----- Original Message ----- 
From: winwannur 
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, January 21, 2009 11:19 PM
Subject: [pantau-komunitas] PKS, Leuser dan Bibit-Bibit Fasisme Dalam Diri Saya


Di samping di blog dan berbagai milis diskusi lainnya, tulisan saya
tentang "PKS Partai Kaum Fasis", juga saya post di milis internal
UKM-PA Leuser tempat saya bergabung sebagai anggota. 

Di milis ini juga bergabung seorang teman yang sebetulnya junior saya
di UKM itu dan bahkan selama pendidikan dasar dulu, sayalah yang
membuatnya jungkir balik dengan berbagai macam latihan fisik dan
mental. Tapi karena di UKM kami hirarki praktis berlaku hanya selama
pendidikan dasar saja, begitu resmi menjadi anggota hak dan kewajiban
langsung sama. Sehingga anak yang paling barupun tidak segan
mengkritik senior yang paling tua. Karena situasi di Leuser yang
seperti itu, sayapun sejak lama sudah tidak pernah lagi menganggapnya
sebagai seorang Junior, tapi benar-benar sebagai seorang teman.

Teman yang nama lengkapnya Abdillah Imran Nasution yang di Leuser
memiliki banyak sekali nama julukan ini, sampai saat ini adalah
pemegang rekor sebagai pemilik nama julukan terbanyak di Leuser. Dari
sekian banyak nama julukannya itu saya biasa memanggilnya Macan. 

Saat membaca tulisan saya "PKS Partai Kaum Fasis". Teman yang biasa 
saya panggil Macan ini menanggapi tulisan saya tersebut dengan sebuah
tanggapan dan disusul sebuah pertanyaan yang sederhana "Aku setuju
dengan tulisan kee Cek Wen, tapi kutanyak dulu arti fasis itu apa
dikaitkan dengan tulisan kee yang dulu-dulu", Katanya.

Pertanyaannya yang sederhana ini membuat saya tersentak. Saya teringat
kembali tulisan-tulisan saya beberapa waktu yang lalu. Ketika saya
begitu suntuk dan muak melihat gaya anak-anak dari luar Aceh yang
datang bekerja mengais rezeki di Aceh pasca tsunami tapi merasa seolah
mereka yang paling tahu tentang Aceh bahkan dibandingkan orang Aceh
sendiri.

Akibat sentilan kecil dari Macan ini, tadi malam saya membaca kembali
arsip tulisan-tulisan lama yang pernah saya post di berbagai milis,
terutama tulisan-tulisan saya dalam sebuah debat dengan seseorang yang
bernama Roysepta Abimanyu, seorang mantan anggota LMND dan PRD yang
waktu itu bekerja di Aceh untuk sebuah lembaga milik pemerintah Canada. 

Dulu saya pernah terlibat dalam debat panjang dengan orang yang
bernama Roysepta ini. Saat itu, ketika mendebatku, dia berbicara
dengan gaya sok tau khas orang-orang dari Jakarta yang tidak pernah
benar-benar bergelut dengan permasalahan sosial di Aceh dan mengalami
sendiri masalah-masalah gesekan etnis serta tidak pernah merasakan
betapa tidak menyenangkannya kami orang Aceh diperlakuan diskriminatif
yang ironisnya terjadi di tanah moyang kami sendiri. 

Saya yang menyaksikan sendiri betapa seorang kerabat saya yang
berkali-kali gagal melamar bekerja sebagai karyawan di PT. KKA, sebuah
perusahaan nasional yang beroperasi di daerah kami. Akhirnya bisa
diterima di perusahaan tersebut setelah memalsukan nama asli di
Ijazahnya dengan menambahkan nama 'Hadibowo' di belakang nama aslinya,
benar-benar kesal ketika Roysepta Abimanyu yang belajar geopolitik di
Perancis yang baru tinggal setahun atau dua tahun di Aceh untuk
mengais rezeki pasca tsunami ini. Dengan memakai teori-teori
Geopolitik yang dia pelajari di eropa sana, dengan meng copy-paste apa
yang dia pelajari di Perancis dan menyamakan situasi di Aceh dengan
yang terjadi di Afrika sana. Berdasarkan perbandingan yang dia
lakukan terhadap apa yang terjadi di Afrika, Roysepta tidak mengakui
kalau diskriminasi etnis yang menguntungkan Jawa yang terjadi di Aceh
selama ini benar-benar ada.

