HAMID AWALUDIN MENEPUK 
  PUNGGUNG
  MALIK MAHMUD DAN ZAINI ABDULLAH
   
   
  08/10/2008 09:21 WIB
  
Terima Mantan Juru Runding RI 
  [ rubrik: Serambi | topik: Pemerintahan ]
  SELANGOR – Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Dr Tgk Hasan Muhammad 
Ditiro, hingga hari keempat berada di Malaysia, Selasa (7/10) kemarin, masih 
terus melakukan serangkaian pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat yang 
mengunjunginya di satu hotel yang terletak di kawasan Shah Alam, Selangor Darul 
Ehsan, Malaysia. Di antaranya, menerima mantan Juru Runding Pemerintah RI yang 
ikut menandatangani MoU Helsinki, Hamid Awaluddin. 
  Wartawan Serambi, Zainal Arifin M Nur, dari Selangor, Malaysia, tadi malam 
melaporkan, Hamid Awaluddin yang kini menjabat sebagai Duta Besar RI untuk 
Rusia, datang ke hotel tempat petinggi GAM menginap sekitar pukul 15.30 waktu 
Malaysia. Hamid yang datang bersama seorang staf perwakilan RI di Malaysia, 
disambut di lobi hotel oleh mantan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud, mantan 
Menlu GAM Zaini Abdullah, serta sejumlah petinggi GAM lainnya. 
  Pertemuan antara mantan Menkum HAM RI itu dengan para petinggi GAM, tak 
ubahnya seperti pertemuan antara sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Hamid 
Awaluddin, Malik Mahmud, serta Zaini Abdullah tampak berpelukan erat saat 
pertama bertemu di lobi hotel, juga ketika akan naik mobil dan meninggalkan 
hotel tersebut. Sementara pertemuannya dengan Hasan Tiro yang akrab disapa 
dengan sebutan Wali itu, dilaporkan berlangsung tertutup di ruang tamu suite 
room, tempat Wali menginap. 
  Kepada Serambi dan sejumlah wartawan yang mencegatnya sesaat hendak 
meninggalkan hotel, Hamid Awaluddin mengatakan, bahwa kedatangannya ke hotel 
tersebut adalah untuk bersilaturrahmi. “Silaturrahmi biasa habis lebaran. Ini 
kan saya baru bertemu dengan Teungku Malik dan Teungku Zaini habis lebaran,” 
kata Hamid seraya menepuk punggung kedua petinggi GAM tersebut. 
  Ketika ditanya Serambi, apakah ada pembicaraan khusus dalam pertemuannya 
dengan Hasan Tiro? Hamid Awaluddin lagi-lagi mengelak kalau ia baru selesai 
melakukan pertemuan dengan deklarator GAM itu. “Nggak, saya silaturrahmi saja. 
Kan saya dengan kedua beliau ini selalu berkomunikasi. Kebetulan kita janjian 
ketemunya di sini, ya ketemu di sini, apalagi habis Idul Fitri. Memang sudah 
lama kita janjian untuk ketemu,” ujaranya. 
  Ditanya apakah ia akan ikut datang ke Aceh bersama dengan rombongan Hasan 
Tiro pada 11 Oktober 2008 ini, Hamid tidak bisa memastikannya. “Saya lihat dulu 
schedule (jadwal) ya,” katanya sembari menambahkan bahwa ia selalu diundang 
untuk datang ke Aceh. 
  Sosok Lampoh Awe 
  Menurut Hamid Awaluddin, dalam silaturrahmi tersebut, mereka banyak 
membicarakan tentang sosok Tgk Muhammad Usman Lampoh Awe, mantan menteri 
keuangan GAM yang meninggal dunia beberapa waktu lalu. “Kami banyak bicara 
tentang teman kami yang meninggal dunia, Tgk Muhammad Usman Lampoh Awe. Itu 
karena beliau sudah sangat dekat. Saya begitu dekat, karena waktu itu kan 
beliau di penjara. Jadi ada perasaan sedih saya dengar bahwa beliau meninggal 
beberapa hari lalu,” ungkap Hamid. 
  Sementara itu, Pembantu Khusus Wali, Ustaz Muzakkir Abdul Hamid yang ikut 
hadir dalam pertemuan itu, juga mengatakan tidak ada hal khusus yang 
dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Menurut Muzakkir, Hamid Awaluddin 
menyampaikan kepada Tgk Hasan Tiro tentang proses tercapainya perjanjian damai 
Helsinki. Hamid, kata Muzakkir, juga mengatakan ia sudah lama mengenal sosok 
Tgk Hasan Tiro melalui berbagai literatur, sehingga juga berkeinginan untuk 
bertemu dengan pucuk pimpinan tertinggi GAM itu. 
  Selain pertemuan tersebut, Hasan Ditiro, kemarin juga menerima sejumlah tamu 
yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk sejumlah wanita janda korban 
konflik. Beberapa mahasiswa asal Aceh di Malaysia, dan sejumlah wartawan 
televisi swasta yang datang dari Jakarta, serta tiga wartawan televisi 
Malaysia, terlihat menunggu kesempatan untuk bertemu pucuk pimpinan GAM 
tersebut di lobi hotel. Namun, hingga berita ini diturunkan pukul 22.30 WIB 
malam tadi, tidak diperoleh konfirmasi apakah mereka sudah diagendakan untuk 
bertemu atau belum.***

       

Kirim email ke