__,_._,_
__ From: Hsndwsp Tampok Donja [EMAIL PROTECTED]
Tantangan dan Rencana Presiden Baru
Sunday, 09 November 2008
Ajang pemilu presiden AS termahal akhirnya berakhir dengan kemenangan calon
presiden dari Partai Demokrat, Senator Barack Obama. Pemilu kali ini tercatat
sebagai pemilu paling bersejarah lantaran seorang kulit hitam mampu lolos ke
Gedung Putih. Mayoritas media-media AS dan Eropa menyebut kemenangan Obama
sebagai tonggak perubahan penting di AS. Terpilihnya Barack Obama sebagai
presiden AS yang ke-44 terjadi hanya berselang 4 dekade setelah pencabutan
undang-undang diskiriminasi rasial di negara ini. Karena itulah, kemenangan
Obama pada pemilu Selasa (4/11) lalu terbilang sebagai perubahan paling
bersejarah bagi rakyat AS.
Sebagian pengamat melihat, kemenangan seorang afro-amerika semacam Obama
membuktikan bahwa isu rasialisme di negeri Paman Sam relatif sudah meluntur.
Namun begitu, kita juga tidak bisa melupakan kondisi sosial dan ekonomi
kalangan minoritas 35 juta warga kulit hitam di AS. Sebagian besar mereka masih
hidup dalam kondisi diskriminatif yang amat memprihatinkan. Pendapatan
rata-rata keluarga kulit putih di AS menurut data tahun 2002, sekitar 88 ribu
USD atau 15 kali lipat lebih besar dari pendapatan keluarga keturunan Afrika.
Angka korban tewas akibat beragam insiden di kalangan kulit hitam 10 kali lipat
lebih besar. Di lingkungan pendidikan pun, diskriminasi rasial masih kentara.
Sepertiga pelajar kulit hitam AS hanya belajar di sekolah-sekolah yang 90
persen muridnya adalah pelajar kulit hitam juga. Di sebagian besar
negara-negara bagian AS, para kepala sekolah kulit putih enggan menerima
pelajar kulit hitam.
Angka kriminalitas dan jumlah tahanan di AS juga menunjukkan adanya jurang yang
lebar antara warga kulit hitam dan kulit putih. Berdasarkan laporan departemen
kehakiman AS pada tahun 2004, 70 persen tahanan AS adalah warga kulit berwarna
dan 29 persen warga kulit hitam minimal pernah sekali dijebloskan ke penjara.
Melihat kenyataan ini, sejumlah kalangan menilai bahwa kemenangan Obama sebagai
presiden jangan dinilai sebagai berakhirnya fenomena rasialisme di AS. Selain
itu, kita perlu juga melihat secara realistik kebijakan dan slogan kampanye
Obama. Selama ajang pemilu berlangsung, Obama berkali-kali menemui tantangan
sulit untuk merealisasikan program-programnya. Apalagi dia muncul lewat
dukungan kekuatan kapitalisme Abang Sam. Itu berarti, seluruh kebijakan luar
negeri dan dalam negeri yang bakal diusung oleh Obama harus bisa menjamin
kepentingan puak-puak kapitalis. Oleh karena itulah, sebagian besar pemerhati
masalah politik AS mengingatkan supaya
jangan terlalu berharap pada slogan perubahan yang dielu-elukan oleh Obama.
Obama sengaja memilih slogan perubahan lantaran ia melihat bahwa mayoritas
rakyat AS sudah muak dengan politik militeristik pemerintahan Presiden George
Bush yang dimotori oleh kubu Neokonservatif, Partai Republik. Keberhasilan
Obama lolos ke Gedung Putih, lebih disebabkan oleh kesuksesannya dalam
memanfaatkan situasi dan memilih slogan kampanye yang tepat. Tak seberapa lama
lagi struktur kekuasaan politik dan kebijakan warisan Bush bakal terungkap
nyata, sementara Obama sendiri tak bisa berbuat banyak hal untuk melakukan
perubahan fundamental sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat AS dan dunia.
Sistem politik AS merupakan sistem dwipartai. Rekam jejak politik partai
Republik dan Demokrat selama seabad terakhir menunjukkan bahwa tujuan yang
dikejar oleh kedua partai ini, khususnya di kancah politik luar negeri tidak
berbeda jauh. Dengan kata lain, mereka menganut strategi makro yang sama. Hanya
cara dan metode mereka yang saja yang berbeda dalam meraih tujuan politinya.
Saat ini Obama menghadapi tiga masalah utama. Tiga masalah mendasar yang selama
ini dinanti-natikan perubahan fundamentanya oleh masyarakat AS dan dunia.