Saya menuliskan tulisan itu dalam suasana ketika serombongan kepala
desa asal Gayo dengan difasilitasi oleh Iwan Gayo menghadap DPR RI
dengan mengenakan blangkon. Saat itu, beberapa kepala desa yang
menghadap DPR RI itu dengan menggunakan bahasa Jawa 'kromo inggil'
yang maksa dan belepotan logat Gayo berkata dengan takzimnya dihadapan
para anggota dewan yang terhormat itu "kulo gelem pemekaran".

Ketika itu saya yang orang Gayo benar-benar merasa terhina melihat
aksi yang diliput berbagai media secara nasional yang terang-terangan
merendahkan martabat suku saya dihadapan Jawa ini. Dan aksi para
kepala desa yang saya tahu dikompori dan didanai oleh beberapa elit
lokal dan elit nasional yang terganggu kepentingannya di Aceh akibat
perkembangan situasi perpolitikan 'Aceh Baru' pasca MoU Helsinki itu
benar-benar membuat amarah saya memuncak.

Saya juga semakin merasa kesal dengan sikap inferioritas terhadap Jawa
yang ditunjukkan oleh kepala desa-kepala desa asal Gayo itu, apalagi
mereka melakukannya dengan berlagak seolah-olah mereka adalah
representasi seluruh orang gayo di muka bumi. Kekesalan saya semakin
memuncak karena saya yang cukup paham karakter dan budaya Jawa tahu
persis kalau dalam perkembangan situasi dunia saat ini karakter asli
suku Gayo yang bersifat 'republik' justru jauh lebih bisa diandalkan
untuk bersaing di pentas global dibandingkan karakter asli suku Jawa
yang 'feodal'. 

Dalam suasana seperti itulah, ketika debat berlangsung panas dan
sayapun sepenuhnya dikuasai emosi, tanpa sadar saya terpancing oleh
sebuah jebakan yang rupanya telah dipersiapkan oleh Roysepta dengan
cermat. Setelah sebelumnya dia berhasil memancing emosi saya dengan
mengatakan 'perbedaan antara Jawa dan Gayo itu sebenarnya sama sekali
tidak ada melainkan hanya hasil kategorisasi kolonial' dan untuk
menegasikan adanya ketidak adilan terhadap orang Gayo di tanah Gayo
sendiri. Dalam tulisan-tulisannya terdahulu Roysepta mengatakan "
tidak seorangpun yang bisa mengklaim TANAH GAYO sebagai milik ORANG
GAYO". Pernyataan-pernyataan provokatif dari Roysepta Abimanyu itu
berhasil dengan sukses memancing emosi saya dan sayapun terjebak
ketika Roysepta yang sebelumnya telah dengan cermat memasang
perangkapnya menanyakan " Jadi menurut anda apakah ada orang yang
berhak mengusir orang Jawa dari Aceh?". Dalam emosi yang memuncak saya
katakan "ya tentu saja ada, yang bisa mengusir mereka adalah
kami...orang Aceh pemilik sah tanah ini".

Saat itu saya tidak merasa ada yang salah dengan jawaban saya itu,
karena saya pikir memang seperti itulah keadaan yang sebenarnya dan
itu pula yang harus dilakukan. Tapi sekarang setelah pikiran saya
jernih kembali dan bebas dari kungkungan emosi. Saya baru menyadari
betapa berbahayanya konsekwensi dari tulisan saya yang bernada sangat
fasis waktu itu seandainya dibaca dan diikuti oleh konstituen saya
dengan semangat dan kebencian yang sama seperti yang saya rasakan
waktu itu. 

