http://www.waspada.co.id/Opini/Tajuk-Rencana/Hasan-Tiro-&-pemilu.html
Hasan Tiro & pemilu
Monday, 06 October 2008 06:01 WIB
WASPADA ONLINE
Menurut jadwal, mantan pemimpin pemberontak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di
masa lalu Hasan Tiro akan pulang kampung pada 11 Oktober mendatang. Kepulangan
Hasan Tiro tentunya menarik perhatian publik. Tidak hanya bagi warga Aceh saja,
tetapi juga oleh masyarakat lainnya di tanah air, termasuk pemerintah pusat dan
daerah.
Bagi masyarakat (publik) kepulangan Hasan Tiro sekaligus ingin memastikan
keberadaannya saat ini, karena selama ini Hasan Tiro acapkali diberitakan atau
diisukan sudah meninggal di luar negeri (Swedia). Namun berita dan isu itu
kemudian diralat yang menyebut Hasan Tiro masih hidup.
Sosok Hasan Tiro sendiri bisa dilihat dari berbagai sisi. Sebagian
masyarakat melihatnya sebagai tokoh kharismatik, khususnya bagi rakyat Aceh.
Mereka menaruh sangat hormat pada sosok tua, kurus dan kini disebut-sebut dalam
keadaan sakit-sakitan karena uzur termakan usia. Namun di sisi lain, Hasan Tiro
identik dengan "pemberontak". Dialah sosok yang ditakuti pemerintah pusat
semasa GAM menjadi musuh TNI karena ingin memisahkan Aceh dari NKRI. Tidak
terhitung sudah berapa jumlah anggota TNI/Polri yang tewas, anggota GAM yang
tewas, rakyat sipil yang juga tewas semasa konflik selama dua dasawarsa lalu.
Oleh karena itu, sejalan dengan sudah berjalannya perdamaian, semua pihak
hendaknya melihat sosok Hasan Tiro secara positif. Lupakan masa lalu, mari kita
tatap masa depan. Benar sekali apa yang dikatakan mantan tokoh GAM bahwa Hasan
Tiro bukan hanya milik kombatan GAM tapi juga tokoh masyarakat provinsi ujung
paling barat Indonesia ini. Dialah pemegang kunci perdamaian yang kini telah
dirasakan bersama-sama seluruh rakyat Aceh. Kalau saja Hasan Tiro menolak MoU
Helsinki, pastilah perdamaian di Aceh belum terwujud hingga saat ini. Pastilah
korban terus berjatuhan, dan pastilah Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla tidak
memperoleh apresiasi dari pemimpin dunia.
Tentunya, seluruh komponen masyarakat Aceh akan senang jika Hasan Tiro
pulang dan menjadi guru bagi rakyat Aceh pada umumnya.
Mencermati apa yang dikatakan Ketua Komisi Peralihan Aceh (KPA) Pusat
Muzakkir Manaf bahwa kepulangan Hasan Tiro merupakan keinginannya sendiri,
tanpa ada yang mengundang, menurut hemat kita sah-sah saja Manaf mengatakan
seperti itu karena memang sulit mengonfirmasikan kebenarannya secara langsung
kepada Hasan Tiro. Momentum Idul Fitri saat ini memang ideal, sangat pas, di
mana masyarakat Aceh dapat saling melepas rindu sembari bermaaf-maafan.
Hanya saja, kendala yang mungkin timbul adalah faktor kesehatan, di mana
pemimpin GAM itu sudah sangat uzur dan sakit-sakitan sehingga membawanya pulang
ke Aceh bertemu dengan saudaranya di Aceh sebenarnya juga berisiko.
Tentu saja kepulangan Hasan Tiro sangat menguntungkan Partai Aceh yang
identik dengan GAM. Apalagi, cukup banyak partai lokal (Parlok) Aceh yang ikut
Pemilu sehingga mereka harus mencari simpati dari masyarakat Aceh yang selama
ini pro-GAM. Tak pelak lagi, kepulangan Hasan Tiro juga dapat mendatangkan
simpati dari mayarakat Aceh pada Parlok, khususnya Partai Aceh karena ketokohan
Hasan Tiro dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Aceh, khususnya dalam bidang
ekonomi, hukum dan syariat Islam.
Justru itu, Idul Fitri 1429 H merupakan momentum strategis untuk
"mendatangkan" Hasan Tiro. Karena Manaf yang lebih aktif mengupayakan
kepulangan Hasan Tiro pastilah pusat perhatian masyarakat Aceh akan terpusat
pada partai yang dipimpinnya sehingga tidak tertutup kemungkinan partai inilah
yang bakal meraih keuntungan besar atas pulang kampungnya Hasan Tiro. Bisa-bisa
Partai Aceh bakal meraih kemenangan mutlak dalam Pemilu legislatif April tahun
depan.
Sedangkan partai-partai nasional bisa-bisa akan gigit jari, mengingat
karakteristik masyarakat Aceh sangat berbeda dengan daerah-daerah lain. Dan
itulah yang terlihat dalam berbagai Pilkada Gubernur maupun Pilkada Walikota
dan Bupati, di mana tokoh-tokoh GAM berjaya memenangkan dan duduk sebagai
pejabat tertinggi di sebuah wilayah. Kalau partai-partai nasional tidak kerja
keras bisa jadi mereka tidak kebagian kursi di DPRK.
Kalaupun dikatakan bahwa kepulangan Hasan Tiro itu tidak ada kaitannya
dengan undangan pihak lain, tapi murni keinginannya sendiri untuk
bersilaturrahim dengan keluarga dan masyarakat Aceh setelah hampir 30 tahun
ditinggalkannya, namun tetap saja sangat kental dengan nuansa politik yang
sudah memasuki tahapan kampanye saat ini. Jadi, pertanyaan: Ada apa dengan
(trik) kepulangan Hasan Tiro? Tentu erat kaitannya dengan kerinduan rakyat Aceh
sendiri untuk bersilaturahim dengan tokoh idolanya. Kaitan lainnya, tidak lepas
dari politik dan dekatnya Pemilu yang sudah di ambang pintu.
<<pdf_button.png>>
<<printButton.png>>
<<emailButton.png>>