Masalah pertama adalah keberadaan tentara AS di Irak dan Afghanistan. Salah
satu kritikan utama yang dilontarkan oleh Obama terhadap kebijakan Bush adalah
politik militeristik kubu Republik di Afghanistan dan Irak. Presiden kulit
hitam AS ini menjanjian bakal menarik tentara AS dari Irak dan lebih serius
menangani perang melawan terorisme di Afghanistan.
Belakangan ini, pemerintahan Bush sibuk mencari legitimasi internasional bagi
pasukan militer AS yang ditempatkan di Irak. Karena itulah, Gedung Putih begitu
berhasrat meloloskan draft perjanjian keamanan dengan Irak. Namun, lantaran
draft tersebut sarat dengan nuansa penjajahan dan mengabaikan kedaulatan
nasional Irak, maka rakyat dan para tokoh politik Irak pun menolaknya
mentah-mentah dan hinggi kini masih dalam proses tarik-ulur. Jika Bush sampai
dua bulan ke depan, saat masa kepemimpinannya berakhir belum berhasil
menggolkan draft perjanjian keamanan dengan pemerintah Baghdad, maka tugas
tersebut akan beralih ke pundak Obama. Padahal, sudah maklum jika tujuan utama
invasi AS ke Irak dan Afghanistan bukan untuk memberantas teroris. Tujuan utama
invasi AS ke Irak sejatinya untuk menguasai sumber minyak negara ini. Terlepas
dari partai mana yang menguasai Gedung Putih, AS sudah mempersiapkan program
jangka panjang di Irak.
Masalah lainnya yang dihadapi Obama adalah menepati janji-janji kampanyenya
selama ini. Dia menjanjikan bakal mengurangi pajak bagi kalangan menengah dan
memperbaiki layanan kesehatan publik. Selama beberapa dekade belakangan,
pemangkasan pajak dan peningkatan layanan kesehatan publik merupakan slogan
utama kampanye pemilu Demokrat. AS saat ini tengah didera krisis finansial yang
amat parah. Suatu hal yang memaksa pemerintah untuk mengintervensi pasar uang
dan meyuntikkan dana miliaran dollar untuk menstabilkan pasar finansial.
Intervensi tersebut menyebabkan terus membengkaknya defisit anggaran dan utang
negara. Selain itu, penerapan setiap kebijakan yang membebani anggaran
pemerintah niscaya akan mengdapi tantangan mendasar.
Begitu juga dalam masalah perbaikan layanan kesehatan publik. Semua tahu untuk
menyelesaikan masalah itu maka seluruh rakyat AS harus mendapat layanan
kesehatan tersebut. Tujuan itu bisa dicapai lewat penurunan harga obat-obatan
dan pemotongan pengaruh dominasi perusahaan asuransi. Saat ini, lebih dari 40
juta rakyat AS tidak memiliki asuransi sosial apapun. Lantaran tingginya biaya
perobatan, banyak warga AS yang tidak mendapat layanan kesehatan secara
maksimal. Jika Obama masih bertekad untuk merealisasikan janjinya itu, maka ia
pun harus berani menekan lobi perusahaan asuransi dan obat-obatan. Dan jika itu
terjadi tentu saja akan mengancam keuntungan mereka.
Persoalan lainnya adalah krisis finansial AS. Krisis tersebut telah membuktikan
pada semua orang bahwa untuk mencegah terulangnya kembali krisis tersebut, tak
ada cara lain kecuali pemerintah mengintervensi pasar uang dan modal. Saat ini
sistem finansial AS bahkan dunia memerlukan perubahan mendasar. Namun,
pemerintah Bush masih menyikapi dingin tawaran negara-negara Eropa untuk
merombak total sistem keuangan dunia. Pasalnya, pusat-pusat keuangan swasta AS
menolak adanya pengawasan dan intervensi pemerintah dalam pasar uang.
Begitu juga dengan Obama. Ia tidak punya pilihan lain kecuali meneruskan
kebijakan Bush dalam menjamin keinginan para pemilik bank dan lembaga finansial
besar di AS. Satu hal yang tak boleh dilupa adalah bahwa perusahaan-perusahaan
besar AS merupakan pemasok utama biaya kampanye para calon presiden dan anggota
kongres AS. Tentu saja mereka juga punya tuntutan timbal balik. Tegasnya,
perubahan yang akan digulirkan oleh Obama tidak akan sefrontal sebagaimana yang
diharapkan banyak kalangan. Dan mereka yang berharap Obama bisa menciptakan
tatanan dunia baru, niscaya bakal pesimis.
