Refleksi: Kalau royality  Rp  400. milyar dihitung ke US Dollar menjadi kurang 
lebih US$ 40,--juta. 80% untuk dari US$ 40,-- juta = US$ 32 juta. Berapa besar 
pajak perusahaan, deviden diterima oleh pemerintah Indonesia dari Freeport tiap 
tahun tidak jelas mungkin rahasia penguasa negara yang tidak mau umum 
mengetahui agar mudah bisa dimanuipulasi dengan politik "tutup mulut timbun 
harta". Tetapi pernah ada berita di salah satu media dua tahun lalu begitu 
bahwa pemerintah Indonesia menerima US$ 2,-- milyar pajak perusahaan dari 
Freeport.  Selain itu menurut Jakarta Pos 3 Maret 2005 diberitakan bahwa 
Freeport membaya US$ 4,7 juta untuk 2.300 petugas keamanan Inonesia (TNI?), 
tahun 2001, tahun berikutnya naik menjadi US$ 5,7 juta.  Bagaimana dengan gas 
alam di teluk Bituni apakah juga sebahagian dari royality akan diberikan kepada 
penduduk daerah? Kalau mengenai gas alam ini bisa dilihat pada Qatar diteluk 
Persia, dari negeri gurun pasir dengan hasil gas alamnya bisa membangung kota 
Doha yang dulunya kunyuk menjadi kota modern dengan segala fasilitasnya dan 
malah mereka bisa investasi di luarnegeri diberbagai cabang industri. 

Apakah tuntutan 80% ini bisa disetujui oleh penguasa di Jakarta dan apakah 
tuntutan tsersebut menjadi praxis buat lain-lain daerah seperti misalnya Aceh, 
Kalimantan Barat penghasil gas dan batu bara, minyak? Ataukah akal bulus 
pemekaran daerah akan melenyapkan tuntutan ini? 

http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=18614&ses=

06 September 2008 00:25:15



Gubernur: Freeport Seperti Sapi Perah

80 Persen Royalti Freeport Untuk Papua
(Gubernur- Presidir PT FI Teken 
MoU Dukung Knowledge Center)


JAYAPURA-Pemerintah Provinsi Papua berharap agar kerja sama dengan PT Freeport 
Indonesia (PTFI), terus ditingkatkan. Hal itu dikemukakan Gubernur Barnabas 
Suebu, SH ketika menjawab Cenderawasih Pos usai meresmikan Papua Knowledge 
Center, kemarin. 


Sebab kata dia, Freeport merupakan satu perusahaan besar yang beroperasi di 
Papua dan melaksanakan tugas sosial atau coporate social responsibility dalam 
berbagai bentuk. Baik itu mendirikan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme 
Kamoro (LPMAK) khusus untuk masyarakat Amungme dan Kamoro, mendukung program 
pemerintah daerah hingga mendukung program Respek dan melaksanakan berbagai 
kegiatan lainnnya. "Jadi itu beberapa hal yang disumbangkan Freeport untuk 
kita," ujar Suebu lagi.
Untuk itu, Gubernur Suebu menilai perusahaan tambang yang terbesar di tanah air 
itu ibarat Sapi Perah yang mengeluarkan susu. "Jadi kerjasama kita dengan 
Freeport ini ibarat sapi, dia mengeluarkan susu, kalau kita pintar ya kita 
harus atur susunya, minum sama-sama, jangan dia minum sendiri. Sebaliknya 
rakyat juga jangan membunuh sapi, sebab kalau rakyat membunuh sapi, kita semua 
tidak akan dapat susu," terangnya.


Ditanya tentang besaran royalti yang diterima Papua pada tahun 2008 ini, 
dikatakan untuk Provinsi Papua jumlahnya mencapai Rp 400 miliar atau sekitar 16 
persen dari total royalti secara nasional. Selebihnya dana royalti itu juga 
diberikan kepada kabupaten dan kota di seluruh Papua dan yang terbesar sekitar 
32 persen diterima oleh daerah penghasil.
Sementara itu, Humas PT FI Mindo Pangaribuan kepada Cenderawasih Pos 
mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen dari Royalti Freeport yang dibayar itu 
adalah bagian untuk Papua, sedangkan pusat hanya mendapatkan 20 persennya. 


"Nah dari dari 80 persen ini di Papua nanti akan dibagi lagi," katanya.
Menurut Mindo, kabupaten penghasil akan mendapatkan 32 persen, Pemprov 
mendapatkan 16 persen, sedangkan sisanya 32 persen itu diberikan untuk 
kabupaten dan kota di seluruh Papua. "Jadi kabupaten dan kota yang bukan 
penghasil menerima sisa yang 32 persen itu," jelasnya.
Sedangkan yang menyangkut retribusi kata Mindo, juga bermacam - macam, seperti 
PBB (pajak bumi bangunan) uangnya masuk langsung ke kas daerah. Sedangkan pajak 
yang diterima pusat adalah pajak pendapatan perusahaan atau pajak badan usaha, 
sementara pajak pendapatan karyawan nanti dari pusat baru dikirim lagi ke 
daerah. Sedangkan deviden semuanya ke pusat. 


