Acheh Dalam Perang Rahasia.



*Win Bujang.
JUDUL tulisan ini sebagai pertanyaan yang harus diberi jawaban dengan kajian 
suatu fakta berdasarkan sejarah panjang. Karena itu, menyelesaikan masalah Aceh 
tidak mungkin seperti menyelesaikan gunung yang meletus, hanya kepungan asap di 
puncaknya saja yang dipadamkan. Untuk menyelesaikan suatu masalah manusia 
sebagai suatu etnis yang meledak sepanjang zaman harus berdasarkan pertanyaan 
kenapa perut gunung itu menyimpan magma yang selalu dapat meluap dengan letusan 
yang merusak alam sekitarnya.Mari kita melihat data historis untuk menjajaki 
kenapa perut gunung Aceh bergolak terus sepanjang masa. 
Pertanyaan kenapa Aceh bergolak sepanjang masa dengan singkat dapat terjawab 
berdasarkan historis yang panjang: Bangsa Aceh selalu diingkari oleh 
pihak-pihak yang pernah memperoleh jasa dan budi baik rakyat Aceh. 
Ketika Belanda berjuang mati-matian selama 80 tahun merebut kemerdekaan dari 
penjajah Spanyol di tahun 1568-1648 M, di mana Belanda kemudian menjadi negara 
merdeka, Sultan Aceh-lah yang memberi pengakuan pertama. Baru sesudah itu 
negara-negara lain di dunia. 
Sultan Aceh dengan gelar Sultan Alaidin Riayatsyah ketika itu mengirim 
pernyataan pengakuan itu dengan sepucuk surat resmi kepada Raja Belanda pada 
tahun 1602 M. 
Karena tergiur dengan sumber daya alam yang tangguh, dengan watak Barat yang 
berambisi menjajah bangsa Timur, Belanda melanjutkan niatnya untuk menjajah 
Aceh. Belanda mempersiapkan perang semesta untuk menaklukkan Aceh. 
Seorang pakar Belanda ternama, Dowes Dekker, yang mendapat gelar dengan nama 
Multa Tuli secara gencar mengkritik dan memprotes niat buruk Belanda untuk 
memerangi Aceh dengan suratnya tertanggal Oktober 1872. Surat itu berbunyi: 
"Yang Mulia Gubernur Jenderal di Batavia, bahwa yang mulia menyatakan perang 
terhadap kerajaan Aceh untuk merampas negara Aceh yang dilakukan dengan dasar 
di luar moral dan provokasi licik yang dibuat-buat." 
Dengan tindakan seperti itu, Belanda bukan saja tidak tahu berterima kasih 
bahkan juga tidak etis dan tidak bermoral oleh karena selama 80 tahun Belanda 
berperang menuntut kemerdekaan dari penjajah Spanyol dan memperoleh kemerdekaan 
pada tahun 1602 negara Aceh-lah yang pertama memberi pengakuan kepada 
pemerintah baru Belanda sebagai negara dan bangsa yang baru merdeka. 
Demikian bunyi surat Dowes Dekker tersebut. 
Meskipun kritik Dowes Dekker (Pujangga Multatuli) begitu logis dan gencar, 
Belanda tidak mengurungkan niatnya untuk memerangi Aceh. Berarti di sini 
Belanda mengingkari budi dan jasa baik orang Aceh. Tanggal 26 Maret 1873 
Komisaris Belanda MJFN Neuwe Huyzen menyatakan perang terhadap Aceh. 
Tanggal 27 Maret 1873 pasukan Belanda melepaskan tembakan meriam ke daratan 
Aceh. Pada 8 April 1873, jam 5.30 pagi armada Belanda mendarat di Pantee 
Ceureumen, sejak itu bergeloralah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dan 
rakyat Aceh. 
Panglima Perang Belanda JG Van Tie dan beberapa perwira lainnya tewas dengan 
peluru dan rencong Aceh, dan sejumlah serdadu tewas. Setelah berlangsung 
pertempuran dahsyat, Masjid Besar Baiturrahman dapat direbut pasukan Belanda. 
Tanggal 26 Januari 1874 Istana Sultan Aceh (dalam Sultan) jatuh ke tangan 
Belanda. Jenderal Van Swieten segera mengawatkan ke Batavia tentang kemenangan 
Belanda di Aceh. 
Tanggal 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh 
jadi bagian dari Kerajaan Belanda. 