Next >
Politik Terbaru
Tantangan dan Rencana Presiden Baru
Ajang pemilu presiden AS termahal akhirnya berakhir dengan kemenangan calon
presiden dari Partai Demokrat, Senator Barack Obama. Pemilu kali ini tercatat
sebagai pemilu paling bersejarah lantaran seorang kulit hitam mampu lolos ke
Gedung Putih. Mayoritas media-media AS dan Eropa menyebut kemenangan Obama
sebagai tonggak perubahan penting di AS. Terpilihnya Barack Obama sebagai
presiden AS yang ke-44 terjadi hanya berselang 4 dekade setelah pencabutan
undang-undang diskiriminasi rasial di negara ini. Karena itulah, kemenangan
Obama pada pemilu Selasa (4/11) lalu terbilang sebagai perubahan paling
bersejarah bagi rakyat AS.
Sebagian pengamat melihat, kemenangan seorang afro-amerika semacam Obama
membuktikan bahwa isu rasialisme di negeri Paman Sam relatif sudah meluntur.
Namun begitu, kita juga tidak bisa melupakan kondisi sosial dan ekonomi
kalangan minoritas 35 juta warga kulit hitam di AS. Sebagian besar mereka masih
hidup dalam kondisi diskriminatif yang amat memprihatinkan. Pendapatan
rata-rata keluarga kulit putih di AS menurut data tahun 2002, sekitar 88 ribu
USD atau 15 kali lipat lebih besar dari pendapatan keluarga keturunan Afrika.
Angka korban tewas akibat beragam insiden di kalangan kulit hitam 10 kali lipat
lebih besar. Di lingkungan pendidikan pun, diskriminasi rasial masih kentara.
Sepertiga pelajar kulit hitam AS hanya belajar di sekolah-sekolah yang 90
persen muridnya adalah pelajar kulit hitam juga. Di sebagian besar
negara-negara bagian AS, para kepala sekolah kulit putih enggan menerima
pelajar kulit hitam.
Angka kriminalitas dan jumlah tahanan di AS juga menunjukkan adanya jurang yang
lebar antara warga kulit hitam dan kulit putih. Berdasarkan laporan departemen
kehakiman AS pada tahun 2004, 70 persen tahanan AS adalah warga kulit berwarna
dan 29 persen warga kulit hitam minimal pernah sekali dijebloskan ke penjara.
Melihat kenyataan ini, sejumlah kalangan menilai bahwa kemenangan Obama sebagai
presiden jangan dinilai sebagai berakhirnya fenomena rasialisme di AS. Selain
itu, kita perlu juga melihat secara realistik kebijakan dan slogan kampanye
Obama. Selama ajang pemilu berlangsung, Obama berkali-kali menemui tantangan
sulit untuk merealisasikan program-programnya. Apalagi dia muncul lewat
dukungan kekuatan kapitalisme Abang Sam. Itu berarti, seluruh kebijakan luar
negeri dan dalam negeri yang bakal diusung oleh Obama harus bisa menjamin
kepentingan puak-puak kapitalis. Oleh karena itulah, sebagian besar pemerhati
masalah politik AS mengingatkan supaya
jangan terlalu berharap pada slogan perubahan yang dielu-elukan oleh Obama.
Obama sengaja memilih slogan perubahan lantaran ia melihat bahwa mayoritas
rakyat AS sudah muak dengan politik militeristik pemerintahan Presiden George
Bush yang dimotori oleh kubu Neokonservatif, Partai Republik. Keberhasilan
Obama lolos ke Gedung Putih, lebih disebabkan oleh kesuksesannya dalam
memanfaatkan situasi dan memilih slogan kampanye yang tepat. Tak seberapa lama
lagi struktur kekuasaan politik dan kebijakan warisan Bush bakal terungkap
nyata, sementara Obama sendiri tak bisa berbuat banyak hal untuk melakukan
perubahan fundamental sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat AS dan dunia.
Sistem politik AS merupakan sistem dwipartai. Rekam jejak politik partai
Republik dan Demokrat selama seabad terakhir menunjukkan bahwa tujuan yang
dikejar oleh kedua partai ini, khususnya di kancah politik luar negeri tidak
berbeda jauh. Dengan kata lain, mereka menganut strategi makro yang sama. Hanya
cara dan metode mereka yang saja yang berbeda dalam meraih tujuan politinya.
Saat ini Obama menghadapi tiga masalah utama. Tiga masalah mendasar yang selama
ini dinanti-natikan perubahan fundamentanya oleh masyarakat AS dan dunia.
