----- Original Message ----- 
From: tossi20 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Saturday, August 02, 2008 8:36 PM
Subject: [mediacare] Re: Membangun Demokrasi Gaya Aceh


Terima kasih dan menarik perhatian Anda. Namun maaf Anda keliru 
memahami Aceh, dan keliru memahami laporan saya. 

Reaksi Presiden, Cilangkap (TNI) dan Senaya (DPR) terhadap tuntutan 
parlok Aceh memperlihatkan betapa obsesif dan mendalam konsep 
Jakarta, khususnya militer Indonesia tentang sentralisme NKRI dan 
paranoide Jakarta terhadap aspirasi Aceh. 

Sebaliknya Aceh yang diciderai janji historis Presiden Soekarno 
kepada Daud Beure'eh, peleburan Aceh ke dalam propinsi Sumatra Utara 
(juga oleh Soekarno), ketimpangan dalam penyerapan sumberdaya Aceh 
dan kejahatan HAM tentara (kedua terakhir oleh Orde Baru) menimbulkan 
perang yang kejam. Pada 2004-2005 konsensus rakyat Aceh menginginkan 
perdamaian, GAM (yang juga kejam) kalah secara militer, lalu datang 
tsunami. Singkat cerita, perdamaian menjadi keharusan dan tuntutan 
demokratis rakyat Aceh.

Sulit menemukan politisi Jakarta yang mau memahami kunci masalah ini, 
sampai seorang delegasi RI di Helsinki sempat nyeletuk terheran-
heran "enakan ngomong dengan GAM ketimbang ngomong di Cilangkap atau 
Senayan".

Maaf, komentar Anda tentang metafora Teungku Mohammad Usman Lampoh 
Awe, juga meleset. Saya kenal baik tokoh GAM ini dan saya kutip di 
sini justru untuk melaporkan kegelisahannya yang diutarakannya secara 
metaforis tentang perkembangan Aceh dan GAM. Mantan tokoh dan 
panglima GAM kini menjadi elite baru, orang kkuasa dan kaya baru, 
ketika mereka menggaet peluang politik dan bisnis. Menurut Teungku 
Mohammad, di sini GAM perlu tegas dengan haluannya dan meninggalkan 
serta menyingkirkan unsur unsur GAM yang cuma mencari keuntungan 
belaka. 

Kebalikannya, Anda malah membaca metafora Teungku Mohamamd seolah-
olah memberi konfirmasi kepada prasangka dan paranoide Jakarta yang 
takut Aceh memakai parlok sebagai kendaraan untuk menuntut referendum 
untuk menuju kemerdekaan. Teungku Mohamad malah menegaskan kepada 
saya dia menghargai tidak hanya Wapres Jusuf Kalla, tapi juga yakin 
bahwa Presiden SBY menginginkan perdamaian dan meyakininya. 

Anda, seperti politisi Jakarta, terus mencurigai Aceh dan GAM, saya 
kira ini berlebihan, tidak realistis. GAM secara militer sudah kalah 
dan secara politik ingin memberi kesempatan terbuka, damai dan 
demokratis kepada Aceh, sebagai daerah berpemerintahan sendiri 
(inginnya semacam Hongkong di dalam RRC) untuk mewujudkan aspirasi-
nya di dalam RI. Ini jelas kalau Anda datang dan melihat kenyataan 
Aceh hari hari ini.

Sayangnya, Anda terjangkit paranoide yang ditempa Orde Baru. Tahun 
1970an Ali Moertopo paranoide terhadap aspirasi islam politik, 
merekayasa Komando Jihad dsb, kini kita melihat hasilnya sebagian 
islam politik kini menginginkan negara islam. Idem dito kelak dengan 
paranoide terhadap Aceh malah akan membangkitkan separatisme Aceh 
padahal Aceh kini telah berganti wacana.

Dengan kata lain, Anda terperosok ke dalam konsepsi militaris-
tis "NKRI" yang menanam sentralisme pusat yang menindas aspirasi 
daerah. Jangan lupa para pendiri republik berbicara tentang RI, bukan 
NKRI. Belum lama lalu saya menulis tentang benih benih fasisme (bukan 
si A atau B fasistis, melainkan benih dan potensi fasistis - sic!), 
tapi banyak kalangan seperti Chanigogo dll memilih membuta, 
bernasionalisme sesempit tempurung dan bersikap paranoide, bahkan 
lebih percaya pada dalil-dalil "teori" abstrak ketimbang fakta fakta 
kongkrit yang berkembang sepanjang sejarah. Sayang sekali, dan ironis.

