Kepada:

 

   Semua sahabat-sahabat pembaca berita-berita 

   OPM/Papua Barat/PB di mana saja kalian berada.

 

   Dari Kantor Perwakilan OPM/OIIO di LN (Europah,

   Malmö-Sweden) hanya ingin memajukan satu-dua

   pertanyaan yang simpel saja menyangkut penjual-

   an kapal perang Belanda ini kepada Indonesia yaitu:

 

   1. Pemerian nama pahlawan kepada Mr. Frans Kaisiepo 

      alm. ex.Gubernur PB; ada berjasa apa kepada rakyat

      PB di dlm bidang/segi perjuangannya yang mana?

 

   2. Pemerintah/Negara Kerajaan Belanda sebagai ex-koloni

       "The Netherlands New Guinea/Dutch New Guinea" mulai

       dari sejak tahun 1962 hingga kini 2009 dgn penjualan kapal 

       perang ini maka dgn perbuatan tangannya yang kotor, najis,

       dan cemar yang sudah/dan akan terus membantu harimau

       buas dan tangan besi Pemerintah kolonial RI membunuh dan 

       melenyapkan jiwa-jiwa rakyat Indonesia yang tidak bersalah

       termasuk juga rakyat Papua Barat, rakyat Acech/Sumatra,

       rakyat Maluku Selatan dan rakyat Poso-Menado benar-tidak-

       nya Pemerintah Kerajaan Belanda akan bertanggungjawab itu 

       sendiri dikemudian hari bukan?

 

      

       Salam!

 

 

       OPM-OIIO Malmö-Sweden.

       





To: [email protected]; [email protected]
CC: [email protected]
From: [email protected]
Date: Tue, 10 Mar 2009 23:47:03 +0000
Subject: KOMUNITAS PAPUA Wawancara Frans Albert Joku & Nick Messet di Belanda





Sumber: Radio Nederland
 
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/pelukan_jakarta_papua20090309
 


 
 Pelukan Jakarta untuk Papua
 
Radio Nederland Wereldomroep
09-03-2009
Pelukan Jakarta untuk Papua 
 Penyerahan kapal korvet keempat kepada pihak Indonesia di Galangan Schelde 
Belanda tenggara, menuai tanggapan beragam. Sebagian kalangan menilai pilihan 
nama Frans Kaeisepo, pahlawan asal Papua, sebagai nama KRI ini adalah upaya 
merangkul orang Papua. Pemerintah Indonesia mengirimkan dua mantan warga Papua 
di pengasingan untuk membujuk warga Papua Belanda pulang membangun daerah. 
Mereka adalah Frans Albert Yoku dan Nicolas Simeon Meset, menjelaskan missinya 
ke Belanda. 

Frans Albert Yoku [FAY]: Yang jelas sebagai orang Papua, kami rasa bangga nama 
seorang pahlawan Papua sudah diberikan pada kapal ini. Karena 
pengalaman-pengalaman di waktu-waktu lalu, kami juga berharap jangan kapal ini 
dipakai untuk bertindak terhadap masyarakat Indonesia sendiri termasuk kami di 
Papua, Maluku atau di Aceh, daerah-daerah lain juga. 
 
Kami berharap kapal ini malah dapat melindungi masyarakat Indonesia termasuk 
kami di Papua dan daerah-daerah lain yang tadi saya sebut itu. Nama saya Frans 
Albert Yoku, saya juga teman dari pak Nicolas Simeon Meset, kami dari Papua dan 
kami rasa bangga, kapal ini sudah diberi nama seorang pahlawan yang berasal 
dari daerah kami. 
 
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Bapak diundang khusus datang dari Indonesia 
untuk datang ke sini? 
 
Misi khusus 

FAY: Kami tidak secara khusus diundang. Kami dalam misi khusus dari pemerintah 
Indonesia ke sini untuk meletakan pendekatan-pendekatan dengan masyarakat Papua 
yang berdomisili di sini. Kami sedang laksanakan itu dan setelah satu minggu 
lagi, kami akan kembali ke Papua. 
 
RNW: Pendekatan seperti apa pak, kenapa harus didekati di sini pak? 
 
