----- Original Message ----- From: Bheka To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, May 15, 2008 1:06 PM Subject: [mediacare] Travel Journey : Aceh dan Sabang I
Aceh dan Sabang I Untuk melihat foto dan Artikel selengkapnya Aceh dan Sabang klik http://alambudaya.blogspot.com/2007/10/travel-journay-aceh-and-sabang.html Masyarakatnya yang religius, letaknya yang berada dipesisir, pemandangan alam yang begitu menawan, serta perjalanan historis panjang yang telah dilalui, menjadikan Aceh sebagai daerah Istimewa yang mempunyai keunaikan dan kekhasan tersendiri. Karakter masyarakat Aceh yang cenderung keras dan pemberani, seperti orang pesisir pada umumnya. Itu kesan pertama saya pada saat pertama menginjakkan kaki saya dibumi Aceh, namun lambat laun kesan tersebut akhirnya hilang setelah saya mengambil tas diruang tunggu bagasi pesawat dan Mereka menawarkan bantuan dengan ramah dan tulus. perjalanan dari Jakarta ke Aceh cukup melelahkan juga, walaupun kami menuju Aceh menggunakan pesawat terbang. Tidak banyak maskapai penerbangan mempunyai rute langsung Jakarta - Aceh, tapi harus transit terlebih dahulu dikota Medan. Dan meneruskan ke Aceh, sehingga lama perjalanan memakan waktu 4 sampai dengan 5 jam. Konon Agama Islam masuk ke Indonesia pertama kali dipantai pantai pesisir Aceh. membentang sepanjang selat malaka yang dibawa oleh para pedagang dari Arab dan persia, mereka melakukan perjalanan perdagangan menuju daerah Timur. Bumi aceh sebagai tempat singgah untuk memperbaiki kapal mereka dan juga berdagang dengan penduduk setempat. Namun seiring dengan waktu, pada akhir abad kedua barulah Islam berkembang pesat dan secara terang terangan disebarkan oleh para Ulama yang sebagian besar berasal dari Persia dan India. Dan pada tahun 225H diproklamirkanlah Kerajaan Islam Perlak, yang merupakan kerajaan Islam pertama dan terbesar di Asia Tenggara pada saat itu. Dengan Raja Pertamanya Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Aceh kemudian dikenal sebagai kota dan Pelabuhan Niaga yang ramai. Banyak tempat wisata dan situs sejarah yang ingin saya kunjungi hari ini, tetapi saya juga tidak ingin berharap banyak karena kita tiba pukul 4 sore. Sepanjang perjalanan saya masih banyak melihat puing - puing bangunan Setelah Aceh dilanda Musibah Tsunami, yang telah memakan banyak korban jiwa dan memporak porandakan bangunan yang ada. Pada umumnya masyarakat aceh bermata pencaharian Nelayan dan petani, banyak rumah yang dibangun dipesisir pantai dan sekarang hampir rata dengan tanah. Akomodasi dan penginapan di Aceh banyak hotel kelas melati yang banyak terdapat dipusat kota, tarif kamarpun bervariasi dari Rp 100.000 sampai dengan Rp 200.000. namun kondisi hotel banyak yang kurang terurus dan berantakan, ini disebabkan oleh musibah Tsunami yang banyak menghancurkan hotel dan rumah, pada umumnya banyak Turis dan pendatang yang menginap lebih dari 1 hari mencari rumah penduduk untuk disewa. Tarifnya pun sangat murah, antara Rp 35.000 sampai dengan Rp 50.000,- Kebanggaan arsitektur Masyarakat Aceh salah satunya adalah Mesjid Raya Baiturahman, mesjid ini terletak dipusat Kota Banda Aceh yang bersebelahan dengan Pasar Aceh, mesjid yang berdiri kokoh dan terawat ini masih digunakan sesuai dengan fungsinya sampai sekarang. sehingga merupakan Mesjid kebanggaan dan ikon masyarakat Aceh, Mesjid ini selamat dari musibah Tsunami meskipun sempat digenangi air setinggi 3 meter pada saat itu, namun mesjid ini sudah banyak menyelamatkan masyarakat Aceh pada musibah Tsunami tersebut. Mesjid Raya ini mempunyai Perjalanan historis yang panjang, dahulu pada tahun 1873 mesjid ini pernah dibakar pada saat Belanda menyerang wilayah ini. Namun kemarahan rakyat Aceh membuat belanda membangun kembali mesjid tersebut pada tahun 1875. mesjid ini mempunyai 5 kubah, kubah utama menjulang tinggi dan dalam interior mesjid banyak dihiasi ukiran yang unik dan menarik. Tidak salah Mesjid ini menjadi icon Masyarakat Aceh, karena keindahan arsitektur dan kokohnya bangunan mesjid ini. Didepan mesjid ada kolam air teratai yang berjarak 20 meter sampai batas gerbang utama mesjid, walaupun cuaca yang tidak mendukung. Saya tetap mengambil foto foto mesjid ini, dan pada saat cuaca bagus. Saya akan kembali untuk mengabadikan mesjid yang terindah dikota Aceh ini. Kota Banda Aceh juga memiliki Musium Negeri yang letaknya tidak jauh dari Mesjid Raya, jaraknya hanya 3 km dan kita tempuh hanya beberapa menit saja. Didalam musium banyak terdapat tulisan budaya Aceh, tarian, kerajinan, ragam hias, adat istiadat dan ukiran. Didalam komplek musium ini terdapat satu