Harian Analisa Edisi Sabtu, 17 Mei 2008 Tajukrencana Pertumbuhan Ekonomi Aceh
PIHAK Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mengungkapkan tentang pertumbuhan ekonomi di Nanggroe Aceh Darussalam. Angka-angka yang diutarakan mencerminkan derap perekonomian yang terjadi dalam tiga bulan pertama tahun 2008. Disebutkan angka Rp.18 triliun lebih untuk triwulan pertama tahun ini. Angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tanpa minyak bumi dan gas adalah Rp.13 triliun lebih. Beberapa sektor mengalami kenaikan, meski ada juga yang mengalami pertumbuhan negatif. Namun suatu hal yang pasti, arus perdagangan terlihat begitu deras. Selain dibuktikan dengan angka-angka yang dimiliki berbagai instansi, juga kenyataan di lapangan, di mana aktivitas perdagangan memang menonjol. Keadaan itu sebenarnya tergolong menggembirakan. Sebab, selain membuka lapangan kerja juga berbagai komoditas akan mendapat pasar yang cukup baik. Sektor pertanian, perkebunan dan perikanan, agaknya merupakan sektor-sektor yang tergolong primadona. Komoditi dari sektor-sektor itu, terus diproduksi. Sumber daya alam yang memang masih cukup besar, apalagi dengan penanganan yang cukup serius, akan menjadikan komoditi itu dicari dan dipasarkan dengan harga yang cukup tinggi. Pinang misalnya, kadangkala begitu sukar diperoleh, padahal harga pinang cukup baik terutama untuk diekspor ke negara tetangga. Hasil perikanan, termasuk sirip hiu dari lautan lepas (Samudera Indonesia) dan aneka jenis hasil laut lainnya, cukup diminati oleh eksportir. Sektor perikanan, memang menjanjikan bagi mereka yang ambil bagian dalam perdagangan ini. Begitu pula hasil dari beberapa sektor lainnya. Semuanya tergantung pada kesungguhan. Dana triliun rupiah yang masuk ke Aceh, sebenarnya membuka peluang besar dalam berbagai aktivitas. Terbuka pula lapangan kerja yang otomatis akan menyerap sejumlah tenaga kerja. Hal ini sangat penting. Melalui penyerapan tenaga kerja, akan berkurang angka pengangguran. Mengatasi masalah pengangguran tidaklah mudah. Namun hal ini tetap menjadi sorotan utama. Mengapa ? Pengangguran akan menimbulkan beberapa sisi negatif lain. Jadi, pertumbuhan ekonomi yang baik, justru ikut mengatasi masalah pengangguran. Hal ini, meski disadari oleh banyak pihak terutama birokrat di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, seharusnya diberi kemudahan bagi pengusaha yang ambil bagian dalam sektor-sektor tersebut. Kemudahan dalam arti masalah perizinan, ditangani secara cepat dan tidak terjadi pungutan liar (pungli). Juga persyaratan tidak menyulitkan. Kepastian hukum benar-benar terjamin. Aceh sekarang, secara umum memang harus membangun. Pertumbuhan ekonomi yang dimonitor secara berkala, memberi indikator tentang kemajuan yang terwujud. Laju pertumbuhan pembangunan harus menapak. Laju pertumbuhan ekonomi juga harus meningkat. Ini penting, agar semua sektor dapat digarap dengan baik. Hasil akhir dari keberhasilan pertumbuhan ekonomi tersebut adalah terlihat pada pendapatan warga yang makin membaik. Kalau ini terwujud, secara bertahap akan terlihat pula derap pembangunan secara menyeluruh di provinsi NAD. Kalau ini dapat dipertahankan, tentu triliun rupiah yang masuk ke Aceh bermakna terserap dengan baik. Tiada pilihan lain bagi provinsi ini, kecuali untuk dengan sungguh-sungguh melakukan pembangunan, termasuk menggerakkan sektor perdagangan dan lain-lain. Aceh memiliki sumber daya alam yang potensial. Dukungan tenaga kerja juga masih memungkinkan. Semua itu harus ditangani dengan baik. Mari menggerakkan potensi itu. Semua pihak harus fokus pada pembangunan. Kondisi keamanan harus tetap dipertahankan kondusif. Begitu pula hubungan dengan provinsi lain, terutama dengan Sumatera Utara, karena arus barang sangat banyak terjadi transaksi diantara pedagang dari kedua provinsi ini. Mari terus bergerak dalam berbagai sektor. Kalau derap pertumbuhan ekonomi terus meningkat, diyakini pendapatan warga makin meningkat pula. Kesejahteraan rakyat, salah satunya dapat dihasilkan melalui aktivitas berbagai sektor yang positif
