Gaya Marsose yang Menakutkan
Oleh Abu Raudhah
Perang Aceh melawan Belanda (1873 - 1942) adalah perang terlama yang pernah 
dialami Belanda di Indonesia. Rakyat Aceh tetap melawan pascaruntuhnya istana 
Darud-Dunia di Koetaradja. Semangat jihad Fi Sabilillah menggemuruh seluruh 
tanah Rencong. Istana boleh dikuasai, masjid raya boleh dibakar, sulthan boleh 
dibuang ke Jawa, namun harkat dan martabat Aceh tetap dipertahankan oleh rakyat 
Aceh dari Sabang sampai ke Aceh Tenggara.
Pelawanan bangsa Aceh terhadap penjajah memang sangat berbeda dengan perlawan 
suku bangsa lain di nusantara. Di daerah lain, semua berakhir dengan kekalahan 
dan takluknya Raja mereka terhadap kolonial. Sedangkan Perang Aceh sampai titik 
darah terakhir. Aceh tidak pernah menyerah Kedaulatannya kepada penjajah 
Belanda.
Memang ada sejumlah oknum bangsa Aceh yang kemilau matanya melihat fulus 
Belanda, jabatan yang ditawarkan dan takut mati. Mereka menyerah kepada kaphe 
Belanda. Tidak baik disebutkan namanya, sebab sampai sekarang masih ada 
keturunan mereka. Jumlah mereka yang menjadi "budak penjajah" itu tidak banyak, 
dan telah mendapat hukuman sosial dari masyarakat Aceh.
Marsose
Akibat gagal dijinakkan, Belanda membentuk Korp Militer Marsose yang sangat 
kejam terhadap rakyat Aceh. Marsose biadab ini, akhirnya memutuskan untuk 
membumihanguskan tanah Aceh, membuang pahlawan-pahlawan Aceh ke Jawa, Maluku 
dan Papua, membunuh rakyat awam, membantai perempuan dan anak-anak, merampas 
harta benda rakyat Aceh, memperkosa dan melakukan apa yang mereka kehendaki. 
Ribuan nyawa rakyat Aceh bergelimang di Batee Iliek, Samalanga, Jeunieb, Tiro, 
Peureuelak, Buloh Blang Ara, Takengon, Meulaboh, Tapaktuan, Kota Fajar, 
Montasiek, Aneuek Galong, dan sebagainya. Namun pejuang Aceh yang rindu merdeka 
dan mati syahid tidak mau menyerah. Dari pada hidup dijajah lebih baik mati 
berkalang tanah. Asai bek singet, ro bah meutunggeng!

Tgk Chik Pantekulu dalam hikayat Prang Sabi membakar semangat pejuang:
Nibak mate di rumoh inong
Bahle bak keunong seunjata kaphe
Nibak mate di ateueh tilam
Bahle lam seueh prang syahid meugule
Hikayat Prang Sabi yang digali dari ayat al-Quran dan hadits Nabi telah 
membakar semangat jihad yang tak putus-putusnya di Aceh. Pertempuran terjadi di 
seluruh tanoh Aceh. Ribuan kaphe Belanda dikirim ke neraka, dan juga ribuan 
syuhada Aceh semoga sampai ke surga. Berikut perkiraan para syuhada Aceh yang 
syahid melawan Belanda (lihat tabel).
Rakyat Aceh memang trauma dengan kekejaman tentara Belanda yang didalamnya juga 
terdapat orang-orang Kristen dari Maluku, Jawa dan Sulawesi. Ulama-ulama Aceh 
ada yang hijrah ke Malaya, Arab, atau turut berperang gerilya dalam hutan. 
Ibu-ibu Aceh kadang-kadang terpaksa menyelipkan rencong di pinggangnya, demi 
menjaga jangan diperkosa oleh penjajah. Anak-anak gadis ketakutan, bocah-bocah 
belia tidak hidup normal, kehidupan penuh risiko. Perdagangan macet, kota-kota 
Aceh dipadati oleh kaum Tiongkhoa, orang Aceh meminggir ke pinggir hutan.
Sejarah Berulang
Seorang sepuh Aceh, Tgk Haji Idris Mahmud Lamnyong (87) bercerita: Suasana Aceh 
masa Belanda terulang kembali di masa DI/TII, masa DOM, dan sekarang. Kini 
rakyat kembali ketakutan. Mungkin saja kelaparan dan penyakit kolera akan 
berulang kembali. Bila perdamaian antara GAM dan RI tidak terwujud, perang 
besar akan berkecamuk. Bila perang pecah, sejarah akan berulang. Sawah rakyat 
terbengkalai, tentara yang mirip Marsose masuk kampung seperti zaman itu. Dulu 
Belanda menjalani politik Plah Trieng (Politik adu domba dijalankan, yang satu 
diangkat dengan tangan dan yang satu ditekan dengan kakinya).
Dulu banyak orang Aceh yang menjadi cuak Belanda. Syahid Teuku Umar, Teuku Syik 
Di Tiro, Cut Meutia, Tgk Chik Di Tunong, Pang Abbas, Tgk Imum Lueng Bata, dan 
lain-lain semua karena kerja cuak. Jangan-jangan nanti juga banyak yang jadi 
cuak kembali.
Satu hal yang perlu kita renungkan. Setelah Belanda melakukan politik bumi 
hangus, orang-orang Aceh melakukan perlawanan yang sangat menakutkan: Tipu 
Aceh. Ada yang membunuh Belanda dengan cara pura-pura bertamu, pura-pura 
menyerah, menikam Belanda di jalan, dan bahkan siap menjadi martir dengan 
menyerang Belanda dan bunuh diri.
Orang Belanda memberi gelar hina Aceh Moord (Aceh Pungo) karena tidak mau 
menyerah kepada mereka. Siapa sebenarnya yang pungo? Terbukti yang pungo itu 
adalah Belanda sendiri. Orang Aceh masih sehat dan berpikiran jernih. Orang 
Aceh tidak pernah merampok tanah air Belanda, memperkosa ibunya. Orang Aceh 
tidak pernah minum arak, main perempuan dan menyembah berhala, tetapi orang 
Belanda melakukan semua yang terlarang itu. Siapa yang gila?
Tabel Perkiraan Orang Aceh yang syahid dalam kekejaman Marsose



Mempertahankan Masjid Raya Baiturrahman
2000 orang

Pertempuran di Aneuek galong
1000 orang

Pertempuran di Lueng Bata
1000 orang

Pertempuran di Indrapuri dan Montasiek
1000 orang

Pertempuran di Seulumem
100 orang

Pertempuran di Kuala Gigieng
2000 orang

Pertempuran di Batee Iliek
2000 orang

Pertempuran di Kuta Reh Aceh Tenggara
516 orang

Pertempuran di Rikit Gaib Aceh Tenggara
432 orang

Pertempuran di Tampeng Aceh Tengah
176 orang

Pertempuran di Blang Kejeren
2549 orang
 
 
(Ini hanya sebagian data, masih banyak lagi)
 
* Penulis, alumnus Jurusan Sejarah Islam di IAIN Ar-Raniry.
 
Sumber: http://www.pu.go.id/pemdaaceh/buletin/Jul-Agus/Tamaddun.htm
 


      _________________________________________________________
Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og
notisblokk. http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke