http://www.antara.co.id/arc/2008/11/1/cut-nyak-dhien-juga-cerdas-di-bidang-agama/

01/11/08 13:49

Cut Nyak Dhien Juga Cerdas di Bidang Agama
Oleh Saidulkarnain Ishak


Jakarta (ANTARA News) - Pahlawan nasional asal Provinsi Nanggroe Aceh 
Darussalam (NAD) bukan hanya jago dalam mengatur strategi perang melawan 
penjajah pada masanya, tapi juga cerdas di bidang agama Islam dan bahkan mampu 
menghafal Al-Quran.

Kecerdasan bidang agama dan dapat menghafal Al-Quran perempuan yang 
diasingkan penjajah Belanda diakui Bupati Sumedang, Don Murdono, dalam 
pertemuan dengan peserta napak tilas seratus tahun meninggalnya Cut Nyak Dhien 
belum lama ini.

Bupati mengatakan, Cut Nyak Dhien di masa hidupnya ikut memberi bimbingan 
ajaran agama Islam kepada masyarakat Sumedang. 

Menurut dia, perempuan asal Aceh itu juga cepat beradaptasi dengan lingkungan 
karena 
memiliki kecerdasan menghafal kitab suci Al-Quran.

Kegiatannya sehari-sehari Ibu Perbu (ibu Ratu), demikian sebutan masyarakat 
Sumedang kepada Cut Nyak Dhien, dipergunakan untuk mengulang kaji ilmu agama 
dan membaca Al-Quran, meskipun penglihatannya tidak seperti saat terlibat 
langsung dalam peperangan.

Dalam usia yang hampir 60 tahun itu tetap mengaji serta mengajarkan 
ilmu agama Islam kepada masyarakat yang datang bersilaturrahmi ke rumah tempat 
tinggalnya sekitar Masjid Agung Sumedang dan mengajarkan Al-Quran kepada 
anak-anak sekitarnya.

"Jadi, kecerdasan Cut Nyak Dhien bukan hanya mengatur prajurit berperang 
melawan penjajah Belanda yang terjadi sekitar 1873, tetapi juga mahir di bidang 
agama," kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) 
Provinsi Aceh Raihan Putry Ali Muhammad.

Ini patut menjadi teladan bagi perempuan Aceh sekarang. Kaum perempuan harus 
menguasai berbagai pengetahuan sejalan kemajuan, namun tetap cerdas di bidang 
agama Islam dan adat istiadat karena itu merupakan identitas masyarakat Aceh 
yang terkenal fanatik.

Kegiatan napak tilas dan ziarah ke makam Cut Nyak Dhien di Sumedang,Jabar, itu 
sebagai upaya menggali apa yang patut dan perlu diteladani kaum perempuan masa 
kini. Ternyata banyak hikmah yang dapat dipetik dari kegiatan ini, antara lain 
terkait kecerdasan Cut Nyak Dhien di bidang agama Islam.


Pererat Silaturrahmi

"Ini sejalan dengan tujuan dilakukan napak tilas dan ziarah itu sendiri, ya 
untuk membangkitkan kembali semangat kaum perempuan Aceh di bidang pendidikan, 
ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan," kata Raihan Putry Ali Muhammad 
yang juga dosen IAINB Ar-Raniry Aceh itu.

Selain itu, kegiatan yang melibatkan sejumlah perempuan ini dimaksudkan untuk 
mempererat tali silaturrahmi antara masyarakat Aceh dengan masyarakat Sumedang 
yang sudah dilakukan pahlawan nasional seabad lalu, tepatnya sekitar Juli 1907 
saat diasingkan ke Sumedang. 

Dalam waktu relatif singkat, Cut Nyak Dhien bisa menjalin dan mempererat tali 
silaturrahmi. Cut Nyak Dhien menjadi perekat dua kelompok masyarakat yang 
berbeda daerah tersebut.

