Refelksi: Bukan hal baru pada negeara yang sistem pemerintahannya berkarakter 
feodal atau kolonial. Salah satu unsur policy yang selalu dijalankan ialah 
diciptaan raja-raja kecil.  Dari segi kepentingan pribadi raja-raja kecil ini  
maupun induk kerjaaan ialah mereka harus memuja-muji induk kerajaan dengan  
mempraktekan metode kerja yang lazim dikenal dalam istilah :"menjilat ke atas 
menginjak-injak ke bawah". Faktor utama dari methode kerja "menjilat ke atas 
dan menginjak-injak ke bawah" ialah supaya upeti ke kerajaan induk berjalan 
lancar sebagaimana mestinya. 

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/12/b15.htm


DARI WARUNG GLOBAL
Otda Lahirkan ''Raja-raja'', Masyarakat Menjerit-Tersiksa 

APA yang dikatakan KPK bahwa ''pemda seperti kompeni'' tentunya bukanlah sebuah 
pernyataan tanpa bukti. Ini bisa kita lihat di sekeliling kita, dengan adanya 
otonomi daerah di kabupaten terkesan ada raja-raja kecil yakni pemimpinnya. 
Muncullah beragam perda yang semuanya untuk menarik dana masyarakat, baik dalam 
restribusi atau pajak. Masyarakat menjerit dan tersiksa. Itulah opini 
masyarakat dalam acara Warung Global, Sabtu (10/5). Berikut rangkuman 
selengkapnya. 

-------------------------------

Wisnu Segara Putra di Gianyar berpendapat pernyataan KPK sangat menyakitkan 
bagi pemerintah daerah di seluruh Indonesia, khususnya di Bali. Dengan alasan 
apa KPK menilai seperti itu? Seharusnya KPK yang ditetapkan dengan perturan 
pemerintah dan undang-undang tidak menilai pemerintah daerah seperti itu. Kalau 
mau melakukan penyelidikan apakah pemda melakukan korupsi harusnya turun 
langsung masuk ke bagian-bagian yang ada di pemda sendiri serta tidak menuduh 
seperti kompeni. KPK agar jangan menuduh sekejam itu.

Agung Adnyana di Sanur menjelaskan bahwa pernyataan itu juga harus cermat dan 
bijaksana. Ini adalah satu isu karena masih belum jelas, indikatornya apa? 
Kenapa bisa seperti itu? Seyogianya bapak-bapak yang sudah menjadi pejabat itu 
harus belajar lagi untuk melemparkan isu atau opini, sehingga jangan sampai 
membingungkan di bawah. Jangan boroknya di kejauhan tampak tapi boroknya yang 
dekat masih belum. Kalau memang betul KPK mau mengarahkan harus membuat 
kesepahaman di atas terlebih dulu.

Walek di Glogor menilai KPK berbicara berdasarkan data dan bukti yang jelas. 
Terlalu banyak perda yang menjelimet yang ujung-ujungnya birokrasinya terlalu 
banyak dan mengeluarkan uang. Kenapa pemerintah kita dari dulu tidak membentuk 
dalam satu pintu untuk perizinan apa pun, sehingga keuangan yang ada 
transparan. Masalahnya sekarang pemda masuk dalam era otonomi. Jelas sekali di 
sini yang dibicarakan adalah kerajaan-kerajaan kecil di daerah yang mana di 
setiap kabupaten bupati menjadi rajanya dan mempunyai kewenangan penuh mengatur 
perda, inilah yang disoroti KPK. Kenapa ini dipertentangkan?

Gede Biasa menjelaskan KPK dalam hal ini tidak asal berbicara tapi berdasarkan 
fakta di lapangan, disimpulkan seperti itulah di lapangan. Di Bali bisa 
dibuktikan ada kesan pemda mengadu domba masyarakat dengan memberikan izin pada 
bangunan vila. 

Tut De di Tabanan mengatakan menghilangkan kompeni-kompeni di daerah ini 
gampang yang penting ada niat yakni pertama, transparansi di masing-masing 
anggaran itu sebagaimana yang biasanya harus transparan, pendapatannya berapa, 
alirannya untuk apa saja, yang paling penting kalau ada kebocoran-kebocoran 
hukum harus diberlakukan. Kedua, Bawasda dibubarkan diganti dengan BPK atau 
orang Bawasda digabung dengan BPK. Jadi BPK mempunyai fungsi efektif sampai ke 
tingkat kecamatan. 

Nyoman Bangli di Kerobokan menilai benar apa yang dikatakan KPK karena cuma 
lain bentuknya. Kita sudah ditarik pajak, retribusi di mana-mana kita berhenti 
semua tujuannya hanya mengumpulkan uang. Harga-harga naik sehingga rakyat 
menderita. Tetapi ini tersembunyi sifatnya, tidak kelihatan seperti dulu 
penyiksaan-penyiksaannya. Tetapi sebetulnya masyarakat tersiksa, tidak oleh 
daerah saja dilakukan tapi apa-apa yang menyangkut kebijakan diputuskan dan 
dirancang oleh elite-elite. Inilah yang menjadi kompeni sehingga kebijakannya 
menyengsarakan rakyat.

Jondra di Kerobokan mengatakan memang benar yang disampaikan KPK karena memeras 
rakyat, cara mendapatkan uang dari rakyat. Mestinya pemda/pemkot bagaimana 
membuat daerahnya menjadi produktif. Di Bali kondisi ini dirasakan karena di 
Bali tidak ada hasil tambang sehingga satu-satunya jalan retribusi dari rakyat 
cekek sana-cekek sini khirnya pajak dipungut di mana-mana. Masyarakat menjual 
tanah murah-murah kepada investor karena tidak mampu bayar pajak. Kemudian 
investor kongkalikong dengan pemda akhirnya izin prinsip dan IMB terbit. Inilah 
contoh-contoh kongkret perilaku kompeni di daerah. * panca

Kirim email ke