Media Indonesia 11 Oktober 2008 21:09 WIB
Hasan Tiro Tegaskan Perjuangan Melalui Jalur Politik
Penulis : Amiruddin Abdullah
MI/Adam Dwi
BANDA ACEH--MI: Kedatangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro ke Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) disambut sekitar 100 ribu warga di halaman Masjid Raya
Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (11/10). Dalam pidatonya, ia menegaskan
perjuangan melalui jalur politik harus dilakukan.
Massa yang berdatangan sejak Kamis (9/10) dari berbagai kabupaten/kota di Aceh
hanya untuk melihat pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Rombongan Hasan Tiro tiba di bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda
Aceh, dengan menggunakan dua pesawat milik penerbangan Malaysia, yaitu Fire Fly
nomor penerbangan 9M-FY A dan Fire Fly nomor penerbangan 9M-FY B.
Puluhan mantan aktivis GAM yang selama ini menetap di berbagai negara juga ikut
bersama rombongan dengan menggunakan pesawat lainnya yakni Fire Fly nomor
penerbangan 9M-FY A.
Rombongan pengikutnya itu mendarat lebih awal yakni sikitar pukul 10.55 Wib.
Sedangkan Hasan Tiro sendiri yang menggunakan pesawat Fire Fly 9M-FY B,
mendarat sekitar pukul 11.30 Wib.
Tiro bertolak dari bandara Subang Airport, Kuala Lumpur, Malaysia, bersama
rombongan diataranya mantan juru runding RI, Fariz Husin, Zainal Abidin, mantan
Panglima GAM Muzakir Manaf, mantan Menteri Pertahanan Zakaria Saman, mantan
Perdana Menteri Malik Mahmud, pembantu Khusus Hasan Tiro Muzakir Abdul Hamid,
dan Gubernur NAD Irwandi Yusuf yang beberapa hari sebelumnya mennjemput ke
Kuala Lumpur.
Saat turun dari tangga pesawat Tiro, melambaikan tangan kepada wartawan yang
sedang membidik lensa kameranya ke arah pesawat. Lelaki berusia 83 tahun itu
dituntun oleh Malik Mahmud dan satu orang lainnya.
Ketika menginjak kakinya di tanah dia langsung melakukan sujud syukur di atas
landasan bandara yang telah digelar sajadah oleh Zakaria Saman.
Ditempat tersebut Tiro juga melakukan upacara adat ditepung tawar oleh kakak
wanitanya, Minyak Ubit mewakili anggota keluarganya. Hasan Tiro juga disambut
oleh Wakili Gubernur NAD Muhammad Nazar.
Pantauan Media Indonesia, tidak ada pengamanan khusus dari kepolisian sepanjang
jalur yang dilalui dari Bandara hingga ke Masjid Raya Baiturrahman dan pendopo
gubernuran. Pengamanan ketat dilakukan oleh 600 orang mantan kombatan GAM.
Di mimbar terbuka di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Hasan Tiro tidak
berceramah panjang lebar. Dia hanya berdiri sejenak mengucapkan salam
"Assalamualaikum" seraya mengucurkan air mata di hadapan massa yang menyemut di
halaman masjid raya.
Mantan pimpinan tertinggi GAM itu duduk di atas panggung bersama Malik Mahmud,
Zaini Abdullah, Zakaria Saman, Muzakir Manaf dan beberapa orang lainnya.
Dalam teks pidato tertulis Hasan Tiro, yang dibacakan Malik Mahmud mengatakan,
perdamaina Aceh harus dipertahankan oleh semua pihak. Menurutnya rakyat Aceh
harus menjaga kesatuan dan persatuan dari upaya perpecahan dan adu domba antar
sesama.
Perdamaian Aceh diperoleh berkat kerjasama antara pemerintah RI dan GAM yang
didukung oleh dunia internasional. Dia juga mengingatkan semua poin perjanjian
perdamaian yang di tandatangani para pihak di Helsinki, Finlandia, dapat
terealisasi dengan baik sesuai keinginan rakyat.
" Biaya perang memang mahal, tapi menjaga kedamaian lebih mahal. Maka
peliharalah kedamaian itu untuk kesejahteraan kita semua" tutur Hasan Tiro.
Perjuangan rakyat Aceh sekarang ini, katanya, adalah perjuangan ke arah sistem
yang membawa aspirasi seluruh rakyat Aceh melalui perangkat politik dalam usaha
memelihara perdamaian, keamanan dan kebebasan dengan cara yang adil, jujur, dan
bermartabat.
''Perjuangan dengan melalui jalur politik dan demokrasi inilah yang didukung
oleh dunia internasional dan semua lapisan rakyat Indonesia,'' ujar tokoh
berusia 83 tahun yang telah berkebangsaan Swedia ini.
Suasana di halaman masjid raya mirip kampanye partai politik. Bendera Partai
Aceh, partai lokal bentukan eks GAM bertebaran di mana-mana. Sebelum acara
dimulai sempat terjadi insiden penurunan bendera merah putih. Namun, aparat
keamanan kemudian menaikkan lagi bendera merah putih.
Setelah Acara tersebut, sekitar pukul 15.00 Wib, massa dari berbagai daerah di
Aceh, kembali pulang meninggalkan Banda Aceh. Sedangkan Hasan Tiro, dan
rombongannya singgah di pendopo gubernuran. Menurut innformasi dia bermalam di
rumah keluarganya di Banda Aceh.
Dia dijadwalkan juga akan berkunjung ke kampung halamannya Kecamatan Tiro,
Kabupaten Pidie. Namun tidak ada jadwal pasti yang dikeluarkan oleh pihak
Komite Peralihan Aceh (KPA)
Dibagian lain kemarin, sebagian warga melarang anak sekolah yang lokasi gedung
belajarnya seputaran kota Banda Aceh atau dekat dengan jalur kedatangan Hasan
Tiro.
"Saya takut karena lalulintas padat dan bila terjadi sesuatu hal anak anak
susah" kata Hasna, seoarang ibu rumah tangga di Bnada Aceh.
Tidak banyak anak sekolah tingkat SD, SMP dan SMA yang lalu lalang pada jam
sekolah. Mereka lebih memilih tinggal di rumah bersama orang tuanya.
Selain itu toko toko yang berjejeran di seputar Masjid Baiturrahman umumnya
tutup. Mereka tidak melakukan aktivitas berjualan hingga sore hari. Tapi para
penjual jajanan seperti nasi gerobak, makanan ringan dan minuman terlihat bayak
di pinggiran pagar masjid.
Adapun dua orang massa yang berkumpul di depan mesjid pingsan karena kelelahan
di terik matahari. Hingga berita ini diturunkan tidak diperoleh informasi
insinden kerusuhan atau kriminalitas lainnya akibat acara tersebut<<20081011_101322_tiro.jpg>>