Kaum perempuan daerah Aceh perlu mengambil iktibar positif sesuai kondisi 
seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien di masa hidupnya. Perempuan Aceh yang 
berjiwa Islami perlu mempersiapkan diri dan menyahuti perkembangan kemajuan 
teknologi informasi, katanya.

Semua yang mengikuti jejak Cut Nyak Dhien harus cerdas. Tidak ada suatu 
keturunan sukses tanpa pengetahuan dan kecerdasan, kata istri mantan Gubernur 
Aceh, Hj Marlinda Abdullah Puteh, yang ikut serta napak tilas dan ziarah yang 
dipimpin Darwati A Gani, istri Irwandi Yusuf itu.

Marlinda mengatakan, sosok Cut Nyak Dhien yang cerdas itu hendaknya menjadi 
teladan bagi perempuan Aceh. Kaum perempuan daerah Serambi Makkah perlu meniru 
pahlawan nasional yang dapat menjalin silaturrahmi melalui kemahiran bernuansa 
Islami, tambahnya.

"Saya kira, semua apa yang diperlihatkan Cut Nyak Dhien dapat dijadikan teladan 
dan diaplikasikan dalam kehidupan, baik di bidang agama Islam maupun sosial 
kemasyarakatan. Kecerdasan dalam pengetahuan agama justru dikagumi dan disegani 
masyarakat," kata Marlinda.

Mustahil pengakuan datang tanpa kecerdasan di bidang tertentu. Oleh karena itu, 
agaknya program napak tilas yang pertama sekali dilakukan Pemerintah Aceh ini 
lahir dari akal pikiran cerdas, kata istri mantan Wakil Gubernur Aceh Meutia 
Azwar Abubakar.


Perempuan bersatu

Hubungan silaturrahmi yang dirintis Cut Nyak Dhien antara dua kelompok 
masyarakat berbeda daerah itu kiranya dapat diaplikasikan dalam kehidupan masa 
kini. Perempuan daerah Aceh harus bersatu dan saling mendukung untuk mencapai 
suatu tujuan bersama, katanya.

Sudah waktunya pemikiran negatif yang mengarah pada pembunuhan karakter sesama 
diabaikan dalam kehidupan yang menuntut kecerdasan. Perempuan yang cerdas akan 
sirna kecerdasannya manakala mengaplikasikan sikap tak simpati terhadap sesama.

Kekompakan merupakan modal utama untuk mewujudkan kemitraan (gender) 
berkeadilan dalam kehidupan. Mustahil keinginan kemitraan dapat dicapai jika 
kaum perempuan tak saling mendukung dan memberi motivasi seperti dilakukan Cut 
Nyak Dhien seratus tahun silam.

Upaya menjaga kekompakan tidak sulit diwujudkan meski era globalisasi 
menghampiri berbagai suku bangsa di jagad raya ini. Berpikir kreatif dan cerdas 
dalam kehidupan tanpa pemikiran negatif melihat kesuksesan seseorang tentu 
salah satu syarat perwujudan kekompakan.

Kecerdasan bernuansa Islami seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien perlu 
diaplikasikan dalam kehidupan perempuan Aceh masa ini. Kecerdasan akan kurang 
bermakna manakala pemilknya tidak hati-hati mencermati perkembangan dan bisa 
keliru tanpa menyadari cerdas sirna.

Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan 
bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara 
kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran 
cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama.

Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai 
bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan. Agaknya 
sosok Cut Nyak Dhien yang mampu menjalin tali silaturrahmi dengan masyarakat 
Sumedang menjadi inspirasi perempuan Aceh kini.

Pahlawan nasional Cut Nyak Dhien kini telah tiada. Tidak sedikit teladan 
ditinggalkan dan perlu ditiru dan dikedepankan. Tidak keliru manakala kaum 
perempuan Aceh membiasakan kebenaran berdasarkan pemikiran cerdas dan jangan 
membenarkan kebiasaan dalam kehidupan.

Kirim email ke