Andaikata anggota DPR itu benar wakil rakyat, akan berhenti dari Dewan Penipu 
Rakyat itu. Apalah artinya sekedar bicara bagi penguasa yang hipokrit itu. 
Sepertinya mustahil bagi anggota DPR untuk hal yang demikian. Hal itu 
disebabkan demikian nikmatnya makan gaji atas nama rakyat. Justru itu termasuk 
di Acheh - Sumatra dan West Papuapun, bagaikan jamur dimusim hujan berdaya 
upaya agar bisa duduk digedung tempat bersandiwara para hipokrit itu. 

Tulisan ini tidak digubris oleh anggota DPR yang sudah tertutup mata hati itu 
tapi masih ada kemungkinan untuk orang - orang Acheh dan Papua agar 
memaksimalkan pikirannya, hingga dapat memfokuskan tenaganya untuk tidak 
terlibat dalam system yang hipokrit dan dhalim itu, demi membela bangsanya. Ini 
adalah harga mati bagi orang - orang yang sadar akan kemanusiaannya, disaat 
kebanyakan orang tenggelam dalam kebasyarannya (baca non manusia, kendatipun 
penampilannya mentreng)

(alasytar, Acheh - Sumatra)




________________________________
From: HKSIS <[EMAIL PROTECTED]>
To: HKSIS <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, November 16, 2008 3:27:56 AM
Subject: [kota_jakarta] Bantuan ke Bakrie Dinilai Tak Etis


Bantuan ke Bakrie Dinilai Tak Etis
Jangan menganakemaskan kelompok tertentu.
http://www.korantem po.com/korantemp o/koran/2008/ 11/16/headline/ 
krn.20081116. 148184.id. html 
JAKARTA -- Sejumlah kalangan menilai pemerintah melanggar etika karena 
membantu Grup Bakrie dengan menunda pencabutan penghentian sementara 
perdagangan 
(suspensi) saham PT Bumi Resources Tbk. 
Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat, Emir Moeis, 
mengatakan, meski tidak ada hukum yang dilanggar, "Suspensi itu melanggar etika 
bisnis internasional. " 
Muruarar Sirait, anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR lainnya, meminta 
pemerintah tidak pandang bulu, baik dari segi penegakan hukum maupun ekonomi. 
Apalagi saat ini pemerintah banyak disorot masyarakat. "Terapkanlah reward dan 
punishment secara adil," katanya. 
Bantuan pemerintah kepada Grup Bakrie itu disampaikan Wakil Presiden Jusuf 
Kalla pada Jumat lalu. Kalla berdalih, langkah itu diambil sebagai upaya 
pemerintah melindungi pengusaha nasional. 
Kalla membandingkan bantuan tersebut dengan langkah pemerintah menyelamatkan 
sejumlah perusahaan milik konglomerat, seperti Bank Central Asia, Bank 
Internasional Indonesia, dan Astra International, pada 1998. 
Kalla mengatakan bantuan kepada Grup Bakrie hanya berupa pengawasan terhadap 
pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia. "Masak Bakrie hanya sedikit 
dibantu satu-dua hari tidak boleh," katanya (Koran Tempo, 14 November). 
Emir mengatakan bantuan pemerintah itu akan menimbulkan anggapan ada 
ketidakadilan dari pelaku bisnis yang lain. "Pihak lain beranggapan itu tidak 
adil," katanya. Keberadaan Aburizal Bakrie sebagai Menteri Koordinator 
Kesejahteraan Rakyat mudah menimbulkan isu konflik kepentingan. Emir mendesak 
pemerintah tidak menjadikan kelompok tertentu sebagai anak emas. 
Iman Sugema, ekonom senior Institute for Development of Economics and 
Finance, mengatakan, meski tidak ada hukum yang dilanggar, pemerintah tidak 
bisa 
bertindak sewenang-wenang. 
Argumen Kalla yang menyatakan bahwa pemerintah membantu pengusaha nasional 
juga dinilai sangat subyektif. "Apa yang menjadi acuan?" Sugema bertanya. 
Seorang pejabat publik, kata dia, seharusnya menggunakan asas kepatutan 
ketika memberikan preferensi tertentu. Karena itu, dia mendesak menteri dan 
petinggi partai bersikap profesional. 
Menurut pengamat pasar modal Edwin Sinaga, tidak etis jika pemerintah 
mencampuri pasar modal. 
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi menyatakan bisa memahami 
langkah pemerintah. "Bumi perusahaan besar, sehingga kejatuhan harga sahamnya 
bisa mengguncang capital market," katanya. 
Sofjan tidak melihat ada konflik kepentingan antara pemerintah dan Grup 
Bakrie. Namun, Sofjan meminta pemerintah tetap berlaku adil. Jika ada 
perusahaan 
besar lain dengan alasan yang tepat meminta perdagangan sahamnya disuspensi, 
kata Sofjan, pemerintah juga harus mengabulkannya. ARIF FIRMANSYAH | ARI 
ASTRI YUNITA | GUNANTO ES | BUNGA 
MANGGIASIH    


      

Kirim email ke