenti. Pastinya aktivitas staf di luar 
kantor BRR tetap dilakukan, meskipun tidak maksimal, katanya. Pernyataan itu 
ternyata tidak memuaskan para pendemo, sehingga mareka nekad menduduki kantor 
BRR hingga kemarin. Pendemo yang terus bertambah itu pun membuat tenda dan 
membuka dapur umum di halaman kantor BRR. 

Penanggungjawab Gerakan Rakyat Korban Tsunami (GRKT), Sofyan, Rabu (23/4) 
menyatakan, para korban tsunami tetap akan menduduki kantor BRR bila belum ada 
keputusan pasti, terkait ganti rugi rehab rumah Rp 15 juta perunit. 

Sofyan menjelaskan para korban tsunami telah mendirikan tenda di depan kantor 
BRR dan konsumsi telah dipersiapkan dari desa masing-masing. Meskipun anak-anak 
dan ibu-ibu tidur di bawah tenda dan teras kantor, belum ada yang jatuh sakit, 
ujarnya. 

Selain itu, menurut sumber Serambi, para pendemo yang hendak menghalangi 
aktivitas perkantoran BRR, nyaris bentrok dengan pihak kepolisian yang 
disiagakan di sekitar gedung. Namun setelah dilalog panjang, suasana kembali 
kondusif. 

Diberitakan sebelumnya, seribuan korban tsunami dari lima desa kedua kali 
Selasa (22/4) mendatangi kantor BBR Regional II yakni Desa Pusong Baru, Pusong 
Lama, Keude Aceh, Desa Blang Cut dan Desa Kuala (Meraksa). 

Mereka mengeluarkan tuntutan, diantaranya, BRR harus mendata kembali penerima 
bantuan uang rehab rumah, tetapi menolak Rp 2,5 juta, kecuali Rp 15 juta. 
Mendesak Presiden menyelesaikan persoalan yang ada pada korban tsunami. Meminta 
Walikota, DPRK Lhokseumawe serta semua unsur masyarakat lainnya bersama-sama 
memperjuangkan aspirasi mareka. 

Terakhir, mengecam dan meminta Kuntoro mundur jadi Ketua Bapel BRR karena 
dinilai tidak berhasil dan tidak konsisten terhadap penyelesaian rehabilitasi 
dan rekontruksi di Aceh.(bah) 

Kirim email ke