bangunan yang sangat mencolok, dan terlihat jelas dilihat dari jalan umum. Yaitu Rumoh Aceh, rumah adat Aceh yang berbentuk rumah panggung berpintu sempit, dan dihiasi oleh ukiran kayu yang sangat indah dan motif Aceh yang unik. Rumah adat ini terlihat sangat terawat baik, dan musiumnya pun terpelihara dengan baik. Banyak koleksi barang barang purbakala yang dimiliki oleh musium ini, diantaranya adalah Lonceng CakraDonya, lonceng ini merupakan hadiah dari Laksamana Ceng Ho pada tahun 1414. ini membuktikan, Aceh sejak dahulu merupakan kota dan Pelabuhan yang sangat ramai dikunjungi oleh pedagang yang datang dari berbagai Penjuru negara. saya jadi teringat dengan Nama Naggroe Aceh Darrusalam dalam bahasa Aceh yang berarti Negeri Aceh yang damai dan makmur. Melimpahnya alam dan hasil bumi Aceh membuat Belanda tertarik untuk berdagang dengan Aceh, lama kelamaan Belanda semakin mencengkram bumi aceh, memonopoli dan menguasai hasil bumi yang terdapat diAceh. Konon Aceh merupakan daerah yang sangat susah ditaklukan Belanda bila dibandingkan dengan daerah lain dinusantara ini. Setelah puas berkeliling melihat sejarah dan budaya Kota Aceh, kita melanjutkan perjalanan sebuah peninggalan bersejarah lainnya. Yang luput dari Musibah Tsunami yaitu Gunongan, tempat ini terletak ditengah kota dan berada dikawasan dataran tinggi. Gunongan merupakan peninggalan bersejarah tahun 1600, bangunan ini adalah peninggalan Sultan Iskandar Muda. Dahulu Kerajaan Aceh dan kerajaan melayu atau Malaysia yang kita kenal sekarang ini sangat berkaitan erat. Gunongan ini dikelilingi oleh taman yang asri. Bangunanya berbentuk seperti bukit dan benteng kokoh, pada awalnya saya tidak mengerti dahulu bangunan ini digunakan dan berfungsi sebagai apa. Karena bentuknya yang aneh dan tidak seperti bangunan bangunan yang seperti umumnya, disebelah kanan bangunan ini terdapat musium yang berisi tentang informasi Gunongan ini. Pada tahun 1608 Sultan Iskandar Muda mempunyai istri yang sangat ia sayangi, permaisurinya bernama Putri Phang yang sangat rindu pada kampung halamannya yang dikelilingi oleh perbukitan. Sedangkan istana disini tidak banyak terdapat perbukitan, akhirnya Sultan membangun sebuah gunung buatan yang menyerupai perbukitan dikampung halamannya. Agar sang permaisuri dapat bermain diatas bukit tersebut dan lupa akan tanah airnya, ternyata Sang Permaisuri sangat senang dan bergembira akan hadiah tersebut dan selalu menghabiskan waktu dikala senja untuk menikmati matahari tenggelam diatas bukit Gunongan tersebut. Tidak terasa hari sudah semakin sore, setelah berkeliling kota menikmati budaya dan sejarah Kota Aceh membuat kami lelah dan lapar. Kami ingin sekali mencicipi masakan tradisional khas Aceh, Dijakarta kami sering mencoba Mie Aceh. Sekarang saatnya saya mencicipi Mie Aceh Asli plus kepiting hmm perut kami makin keroncongan membayangkan nikmatnya, pusat jajanan dan masakan khas aceh berada di Pasar yang berada ditengah kota, memang pada siang hari Pasar ini menjadi pusat perdagangan yang ramai. Setelah malam pasar ini berubah menjadi pusat Makanan, salah satu ciri khas masakan Aceh adalah bumbu rempah dan rasa yang sedikit pedas dilidah. Kami mencoba Mie Aceh, Martabak, Gulai Kambing dan Sayur Pliu. Kesemua masakan yang kami pesan adalah Masakan yang sangat khas dan terkenal di Aceh. Sengaja kami memesan banyak ragam sehingga kami bisa menikmati semua, rasa Mie Aceh ternyata tidak berbeda jauh yang seperti kami rasakan dijakarta. Namun yang berbeda adalah martabak, disini Martabak berbentuk seperti telur dadar yang dicampur oleh tepung terigu. Gulai kambingnya terasa sangat lezat, aroma rempah, rasa kuah yang sedikit pedas dan gurih daging kambingnya sangat terasa. Bagi para pecinta gulai kambing jangan sampai dilewatkan, dan masakan terakhir yang kami coba adalah sayur pliu. Sayur bersantan ini mempunyai rasa yang khas, aroma rempah khas aceh dan kuah yang pedas membuat kami semakin berselera menyantap makanan dengan lauk yang lain. Memang salah satu tujuan utama kami bertamasya tidak hanya berwisata tempat yang indah dan bagus. Tapi kami juga berwisata kuliner, tidak lengkap rasanya jika kami tidak mencoba sesuatu yang khas dari daerah yang kami kunjungi. Aceh dan Sabang I Untuk melihat foto dan Artikel selengkapnya Aceh dan Sabang klik http://alambudaya.blogspot.com/2007/10/travel-journay-aceh-and-sabang.html -------------------------------------------------------------------------------- No virus found in this incoming message. Checked by AVG. Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.16/1433 - Release Date: 5/14/2008 4:44 PM