Meski begitu kata dia, dana itu semua nantinya akan kembali lagi ke daerah 
dalam bentuk DAK (dana alokasi khusus) dan DAU (dana alokasi umum). Lanjutnya, 
porsi yang 80 persen itu sudah berlangsung sejak kontrak karya ke dua yang 
sekarang ini berlangsung, karena kontrak itu menyebutkan bahwa 80 persen dari 
royalti yang dibayarkan Freeport adalah menjadi bagian dari Papua, sedangkan 20 
persen lagi ada di pusat. Hanya saja Mindo tidak menyebutkan angka pastinya. 
"Angkanya kurang tahu, tetapi 80 persen ini sudah sesuai ketentuan hukum yang 
berlaku," tandasnya.

Tandatangani MOU///
Sementara itu setelah melalui proses pengkajian yang cukup melelahkan akhirnya 
Papuan Knowledge Center For People Driven Development atau Pusat Pengetahuan 
tentang Pembangunan Kampung dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, akhirnya 
kemarin diresmikan Gubernur Barnabas Suebu, SH.  Lembaga yang dibentuk atas 
instruksi Gubernur itu, didukung penuh PTFI. Hal ini tercermina dalam sambutan 
Presiden Direktur PT FI itu Armando Mahler yang mengatakan bahwa pihaknya 
menyambut gembira berdirinya lembaga itu. 


"Tat kala disadari bahwa masih dubutuhkan data dan pengetahuan yang lebih 
mendalam untuk mulai menerapkan paradigma baru, maka kami menyambut gembira 
kepercayaan yang diberikan oleh Gubernur Papua untuk menfasilitasi pembentukan 
sebuah center," katanya.Armando mengatakan, PT FI telah melakukan kerjasama 
dengan lembaga donor internasional dan pemerintah daerah dalam mempersiapkan 
knowledge Center tersebut. "Semua pihak menilai Center ini memiliki peluang 
besar dapat meningkatkan sinergi dengan dan antara program yang selama ini 
sudah berjalan guna menjabarkan paradigma people driven development sebagai roh 
atau jiwa program pembangunan Papua," katanya. 


Untuk mendukung kesuksesan Knowledge Center itu, PT FI juga memiliki komitmen 
untuk memperbantukan tenaga ahli dan teknis yang diperlukan oleh pemerintah 
daerah, baik dari lingkungan perusahaan maupun melalui kerjasama berbagai 
perguruan tinggi, LSM dan lembaga donor internasional. "Secara spesifik, Center 
ini diharapkan dapat menyediakan informasi tentang praktek - praktek terbaik 
pembangunan di Papua yang telah dilaksanakan oleh kita semua selama ini, selain 
memantau keberhasilan Respek, center ini juga dapat menemu kenali atau 
mengidentifikasi elemen strategis dan urut-urutan kebijakan yang dapat 
digunakan sebagai landasan utama dalam pengelolaan dan meningkatkan kualitas 
SDM dan alam Papua," paparnya.


Sementara itu, Gubernur Barnabas Suebu, SH dalam sambutannya mengatakan bahwa 
Knowledge Center menyimpan pengetahuan dan data yang sangat penting dan akan 
mengantarkan rakyat tahap demi tahap untuk menuju masa depan yang lebih baik 
dan sejahtera. "Kita tidak harus menangis dan melakukan demo politik, sebab 
menangis tidak akan selesaikan masalah, tetapi kita harus kerja keras, 
melakukan inovasi dan terobosan untuk bisa merubah nasib," katanya bijak. 
Gubernur juga mengatakan lembaga itu khusus untuk memuat data kampung, tetapi 
dalam arti luas. "Jadi ini pusta pengetahuan khusus kampung, mengapa khusus 
kampung, karena banyak orang bicara kampung, tetapi tidak tahu kampung, kaki 
juga tidak pernah injak di kampung tapi bicara kampung," katanya. Karena itu, 
dari lembaga itu, maka orang yang tidak pernah ke kampung akan mengetahui 
tentang kampung. 


Saking pentingnya dan menariknya lembaga itu, Gubernur Suebu mengatakan jika 
pensiun nanti akan bekerja di center itu. Sebab kata dia, lembaga itu begitu 
menarik dan kaya akan pengetahuan. "Langkah yang diambil Freeport mendukung 
center ini sama dengan Freeport telah berbuat sesuatu untuk seluruh masyarakat 
kampung di tanah Papua," katanya.
Acara peresmian yang ditandai penekanan tombol dan pembukaan papan selubung 
papan nama itu, juga dirangkaikan dengan penandatanganan MoU antara Gubernur 
Suebu dengan Presiden Direktur PT FI Armando Mahler dan Sofei (Suport office 
for eastern Indonesia) suatu lembaga perwakilan Bank Dunia di Indonesia yang 
diwakilan kepada Inauri.(ta

Kirim email ke