Anehnya Jenderal Van Swieten yang sudah bertugas selama 8,5 bulan di tahun 1874 
segera meminta bebas dari tugas memimpin perang melawan rakyat Aceh dengan 
alasan bahwa dia menghadapi suatu bangsa yang gagah berani yang sulit 
ditundukkan, terkenal sebagai suatu bangsa yang tak pernah dijajah dan tangkas 
berperang. 
Ia menyarankan kepada penguasa Belanda dan Batavia, bahwa untuk melenyapkan 
semangat juang rakyat Aceh yang sulit dipadamkan, seluruh lambang keagungan 
rakyat Aceh harus segera dilenyapkan dari muka Bumi Aceh. Maka, tidak 
mengherankan kalau pasukan Belanda melaksanakan saran tersebut dengan 
menghancurkan seluruh bangunan Istana Sultan (dalam Sultan) yang di dalamnya 
tersimpan berbagai lambang keagungan Aceh. 
Tidak mengherankan kita datang di Aceh tidak melihat lagi lambang-lambang 
keagungan seperti Istana Sultan dan lain-lain, sebagaimana kesultanan 
Yogyakarta dan lain-lain daerah. 
Dalam karyanya setebal 320 halaman Paul Van't Voer membagi perang di Aceh dalam 
4 (empat) periode: 1. Perang Aceh I (1873-1874) 2. Perang Aceh II (1874-1880) 
3. Perang Aceh III (1881-1896) 4. Perang Aceh IV (1897-1942) 
Perang Aceh I dan II adalah perang total dan frontal, di mana pemerintah masih 
berjalan mapan, meskipun ibu kota negara telah dipindahkan ke Keumala Dalam, 
Indra Puri dan tempat-tempat lain. 
Perang Aceh III adalah perang gerilya total dan teratur, di mana fungsi 
pemerintahan tidak berperan lagi karena sering-sering berpindah tempat. 
Dan Perang Aceh IV adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan 
perlawanan, penyerbuan, penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat. 
Menurut Paul Van't Voer, perang Aceh baru berakhir di tahun 1942 dengan 
kekalahan total pihak Belanda. Ini berarti bahwa perjuangan orang Aceh tidak 
sia-sia dalam mengenyahkan kekuasaan Belanda, bukan di Aceh saja, tetapi di 
seluruh Indonesia. Dengan demikian, sesungguhnya orang Aceh tak perlu berkecil 
hati dengan perjuangan mati-matian Sultan Aceh dan panglima-panglimanya serta 
seluruh rakyat Aceh. Sultan Aceh sendiri dan keluarganya dihukum buang ke Ambon 
kemudian Batavia dan itu sebagai penghinaan yang tiada taranya terhadap orang 
Aceh. 
Demikian kalimat akhir tulisan Paul Van't Voer. 
Dengan kemenangan berperang melawan Aceh oleh Belanda, rupanya bukan berarti 
perang telah selesai, situasi aman tenteram dan damai. Malah perang melawan 
Belanda bagi rakyat Aceh makin berkecamuk dan menggebu-gebu selama 30 tahun 
(1873-1908). Lebih-lebih setelah Sultan Aceh terakhir, Sultan Alaiddin Muhammad 
Dausyah, turun di medan perang, bergerilya bersama rakyat melawan serdadu 
Belanda di hutan-hutan Aceh Timur, Aceh Utara dan Pidie. Itu sebabnya gejolak 
yang paling menonjol di Aceh adalah di ketiga kabupaten ini. 
Demikian sekelumit. 
 Sejarah keingkaran Belanda terhadap budi baik rakyat Aceh akibat tergiurnya 
Belanda dengan sumber daya alam Aceh. Itulah yang membuat rakyat Aceh tidak 
pernah padam gelora hatinya menentang keingkaran Belanda sepanjang masa. Apa 
yang terjadi di Aceh kini adalah sama penjajahan Belanda di sambung oleh 
Indonesia dengan daleh yang tidak beralasan dan tidak sah, rupanya RI sudah 
lupa jasa-jasa bangsa Aceh dan kini malah pemberian madu oleh Aceh di balas 
dengan racun oleh Penjajah indonesia. 