FAY: Pendekatan karena setelah pemerintahan Orde Baru berakhir, banyak 
perubahan yang terjadi di Indonesia. Proses reformasi, demokratisasi khususnya 
di Papua, kami juga sudah mendapatkan satu struktur dalam sistim pemerintahan 
baru yang namanya otonomi khusus. 
 
Jadi kami di Papua dan saya rasa masyarakat Indonesia sedang diberikan 
kesempatan yang luar biasa untuk ikut membangun negerinya. Jadi banyak 
perubahan yang sedang terjadi, banyak perbaikan yang terjadi. Kami tidak 
katakan bahwa Indonesia itu merupakan surga, tidak. 
 
Tapi yang jelas, sudah banyak perubahan terjadi dan kami merasa diri 
bertanggungjawab untuk kembali membangun negeri kami, khususnya di Papua. 
 
RNW: Ini dalam rangka misi perdamaian begitu pak? 
 
Nicolas Simeon Meset [NSM]: Ya, kita dua ini dulu warga negara asing, bukan 
warga negara Indonesia. Pak Nic dulu Swedia, saya sendiri Papua Nugini. Tapi 
kita dua yang pertama masuk Indonesia untuk diberikan warga negara, kembali 
lagi itu terjadi pada tanggal 29 Nopember 2007. 
 
Menteri Kehakiman Andi Matalatta menandatangani kita dua punya kewarganegaraan 
kembali. Saya kembali dari Swedia, pak Frans dari Papua Nugini. Kita ini juga 
berjuang dulu untuk Papua merdeka. 
 
RNW: Tapi kenapa sekarang bisa kembali? 
 
Pulang bangun tanah Papua 
NSM: Karena otonomi khusus yang tadi itu. Itu kompromi untuk mendapat solusi 
yang terbaik supaya Papua ini tetap dalam bingkai NKRI. Kita minta merdeka, 
Indonesia kasih otonomi khusus yang hampir 85% sudah merdeka hanya rakyat Papua 
saja harus pakai uang itu baik-baik ya. 

 
Dan kami datang menghimbau untuk masyarakat Papua di Belanda ini, pulanglah. 
Pulang dan melihat membangun tanah Papua, tanah yang kami cintai semua. 
Pulanglah, otonomi khusus sudah ada. Meskipun itu tidak sempurna tapi pakailah 
itu. 
 
RNW: Tapi banyak generasi muda Papua yang tinggal di sini pak ya, mereka 
benar-benar ingin menuntut pemisahan dari Indonesia, merdeka begitu buat 
mereka? 
NSM: Ya, banyak itu siapa mereka? Banyak orang Papua ada di Papua. Yang 
sekarang ikut mendukung proses perubahan yang di sana. Jangan bilang begitu 
banyak orang Papua, bisa dihitung tidak banyak. 
 
RNW: Jadi minoritas yang di sini? 
 
NSM: Minoritas di sini dan mimpi-mimpi muluk. Mimpi-mimpi keju dengan roti di 
sini. 
 
RNW: Mereka harus pulang? 
 
FAY: Harus pulang membangun Papua. Papua sudah lebih aman. Jangan pikir dogma 
politik, paradigma yang lalu itu masih ada. 
 
Demikian Frans Albert Yoku. Namun demikian, Oridek Ap ketua LSM Free West Papua 
yang bermukim di Belanda punya pendapat lain. Bagi putra Arnold Ap, korban 
pembunuhan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha) tahun 1984 itu, nama Frans 
Kaiseipo sama dengan pengkhianat. 
 
Oridek Ap [OA]: Bagi orang Papua dan juga bagi saya, nama Frans Kaisiepo itu 
sama saja dengan seorang pengkhianat bangsa. Jadi Indonesia mau kasih kapal 
nama Frans Kaisiepo itu hak Indonesia. Mungkin juga maksudnya begitu, buat 
kasih tunjuk sama orang Papua, bahwa Frans Kaisiepo yang dulu membawa Papua 
masuk Indonesia, sekarang yang menjajah Papua juga lewat korvet itu. Bangsa 
Papua tidak akan sambut kapal perang ini, walau pun kapal ini bernama seorang 
Papua. 

Kata Kunci: belanda, indonesia, korvet, pahlawan, papua 
 



Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery 



_________________________________________________________________
More than messages–check out the rest of the Windows Live™.
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/

Kirim email ke