----- Original Message ----- 
From: tossi20 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, October 13, 2008 7:27 AM
Subject: [nasional-list] Hasan di Tiro: "Indonesia sudah berubah"



http://www.facebook.com/note.php?note_id=38996449399

see the daily headlines and photo's at my facebook site 
http://www.facebook.com/profile.php?id=631783883&ref=profile

Aboeprijadi Santoso - Hasan di Tiro: "Indonesia sudah berubah"

Share
Yesterday at 5:30am | Edit Note | Delete

Kembalinya pemimpin mantan pemberontak Gerakan Aceh Merdeka GAM, Dr. Teungku 
Chik Hasan Muhammad di Tiro, disambut euforia masyarakat. Meski demikian, satu 
batalyon TNI Kodam iskandar Muda berjaga-jaga di Lapangan Blang Padang lengkap 
dengan panser-panser. Namun KPA, Komisi Peralihan Aceh, wadah mantan kombatan 
GAM, percaya keamanan dapat terjaga oleh polisi. 

"Menyatukan Aceh"

"Indonesia sudah berubah, demokrasi kini menonjol," ujar Hasan di Tiro, seperti 
ditirukan oleh Malek Mahmud. Sejak Jumat malam rakyat dari berbagai kabupaten 
datang ke Banda Aceh untuk menyambut kedatangan Wali Nanggroe yang telah 30an 
tahun meninggalkan Aceh. Sabtu 11 Oktober tepat pukul 11.32 WIB pesawat Fire 
Fly milik Malaysia yang disewa rombongan mendarat di Bandara Sultan Iskandar 
Muda. Tengku Hasan di Tiro ditemani sejumlah pejabat tinggi GAM, antara lain 
Malek mahmud dan Zaini Abdullah dan Gubernur Irwandi Yusuf, dan juga salah satu 
juru runding Farid Husein dan aktivis perdamaian Aceh dari Finlandia Juha 
Christensen turun dari pesawat. 

Menjelang kedatangan Wali Nanggroe ini, Azan diserukan, dan Tengku Hasan begitu 
mencapai bumi Aceh langsung sujud. Dua petinggi GAM, Sofyan Dawood dan Nur 
Djuli memandang kedatangan Hasan di Tiro sebagai menyambut perdamaian dan 
menyatukan Aceh. Menanggapi Lapangan Blang Padang yang `diduduki' sekitar satu 
batalyon Kodam Iskandar Muda, lengkap dengan peralatan tempur (setelah perayaan 
Hari TNI 9 Okt) Sofyan Dawood mengatakan dirinya "lebih percaya pada polisi".

"Dengan cara apa saja ..."

Dari bandara rombongan Hasan di Tiro menuju Masjid Raya Baiturrachman. Di sana, 
selepas sholat dzuhur, Tgku Hasan di Tiro sempat menyatakan dukungan dan 
menyerukan agar perdamaian tetap terjaga.

Hasan di Tiro, cicit dari pahlawan nasional RI, Teungku Chik di Tiro, mulai 
tergugah sejak memprotes peperangan RI melawan Darul islam pimpinan Teungku 
Daud Beureu'eh, belakangan mengubah cita cita Darul Islam menjadi nasionalisme 
Aceh. Redefinisi aspirasi dan perjuangan dari asas religius menjadi kebangsaan 
inilah yang hendak diwujudkannya dengan proklamasi Aceh Merdeka di kaki gunung 
Halimun, Pidie, 4 Desember 1976. 

Dalam wawancara dengan Radio Nederland pada 1996 di Den Haag, Belanda, Hasan 
mengatakan kemerdekaan itu hak Aceh. Saya tanya, bagaimana caranya meraih 
kemerdekaan, Hasan ketika itu menjawab: "Dengan cara apa saja..."

Kepada Malek Mahmud, mantroe (menteri) GAM, yang juga ketua delegasi perunding 
GAM di Helsinki, kini Radio Nederland menanyakan bagaimana Teungku Hasan di 
Tiro melihat demokrasi di Aceh dan di Indonesia? "Indonesia sudah berubah, 
demokrasi kini menonjol. Hal itu terbukti dari konflik yang 30 tahun (tapi) 
kita hanya butuh lima ronde untuk menyelesaikannya (di Helsinki)," ujar Malek 
Mahmud.

Seminggu berikut ini, tamu istimewa Aceh itu akan menghabiskan waktunya dengan 
berziarah ke kakek keturunan Chik di Tiro di Indragiri dan ke desa asalnya di 
Pidie.

State vs society

Hampir tak ada daerah di Indonesia yang mampu menunjukkan bobot masyarakat dan 
publiknya begitu besar besar sepanjang beberapa dasawarsa vis a vis negara 
(state), terutama sejak runtuhnya Orde Baru akhir 1990an. Sampai 2004 hal itu 
terbukti dari naik daunnya GAM dan vokalnya gerakan sipil, meski keduanya 
kemudian harus tiarap karena Darurat Militer (2003-04). 