Terima kasih,

Salam damai,
Aboeprijadi Santoso

--- In [EMAIL PROTECTED], "Hajar Pamundi" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Ketua Majelis GAM, Tengku Mohammad Usman Lampoh Awe, kepada Radio 
Nederland
> Wereldomroep, belum lama lalu mengibaratkan *GAM seperti kapal yang 
harus
> tetap menuju tujuan* ketika kapal tersebut tengah oleng.<---------
> 
> Apa tujuan GAM? jelas sekali mereka ingin mendrikan negara 
berdaulat di atas
> Serambi Mekkah. Meski baju berbeda, tetapi jiwa mereka tetaplah GAM.
> 
> Lihat apa yang telah Martii Ahtisaari aristeki. Kosovo, meski secara
> sepihak, telah mendeklarasikan kemerdekaannya atas Serbia. Dan 
deklarasi
> kemerdekan ini didukung penuh oleh Amerika dan sekutunya. Bukan tak 
mungkin
> dengan arsitek yang sama, akan menghasilkan produk yang sama pula.
> 
> Kosovo, dengan penduduk mayoritas muslim, memerdekakan dirinya dan 
mencari
> dukungan ke seluruh dunia dengan membawa isu agama. Maka tak heran 
negara
> semacam Afganistan, dan juga negara-negara OKI menyerukan untuk 
segera
> mengakui kemerdekaan Kosovo. Padahal sejatinya penduduk Kosovo ini 
adalah
> etnis Serbia yang keberadaannya semakin tergusur oleh para 
pendatang dari
> etnis Albania. Jelas sekali bahwa hal ini adalah konflik etnis, dan 
BUKAN
> merupakan konflik agama.
> 
> Dengan mengacu hal yang serupa, partai-partai lokal yang ada di 
Aceh patut
> diwaspadai dan diberikan kewenangan yang terbatas. Jangan sampai 
partai
> lokal menjadi api dalam sekam yang siap membakar setiap saat.
> 
> Separatisme? No Way!
> 
> Hajar Pamundi
> 
> 
> 
> Pada 1 Agustus 2008 18:47, tossi20 <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> 
> >
> > 
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/demokrasi_gaya_aceh200
80801
> >
> >
> >
> > *Membangun Demokrasi Gaya Aceh*
> >
> >
> >
> > Radio Nederland Wereldomroep - Aboeprijadi Santoso 01-08-2008
> >
> > Membangun Demokrasi Gaya Aceh
> > 
<http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/id_w_demokrasi___la_aceh_20080
801_44_1kHz.mp3>
> >
> > **
> >
> > *Partai-partai lokal Aceh dalam waktu dekat akan mengumumkan para 
calon
> > legislatifnya. Para caleg baru dari enam parlok akan bertanding 
dengan caleg
> > 39 partai nasional yang terwakili di Aceh. Golput, juga partai 
partai
> > nasional, besar kemungkinan tak akan laku. Sebab, inilah pertama 
kali Aceh
> > akan memilih parlemen dan pemerintahan sendiri. Sejumlah parlok 
bertekad
> > membangun demokrasi dari bawah dan menjauhi politik premanismenya 
partai
> > partai nasional.*
> >
> >
> >
> > Ketika Ketua Delegasi RI Hamid Awaluddin berjalan di tepi sungai 
di
> > belakang rumah perisitirahatan di Vantaa, di pinggir Helsinki 
pada Juli
> > 2005, Ketua Delegasi Gerakan Aceh Merdeka GAM Malik Mahmud 
menangis. Dia
> > mengimbau agar Aceh diizinkan punya partai lokal. GAM bersedia 
melepas
> > tuntutan kemerdekaan, tapi biarkan Aceh memiliki "kendaraan 
sendiri." Demikian
> > desak Malik seperi diceritakan Hamid dalam bukunya *Damai di 
Aceh*. Malik
> > mendapat dukungan Marttii Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia 
dan mediator
> > yang berwibawa itu.
> >
> >
> >
> > Sebaliknya, Hamid hampir putus asa karena justru parlok itulah 
yang
> > pagi-pagi telah ditolak Jakarta dan membuat perundingan terancam 
gagal.
> > "Pokoknya, Mbang, nggak ada cerita partai lokal!" begitu pesan 
Presiden
> > Susilo Bambang Yudhoyono kepada Mayjen Bambang Dharmono kala itu. 
SBY konon
> > sampai mengirim fax sebelas kali berisi penolakan, koreksi dan 
kompromi,
> > khusus tentang parlok. SBY, Wapres Jusuf Kalla, si perintis 
perdamaian, dan
> > Hamid Awaluddin akhirnya mendapat penegasan Ketua Mahkamah Agung 
Bagir Manan
> > bahwa partai lokal tidak dengan sendirinya bertentangan dengan 
konstitusi.
> > Akhirnya, Jakarta setuju dan gol lah tuntutan parlok tsb dalam 
MoU Helsinki.
> >
> >
> >
> >
> > Cerita itu menunjukkan betapa Jakarta cemas dan curiga terhadap 