Kalau itu terjadi dan kalau apa yang saya katakan itu benar-benar
dilakukan. Pasti yang terjadi masalah di Tanoh Gayo yang saya cintai
bukannya selesai dan suasana menjadi tenag tapi sebaliknya justru yang
akan terjadi adalah masalah-masalah baru dan kebencian yang tak berujung.

Karena, belum benar-benar menyadari kesalahan yang saya buat waktu
itu. Tanpa sadar, hal itu saya ulangi kembali ketika saya begitu
emosinya saat bereaksi terhadap komentar seorang simpatisan PKS yang
menyebut saya menulis karena dibayar oleh 'Agen-agen Israel'. 

Tapi, sentilan pelan 'Macan' teman saya di Leuser ini telah
mengingatkan saya dan mengembalikan kejernihan di otak saya. Dan
sayapun kemudian menyadari betapa dengan tulisan saya yang penuh emosi
itu, dengan menyebutkan kata-kata "memisahkan kepala dan tubuhnya" 
tanpa saya sadari ternyata sayapun telah menjadi sama Fasis-nya dengan
PKS yang saya cerca.

Sama seperti ketika saya dulu dengan mengedepankan emosi, saat saya
merasa suku saya diperlakukan tidak adil oleh Jawa. Tanpa sadar dalam
reaksi saya yang emosional waktu itu, sayapun telah bersikap tidak
adil terhadap Jawa. 

Mengutip apa yang tertulis dalam kata-kata di iklan A Mild beberapa
tahun yang lalu "susah jadi manusia". Apa yang dikatakan oleh iklan
itu memang benar adanya. Memang sulit sekali menjadi manusia.

Tulisan saya yang lalu yang saya baca kembali dengan pikiran yang
jernih telah menyadarkan saya bahwa saya yang dengan keras mengecam
sikap fasis dan marah besar saat menjadi korban fasisme, tanpa sadar
ternyata juga menyimpan bibit-bibit fasis dalam diri saya. 

Dan yang seperti itu mungkin bukan hanya saya yang mengalaminya, bisa
jadi hal itu juga terjadi pada setiap diri kita . Saat kita begitu
berlebihan membenci suatu hal, seringkali di saat bersamaan tanpa
sadar kitapun menanggalkan pikiran jernih dan rasionalitas yang
menjadi pelindung setia kita. Sehingga kitapun terjebak dalam sikap
emosional yang berlebihan. Di saat itu terjadi, saat kita begitu larut
dalam suasana kebencian itu, tanpa sadar kitapun telah berubah menjadi
sesuatu yang kita benci itu sendiri.

Kenyataan ini telah pula menyadarkan saya tentang fakta bahwa betapa
lemah dan betapa penuh kekurangannya manusia. Betapa sebagai manusia
ternyata sehebat apapun kita berpikir tentang diri kita. Ternyata kita
tetap butuh orang lain untuk mengingatkan. Agar kita tidak terperosok
dalam lubang yang tidak kita lihat keberadaannya. 

Dalam setiap langkah dan tindakan kita, ternyata kita tetap butuh
orang lain dari luar, yang bisa dengan jernih melihat segala
permasalahan kita tanpa ikut larut di dalamnya. Yang bisa menilai
segala sesuatunya dengan segala kejernihan akalnya.

Dan akhirnya saya sangat bersyukur mendapati kenyataan bahwa ternyata
di dunia ini saya benar-benar masih memiliki kawan, yang bukan hanya
bisa menyanjung dan mendorong saya untuk meluapkan segala kemarahan.
Yang pasti akan membawa saya ke jurang kehancuran. Saya bersyukur,
karena saya masih punya seorang sahabat yang seperti keahliannya
sebagai seorang 'Speleologist' handal, dalam situasi kritis bisa
menarik saya dari emosi yang mendekati kegilaan kembali kepada kejernihan.

Terima kasih kawan...terima kasih Macan...

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com



 

Kirim email ke