Masalah pertama adalah keberadaan tentara AS di Irak dan Afghanistan. Salah
satu kritikan utama yang dilontarkan oleh Obama terhadap kebijakan Bush adalah
politik militeristik kubu Republik di Afghanistan dan Irak. Presiden kulit
hitam AS ini menjanjian bakal menarik tentara AS dari Irak dan lebih serius
menangani perang melawan terorisme di Afghanistan.
Belakangan ini, pemerintahan Bush sibuk mencari legitimasi internasional bagi
pasukan militer AS yang ditempatkan di Irak. Karena itulah, Gedung Putih begitu
berhasrat meloloskan draft perjanjian keamanan dengan Irak. Namun, lantaran
draft tersebut sarat dengan nuansa penjajahan dan mengabaikan kedaulatan
nasional Irak, maka rakyat dan para tokoh politik Irak pun menolaknya
mentah-mentah dan hinggi kini masih dalam proses tarik-ulur. Jika Bush sampai
dua bulan ke depan, saat masa kepemimpinannya berakhir belum berhasil
menggolkan draft perjanjian keamanan dengan pemerintah Baghdad, maka tugas
tersebut akan beralih ke pundak Obama. Padahal, sudah maklum jika tujuan utama
invasi AS ke Irak dan Afghanistan bukan untuk memberantas teroris. Tujuan utama
invasi AS ke Irak sejatinya untuk menguasai sumber minyak negara ini. Terlepas
dari partai mana yang menguasai Gedung Putih, AS sudah mempersiapkan program
jangka panjang di Irak.
Masalah lainnya yang dihadapi Obama adalah menepati janji-janji kampanyenya
selama ini. Dia menjanjikan bakal mengurangi pajak bagi kalangan menengah dan
memperbaiki layanan kesehatan publik. Selama beberapa dekade belakangan,
pemangkasan pajak dan peningkatan layanan kesehatan publik merupakan slogan
utama kampanye pemilu Demokrat. AS saat ini tengah didera krisis finansial yang
amat parah. Suatu hal yang memaksa pemerintah untuk mengintervensi pasar uang
dan meyuntikkan dana miliaran dollar untuk menstabilkan pasar finansial.
Intervensi tersebut menyebabkan terus membengkaknya defisit anggaran dan utang
negara. Selain itu, penerapan setiap kebijakan yang membebani anggaran
pemerintah niscaya akan mengdapi tantangan mendasar.
Begitu juga dalam masalah perbaikan layanan kesehatan publik. Semua tahu untuk
menyelesaikan masalah itu maka seluruh rakyat AS harus mendapat layanan
kesehatan tersebut. Tujuan itu bisa dicapai lewat penurunan harga obat-obatan
dan pemotongan pengaruh dominasi perusahaan asuransi. Saat ini, lebih dari 40
juta rakyat AS tidak memiliki asuransi sosial apapun. Lantaran tingginya biaya
perobatan, banyak warga AS yang tidak mendapat layanan kesehatan secara
maksimal. Jika Obama masih bertekad untuk merealisasikan janjinya itu, maka ia
pun harus berani menekan lobi perusahaan asuransi dan obat-obatan. Dan jika itu
terjadi tentu saja akan mengancam keuntungan mereka.
Persoalan lainnya adalah krisis finansial AS. Krisis tersebut telah membuktikan
pada semua orang bahwa untuk mencegah terulangnya kembali krisis tersebut, tak
ada cara lain kecuali pemerintah mengintervensi pasar uang dan modal. Saat ini
sistem finansial AS bahkan dunia memerlukan perubahan mendasar. Namun,
pemerintah Bush masih menyikapi dingin tawaran negara-negara Eropa untuk
merombak total sistem keuangan dunia. Pasalnya, pusat-pusat keuangan swasta AS
menolak adanya pengawasan dan intervensi pemerintah dalam pasar uang.
Begitu juga dengan Obama. Ia tidak punya pilihan lain kecuali meneruskan
kebijakan Bush dalam menjamin keinginan para pemilik bank dan lembaga finansial
besar di AS. Satu hal yang tak boleh dilupa adalah bahwa perusahaan-perusahaan
besar AS merupakan pemasok utama biaya kampanye para calon presiden dan anggota
kongres AS. Tentu saja mereka juga punya tuntutan timbal balik. Tegasnya,
perubahan yang akan digulirkan oleh Obama tidak akan sefrontal sebagaimana yang
diharapkan banyak kalangan. Dan mereka yang berharap Obama bisa menciptakan
tatanan dunia baru, niscaya bakal pesimis.
KHUSUS