itikad GAM
> > melalui parlok. Kini, tiga tahun kemudian, kekhawatiran Jakarta 
terhadap
> > parlok sebagai kendaraan untuk referendum Aceh, masih kuat, 
terutama di
> > Cilangkap dan Senayan. Tapi TNI dan DPR harus mengakui, aspirasi 
parlok itu
> > telah meluas di Aceh, tidak hanya di kalangan GAM. Dan GAM, 
melalui sosok
> > barunya, Partai Aceh, pun siap memetik buah dari legitimasi yang 
ditanamnya
> > di Helsinki.
> >
> >
> >
> > Kuatnya aspirasi lokal di Aceh kini tampak dari cara cara parlok 
Aceh
> > menanggapi isu golput dan menyiapkan para calegnya. Berikut suara 
wakil
> > parlok-parlok Aceh dalam temu wicara dengan KBR Antero belum lama 
lalu.
> >
> > **
> >
> > *Soal golput
> > **Kecenderungan golput itu ketika rakyat tidak melihat akan ada
> > alternatif. Ketika rakyat tidak melihat akan ada jalan keluar, ada
> > perubahan. Sekali lagi saya tegaskan mari kemudian kita memberi 
jalan keluar
> > kepada rakyat*.
> >
> > Sulit membayangkan Golput akan bergaung seperti di Jawa Timur 
ketika Aceh
> > memanfaatkan peluang untuk membuka halaman baru provinsi yang 
merasa pernah
> > dizalimi Jakarta ini.
> >
> > **
> >
> > *Soal perubahan
> > **Rakyat Aceh ini adalah pemilih yang cerdas. Ketika yang lama 
dilihat
> > sudah tidak bisa dipakai lagi, dia akan memilih yang baru. Setiap 
yang baru
> > adalah perubahan, adalah harapan dan inilah yang kemudian yang 
harus kita
> > yakini sebagai sebuah perubahan yang akan terjadi di Aceh dan 
tetap menjaga
> > perdamaian dengan MoU.*
> >
> > Juga cara cara menyiapkan calon calon legislatif, atau caleg, 
mencerminkan
> > aspirasi membangun politik demokrasi dari bawah
> >
> > **
> >
> > *Soal caleg
> > **Caleg-caleg era ini dites, diuji, diusulkan oleh mereka. 
Memperkuat
> > kwalitas dengan memberikan pemahaman-pemahaman. Dan kita 
memberikan kontrak
> > politik, supaya caleg kita ini tidak mengulangi lagi kesalahan-
kesalahan
> > dari partai-partail nasional yang lama.*
> >
> > * **Kami menjaring dari tokoh-tokoh yang tumbuh dalam masyarakat, 
sehingga
> > mereka betul-betul terwakilkan dari masyarakat. Jadi dengan 
demikian mereka
> > sendiri yang memilih utusan yang dikirim dari wilayah kepada 
pusat. Kami
> > mencoba mengaplikasi persentase itu 30% untuk orang GAM, apakah 
dia kombatan
> > atau bukan, kemudian 30% untuk wanita, selebihnya itu untuk 
masyarakat dan
> > ulama. *
> >
> > *Kemudian kriteria yang paling penting adalah taat dan setia 
kepada
> > partai. Yang kedua profesionalisme, yang ketiga akhlak-ulkarimah. 
Yang
> > keempat setiap figur yang dicalonkan menjadi teladan bagi rakyat 
itu
> > sendiri. Dia menampung aspirasi rakyat, mereka dapat membaca Al-
Quran dan
> > berpidato.*
> >
> >
> >
> > Menurut sebuah sumber dari luar Partai Aceh yang merupakan sosok 
baru GAM,
> > sebagian besar dari 17 mantan Panglima Wilayah dan ratusan 
Panglima Sago
> > akan duduk dalam kepengurusan partai di daerah, tapi tidak harus 
menjadi
> > caleg. Para caleg akan diserap dari anggota-anggota partai melalui
> > pendidikan politik dari desa ke desa.
> >
> >
> >
> > Sementara itu, banyak petinggi GAM menjadi elit baru yang merambah
> > keuntungan politik dan bisnis. Ketua Majelis GAM, Tengku Mohammad 
Usman
> > Lampoh Awe, kepada Radio Nederland Wereldomroep, belum lama lalu
> > mengibaratkan GAM seperti kapal yang harus tetap menuju tujuan 
ketika kapal
> > tersebut tengah oleng.
> >
> >
> >
> > Tengku Mohammad Usman Lampoh Awe: Kapten ini melihat kapal kecil 
ada ombak
> > dari depan, ada angin dari samping dia ribut di belakang. Bawa 
bukan ke
> > sana, kapten yang benar nggak perlu tahu itu, omongan protes dan 
sebagainya.
> > Ini nggak demokrasi itu, nggak ada demokrasi di laut nih. Kapten 
punya hak,
> > dua kali lagi ribut, tolak dia ke laut. Itu hukum dari nabi Yunus 
sudah ada
> > dulu. Kita jalan terus lemparkan pelampung, nanti kalau dia masih 
selamat
> > kita ambil. Kapal jalan terus
> >
> > ...
> >
> > 
> >
>



 

Kirim email ke