Situasi itu mengingatkan kita pada perjuangan kemerdekaan Indonesia (1947-49: 
Belanda secara militer kuat dan politik lemah; sebaliknya, Indonesia secara 
politik kuat, dukungan rakyat dan dunia, namun secara militer lemah); begitu 
juga pada perjuangan Timor Timur melawan penjajahan Indonesia (khususnya 
1991-99: Indonesia secara militer kuat, tapi secara politik, Timor Leste-lah 
yang kuat, dengan dukungan rakyat dan dunia, sedangkan secara militer gerilya 
Fretilin hampir hancur luluh).

Bedanya: dalam hal Aceh, dukungan dunia pada perlawanan GAM sangat lemah, 
bahkan fatal (Amerika tidakmau memasukkan GAM dalam daftar gerakan teror, bukan 
karena mendukung GAM, tapi untuk mendesak GAM berunding). Tsunami kemudian 
mengubah perhatian dunia menuju perdamaian.

Akhir 2004 GAM secara militer terdesak dan bersedia berunding. Kemudian datang 
musibah tsunami (176 ribu korban tewas dan hilang di Aceh). Tsunami menuntut 
rekonstruksi, rehabilitasi sosial dan ekonomi dan bantuan dunia, tapi 
rehab-rekon hanya mungkin bila konflik berakhir. Maka GAM dan RI dapat berdamai 
tanpa kehilangan muka. (Helsinki, Agust. 2005) 

Bobot suara dan gerakan masyarakat berkali-kali terungkap dalam manifestasi 
besar, dari demo referendum (8 Nov. 1999), SIRA-RAKAN (Nov. 2001) yang dihajar 
represi, dan setelah perdamaian terungkap dari euforia perdamaian (2005), 
kunjungan Malek & Zaini (2006), Pilkada dan kemenangan wakil wakil GAM (2006) 
dan sekarang kunjungan pendiri GAM, Hasan di Tiro.

`Perang Dingin'

Namun periode pasca-konflik juga ditandai pasang surut insiden yang mengungkap 
semacam perang dingin. Paranoid TNI muncul dalam wacana kecurigaan bahwa kini, 
melalui perdamaian, GAM akan menggiring pemilu menuju referendum kemerdekaan. 
Kemenangan GAM dalam Pilkada dan kunjungan Hasan di Tiro memperkuat wacana tsb. 
Kodam dipimpin mantan Danjen Kopassus Mayjen Soenarko belakangan melancarkan 
"Operasi Waspada". Berulangkali terjadi insiden dan kekerasan pada kantor atau 
oknum eks GAM dan anggota KPA. Pada hari kedatangan Hasan di Tiro, di desa 
Lingke, dekat markas Brimob, terjadi ledakan dan di Langsa kantor KPA dibakar. 
Sebelumnya, seorang anggota TNI diculik. Hampir semua kasus itu tak terungkap 
dalang dan pelakunya.

Pada gilirannya, ketegangan `perang dingin' juga melanda elit GAM sejak 
memenangkan Pilkada Des. 2006. Sayap muda GAM dan kelompok eks kombatant 
Irwandi, Sofyan Dawood) berselisih tajam dengan elit GAM di pengasingan, staf 
dan tokoh-tokohnya di Aceh (alm. M. Usman Lampoh Awe, Zakaria Saman). Sedikit 
banyak hal ini juga nampak lagi dalam persiapan dan penyambutan Hasan di Tiro. 
Tapi Hasan di Tiro - selaku Wali Nanggroe (yang diklaimnya sendiri namun diakui 
penuh oleh semua sayap GAM) - lah yang menggenggam legitimasi, dan dengan 
demikian, bobot eks GAM di luar KPA dan Partai Aceh tergantung pada Malek 
Mahmud. 

Ketegangan di tingkat elit sebagian juga terjadi karena meningkatnya kompetisi 
bisnis antar sebagian elit GAM, antara mereka dengan sektor masyarakat yang 
lain, dan terhadap eks kombatan tingkat bawahan dan daerah eks supporter GAM. 
Elit GAM, sayap Swedia mau pun sayap muda, menguasai bisnis dan menimbulkan 
friksi friksi. 

Dengan demikian, reintegrasi GAM dan rehabilitasi Aceh pun masih panjang. 
Kunjungan nostalgia-semi-politik Hasan di Tiro tak akan mengubah prospek ini 
dengan mudah. Aceh boleh saja bebas dari tsunami alami dan tsunami kekerasan 
tentara (juga GAM), namun perjalanan aspirasinya masih panjang ... 

Namun, kembalinya mantan pemimpin pemberontak separatis GAM, Teungku Hasan di 
Tiro ini, meski dikatakan merupakan kunjungan kangen Aceh, tentu dapat 
memperkuat legitimasi GAM, khususnya Partai Aceh yang didirikan GAM, menuju 
pemilu 2009.

Aceh Baru & Bhinneka

Bagi Jakarta, Aceh, dengan kedatangan Teungku Hasan di Tiro, sekali lagi 
menggarisbawahi sosok Aceh Baru sebagai tantangan bagi kebhinnekaan Indonesia, 
setelah Indonesia - rezim demi rezim, terutama Orde Baru - selama ini, 
terlampau lama, lebih menekankan sentralisme dan "tunggal ika" (baca: 
keJawaan), ketimbang "bhinneka"nya.

ends


 

Kirim email ke