 Tidak mungkin bangsa yang seperti ini bisa hidup bersama di bawah satu payung, 
kini serdadu Indonesia bertambah berutal di Aceh dengan ganas memperkosa, 
merampok, membunuh, dan membakar sekolah dan rumah-rumah penduduk serta 
toko-toko yang pada saat Kondisi sekarang ini hanya ABRI seakan Tuhan di Aceh 
hitam puteh harus ikut kata mereka-meraka yang jahanan ini, Apakah ini bisa di 
benarkan dunia Internasional tantu jawabnya tidak, tapi yakinlah kebenaran, 
keadilan, kemerdekaan akan tegak dan berdiri di Bumi Aceh. 
Cuma memang kebenaran itu selalu datang terlambat ketika itu juga ABRI dengan 
tanpa maruah minta maaf dan tentu Mahkamah Internasional akan memprosesnya 
apakah di Adili di Luar atau cukup di dalam Negeri saja. Sekarang jalan keluar 
dan penyelesaian terbaik adalah kembali pada resam dunia yaitu campur tangan 
dunia Internasional dan PBB segera ke Acheh demi untuk menyelamatkan anak-anak 
dan bangsa Aceh dari kebiadaban serdadu indonesia. dan kini Parlemen Eropa 
telah mengambil berat dan perhatian tentang kemanusian di Acheh dalam forum itu 
indonesia tidak mau hadir dan banyak alasan tapi Parlemen Eropa tidak 
memperdulikanya malah memberikan sokongan terhadap Pemerintahan Acheh yang 
berada di pengasingan alangkah dustanya indonesia di luar Negeri 
mempropagandakan Acheh telah aman sementara di dalam bangsa Acheh di bantai 
siang dan malam. 
Perang Rahasia. 
Berita tetang kematian TNI selalu ditutupi untuk meredam kesedihan dan 
kekalahan TNI di lapangan sama hal nya pada masa Zaman Belanda dulu malah kalau 
pun ada korban di pihak TNI di beritakan hanya cedara di ujung jari saja karena 
terkena peluru GAM. pedahal banyak korban TNI mati di Acheh sampai menjadi 
masalah karena uang pampasan hidup keluarga yang di tinggalkan tidak di bayar, 
malah di sunat oleh atasan mereka. 
Perang terus berlangsung antara dibunuh atau membunuh beribu TNI di kerim silih 
berganti ke Acheh, dengan bermacam nama Pasukan, namun GAM tetap kekar dan 
tegar walaupun ada kekurangan itu biasa namanya saja Griliya mesti kurang ini 
dan itu, tapi ketahuilah pembantaian sivil atau rakyat biasa oleh TNI tidak di 
beritakan dan malah TNI menjadikan rakyat sebagai temeng mereka mencari GAM, 
ini adalah fakta dan kenyataan, dan TNI menutup keadaan lapangan yang sebenar, 
wartawan dan NGO dilarang untuk meliput dan menulis keadaan yang sebenarnya 
terjadi di Negeri Modal itu. Malah Insan jurnalis seperti Ersa Siregar di 
tembak dan di bunuh TNI sedangkan mereka terlebih dahulu berterik jangan tembak 
saya wartawan, namun TNI tidak memperdulikanya. 
DM, telah gagal di Acheh kini mereka menghadapi Masalah baru Warga Acheh di 
adudomba sesama sendiri agar mereka lupa menghadapi Jawa sebagai musuhnya,cara 
ini sudah di lakukan Belanda pada zaman dahulu dan sekarang Jawa mengulanginya 
terhadap bangsa Acheh. 
Hati bangsa Acheh tidak dapat di kuasai oleh indonesia sampai kapanpun. 
 karena sejarah menjadi saksi kebiadaban semenjak dari Seokarno sampai anak 
cucunya Mega Karno keturunan yang tidak pandai berterimakasih, kalau dengan 
senjata ditangan membunuh bangsa Acheh yang tidak bersenjata itu bukan Hero 
namanya. 
 Merdeka adalah jalan yang paling mulia bagi Acheh dan termasuk untuk 
kepentingan indonesia sendiri di masa depan sudah sekian tahun dibawah 
indonesia tidak ada kemajuan malah semakin dililiti utang dan penderitan yang 
berkepanjangan sudah tentu kerena mereka tidak pandai mengatur negara dan wajar 
di tendang keluar seperti Tim-Tim menendang RI, Lima tahun lagi pasti akan ada 
Warga RI dikerim untuk tenaga kerja membersihkan WC ke Negara yang baru Merdeka 
itu.(AG) 
***
 



_________________________________________________________________
Be part of history. Take part in Australia's first e-mail archive with Email 
Australia.
http://emailaustralia.ninemsn.com.au

Kirim email ke